PERNAHKAH KALIAN MEMAKAN LOLIPOP?
BAGAIMANA RASANYA MANIS?
Eirina karamyka Aldirck seorang gadis manis yang menyukai lolipop.
MAU TAU KENAPA SUKA LOLIPOP?
NONTON LOLIPOP MANIS BY NILA EDRINA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nila edrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 — DALANG SEBENARNYA
BAB 23 — DALANG SEBENARNYA (Bagian 1)
Suara ledakan masih menggema di seluruh Pelabuhan Timur.
Asap hitam mengepul dari gudang yang sebagian bangunannya mulai runtuh. Percikan api menjalar ke tumpukan peti kayu, membuat suasana semakin kacau.
"Pak Mahendra!"
Ergan berlari menerobos kepulan asap. Wajahnya dipenuhi debu, tetapi ia terus mencari keberadaan atasannya.
Di tengah gudang, Mahendra masih berdiri mematung sambil menggenggam liontin bulan sabit yang ditemukan di lantai.
Tatapannya kosong.
Pikiran pria itu masih dipenuhi rekaman suara yang baru saja didengarnya.
"Anak-anak itu harus dipisahkan..."
"Kalau mereka tetap bersama... rahasianya akan terbongkar."
Suara itu sangat mirip dengan suara mendiang ayahnya.
"Tidak..." gumam Mahendra lirih.
"Ayah tidak mungkin melakukan semua itu."
Ergan berhasil menghampirinya.
"Tuan, kita harus keluar! Gudang ini akan runtuh!"
Mahendra menoleh perlahan.
"Apa menurutmu... seseorang bisa memalsukan rekaman suara?"
Ergan terdiam sejenak.
"Bisa."
"Teknologi sekarang memungkinkan."
"Tapi..."
"Kalau itu rekaman asli..."
Mahendra menutup mata.
"Aku harus menemukan kebenarannya sendiri."
Tiba-tiba...
Brak!
Salah satu balok kayu besar jatuh tepat di belakang mereka.
Api mulai membesar.
Ergan segera menarik lengan Mahendra.
"Keluar sekarang!"
Mereka berdua akhirnya berlari meninggalkan gudang beberapa detik sebelum bangunan itu roboh seluruhnya.
DUAAARRR!
Ledakan kedua mengguncang pelabuhan.
Orang-orang yang berada di sekitar lokasi langsung berhamburan.
Mahendra menoleh ke arah gudang yang kini berubah menjadi lautan api.
Victor Hanzel berhasil menghilang tanpa jejak.
Namun Mahendra yakin...
Pria tua itu sengaja membiarkannya hidup.
Seolah-olah permainan baru saja dimulai.
Di waktu yang sama...
Sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi menuju Pelabuhan Timur.
"Eiri, pelan sedikit!"
Melveri yang duduk di kursi penumpang mulai panik.
Namun Eiri sama sekali tidak mengurangi kecepatan.
Entah mengapa, dadanya terasa sangat sesak.
Sejak beberapa menit lalu, perasaannya terus mengatakan bahwa Mahendra sedang dalam bahaya.
"Aku harus menemuinya..."
"Aku tidak tahu kenapa..."
"Tapi aku harus menemuinya."
Melveri menggenggam tangan adiknya.
"Eiri..."
"Apa ada yang kamu ingat lagi?"
Eiri mengangguk pelan.
"Tadi..."
"Aku melihat Mahendra menangis."
"Dia memanggil namaku."
"Seperti... dia benar-benar takut kehilanganku."
Air mata kembali menggenang di pelupuk mata Eiri.
"Aku tidak tahan melihatnya seperti itu..."
Melveri hanya tersenyum tipis.
Dalam hati ia berharap...
Ingatan Eiri benar-benar segera pulih.
Karena hanya dengan begitu semua kebohongan yang selama ini disembunyikan akhirnya akan terungkap.
Beberapa menit kemudian...
Mobil berhenti di depan pelabuhan.
Begitu turun dari mobil, Eiri melihat asap hitam masih membumbung tinggi.
Jantungnya berdegup semakin kencang.
"Mahendra!"
Ia berlari tanpa memedulikan teriakan para petugas yang melarang orang mendekat.
Mahendra yang sedang berbicara dengan Ergan mendengar suara itu.
Ia langsung menoleh.
"Eiri?"
Belum sempat ia bergerak...
Eiri sudah memeluknya dengan erat.
Mahendra membeku.
"Apa kamu terluka?"
tanya Eiri dengan napas yang masih memburu.
Mahendra perlahan membalas pelukan itu.
"Aku baik-baik saja."
"Kamu kenapa datang ke sini?"
Eiri menatap wajah Mahendra.
"Aku tidak tahu."
"Aku hanya merasa..."
"...aku akan kehilanganmu kalau tidak datang."
Kalimat sederhana itu membuat hati Mahendra bergetar.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun...
Ia merasakan harapan.
Mungkin...
Eiri benar-benar sedang kembali mengingatnya.
Pelukan itu berlangsung beberapa detik.
Eiri perlahan melepaskan pelukannya, tetapi kedua tangannya masih menggenggam lengan Mahendra. Matanya menyapu wajah pria itu, memastikan tidak ada luka yang serius.
"Kamu benar-benar tidak apa-apa?" tanyanya sekali lagi.
Mahendra mengangguk pelan.
"Hanya sedikit terkena debu. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
Eiri mengembuskan napas lega. Tanpa ia sadari, air mata kembali mengalir di pipinya.
Melihat itu, Mahendra mengangkat tangannya, lalu menghapus air mata Eiri dengan ibu jarinya.
