"Sakit, Mas! Apa yang kamu lakukan ke aku itu sangat menyakiti hatiku! Gimana bisa kamu ngelakuin ini ke aku, dan itu adalah adikku sendiri. Lalu kamu, kenapa kamu tega sama kakak mu ini haah!!"
Suara Swastamita bergetar hebat ketika berkata demikia kepada suaminya, Erdio Rasmaluyo.
Betapa tidak bergetar, rasa sakit di hatinya sangat nyata. Suami yang memintanya untuk melepaskan karinya demi menjadi ibu rumah tangga seutuhnya ternyata malah berselingkuh dengan adik tirinya.
Yang lebih mengejutkan adalah, perselingkuhan yang dilakukan Erdio dan Medini itu diketahui oleh sang ibu.
Sakit hati Swastamita ketika mengetahui bahwa di rumah itu hanya dirinya yang tak tahu apa-apa.
Adik tiri yang sangat ia sayangi melebihi dirinya sendiri tega menjadi duri dalam daging pada rumah tangganya. Dan suami yang ia jadikan imam, malah menorehkan luka yang begitu dalam.
Bagaimana Swastamita menghadapi rasa sakit yang dirasakannya tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mual Lagi 06
Setelah pembicaraan itu, Warsi hanya diam. Wanita paruh baya itu juga seperti kehilangan semangat. Setiap hari dia hanya duduk sambil melamun. Tatapannya berkali-kali tampak kosong. Dan Warsi selalu terkejut ketika Mita menghampirinya.
"Ibu kenapa? Ibu sakit?" tanya Mita. Pagi hari yang sangat cerah, meski sedikit dingin tapi sangat nyaman duduk di teras rumah sambil menikmati cahaya matahari yang tengah bersinar.
Erdio sudah berangkat bekerja dan Medi juga pergi entah kemana. Skripsi Medi sudah selesai, dia hanya tinggal menunggu jadwal sidang saja.
Di rumah hanya ada Mita dan Warsi. Setelah membereskan rumah, Mita menghampiri Warsi. Wanita yang sangat disayangi oleh Mita layaknya ibu kandungnya sendiri itu tersentak ketika disentuh tangannya.
"Aku nggak apa-apa, Mit. Cuma kayaknya kok Ibu udah hidup terlalu lama. Ibu semakin tua, dan semakin sadar kalau dosa Ibu juga semakin banyak. Ibu kangen sama bapak kamu, Mit. Ibu pengen nyusul bapak kamu."
Ucapan Warsi mengejutkan Mita. Tidak pernah Warsi bicara demikian, jadi menurut Mita saat ini Warsi bertindak sangat aneh.
"Ibu lagi mikirin apa sih emangnya. Kenapa kok tiba-tiba ngomong kayak gini?"
"Mit, Ibu punya banyak salah sama kamu. Ibu bener-bener minta maaf, Nduk. Entah apa kamu bisa maafin Ibu apa nggak, tapi Ibu beneran minta maaf. Hiks."
Semakin bingung saja Mita dibuat Warsi. Bagaimana tidak, tiba-tiba ibunya meminta maaf sambil menangis.
Mita tak pernah mendapati Warsi seperti ini. Warsi sungguh sangat aneh. Berkali-kali Mita mencoba menelaah apa yang terjadi pada ibunya itu, tetap saja ia tak menemukan apapun.
"Mungkin Ibu lagi kangen sama Bapak." Hanya itu yang terlintas di pikiran Mita. Meski mereka bertemu dalam kondisi sudah pernah memiliki dambaan hati masing-masing, tapi mereka saling menyayangi dengan tulus. Warsi bahkan menangis tak ada habisnya ketika ayah dari Mita meninggal dunia.
Maka dari itu saat ini Mita menganggap bahwa Warsi sedang merasakan rindu yang begitu dalam terhadap suami yang telah meninggalkannya lebih dulu.
Itu yang dipikirkan Mita, yang mana berbeda jauh dengan apa yang dipikirkan oleh Warsi. Mungkin benar dia tengah merindukan suaminya yang telah tiada, tapi yang paling dalam dan berat dipikirannya adalah tentang Medini dan tentang rasa bersalahnya kepada Mita.
Seminggu berlalu begitu saja. Semakin hari Warsi semakin menjadi pendiam. Mita juga merasa bahwa Warsi menjauh darinya.
Sungguh membingungkan. Mita tak mengerti harus bagaimana menghadapi Warsi. Setiap ditanya Warsi hanya berkata maaf dan dirinya baik-baik saja sehingga pada akhirnya Mita pun tak lagi bertanya dan benar-benar menganggap bahwa semuanya baik-baik saja.
"Selamat ya Dek. Selamat untuk kelulusan kamu. Mbak bangga banget sama kamu," ucap Mita riang sambil memeluk dan mencium Medini. Hari ini Medini menjalani sidang skripsi dan dia lulu dengan memuakan.
Meski Mita tak hadir dalam sidang Medini, tapi dia di rumah tengah menyiapkan jamuan makan yang sedikit lebih banyak menu sebagai perayaan atas kelulusan sang adik.
