Nathan, seorang polisi yang gagal menjalankan tugasnya, menemui akhir yang tragis. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua dengan mengirimnya kembali ke masa ketika ia baru memulai karier sebagai polisi.
Kali ini, Nathan bertekad mengubah nasibnya. Dengan bantuan sebuah sistem misterius yang memberinya hadiah setiap kali berhasil menangkap penjahat, ia akan memburu para kriminal satu per satu dan memperbaiki semua penyesalan di kehidupan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Mencegah
Sang gadis berjalan dengan langkah agak pincang.
Setiap kali telapak kakinya yang memar menapak di atas aspal, rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhnya.
Namun, rasa sakit fisik itu lenyap terkikis oleh amarah yang membakar dadanya.
Di dalam pikirannya, ia sudah membayangkan dengan sangat jelas wajah-wajah ketakutan dari semua orang yang menyakitinya, maupun orang-orang yang hanya diam menonton saat ia disiksa.
"Mati...!" bisiknya pelan, giginya bergeletuk menahan dendam.
"Penjahat tidak pantas hidup!"
Dia terus melangkah menyusuri trotoar. Hatinya sudah sepenuhnya gelap.
Bayangan tentang bagaimana mereka menertawakan penderitaannya, memukulinya di atap, dan melecehkannya dengan merekam video hinaan itu terus berputar seperti rekaman rusak di kepalanya.
Dia sudah tidak sabar untuk membunuh mereka semua.
Ia ingin melihat mereka meraung ketakutan, tersiksa di dunia, dan mati dengan cara yang paling tragis.
Dia ingin orang tua para perundung itu menangis histeris, merasa frustrasi, dan kehilangan harapan.
Dan dia? Dia akan berdiri di sana, menyaksikan semuanya sambil tertawa puas.
"Haha... benar. Kenapa harus aku yang menderita?" gumamnya sembari mengencangkan pegangan pada tali tas punggungnya yang terasa sangat berat.
"Seharusnya penjahat-penjahat itu yang menderita. Apa salahku? Mereka yang bersalah dari awal!"
Beberapa warga yang berpapasan dengannya menoleh dengan raut heran.
Melihat pakaiannya yang lusuh, wajahnya yang penuh luka lebam, serta tatapan matanya yang kosong namun mengerikan, orang-orang refleks menjauh.
Ada aura tidak nyaman dan membahayakan yang memancar dari tubuh gadis itu.
Saat langkah pincangnya tiba di depan gerbang SMA tempatnya bersekolah, suasana pagi terasa biasa saja.
Siswa-siswi lain yang baru berdatangan mengobrol santai tanpa rasa curiga sedikit pun.
Merekalah orang-orang yang selama ini berpaling muka saat Sintia diseret ke belakang sekolah.
Menyadari bahwa tak ada satu orang pun yang sadar akan bahaya yang ia bawa di dalam tasnya, sudut bibir Sintia terangkat.
Senyum kelam terukir di wajahnya yang penuh luka.
Dia mendadak merasa sangat senang. Rasanya ia sudah tidak sabar untuk menarik pelatuk dan menembak kepala mereka satu per satu di tengah halaman sekolah.
Namun, tepat saat ia hendak melangkahkan kaki melewati pintu gerbang utama, sebuah tangan yang hangat dan kokoh menepuk pundaknya dari belakang.
Sintia tersentak hebat. Matanya membelalak panik.
Ia berbalik dengan cepat, mengira para pembully-nya telah mencegatnya lagi.
Tetapi, dugaan itu meleset. Orang yang berdiri di hadapannya bukanlah murid sekolah itu, melainkan seorang pria berseragam polisi yang berdiri tegap dengan raut wajah tenang.
"P-pak... saya tidak melakukan apa-apa!" seru Sintia panik, refleks memeluk erat tas punggungnya yang berisi senjataan rakitan dan bom.
Polisi itu tidak memasang wajah galak. Ia hanya tersenyum tipis dan menatap Sintia dengan sorot mata yang teduh. "Aku tahu. Apa kamu mau ikut sebentar? Semuanya akan baik-baik saja."
Pria itu merogoh saku kemejanya dan memperlihatkan sebuah kartu identitas resmi kepolisian. "Jika kamu tidak percaya, namaku Nathan."
Sintia terdiam kaku. Napasnya memburu cepat. Gelisah dan ketakutan hebat mulai melingkupi pikirannya.
Rencana balas dendamnya yang sudah tersusun rapi terasa berada di ujung tanduk.
Pikiran liarnya menyuruhnya untuk segera berbalik dan berlari sekuat tenaga.
Namun, sebelum Sintia sempat menggerakkan kakinya untuk kabur, Nathan melangkah maju satu pukulan dengan gerakan yang teramat cepat.
Tangan Nathan menyapu lembut namun presisi ke titik saraf di samping leher Sintia.
Tuk.
Mata Sintia seketika meredup. Seluruh kesadarannya hilang dalam hitungan detik.
Tubuhnya ambruk, namun Nathan dengan sigap menangkap dan menggendong tubuh mungil yang dipenuhi luka itu di bahunya.
Aksi cepat itu menyedot perhatian beberapa murid di sekitar gerbang yang mengenalinya.
"Eh? Kenapa si Sintia?" bisik salah seorang siswi dengan nada heran.
Nathan menoleh ke arah mereka, memasang raut wajah ramah yang menenangkan. "Ah, tenang semuanya. Sepertinya anak ini pingsan karena kelelahan. Apa ada sesuatu yang terjadi padanya akhir-akhir ini?"
Mendengar pertanyaan Nathan, murid-murid yang berkumpul itu saling pandang dengan raut wajah tidak nyaman.
Mereka tahu betul desas-desus perundungan yang dialami Sintia, namun tak seorang pun berani bersuara.
Tanpa menjawab, mereka perlahan membalikkan badan dan berjalan menjauh masuk ke area sekolah, memilih pura-pura tidak tahu.
Nathan memperhatikan punggung murid-murid itu dengan helaan napas panjang.
Ia melirik tas punggung tebal yang tersangkut di lengan Sintia, lalu merasakannya tas itu sangat berat dan tercium bau bahan kimia yang menyengat.
"Ya ampun... kalau aku tidak cepat sampai ke sini, kalian semua pasti sudah mati konyol hari ini," gumam Nathan pelan.
Kehadiran Nathan di sana bukanlah kebetulan.
Setelah mendapat petunjuk dan memanfaatkan informasi dari kehidupannya yang lalu serta analisisnya terhadap peningkatan kriminalitas di distrik ini, Nathan berhasil melacak potensi tragedi mengerikan yang akan dilakukan oleh siswi bernama Sintia ini.
Aksi pembantaian massal di sekolah hampir saja merenggut belasan nyawa dan merusak masa depan gadis ini selamanya.
Nathan membetulkan posisi gendongannya, lalu berjalan menuju mobil patroli yang terparkir tak jauh dari lokasi.
Ia menatap wajah Sintia yang terlelap pucat dengan luka-luka memar di pipinya.
"Masa depanmu masih panjang, dan aku akan membantumu," batin Nathan mantap.