NovelToon NovelToon
Suami Miskin Yang Ternyata Seorang Miliader

Suami Miskin Yang Ternyata Seorang Miliader

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: M Goeston

Menyamar sebagai pria miskin demi mencari cinta yang tulus, Andra menemukan seorang istri luar biasa yang tetap setia menemaninya dalam kesusahan. Di balik hidupnya yang pas-pasan, tak ada yang tahu bahwa ia sebenarnya adalah seorang miliarder dan CEO raksasa. Ketika rahasia besar itu mulai terkuak, bagaimana kelanjutan kisah cinta mereka saat dunia tahu siapa suami miskin ini sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M Goeston, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ledakan di Pelabuhan Tua

Hening malam di kawasan pelabuhan tua Jakarta Utara mendadak pecah dalam sepersekian detik.

Peledak senyap berdaya rusak tinggi yang dipasang oleh pasukan bayangan menempel sempurna di keempat sudut pintu baja bunker Ordo Singa Kelam.

Andra mundur tiga langkah, memberi isyarat tangan dengan sangat tenang.

"Ledakan," bisik Andra dingin.

Bum!

Sebuah ledakan terkontrol bergemuruh pelan.

Nyaris tidak terdengar dari luar kawasan pelabuhan karena diredam oleh suara ombak malam.

Namun efeknya luar biasa telak.

Pintu baja tebal yang menjadi benteng pertahanan utama markas bawah tanah itu langsung jebol berkeping-keping, terlempar ke dalam ruangan dengan suara dentuman besi yang memekakkan telinga.

Kepulan asap putih langsung membubung keluar dari dalam terowongan bawah tanah.

Tanpa membuang waktu sedetik pun, Andra menghunuskan senapan serbu di tangan kanannya.

"Bergerak! Habisi semua yang melawan!" teriak Handoko memberikan komando serbu kepada pasukan elit bayangan.

Puluhan prajurit berbalut perlengkapan taktis hitam langsung melompat masuk menerobos masuk ke dalam lubang bunker yang gelap.

Suara baku tembak sengit langsung meledak di dalam perut bumi.

Pusss! Pusss!

Peluru berperedam membelah udara, berbalas dengan letusan senjata otomatis dari para anggota Ordo Singa Kelam yang terkejut setengah mati karena markas rahasia mereka diserang secara mendadak.

Di tengah kekacauan itu, Andra melangkah masuk dengan kepala tegak.

Aura dominasi dan kematian mengiringi setiap langkah kaki botnya di atas lantai beton bunker yang basah.

Beberapa anak buah musuh yang mencoba melepaskan tembakan ke arahnya langsung tersungkur bersimbah darah sebelum peluru mereka sempat mendekat.

Pasukan bayangan bergerak seperti mesin pembunuh yang terlatih sempurna, menyapu bersih setiap sudut ruangan dengan disiplin tinggi.

Ruang kendali utama bawah tanah yang dipenuhi layar monitor besar kini berubah menjadi medan pembantaian.

Meja-meja kaca hancur berkeping-keping.

Percikan api dari kabel komputer yang konsleting menyambar ke mana-mana, menciptakan pemandangan layaknya neraka kecil di tengah kota.

Andra terus melangkah maju tanpa hambatan berarti, menembus lorong utama menuju ruang komando pusat bunker tersebut.

Di ujung lorong, di hadapan sebuah singgasana besi bergaya kuno, berdiri sesosok pria paruh baya bertubuh tegap dengan balutan jas putih formal.

Wajah pria itu tidak mengenakan topeng.

Sebaliknya, ia menatap kedatangan Andra dengan sepasang mata tajam penuh amarah, sementara di tangan kanannya tergenggam sebuah pistol berlapis emas.

"Kau..." geram pria tua itu dengan suara bergetar menahan emosi.

"Andra... anak kurang ajar yang merusak seluruh rencana besar kami di negeri ini."

Andra menghentikan langkahnya tepat lima meter di hadapan pria tersebut.

Ia menurunkan laras senapannya perlahan, lalu menatap tajam sosok di hadapannya tanpa sedikit pun rasa gentar.

"Ternyata pemimpin tertinggi Ordo Singa Kelam yang sombong ini hanyalah seorang pengecut tua yang bersembunyi di lubang tikus," balas Andra dengan nada mengejek yang sangat dingin.

Pria tua itu tertawa sinis, meskipun keringat dingin mulai mengucur deras di pelipisnya melihat anak buahnya tewas bergelimpangan di sekelilingnya.

"Kau pikir kemenangan ini milikmu, anak muda?" teriak pria itu penuh dendam.

"Kau tidak tahu apa-apa tentang kekuatan besar di atas kami!"

"Kau hanya pion kecil yang kebetulan memegang kekuasaan sementara!"

Sebelum pria tua itu sempat mengangkat pistol emasnya untuk menarik pelatuk, Andra bergerak lebih cepat dari kilatan petir.

Dorr!

Satu tembakan tepat menghantam pergelangan tangan kanan pria tua itu.

Pistol berlapis emas terlepas dari genggamannya, jatuh berdenting ke lantai beton.

Pria itu berteriak histeris sambil memegangi tangannya yang bersimbah darah, lalu terjatuh berlutut di hadapan Andra.

Andra berjalan mendekat dengan langkah pelan.

Ia berdiri tepat di atas kepala pemimpin Ordo Singa Kelam tersebut, lalu mengarahkan ujung sepatu botnya untuk menekan bahu pria itu hingga tersungkur telungkup ke lantai.

"Permainan sudah selesai," bisik Andra tepat di telinga pria tua itu.

"Kalian memilih jalan untuk mengusik ketenanganku."

