Dua tahun menjalani hubungan rahasia (backstreet) dengan Dimas—pria matang keturunan darah biru—Kirana rela mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya. Ia melepaskan masa lalu, melawan restu keluarganya sendiri, hingga meruntuhkan tembok perbedaan besar demi menyamakan arah masa depan dan bersiap melangkah ke jalan yang sama dengan sang kekasih.
Namun, tepat di hari saat ia siap menyerahkan seluruh hidupnya, takdir menghempaskannya tanpa belas kasihan. Di sebuah gedung pesta yang megah, dunia Kirana seolah runtuh. Di atas pelaminan mewah, Dimas justru bersanding dengan wanita lain yang merupakan atasannya sendiri. Tanpa ada kata putus, tanpa perpisahan hangat. Kirana ditinggalkan begitu saja dalam kehampaan oleh pria yang berjanji menjadi kompas hidupnya.
Sanggupkah Kirana bertahan dan menemukan kembali jati dirinya setelah pengorbanan tulusnya diinjak-injak? Dan bagaimanakah takdir menjemput penyesalan terdalam sang lelaki darah biru tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Selisih Paham yang Tenang dan Sorot Mata di Balik Kaca
Gus Yusuf mengakhiri kunjungannya sore itu dengan sebuah anggukan hormat yang sangat santun. Sebelum melangkah keluar dari ruko konveksi, Gus muda itu sempat menyelipkan sebuah undangan lisan agar Kirana dan Aisyah bersedia hadir dalam acara akbar yang akan digelar di pondok besar milik keluarganya pekan depan. Kirana menerima undangan itu dengan senyuman anggun, mengantarkan sang guru spiritualnya sampai ke depan pintu ruko dengan batas kesopanan yang teramat sangat terjaga.
Begitu sosok Gus Yusuf menghilang di balik tikungan jalan, atmosfer di dalam ruko mendadak berubah menjadi sedikit canggung.
Dr. Adrian yang sejak tadi duduk kaku di sudut ruangan santai, perlahan bangkit berdiri. Kalimat-kalimat Aisyah tentang ketampanan, kesantunan, dan bagaimana Gus Yusuf adalah "paket lengkap" untuk membimbing seorang seperti Kirana, masih terngiang-ngiang kencang di dalam gendang telinganya. Ada rasa tidak nyaman yang bergejolak di dalam dadanya—sebuah rasa cemburu yang teramat sangat asing bagi seorang dokter berwibawa seperti dirinya.
Ditambah lagi, dr. Adrian sempat mencuri dengar kata "pondok milik keluarga" dari ucapan Gus Yusuf tadi. Ingatan Adrian langsung melayang pada obrolan para suster di rumah sakit mengenai tradisi lingkungan disana. Pikiran logisnya mulai overthinking, meyakini bahwa Gus muda karismatik seperti Yusuf pasti sudah disiapkan jodoh yang setara, seorang "Ning" atau putri kiai besar, demi menjaga nasab dan kelangsungan pondok.
Mencoba menutupi kegundahan batinnya yang sudah kebakaran jenggot, dr. Adrian melangkah maju menghampiri Kirana yang baru saja kembali ke meja potong kainnya.
"Kirana," sapa dr. Adrian dengan suara baritonnya yang diusahakan sehangat dan setenang mungkin, meskipun rahangnya sedikit mengeras kaku.
Kirana langsung menoleh, mengulas senyuman tipis yang teramat sangat teduh. "Eh, Dokter Adrian. Maaf ya, Dok... tadi saya harus menerima tamu dulu jadi membuat Dokter menunggu lama bersama Aisyah di dalam."
"Ah, tidak apa-apa. Kebetulan... saya ke sini juga ingin menanyakan pesanan yang kemarin sempat saya tanyakan untuk Ibu saya," alibi dr. Adrian, mencari alasan klasik yang paling aman agar bisa tetap mengobrol berdua dengan Kirana.
