NovelToon NovelToon
Setelah Benda-Benda Bicara, Seluruh Keluarga Berlutut Memohon Ampun

Setelah Benda-Benda Bicara, Seluruh Keluarga Berlutut Memohon Ampun

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:25.9k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Sari

Dibuang di tengah hujan oleh keluarganya sendiri, Keira Santoso nyaris mati — sampai sebuah lampu jalan BICARA padanya.

Sejak malam itu, dia bisa mendengar suara semua benda. Jantung yang mau mogok kerja. Kalung yang membisikkan rahasia. Berlian yang memanggilnya Tuan Putri.

Dan sentuhan seorang CEO tampan yang semua orang tak bisa menyentuhnya... adalah satu-satunya obat untuk keduanya.

Enam kakak yang dulu mengabaikannya? Sekarang rebutan memanjakannya.
Keluarga yang membuangnya? Berlutut memohon ampun.

Tapi Keira sudah menemukan rumahnya yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31

Keesokan siangnya, kantin Universitas S jauh lebih ramai daripada biasanya.

Atau mungkin bukan kantinnya yang berubah.

Mata orang-orang yang berubah.

Begitu Keira masuk bersama Wulan, beberapa meja langsung menoleh. Bisik-bisik yang dulu selalu diisi kata "plagiarisme" kini berganti menjadi "juara pertama", "Cicely", dan "kalung kupu-kupu itu".

Keira membawa nampan makanan seolah tidak mendengar apa pun.

Wulan berbeda.

Ia berjalan dengan dagu terangkat, ekspresi puas seperti manajer artis yang baru saja membuat kliennya menang penghargaan nasional.

"Liat tuh," bisik Wulan sambil mengambil tempat duduk. "Kemarin pada nyinyir, hari ini pada pura-pura jadi saksi sejarah."

Keira duduk di depannya. "Makan."

"Aku masih pengin menikmati karma."

"Karma nggak bikin kenyang."

"Tapi bikin gurih."

Keira hampir tersenyum. Setelah tidur beberapa jam di Grand Orchid, kepalanya lebih jernih. Tubuhnya masih menyimpan rasa hangat dari tangan Edric, meski hati kecilnya langsung menendang ingatan itu begitu muncul.

Ponselnya bergetar.

Pesan dari Ko Kevin.

Transfer ke rekening terkait Si Panjang terkonfirmasi. Tapi orangnya berpindah-pindah. Jangan konfrontasi sendiri. Kalau ada lokasi pasti, kabari langsung.

Keira mengetik cepat.

Brandon masih belum percaya.

Balasan Kevin datang beberapa detik kemudian.

Dia memang keras kepala. Kamu lebih keras kepala. Jangan kalah, tapi jangan nekat.

Keira menatap kalimat itu.

Wulan menyipit. "Muka lo berubah. Ada kasus lagi?"

"Belum jadi kasus."

"Kalau kalimatnya begitu, berarti sebentar lagi jadi."

Keira tidak sempat menjawab.

Di ujung koridor kantin, Brandon muncul dengan tas selempang hitam dan jaket Nova Esports. Rambutnya sedikit berantakan, wajahnya seperti orang kurang tidur. Begitu melihat Keira, langkahnya melambat.

Ia mengangguk.

Kaku.

Hanya satu gerakan pendek, seperti formalitas karena mereka tinggal di rumah yang sama.

Keira juga mengangguk.

Brandon hendak lewat.

Saat itulah suara kecil menjerit dari jarinya.

"Kak! Kak! Tolong lagi!"

Keira menegang.

Cincin hitam di jari Brandon bergetar begitu halus sampai pemiliknya tidak sadar. Suaranya pecah, panik, seperti anak kecil yang menahan tangis.

"Majikan gue dalam bahaya! Si Panjang udah dikasih DP, tinggal tunggu tanggal! Bukan bulan depan, bukan minggu depan, Kak. Hari ini!"

Sendok di tangan Keira berhenti di udara.

Wulan mengikuti arah pandangnya. "Kenapa?"

Keira menurunkan sendok. "Nanti."

Brandon sudah berjalan melewati meja mereka.

Cincin itu masih menjerit.

"Kak, jangan diem aja. Kemarin majikan gue marah, iya, gue tahu. Dia kalau marah otaknya kayak headset kusut, nggak bisa dipakai. Tapi tangannya itu hidup gue juga. Kalau tangan majikan gue patah, gue nggak akan pernah dipakai lagi."

Keira menekan bibir.

Ia sudah memperingatkan Brandon.

Ia sudah diusir dengan kata tukang fitnah.

Ia sudah melapor pada Ko Kevin.

Secara logika, ia seharusnya membiarkan polisi bekerja.

Tapi Cincin Brandon terus memohon, "Kak... tolong. Dia percaya sama orang yang salah."

Dari arah jauh, suara lain menyelip dengan nada pasrah.

"Gue sih udah capek hidup penuh drama. Majikan gue emang bebal. Tapi kalau dia mati, gue juga nganggur."

Keira menoleh pelan.

Suara itu datang dari balik celana jeans Brandon.

Wulan melihat ekspresi Keira dan langsung meletakkan sendok. "Oke. Itu pasti bukan suara benda yang normal."

Keira berdiri.

"Kei?"

"Gue harus coba sekali lagi."

"Butuh bantuan?"

Keira menatap Brandon yang sudah keluar dari kantin menuju gerbang. "Kalau gue belum balik dalam dua puluh menit, telepon Ko Kevin."

