NovelToon NovelToon
Gadis yang Terbuang

Gadis yang Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Kirana

Delapan belas tahun yang lalu, seorang gadis kecil bernama Taotao hilang di tengah keramaian festival lampion. Keluarga Wijaya — salah satu dinasti paling berkuasa di Jakarta — tidak pernah berhenti mencari.

Seline tidak ingat apa-apa tentang malam itu. Yang dia tahu: orang tua angkatnya sudah meninggal, adiknya butuh sekolah yang layak, dan satu-satunya pilihan adalah menumpang di rumah besar keluarga Hartono — bibi jauhnya yang ternyata punya agenda tersembunyi.

Di rumah itu, Seline belajar bertahan. Dari tatapan merendahkan sepupu-sepupu, dari jebakan bibinya yang ingin menjodohkannya dengan anak tiri, dari rivalnya yang cantik dan licik. Tapi juga — dari tatapan Kevin Hartono yang tidak pernah bisa dia baca.

Kevin adalah pewaris utama. Dingin. Tidak tersentuh. Semua orang takut padanya.

Tapi dia yang pertama menyadari surat palsu di kamar Seline. Dia yang berlari menembus api saat festival meledak. Dan dia yang diam-diam menyimpan lukisan karya "Tao" — tanpa tahu pelukisnya tidur di sayap rumahnya sendiri.

Ketika kebenaran akhirnya terungkap — siapa Seline sebenarnya, siapa yang mencurinya dulu, dan mengapa Kevin bersikeras mempertahankannya — seluruh Jakarta akan tahu:

Gadis yang mereka buang... adalah pewaris yang sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31

Pertunangan

Kalimat Kevin membuat Seline lupa cara berjalan.

Tidak. Kali ini saya ingin bertemu Tao.

Ia berdiri di dekat pintu ruang makan dengan tangan dingin, sementara orang-orang di sekitarnya bergerak seperti biasa. Tante Chen memanggil pelayan untuk menambah sup. Tante Liu tertawa kecil pada sesuatu yang dikatakan Vivian. Jessica mengambil kursi di dekat Oma. Semua tampak normal, seolah baru saja tidak ada pintu rahasia yang dibuka tepat di depan wajah Seline.

Darren muncul di sampingnya membawa segelas air putih.

"Kak," bisiknya, "minum dulu."

Seline menerima gelas itu. Bibirnya menyentuh tepi kaca, tetapi air hampir tidak lewat tenggorokannya.

"Nanti setelah makan, aku harus ke kamar sebentar," katanya pelan.

Darren langsung mengerti. "Email galeri?"

"Jangan sebut di sini."

Wajah Darren menegang. Ia menunduk, lalu mengangguk. "Iya."

Mereka baru duduk ketika Tante Chen mengetuk pelan pinggir mangkuk dengan sendok porselen. Suaranya tidak keras, tetapi cukup untuk membuat percakapan di meja panjang melambat.

"Oma," katanya dengan senyum yang sudah ia siapkan terlalu rapi, "mumpung hari ini keluarga berkumpul lengkap, ada hal baik yang ingin kami bicarakan."

Seline menahan napas. Dari seberang meja, Wilson mengangkat wajah. Ia tidak terkejut. Itu berarti ia sudah tahu.

Vivian duduk di samping Tante Liu, bibirnya merah, senyumnya manis, tetapi jari-jarinya mencengkeram serbet di pangkuan. Matanya sempat bergerak ke arah Kevin.

Kevin tidak melihatnya. Ia sedang mengangkat cangkir teh, wajahnya tenang seperti pengumuman apa pun di meja itu tidak punya hubungan dengannya.

Tatapan Vivian menjadi lebih tajam.

Oma Mei meletakkan sumpit. "Hal baik apa?"

Tante Liu langsung menyambung dengan suara lembut. "Kami sudah membicarakan niat Wilson dan Vivian. Anak-anak memang masih muda, tetapi keluarga saling mengenal. Jadi kami pikir, pertunangan keluarga bisa dibuat lebih dulu."

Beberapa orang tersenyum sopan. Seline melihat Om Richard menghela napas pendek, seolah seseorang baru saja menyerahkan dokumen yang sebenarnya ingin ia tunda.

Tante Chen menatap Oma. "Tentu pernikahan tetap mengikuti aturan Oma. Tidak ada yang melangkahi Ko Kevin. Ini hanya tukar cincin keluarga, supaya hubungan dua rumah jelas dan tidak jadi bahan omongan."

Kalimat itu terdengar hormat, tetapi Seline mendengar celahnya.

Pernikahan tidak boleh mendahului Kevin. Pertunangan ternyata bisa.

Oma Mei tidak langsung menjawab. Ia menatap Wilson lebih dulu. "Wilson, kamu setuju?"

Wilson menurunkan pandangan ke mangkuknya. "Kalau keluarga sudah memutuskan, saya mengikuti."

Itu bukan jawaban setuju.

