NovelToon NovelToon
Geranium

Geranium

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Murni
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: you see me

Aku Abhinav Ruchir mencintaimu dengan cara yang mungkin membuatmu sesak aku menginginkan seluruh perhatianmu, seluruh waktumu, dan seluruh duniamu hanya untukku. Cintaku padamu seperti geranium yang tumbuh liar ia menuntut ruang untuk terus berada di dekatmu, terkadang melupakan batasan, hanya karena ia takut kehilangan tempatnya di sisimu.

Aku tahu caraku mencintaimu mungkin terasa dominan. Aku tidak ingin berbagi satu detik pun darimu dengan dunia lain, karena bagiku, kamu adalah satu-satunya nutrisi yang membuat hatiku tetap bertahan hidup. Ada kalanya aku merasa egois karena ingin memilikimu seutuhnya.

Namun, inilah caraku menjaga hubungan ini tetap bersemi dengan memegangmu seerat mungkin, meski aku tahu keegoisan ini mungkin akan melukai kita berdua.

Biarkan aku menjadi orang yang paling 'membutuhkanmu' di dunia ini. Bukan karena aku lemah, tapi karena di antara segala kesibukanmu, aku selalu ingin menjadi alasan utama mengapa kamu harus pulang dan tetap tinggal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon you see me, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31

Langkah Abhinav di dalam kamar terdengar sangat tenang, hampir tanpa suara, seolah ia tidak ingin merusak keheningan yang menyelimuti tidurku. Aku hanya samar-samar mendengar suara gemericik air dari kamar mandi, disusul oleh derap langkah yang kembali mendekat. Tak lama kemudian, suara baritonnya yang rendah bergema saat ia berbicara di telepon, memberikan instruksi singkat dan dingin kepada pelayan untuk membawakan makan malam ke dalam kamar.

​Beberapa saat kemudian, ia mendekati ranjang. Aku merasa kasur di sebelahku sedikit melesak sebuah tekanan yang berat dan pasti.

​Abhinav duduk di pinggir tempat tidur, tepat di samping tubuhku yang masih terlelap. Ia tidak mengguncang bahuku dengan kasar, melainkan meletakkan telapak tangannya yang dingin di atas lenganku. Sentuhan itu terasa sangat kontras dengan hangatnya selimut yang membalut tubuhku.

​"Bangun," bisiknya, nadanya sedingin es namun tajam seperti silet, menembus lapisan mimpi yang sedang kubangun. "Aku tidak membiarkanmu untuk tidur tanpa asupan hanya karena kau merasa kesal, sweetheart. Bangun sekarang, sebelum aku harus menggunakan caraku sendiri untuk membuatmu terjaga."

​Tekanan di bahuku sedikit menguat, sebuah peringatan mutlak bahwa kesabarannya telah mencapai batas dan ia tidak menerima penolakan sedikit pun.

Kelopak mataku terasa seperti dilem, begitu berat saat kupaksakan untuk terbuka. Begitu pandanganku fokus, hal pertama yang kutemukan adalah sepasang mata hazel milik Abhinav yang menatapku tatapan itu dingin, tajam, dan seolah mampu menembus pertahananku yang paling rapuh. Ia tidak beranjak, membiarkan auranya yang mendominasi memenuhi setiap inci ruang di sekitarku.

​Di tengah ketegangan yang menyesakkan itu, sebuah ketukan sopan di pintu kamar memecah kesunyian. Abhinav sedikit menoleh, memberiku ruang napas sesaat sebelum ia memberi perintah tanpa suara.

​Seorang pelayan masuk dengan kepala tertunduk dalam, membawa nampan berisi hidangan makan malam yang tertata rapi. Tanpa sepatah kata pun, ia berjalan menuju area balkon kamar area yang biasanya menjadi tempatku mencari udara segar, namun kini disulap menjadi ruang makan pribadi. Ia menata piring-piring porselen dengan gerakan yang sangat berhati-hati, lalu menuangkan wine ke dalam gelas kristal, aroma khas minuman kesukaan Abhinav seketika menguar di udara kamar.

​Abhinav bangkit dari sisi tempat tidur, menyisakan hawa dingin di bekas tempatnya duduk tadi. Ia menatapku kembali, lalu memberikan isyarat dengan dagunya ke arah balkon.

Abhi ​" Habiskan makan malammu," ucapnya dengan nada perintah yang tidak terbantah. "Aku tidak suka membuang waktu dengan pembangkangan, apalagi untuk hal-hal yang menyangkut kesehatanmu."

​Ia berjalan menjauh menuju balkon, membelakangiku seolah menantangku untuk melihat apakah aku berani mengabaikan perintahnya atau justru harus melangkah mendekat ke arahnya.

Aku memaksakan diri untuk bangun, meski setiap otot di tubuhku terasa lemas dan enggan. Dengan langkah yang sedikit gontai, aku berjalan menuju balkon, merasakan udara malam yang dingin menyapa kulitku. Di sana, di bawah cahaya temaram lampu balkon, Abhinav sudah duduk dengan punggung tegak, menyesap wine nya dengan gerakan yang elegan namun intimidatif.

​Aku menarik kursi di hadapannya dan duduk, namun aku tidak segera menyentuh alat makan. Pandanganku terkunci pada piring di depanku. Makanan itu tampak mewah dan lezat, tapi di tenggorokanku, semuanya terasa seperti kerikil. Aku hanya diam, menatap makanan itu tanpa minat, mencoba mengumpulkan sisa-sisa harga diriku yang tersisa di tengah situasi yang kian mencekik ini.

​Abhinav meletakkan gelas kristalnya dengan bunyi denting pelan yang terdengar nyaring di tengah sunyinya malam. Ia tidak bicara, namun aku bisa merasakan tatapannya yang menusuk kulitku, menungguku untuk melakukan apa yang ia perintahkan.

​" Kenapa diam?" suaranya rendah, nyaris seperti bisikan namun mengandung ancaman yang jelas. " Apakah kamu butuh bantuan agar tanganmu bisa bergerak, atau kamu sengaja memancing kesabaranku untuk malam ini, sweetheart?"

1
Umi Fitriani
semangat thorr
you see me: Terima kasih kakak /Whimper/😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!