Elara tumbuh sebagai putri tunggal dari pemimpin organisasi mafia paling kejam di negeri ini. Dididik dengan kekerasan dan dicengkeram doktrin psikopat oleh ayahnya, ia terpaksa mengenakan topeng apatis dan minim empati.
Saat berusia 14 tahun, dalam sebuah misi untuk menghabisi geng lokal, takdir mempertemukannya dengan seorang remaja laki-laki yang tengah dikeroyok.
Bukannya takut melihat aksi kejam Elara, pemuda itu justru jatuh cinta pada pandangan pertama dan dengan sukarela menawarkan dirinya untuk masuk ke dalam dunia hitam organisasi demi bisa bersamanya.
Tahun demi tahun berlalu. Remaja laki-laki itu kini telah tumbuh menjadi pengawal pribadi Elara yang paling tangguh dan tepercaya. Tanpa mengetahui rencana pengkhianatan Elara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5 : PRAHARA DI SAYAP BAWAH TANAH
Elara mendorong pintu kantor Ayahnya dengan pelan. Di dalam, Ayah sedang menatap foto-foto di meja dengan rahang terkatup rapat. Adrian berdiri di sampingnya, wajahnya penuh dengan senyum palsu.
"Ayah," panggil Elara.
Suaranya yang dingin membuat bulu kuduk Adrian merinding.
Wajahnya yang tadi penuh percaya diri kini menegang. "Elara, ini bukan urusanmu. Kami sedang membicarakan keamanan organisasi."
Elara mengabaikan kehadiran Adrian. Ia berdiri di depan meja ayahnya, meraih foto yang diletakkan Adrian di atas meja, lalu merobeknya menjadi dua bagian tanpa mengalihkan pandangan dari sang Ayah.
"Kau meragukan kesetiaan Dante, atau kau meragukan pilihanku dalam memilih pengawal?" tanya Elara dengan nada datar.
"Elara, lihat faktanya!" seru Adrian. "Dia masuk ke kamarmu di malam hari! Itu melanggar—"
Elara menoleh, menatap Adrian seolah pria itu hanya seekor lalat yang berisik.
"Dante berada di sana karena aku yang mengizinkannya," ucap Elara pendek.
"Ada masalah keamanan yang sedang dia tangani untukku. Masalah yang terlalu 'rumit' untuk bisa dipahami oleh otak sesederhana milikmu, Adrian."
Adrian merasa lidahnya mendadak kelu.
"Kau berani menginterogasi pengawalku di belakangku?" Elara melangkah maju. "Kau merasa cukup berkuasa untuk mencoba membuang aset paling berharga milik organisasi ini?"
"Aku... aku hanya ingin yang terbaik untuk Ayah," gagap Adrian tiba-tiba.
"Tidak," Elara memotong, "kau menginginkan posisiku bukan?"
Elara menoleh ke arah ayahnya, wajahnya kembali tenang. "Ayah, Dante adalah aset yang aku percayai. Jika Ayah meragukan Dante, maka Ayah juga meragukan penilaianku sebagai satu-satunya penerusmu."
Sang Ayah menatap putrinya cukup lama.
"Adrian," suara sang Ayah akhirnya memecah keheningan. "Jangan pernah lagi mencoba mengurus masalah internal pengawal pribadi Elara. Kamu mengerti?"
Adrian menunduk, tangannya mengepal erat di balik punggung.
"Ya, Ayah," jawabnya pelan.
"Tunggu apalagi. Keluar," perintah Elara datar.
Begitu pintu kantor sang Ayah tertutup rapat di belakangnya, kendali diri Adrian hancur. Langkah kakinya yang tergesa-gesa dan berat menggema di sepanjang koridor, menuju ke sayap bawah tanah.
Wajahnya merah padam, napasnya memburu dilingkupi rasa malu dan dendam. Kalimat Elara terus terngiang, menampar egonya.