"Makasih ya Mbak, aku seneng akhirnya aku lulus juga. Sekarang aku udah nggak perlu lagi bersandar sama Mbak dan bisa menjalani hidupku sendiri,"jawab Medini.
Entah mengapa jawaban Medini tersebut bagi Mita menjadi sedikit tidak nyaman. Ada rasa sedih dalam hati Mita. Dia merasa seolah-olah Medini hendak pergi darinya.
Tapi Mita langsung mengusir pikiran tersebut dari kepalanya. "Mungkin maksud Medi, dia ingin hidup mandiri dan mengeksplore kemampuan akademiknya dalam dunia kerja. Duuuh adik kecilku ini sekarang benar-benar sudah besar. Dia ngomong kayak gitu karena nggak mau ngrepotin aku terus, mungkin maksudnya gitu juga,"ucap Mita dalam hatinya. Ia kemudian mengembangkan senyumnya, lalu mengusap kepala Medi dengan hangat dan penuh kelembutan. Adiknya yang cantik, baik dan sangat disayanginya kini benar-benar sudah dewasa. Mita merasa bangga dengan hal itu.
"Ya udah makan yuk, ibu juga. Mbak hari ini masak khusus buat Medi. Mbak masak makanan kesukaan kamu. Sambal goreng ati, tahu susur (tahu isi sayuran), tempe mendoan, ayam rica sama capcai. Nah ayo makan."
Mita mempersilakan makan Medi dan Warsi. Malam itu mereka hanya makan malam bertiga. Erdio berkata ada lembur, jadi dia tidak bisa ikut makan malam bersama untuk merayakan kelulusan Medi.
"Sayangnya Mas Erdio nggak ada ini, jadi kurang kumplit,"ucap Mita.
Medi tampaknya tak terganggu akan hal itu. Tapi sebuah senyum tipis terbit di bibirnya yang mana membuat Warsi mengerutkan kedua alisnya.
Setiap Medi berekspresi, Warsi selalu berdebar. Ada rasa takut yang menjalar seketika dalam tubuhnya dan seolah memaksa Warsi untuk waspada.
Makan malam yang sedikit banyak itu cukup tenang. Namun hal yang pernah terjadi itu malam ini kembali terulang. Ketika Medi hendak memasukkan satu suap nasi dengan lauk sambel goreng hati ke dalam mulutnya, wanita berusia dua puluh dua tahun itu mendadak mual.
Hoek ...
Warsi membulatkan matanya, sedangkan Mita menatap Medi dengan penuh rasa khawatir.
"Med, kamu kenapa? Apa masuk angin lagi kayak waktu itu?" tanya Mita sambil beranjak dari duduknya, Dia benar-benar khawatir tehadap sang adik. Mita menganggap Medi terlalu keras dalam menyelesaikan skripsi sehingga membuat fisiknya lelah.
"Aku nggak apa-apa kok, Mbak. Cuma aku lagi~"
Sreeet
Drap drap drap
Blak!
Mita menatap dengan wajah penuh kebingungan ketika Medi dibawa pergi oleh Warsi sambil ditarik kasar tangannya. Mita bisa berpikir demikian karena melihat bagaimana Warsi melakukannya. Tak hanya itu, Mita juga terkejut saat pintu kamar Medi di tutup dengan sangat kencang.
"Ada apa ini, kenapa Ibu bersikap kayak gitu?" ucap Mita penuh tanya. Dia ingin menyusul dan bertanya, namun entah mengapa kakinya terasa berat untuk melangkah. Alhasil, Mita malah membereskan meja lalu pergi keluar rumah dan duduk di teras.
Mita pun tak tahu, sudah berapa lama dia berada di teras depan rumahnya itu. Tapi ucapan salam dari Erdio cukup mengejutkan baginya.
"Kenapa kamu di luar hmmm? Ada apa yank, kok kayaknya banyak pikiran gitu?" ucap Erdio sambil memeluk Mita dan menepuk pelan punggung sang istri yang tengah duduk.
"Nggak kenapa-napa sih Mas. Cuman tadi tuh kita lagi makan. Tiba-tiba Medi mual kayak waktu itu, nah terus Ibu tiba-tiba narik Medi ke kamar. Aku pengen nanya tapi kok ragu. Kayak aku nggak boleh ganggu pembicaraan mereka gitu."
Degh!
Erdio membulatkan matanya. Dia terkejut dengan apa yang baru saja dikatakan oleh istrinya. Medi mual, dan ibu mertuanya tiba-tiba membawa pergi Medi.
Dada Erdio berdebar sangat hebat, ia merasa risau dan gelisah dalam seketika. Padahal hal seperti ini pernah terjadi sebelumnya, tapi entah mengapa kali ini dia merasa takut. Bahkan sangat takut.
"Nggak, semoga enggak. Pikiranku ini semoga salah." Erido bergumam dalam hatinya, dia mengusir pikiran buruk yang memenuhi pikirannya.
TBC
stidak nya kasih epilog lh,spya tau lingga nnggu Mita menerima perasaannya brapa lama,,