"Kenapa menangis?"
Eiri menundukkan kepala.
"Aku juga tidak tahu..."
"Rasanya... hatiku sakit saat membayangkan sesuatu terjadi padamu."
Ucapan itu membuat Mahendra tersenyum tipis.
Di balik ketenangannya, hatinya dipenuhi harapan.
"Sedikit lagi... Eiri. Sedikit lagi kamu akan mengingat semuanya."
"Tuan."
Suara Ergan memecah keheningan.
"Kita tidak bisa terlalu lama di sini. Polisi sudah mulai menyisir seluruh area."
Mahendra mengangguk.
"Suruh tim mengamankan semua barang bukti."
"Terutama rekaman CCTV dan sisa dokumen di gudang."
"Baik."
Ergan segera memberi perintah kepada anak buahnya.
Beberapa orang langsung bergerak memasuki area gudang yang mulai berhasil dipadamkan.
Tak lama kemudian...
Seorang anggota tim berlari menghampiri Ergan.
"Tuan Ergan!"
"Kami menemukan sesuatu!"
"Apa itu?"
"Ruang bawah tanah."
Mahendra dan Ergan saling berpandangan.
"Ruang bawah tanah?"
"Ya, Tuan."
"Sepertinya sengaja disembunyikan."
Mahendra langsung melangkah.
"Tunjukkan jalannya."
Di bawah gudang...
Tangga besi yang berkarat membawa mereka menuju sebuah ruangan sempit.
Udara di sana terasa lembap.
Lampu-lampu tua berkedip pelan.
Di dinding ruangan terpajang puluhan foto.
Semua orang terdiam.
Foto-foto itu memperlihatkan kehidupan Eiri sejak kecil.
Saat masuk sekolah.
Saat menangis.
Saat bekerja di kafe.
Bahkan...
Foto Eiri ketika bersama Mahendra beberapa hari yang lalu.
Eiri menutup mulutnya.
"Siapa... yang mengambil semua foto ini?"
Merinding menjalar ke seluruh tubuhnya.
Mahendra mengepalkan tangan.
"Berarti..."
"Selama ini ada seseorang yang mengawasi kita."
Di sudut ruangan terdapat sebuah meja tua.
Di atasnya tergeletak sebuah buku hitam.
Mahendra membukanya perlahan.
Halaman pertama hanya berisi satu kalimat.
"Eksperimen Subjek E berhasil."
Kening Mahendra langsung berkerut.
"Subjek E?"
Ia membalik halaman berikutnya.
Di sana terdapat tanggal-tanggal tertentu disertai catatan singkat.
"Ingatan mulai melemah."
"Subjek tidak mengenali target M."
"Efek obat berjalan sesuai rencana."
Jantung Mahendra berdetak semakin cepat.
Target M...
Tidak mungkin...
"Itu aku..." bisiknya lirih.
Eiri ikut membaca isi buku itu.
Tubuhnya mendadak lemas.
"Obat?"
"Apa maksudnya?"
Mahendra menutup buku tersebut.
"Sepertinya..."
"Kamu tidak kehilangan ingatan karena kecelakaan."
"Melainkan..."
"Seseorang sengaja membuatmu melupakan masa lalumu."
Ucapan itu membuat seluruh ruangan mendadak sunyi.
Eiri menggeleng pelan.
"Tidak..."
"Itu tidak mungkin."
Namun jauh di dalam hatinya...
Ia mulai percaya.
Karena selama ini kehilangan ingatannya memang terasa sangat aneh.
Di saat yang sama...
Di sebuah rumah tua yang berada di pinggir kota.
Victor Hanzel duduk sambil memandang papan catur.
Darius berdiri di belakangnya.
"Mereka menemukan ruang bawah tanah."
Victor hanya tersenyum.
"Biarkan."
"Tapi bukankah itu berbahaya?"
Victor menggeleng.
"Mereka baru menemukan serpihan kecil."
"Rahasia sesungguhnya masih berada di tempat lain."
Darius mengangguk pelan.
"Lalu bagaimana dengan Rivan?"
Mendengar nama itu, senyum Victor perlahan menghilang.
"Dia..."
"...adalah satu-satunya orang yang bisa menghancurkan rencana kita."
"Tapi juga satu-satunya orang yang mengetahui seluruh kebenaran."
Victor memindahkan satu bidak catur.
"Sudah waktunya mengundangnya kembali ke permainan."
Sementara itu...
Rivan berdiri di depan sebuah makam.
Tangannya menggenggam surat peninggalan ayah Eiri.
Ia menatap batu nisan itu dengan mata yang dipenuhi penyesalan.
"Maaf..."
"Aku belum bisa memenuhi janjiku."
"Tapi..."
"Aku akan melindungi anak-anakmu."
"Walaupun harus mengorbankan nyawaku sendiri."
Angin malam berembus pelan.
Tiba-tiba ponsel Rivan berdering.
Ia melihat nama yang muncul di layar.
Victor Hanzel.
Rivan menghela napas panjang sebelum mengangkat panggilan itu.
"Sudah lama kita tidak bertemu, Rivan."
Suara Victor terdengar tenang.
"Apa maumu?"
Victor tertawa kecil.
"Permainan telah dimulai."
"Sekarang giliranmu memilih."
"Menyelamatkan Eiri..."
"Atau mengungkap kebenaran."
Rivan mengepalkan tangannya.
"Aku akan melakukan keduanya."
Victor tersenyum tipis.
"Kita lihat saja."
Panggilan terputus.
Rivan memandang langit malam.
Perasaannya tidak tenang.
Ia tahu...
Badai yang sesungguhnya baru akan dimulai.