Di hari pertama penobatannya sebagai Raja Lunaventia, Leonard Anvincet Hills menghilang tanpa jejak.
Saat membuka mata, ia tidak lagi berada di istana, melainkan di kamar seorang gadis bernama Azura.
Bagi Leonard, dunia ini benar-benar gila.
Kereta berjalan tanpa kuda.
Air mengalir dari dinding.
Orang-orang berpakaian aneh.
Dan yang paling keterlaluan, semua orang menganggapnya gila saat ia mengaku sebagai seorang raja.
Sementara Leonard mati-matian mencari jalan pulang ke kerajaannya, Azura justru harus menghadapi pemuda keras kepala yang selalu berbicara dengan bahasa bangsawan dan menganggap semua teknologi modern sebagai sihir.
Hari demi hari, pertengkaran mereka berubah menjadi kedekatan yang tidak pernah mereka duga.
Namun di balik hilangnya Leonard, tersimpan rahasia besar yang dapat mengubah dua dunia sekaligus.
Ketika kesempatan untuk kembali akhirnya muncul, apa yang akan dipilih seorang raja?
Takhtanya...
Atau gadis yang berhasil mencuri hatinya?
up rutin. 06:00
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HikmahToo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu dia
Paginya.
Azura mendapat ceramah rohani dari Monica, yang di kompori Excel.
"Mau jadi apa kamu Azura? " Sentaknya "Kabur-kaburan tengah malem, gak betah tinggal di sini?"
"Iya, Kaka gak betah tinggal di sini?"
"Jadi gitu kelakuan kamu tiap malem? Kabur-kaburan?"
"Iya, jadi gitu kelakuan Kaka?"
Excel lagi-lagi jadi kompor. Azura menatapnya tajam, tapi anak kecil itu memeletkan lidah mengejek.
"Tiap malam kamu begini?" Monica berdecak pinggang, terus menuntut jawaban dari Azura.
Azura menggeleng. "Enggak mih, cuma tadi malem doang ko" jawabnya pelan.
Penipu!
Jelas-jelas tiap mau main malam dia selalu menyelinap, karna jika ortunya tau ya gini. Kena ceramah!
Namun Monica tak percaya, dia menyipitkan mata.
" Jangan bohong kamu!"
"Iya. Jangan bohong-"
" Excel diem! Mami lagi ngomong, kamu ngikutin terus!"
Excel langsung kicep, berlari pada Jody yang tengah sarapan dengan tidak tenang. Di sebelahnya, Leon duduk tenang, namun sudut bibirnya berkedut menahan tawa.
Dia tidak di marahi, karna Jody menganggap Azura lah yang telah membawa Leon untuk ikut bersamanya.
Sampai di sekolah, wajah Azura terus merengut masam.
Dia bahkan mengabaikan Gavin yang terus ngoceh di sebelahnya.
" Gue juga udah berusaha buat kasih effort ke dia supaya dia notice gue, tapi selalu gagal" kata Gavin curhat "makanya gue minta saran sama Lo. Lo kan cewe, pasti tau tuh apa yang di sukai si Nisa"
Azura menghentikan langkahnya, memejamkan mata geram. Perlahan menoleh pada Gavin, Azura menahan nafas.
" Lo!" tekannya "BISA DIEM GAK SIH?! LO GAK LIAT MUKA GUE LAGI GAK MINAT BUAT DENGER CERITA LO!" pekiknya menjerit frustasi.
Gavin menarik dirik kaget. "W-woy, santai. Gu-gue cuma curhat njir"
Azura mendengus kasar. "ENGGAK SEKARANG! gue lagi bete!" Azura mengibaskan rambutnya, melengos pergi dengan kaki menghentak.
Suasana hatinya lagi buruk, mana dia kurang tidur, pas nyampe sekolah, langsung di hadapkan dengan orang yang nyerocos panjang. Siapa yang ga stress!
Gavin menggaruk pelipisnya. "Apaan dah tu cewek? PMS?" Katanya, sambil melihat Azura yang berjalan cepat, dan memarahi siswi yang menghalangi jalannya.
Masih di kota yang sama, namun di daerah yang berbeda.
Seorang siswa laki-laki yang memakai seragam SMA, lengkap dengan dasi dan almamater.
Tengah mengendarai motor sport biru menuju ke rumahnya.
Siswa itu berhenti di depan rumah mewah, namun terlihat seram dengan cat abu-abu dan hitam yang mendominasi.
" Steve!"
Panggil seseorang dari kejauhan.
Steve membuka helm, mengangkat alis tinggi.
" Kenapa?"
Orang itu terengah-engah. " Lo abis ini mau ke mana? Bisa anterin gue gak ke Gramedia?"
Katanya, berusaha mengatur nafas.