"Nomornya?"

Keira mengirim kontak Kevin ke WhatsApp Wulan. "Jangan ikut."

"Gue paling benci kalimat itu."

"Karena kali ini lawannya buronan."

Wulan langsung diam.

Keira meninggalkan kantin sebelum Wulan sempat memprotes lagi.

Koridor kampus siang itu panas. Cahaya matahari memantul di lantai keramik, membuat semua orang tampak lebih terang daripada biasanya. Beberapa mahasiswa menyapa Keira dengan canggung. Ia mengabaikan mereka dan mempercepat langkah.

Brandon berdiri di dekat gerbang, menunduk menatap ponsel.

"Ko Brandon."

Brandon mengangkat kepala. Wajahnya langsung menegang. "Apa lagi?"

Keira berhenti dua langkah di depannya. Kali ini ia tidak menyebut Bryan pembunuh. Tidak menyebut kalung. Tidak menyebut bukti yang tidak bisa ia jelaskan.

"Gue tahu lo nggak percaya sama gue," katanya. "Gue juga nggak minta lo percaya semua."

"Bagus."

"Tapi gue minta satu hal."

Brandon melipat tangan di depan dada. "Lo nggak capek ngatur hidup orang?"

"Jangan ikut Bryan ke warnet hari ini."

Udara di antara mereka langsung kaku.

Brandon menatapnya lama. Ada marah di matanya, tapi tidak setajam kemarin. Mungkin karena semalam ia sudah memikirkan peringatan itu. Mungkin karena kata "hari ini" terlalu tepat.

"Lo nyari tahu jadwal gue?" tanyanya pelan.

"Nggak."

"Terus lo tahu dari mana?"

Keira tidak bisa menjawab.

Brandon tertawa pendek tanpa senyum. "Lihat? Tiap gue tanya dasar omongan lo, lo diam. Terus gue harus nurut?"

"Kalau lo tetap mau benci gue setelah hari ini, silakan. Tapi jangan pergi."

"Lo nggak berhak ngatur hidup gue."

Cincin di jarinya menangis kecil.

"Majikan, dengerin sekali aja..."

Keira merasakan kepalanya berdenyut. "Ko Brandon."

"Cukup, Keira."

Nama itu keluar dingin.

Di belakang Brandon, suara motor berhenti. Bryan Sutanto turun dengan helm setengah terbuka, senyum lebar seperti tidak punya dosa.

"Brand! Lama banget. Ayo, warnet udah gue booking dua jam. Hari ini latihan serius, bro. Pelatih mau lihat hasil scrim kita malam nanti."

Brandon menoleh. Ekspresinya berubah otomatis, dari keras menjadi lebih santai. Terlalu cepat. Terlalu terbiasa mempercayai.

Bryan baru melihat Keira. "Oh, Keira. Hai. Kemarin belum sempat ngobrol, ya."

Keira menatap senyum itu.

Rapi.

Ramah.

Kosong.

"Bryan," ucapnya.

Bryan tertawa ringan. "Brand, adik lo serem juga kalau natap orang."

"Dia bukan..." Brandon berhenti, lalu mengusap wajah. "Udah. Ayo."

Keira maju setengah langkah. "Ko Brandon, jangan."

Brandon menatapnya sekali lagi.

Ada ragu.

Kecil sekali, seperti retakan tipis pada kaca.

Lalu Bryan menepuk bahunya. "Bro, jangan bilang lo takut sama omongan cewek yang baru tinggal di rumah lo beberapa minggu."

Retakan itu tertutup.

Brandon menarik napas. "Gue pergi. Jangan ikutin gue."

Ia naik ke motor Bryan.

Keira langsung mengeluarkan ponsel dan menelepon Ko Kevin.

Panggilan tersambung saat motor Bryan keluar dari gerbang.

"Kei?"

"Darurat. Brandon pergi sama Bryan. Tujuannya warnet dekat kampus. Cincin bilang Si Panjang bergerak hari ini."

Di seberang, suara Kevin berubah keras. "Share lokasi live. Jangan mendekat sendirian."

"Gue akan ikutin dari jauh."

"Keira."

"Kalau gue nggak ikut, kita kehilangan mereka."

Kevin mengumpat pelan. "Jaga jarak. Unit gue bergerak sekarang."

Keira menyalakan live location, lalu memanggil ojek online pertama yang lewat.

Perjalanan ke warnet hanya sepuluh menit, tapi terasa seperti satu jam. Motor yang ia tumpangi berhenti di seberang ruko tua dengan papan neon berkedip. Dari sana, Keira melihat Bryan dan Brandon berjalan ke sisi belakang bangunan.

Di belakang warnet ada gang sempit.

Terlalu sempit untuk dua motor bersisian. Terlalu gelap untuk siang yang panas.

Keira turun sebelum pengemudi sempat bertanya.

Bryan dan Brandon berbelok ke gang itu.

Bryan berhenti tiba-tiba, menepuk saku celananya. "Eh, bentar ya, gue salah transfer nih. Lo duluan aja masuk."

Brandon mendengus. "Cepet."

Ia melangkah sendirian ke kegelapan.

1
lin sya
kluarga gk tahu malu, stlh tau kbnarannya ngomong ttg kluarga. pdhl dulu kei anak yg diabaikan dan disakitin. skrg dtg dgn tmpg gk brsalah🤭
Dey77
baru awal baca,
semangat thor💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!