"Maka hari ini, aku sendiri yang akan memastikan nama Ordo Singa Kelam terhapus selamanya dari sejarah dunia hitam."

Tanpa ragu sedikit pun, Andra menuntaskan tugas terakhir malam itu.

Satu per satu sisa perlawanan di bunker pelabuhan dipadamkan secara total.

Malam di pelabuhan tua itu menjadi saksi bisu kembalinya kekuasaan mutlak sang penguasa bayangan.

Tidak ada lagi singa yang berani mengaum di wilayah kekuasaan Andra.Asap tipis masih mengepul di ruang komando bunker bawah tanah yang kini telah berubah menjadi reruntuhan.

Mayat-mayat anggota Ordo Singa Kelam tergeletak tak bernyawa di berbagai sudut ruangan, berdampingan dengan konsol komputer yang hancur dan percikan api kecil yang perlahan padam.

Handoko melangkah masuk melalui sisa pintu baja yang jebol.

Ia mendekati posisi Andra dengan postur tubuh tegap, membawa sebuah fail dokumen tebal dan sebuah gawai komunikasi satelit yang baru saja disita dari meja sang pimpinan musuh.

"Pembersihan sektor dalam sudah selesai sepenuhnya, Tuan," lapor Handoko dengan nada tegas.

"Tidak ada satu pun musuh yang berhasil lolos keluar dari bunker ini."

Andra berdiri tegak di atas lantai beton yang berlumuran darah.

Ia melepas sarung tangan taktisnya yang kotor, lalu membuangnya begitu saja ke lantai.

Wajahnya tetap dingin, tanpa menyisakan sedikit pun ekspresi kepuasan setelah meruntuhkan salah satu sindikat paling berbahaya di dunia hitam.

"Periksa semua dokumen dan data digital di perangkat itu, Handoko," perintah Andra dengan suara berat.

"Cari tahu apakah masih ada jaringan tidur atau sisa faksi mereka yang bersembunyi di luar negeri."

"Baik, Tuan! Saya akan langsung memerintahkan tim forensik digital untuk meretas seluruh server pusat mereka malam ini juga," jawab Handoko patuh.

Andra menarik napas panjang.

Udara di dalam bunker terasa menyesakkan, penuh dengan bau mesiu dan amis darah.

Ia membalikkan badannya, melangkah berjalan keluar meninggalkan puing-puing markas musuh yang telah rata dengan tanah.

"Kita pulang ke istana," ucap Andra singkat.

"Pastikan semua unit ditarik mundur sebelum fajar menyingsing."

"Mengerti, Tuan Muda."

Beberapa jam kemudian...

Menjelang fajar menyingsing, konvoi SUV hitam lapis baja kembali memasuki halaman istana Menteng tanpa suara.

Suasana di dalam istana tampak sangat tenang dan damai.

Gerimis malam telah sepenuhnya berhenti, menyisakan udara pagi yang sejuk dan embun di atas dedaunan taman.

Andra turun dari kendaraan.

Ia melangkah masuk ke dalam gedung utama dengan langkah pelan, berusaha tidak menimbulkan suara bising yang bisa mengganggu tidur orang-orang di dalam rumah.

Ia berjalan menaiki tangga marmer menuju ke lantai dua, langsung menuju ke kamar tidur utamanya.

Pintu kamar terbuka perlahan.

Di atas tempat tidur berukuran besar dengan seprai sutra lembut, Kirana tampak masih terlelap pulas.

Wajah wanita itu terlihat sangat tenang, tidak menyadari sama sekali bahwa beberapa jam yang lalu, suaminya baru saja bertaruh nyawa menyelesaikan perang besar di ujung kota.

Andra mendekati tepi tempat tidur.

Ia melepaskan mantel hitamnya yang beraroma sisa pertempuran, lalu duduk perlahan di sisi ranjang.

Ia mengulurkan tangan kanannya, merapikan sehelai rambut Kirana yang menutupi dahi istrinya dengan sangat lembut.

Kirana menggeliat kecil dalam tidurnya.

Wanita itu membuka matanya perlahan, lalu mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan penglihatan di dalam kamar yang temaram.

Begitu melihat sosok suaminya duduk di sisinya, senyuman lega langsung mengembang di wajah Kirana.

"Mas..." panggil Kirana dengan suara serak khas bangun tidur.

Ia langsung merentangkan tangannya, memeluk pinggang Andra erat-erat.

"Kamu sudah pulang? Kapan kamu masuk ke kamar?"

Andra balas memeluk istrinya dengan penuh kehangatan, menyalurkan rasa damai yang selama ini ia cari di tengah dunia yang penuh kekejaman.

"Baru saja, sayang," bisik Andra lembut sambil mencium puncak kepala Kirana.

"Maaf ya karena aku sempat meninggalkanmu semalaman."

Kirana menggelengkan kepalanya di dada suaminya, merasa aman dalam rengkuhan pria itu.

"Yang penting sekarang kamu sudah ada di sini dengan selamat," jawab Kirana pelan.

"Semuanya sudah benar-benar beres, kan?"

Andra tersenyum tipis, mengecup kening istrinya sekali lagi dengan penuh keyakinan.

"Semuanya sudah beres, Kir."

"Tidak ada lagi ancaman, tidak ada lagi bayangan masa lalu."

"Mulai hari ini, dunia kita benar-benar aman."

Mendengar jawaban itu, Kirana menutup matanya kembali, merasa seluruh beban di pundaknya telah hilang sepenuhnya.

Ia kembali terlelap dalam pelukan sang penguasa bayangan yang kini telah menutup lembaran perang kelam untuk selamanya.

1
Mga
💪
ciber ara
semangat!!!!!!
ciber ara
next 👍💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!