Adrian terdiam sejenak, menatap jemari anggun Kirana yang sedang merapikan lembaran kain katun jepang. Dengan gaya "cowok kulkas"-nya yang gengsian tapi dipenuhi rasa ingin tahu yang teramat sangat akut, Adrian akhirnya memberanikan diri memancing informasi untuk menguji asumsinya sendiri.
"Pondok keluarga Gus Yusuf tadi... sepertinya sangat besar ya?" tanya dr. Adrian dengan nada suara yang sengaja dibuat kasual.
"Lingkungan pondok tradisional yang besar seperti itu... biasanya sangat ketat dalam menjaga adat dan tradisi. Termasuk... dalam hal menentukan pasangan hidup yang harus setara latar belakang spiritualnya. Seperti dengan seorang Ning, misalnya."
Kirana sempat menghentikan gerakan tangannya di atas kain selama satu detik. Menatap dr. Adrian, menyadari ada nada yang tidak biasa dari pertanyaan sang dokter tampan tersebut. Namun, dengan kecerdasan dan ketenangannya yang natural, Kirana sama sekali tidak terpancing untuk bersikap menye-menye.
Kirana tersenyum tenang, sebuah senyuman anggun yang menyejukkan hati. "Oh, kalau soal itu... kemarin Aisyah memang sempat mendengar kabar angin dari orang-orang di sana, Dok. Katanya, Gus Yusuf memang sedang coba dijodohkan keluarganya dengan seorang Ning dari salah satu pondok besar di Jawa Timur."
DEG...
Mendengar konfirmasi dari mulut Kirana sendiri, dr. Adrian sempat menarik napas lega di dalam hati. Asumsinya benar. Gus Yusuf sudah punya garis jodohnya sendiri yang setara.
Sayangnya, kalimat Kirana berikutnya langsung membuat detak jantung dr. Adrian kembali ketar-ketir tidak karuan.
"Tapi, kata Aisyah lagi, Gus Yusuf sempat menolak perjodohan tersebut dengan halus, Dok," lanjut Kirana dengan nada suara yang sangat polos dan biasa saja, seolah sedang menceritakan cuaca siang hari.
"Beliau katanya lebih memilih untuk mencari pendamping hidup yang... benar-benar mau berjuang bersama dari nol, tanpa memandang status sosial atau kasta spiritualnya. Tapi bagi saya pribadi, Gus Yusuf adalah guru spiritual yang teramat sangat saya hormati ilmunya, tidak lebih dari itu, Dok."
JLEB!!!
Bukannya tenang, dada dr. Adrian seperti dihantam ombak besar sekali lagi! Fakta bahwa Gus Yusuf menolak seorang "Ning" demi mencari wanita yang mau berjuang dari nol, membuat peluang sang Gus untuk mendekati Kirana justru terbuka selebar-lebarnya! Adrian sadar bahwa saingannya kali ini bukan pria sembarangan, melainkan seorang ahli spiritual yang idealis dan berkarakter kuat!
Di tengah suasana canggung yang dipenuhi oleh riak cemburu diam-diam dari dr. Adrian, sepasang mata cerdas Kirana mendadak menangkap sebuah kejanggalan dari balik pintu kaca ruko yang transparan.
Melalui sudut pandangnya yang tajam, Kirana melihat siluet sebuah mobil mewah berwarna hitam yang terparkir statis di seberang jalan sejak beberapa jam yang lalu. Melalui celah kaca mobil yang gelap dan terbuka sedikit, Kirana bisa mengenali dengan sangat jelas sosok wanita paruh baya yang berada di dalam sana.
Itu adalah Ibu Ratna. Wanita yang penuh obsesi mengintai kehidupannya karena paranoia gilanya sendiri.
Aisyah yang baru menyadari hal itu dari meja jahit langsung berbisik cemas, "Kirana... itu bukannya mobil ibunya Ratna, ya? Dia ngapain lagi ngeliatin ruko kita kayak gitu dari seberang jalan? Apa kita perlu panggil keamanan pasar?"