Vivian tertawa kecil. "Ko Wilson selalu bicara singkat."

Wilson tidak menoleh kepadanya.

Oma lalu menatap Vivian. "Kamu?"

Senyum Vivian melebar. "Saya percaya pengaturan keluarga, Oma."

Tante Liu tampak lega. Tante Chen menunduk dengan wajah puas yang disamarkan sebagai kesopanan.

Seline menatap sup di hadapannya. Uap tipis naik dari mangkuk. Ia seharusnya memikirkan email galeri, akun Tao, dan cara menghentikan Kevin sebelum pria itu menemukan alamat yang terlalu dekat dengannya. Namun di meja ini, ada perang lain yang juga tidak mengizinkan siapa pun bernapas lega.

Vivian akan menjadi tunangan Wilson.

Tetapi mata Vivian masih mencari Kevin.

"Pertunangan boleh," ujar Oma akhirnya. "Pernikahan menunggu. Jangan membuat acara besar hanya untuk pamer. Tukar cincin keluarga cukup. Hari baiknya bicarakan lagi setelah makan."

"Terima kasih, Oma," kata Tante Chen cepat.

Oma mengangkat satu jari. "Dan jangan pakai pertunangan untuk menekan siapa pun. Kalau sampai Oma mendengar ada yang menangis karena dipaksa, acara itu batal."

Hening turun lebih berat daripada sebelumnya.

Seline hampir tidak bergerak. Ia tahu kalimat itu ditujukan kepada semua orang, tetapi entah kenapa dadanya ikut menghangat. Oma selalu punya cara membuat aturan terdengar seperti dinding, tetapi juga seperti payung.

Jessica menyikut Seline pelan dari samping. "Kamu dengar? Oma keren, kan?"

Seline menahan senyum tipis. "Selalu."

Darren yang duduk di sisi lain berbisik, "Kak, Ko Wilson kelihatannya tidak senang."

"Jangan komentar."

"Aku cuma lihat."

"Tetap jangan."

Darren langsung diam, tetapi matanya masih bergerak antara Wilson dan Vivian.

Di ujung meja, Stephanie menaruh sepotong ikan ke piring Bryan. "Ko Bryan, makan. Dari tadi kamu diam saja."

Bryan tersadar. "Terima kasih."

"Masih memikirkan lukisan itu?"

Bryan tersenyum tipis. "Mungkin."

Stephanie menatapnya sejenak, lalu berkata lebih pelan, "Jangan terlalu mudah terbawa perasaan oleh orang asing."

Seline mendengar kalimat itu meski tidak ditujukan kepadanya. Ia tidak tahu apakah Stephanie sedang membicarakan pelukis Tao, gadis dalam lukisan, atau dirinya.

Kevin meletakkan cangkir teh. Bunyi kecil itu membuat Vivian, Stephanie, bahkan Tante Chen menoleh hampir bersamaan.

"Saya ada telepon kerja," katanya pada Oma.

Oma mengangguk. "Pergilah. Jangan terlalu lama."

Kevin berdiri. Saat ia melewati sisi belakang kursi Seline, langkahnya tidak berhenti. Namun bayangan tubuhnya jatuh sebentar di atas piring Seline, dingin dan dekat.

Jantung Seline kembali berdegup keras.

Ia ingin menoleh. Ia tidak boleh menoleh.

Vivian melihatnya.

Senyum Vivian perlahan hilang.

Makan siang berakhir dengan ucapan selamat yang terdengar lebih rapi daripada hangat. Tante Liu memegang tangan Vivian. Tante Chen berbicara tentang warna gaun, jumlah undangan keluarga inti, dan pilihan hari baik. Wilson hanya menjawab seperlunya. Setiap kali Vivian mencoba tersenyum ke arahnya, ia membalas dengan anggukan singkat, seperti sedang menyetujui jadwal meeting, bukan pertunangan sendiri.

Seline baru bisa keluar dari ruang makan setelah membantu Bi Zheng memindahkan beberapa piring pencuci mulut. Ponselnya terasa berat di kantong rok. Ia harus mengirim pesan ke admin galeri. Ia harus mengatakan bahwa Tao tidak menerima pertemuan langsung, tidak menerima telepon, tidak menerima apa pun selain email.

Langkahnya hampir sampai ke koridor belakang ketika suara Wilson memanggil.

"Seline."

Ia berhenti.

Wilson berdiri beberapa langkah di belakangnya. Wajahnya masih sedingin biasa, tetapi tidak ada permusuhan di matanya. Hanya lelah.

"Ko Wilson?" Seline menjaga suaranya tetap sopan.

Wilson melihat ke arah ruang makan, memastikan tidak ada yang mengikuti. Lalu ia berkata pelan, "Tentang surat waktu itu."

Jari Seline mengeras di kantong rok, tepat di atas ponselnya.

Wilson menarik napas, seperti seseorang yang sudah menahan kalimat terlalu lama.

"Aku belum pernah minta maaf."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!