Steve terlihat berpikir sejenak. "Bisa, tapi gak sekarang"
Orang itu mengangguk. "Oke, malem juga GK apa-apa" Steve mengangguk, kembali menyalakan motor dan membawa nya masuk ke dalam pekarangan rumah.
Steve melempar tasnya asal, dia berjalan cepat menuju dapur, mencari seseorang.
"Emak..." Teriaknya "emak mana sih, Mak!"
Seorang wanita muda muncul dari balik pintu kamar, dia berdecak pinggang, menatap Steve tajam.
"Sudah ku bilang, jangan panggil aku emak! Aku ini masih muda"
Steve memutar mata jengah. "Ck. Wajah aja yang masih muda, umurnya mah udah tua!" Cibirnya.
Wanita itu mendengus, duduk di sofa seraya menuangkan teh.
Safira Alfia-namanya, wanita muda yang misterius, yang merupakan ibu dari Steve.
Itu tidak membantah ucapan Steve tentang umurnya.
"Ada apa?" Tanyanya "teriak-teriak gitu kayak di hutan"
Steve menatap Safira serius. "Aku udah liat dia"
Safira melotot, menatap Steve dengan alis mengerut.
" Maksud mu?-"
" Iya, aku liat dia tadi malem, aku gak tau dia ke situ sama siapa, tapi yang jelas. Itu bener bener dia Mak!"
Katanya yakin.
Safira berdiri, mengusap dagunya dengan pelan namun seram. Seringai tipis kemudian muncul di bibirnya.
" Terus, kamu datengin dia?" Tanyanya penasaran, menoleh pada Steve. Steve menggeleng.
"Asalnya mau aku samperin, tapi temen aku keburu ngajak pulang"
Safira kembali duduk, menghadap sepenuhnya pada Steve.
"Jangan dulu, terlalu cepat jika kamu langsung menemuinya" kata Safira "kita harus bertemu secara perlahan, karna mungkin dia belum tau"
Steve mengangguk setuju, Safira tersenyum lebar melihatnya.
Leon duduk di atas kursi yang ada di kamar. masih terus memikirkan tentang orang yang berada di lintasan tadi malam.
Dia yakin, kalau mimpinya bukan sekedar bunga tidur.
Pasti ada sesuatu yang membuatnya sampai tersesat di dunia modern seperti ini.
Jadi kedatangan nya bukan tanpa alasan yang jelas, namun ada sesuatu yang harus dia cari tau.
Tapi! Kenapa di sini? Kenapa dia harus berada di keluarga Azura? Apa mereka ada hubungannya?
Leon menggeleng pelan, sedikit menyingkirkan rasa pusing yang tiba-tiba muncul.
Dia menghela nafas lelah, Jody sudah tidak lagi mencari tahu identitas nya.
Karna nama Leon tidak ada di mana pun.
Satu-satunya cara adalah dirinya sendiri yang harus mencari tahu.
Dia teringat sesuatu, segera berdiri.
" Sebelum cermin itu, aku menekan tombol kecil yang membuka pintu rahasia. Dan itu berada-" Leon berhenti sejenak, berusaha mengingat kejadian itu kembali.
"Lukisan!!" Pekik Leon sedikit tertahan "aku menemukan tombol itu di bawah lukisan ayah dan ibu"
Leon melirik sekelilingnya, tapi di kamar itu hanya ada tiga lukisan kecil dengan gambar abstrak.
Leon mendekat, meraba-raba lukisan itu, namun tidak menemukan nya.
Dia bergegas keluar dari kamarnya menuju ruang tengah.
Lalu menatap semua dinding yang banyak Poto keluarga, juga lukisan-lukisan abstrak yang begitu indah.
"Lukisan ini begitu jernih dan jelas." Katanya, seraya menelisik setiap foto yang tergantung di dinding ruang tengah.
Perhatiannya teralihkan pada foto Zura yang berada di atas nakas.
Dia mengambilnya perlahan.
Di foto itu, Azura tengah berada di pantai, dengan pemandangan langit biru yang cerah. Tapi Leon tak suka dengan pakaian yang Azura kenakan, dia terlihat sangat sangat terbuka, dengan tanktop putih yang di padukan dengan celana biru sepaha, sepertinya foto itu di ambil baru-baru ini.
Namun Azura terlihat sangat cantik, dengan topi pink besar yang bulat, dia berpose manis dengan tangan membentuk love.
"Semua lukisan di lapisi kaca, sangat indah" kata Leon, matanya terus menatap wajah Azura di foto. Bibirnya hampir akan tersenyum-
"NGAPAIN LO LIAT LIAT FOTO GUE?"
Leon tersentak kaget, melotot kan matanya seraya berbalik.
Bersambung....