Dr. Adrian yang mendengar ucapan Aisyah, langsung menegang. Wajah tampannya seketika berubah menjadi sangat protektif, bersiap untuk melangkah keluar demi pasang badan melindungi Kirana dari potensi teror keluarga Dimas. "Kirana, biar saya yang keluar dan—"
"Tidak perlu, Dokter Adrian," potong Kirana dengan nada suara yang sangat tenang, lembut, tapi memancarkan ketegasan yang luar biasa mutlak.
Kirana tidak menunjukkan rasa ketakutan sedikit pun. Dia adalah wanita anggun yang memiliki harga diri dan martabat yang teramat sangat tinggi. Dia tidak akan membiarkan dirinya terlihat lemah atau bersembunyi di balik punggung orang lain seperti wanita menye-menye yang tak berdaya.
Dengan gerakan yang teramat sangat anggun dan tenang, Kirana meletakkan gunting kainnya di atas meja potong. Merapikan letak kerudungnya sejenak, memastikan penampilannya tetap santun dan tertutup sempurna.
Setelah itu, Kirana melangkah mantap berjalan menuju ke arah pintu kaca ruko. Kirana membuka pintu tersebut, lalu melangkah keluar dan berdiri dengan tegak di atas teras ruko miliknya.
Kirana tidak berteriak, tidak memaki, dan tidak melakukan tindakan fisik apa pun. Wanita yang kini sudah tenang dengan jalan keyakinan barunya itu hanya berdiri dengan kedua tangan yang bersedekap anggun di depan dada. Di bawah siraman angin sore yang lembut, Kirana menatap lurus-lurus ke arah kaca mobil Ibu Ratna yang berada di seberang jalan.
Sepasang mata cerdas Kirana memancarkan sorot mata yang sangat dingin, berani, berwibawa, dan menantang balik aksi pengintaian itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Tatapan Kirana seolah menyuarakan dengan lantang: Aku tidak takut pada terormu, dan hidupku bukan lagi urusan keluargamu!
Melihat konfrontasi yang teramat sangat berani dan anggun dari Kirana, dr. Adrian langsung terpaku kaku di ambang pintu ruko. Rasa takjub dan kekaguman yang luar biasa dahsyat kian meluap-luap menghantam batin sang dokter tampan melihat bagaimana tangguhnya jiwa wanita yang ia cintai dalam diam ini.
Sementara itu, di seberang jalan, Ibu Ratna yang berada di dalam kabin mobil mewah langsung panik setengah mati dan salah tingkah! Ratna tidak menyangka bahwa aksi mata-matanya tertangkap basah oleh tatapan dingin mematikan dari Kirana. Dengan tangan gemetar karena malu dan takut rahasianya terbongkar, Ratna langsung berteriak panik pada supirnya, "Jalan! Jalan sekarang! Cepat!"
Mobil mewah itu langsung tancap gas dengan terburu-buru, melesat pergi meninggalkan area ruko dengan memalukan. Kirana tetap berdiri anggun di atas teras, menatap kepergian mobil itu dengan senyuman tipis yang penuh kemenangan moral. Momen keberanian Kirana yang tenang dan anggun, disaksikan oleh tatapan dr. Adrian yang kian jatuh cinta.
pasti ada kekecewaan disitu ,wajar sih kalau mereka marah
malahan Ratna lebih peduli kehilangan Dimas,kalau ayahnya Dimas koid,Dimas bebas haha,dsar otak nya 😄
dia yang salah tapi tidak mau disalahkan
hasil merebut itu ga awet bu, inget umur
kamu wanita kaya ,mandiri knp harus merebut hak orang lain. percuma hartamu😄
udah merebut malahan dia merasa korban😄
kan bisa dibicarakan baik" ,kalian sudah mendzolimi kirana
rasakan akibatnya sendiri
setidaknya harus ada omongan, Ratna juga ksian hasil merampas itu ga akan tenang
kalau kamu itu seorang yang tau agama
tidak akua menawarkan nikah siri ,padahal baru 3hari
ayo tetap semangat
tapi semoga ini bisa jadi pelajaran buat kamu iya
cinta beda agama apakah mereka akan bahagia