𝙊𝙩𝙖𝙠𝙢𝙪 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙨𝙚𝙙𝙚𝙧𝙝𝙖𝙣𝙖. 𝙆𝙖𝙪 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙞𝙣𝙜𝙞𝙣𝙠𝙖𝙣 𝙥𝙤𝙨𝙞𝙨𝙞𝙠𝙪.
"Sialan! Jalang sialan!" lolong Adrian sambil menendang pintu besi ruang interogasi bawah tanah.
Di dalam ruangan pengap berbau karat itu, dua anak buahnya sedang menjaga seorang informan musuh yang sudah babak belur terikat di kursi besi.
Melihat Adrian masuk dengan mata merah seperti orang kesetanan, kedua anak buahnya langsung membeku.
Tanpa basa-basi, Adrian melangkah maju dan melayangkan jotosan mentah tepat ke rahang salah satu anak buahnya sendiri.
𝘉𝘶𝘨𝘩
Pria berbadan tegap itu tersungkur ke lantai yang dingin, memuntahkan darah segar dari mulutnya.
"T-Tuan Adrian—"
"Diam kau, keparat!" teriak Adrian kesetanan. Ia menyambar sebuah tongkat besi pendek yang tergeletak di atas meja, lalu memukulkannya tanpa ampun ke punggung bawahannya yang sedang tersungkur.
𝘗𝘭𝘢𝘬 𝘉𝘶𝘨𝘩
Suara hantaman besi yang bertemu dengan daging dan tulang berbunyi mengerikan di dalam ruangan sunyi itu, diiringi teriakan kesakitan sang anak buah. Adrian tidak peduli. Di matanya saat ini, orang yang sedang ia pukuli bukanlah bawahannya, melainkan bayangan Elara dan Dante yang selalu memandangnya rendah.
"Kenapa kalian semua tidak berguna?!" teriak Adrian lagi, napasnya tersengal-sengal saat ia melayangkan pukulan terakhir ke perut bawahannya hingga pria itu pingsan tak sadarkan diri. "Satu foto saja tidak becus! Rencana sederhana saja berantakan!"
Anak buah yang satu lagi hanya bisa berdiri mematung di sudut ruangan, wajahnya pucat pasi, tidak berani menghentikan kegilaan tuannya jika tidak ingin menjadi sasaran berikutnya.
Adrian melemparkan tongkat besi yang kini bernoda darah itu ke lantai dengan kasar. Ia mencengkeram tepi meja besi, menundukkan kepalanya untuk mengatur napasnya yang tidak beraturan.
Jari-jarinya bergetar hebat, dipenuhi oleh sisa adrenalin dan rasa frustrasi yang mendalam.
Elara baru saja mempermalukannya di depan Ayah mereka. Kakaknya itu menunjukkan dengan jelas siapa yang memegang kendali di Ouroboros.
Perlahan, Adrian menegakkan tubuhnya. Ia menyeka keringat di dahinya dengan lengan kemejanya.
Matanya kini beralih menatap informan rival yang terikat di kursi, yang sejak tadi gemetar menyaksikan kebrutalan Adrian.
Sebuah senyum miring, dingin, dan kosong terukir di wajah Adrian yang berantakan.
"Kau," panggil Adrian, suaranya mendadak menjadi lirih dan serak. Ia melangkah mendekati sang informan, lalu mencengkeram rambut pria malang itu hingga mendongak.
"Katakan pada bosmu di luar sana... Aku punya penawaran bagus. Aku akan memberikan jalur perimeter logistik barat Ouroboros secara cuma-cuma," bisik Adrian tepat di telinga pria itu.
Nggak bisa nebak endingnya 💪💪
qu rasa nanti hadir laki" yg melebihi mrk smua
juliaaan👍👍
takut nii
semangat kak💪💪
bikin penasaran
kenapa feeling ku bilang ini sad ending yaa🤔🤔
semangat kak💪💪
sebenarnya apa niat dia yaa 🤔
jangan bilang ini belum kemampuan elara yang sebnernya..