Pria yang selama ini mereka remehkan adalah Dewa Perang yang mampu menghancurkan kerajaan dalam semalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Dunia seolah berhenti berputar. Para tamu elit yang tadinya mengejek Clarissa kini mendadak pucat pasi. Mereka menyadari satu hal: selama ini mereka telah menginjak-injak orang yang bahkan ditakuti oleh Jenderal tertinggi negara.
Bram Sanjaya gemetar hebat. Dia berusaha turun dari panggung dan melarikan diri, namun Devan menatapnya tajam.
"Tunggu dulu, Tuan Bram," suara Devan terdengar santai namun menusuk ke jantung. "Anda tadi sedang berbicara tentang 'dukungan politik', bukan? Kenapa sekarang Anda terlihat seperti maling yang tertangkap basah?"
Devan melangkah mendekat, auranya memancar dominan, membuat para ajudan Jenderal Subiakto pun ikut siaga.
"Anda ingin menghancurkan kami dengan fitnah birokrasi? Silakan dicoba," tantang Devan. "Tapi jangan menyesal jika besok pagi, seluruh izin usaha Keluarga Sanjaya dicabut karena temuan penyelundupan senjata di Pelabuhan Utara yang datanya kini sudah ada di meja Jenderal Subiakto."
Mendengar kata 'penyelundupan senjata', Bram Sanjaya terduduk lemas di lantai marmer. Para tamu undangan segera menjauh dari Keluarga Sanjaya seperti melihat wabah penyakit. Reputasi mereka hancur seketika di hadapan seluruh elit kota.
Clarissa berdiri di sisi Devan, merasakan sensasi kemenangan yang luar biasa. Ia menatap suaminya dengan tatapan yang memuja.
Acara perayaan yang seharusnya menjadi ajang perundungan bagi Clarissa, berubah menjadi malam penobatan kekuasaannya yang mutlak. Di mata para tamu, Clarissa bukan lagi sekadar CEO muda, dia adalah istri dari pria yang memiliki kendali atas segalanya.
Setelah keributan mereda dan Keluarga Sanjaya diusir oleh keamanan hotel, suasana kembali tenang. Devan dan Clarissa berjalan menuju balkon lantai atas yang menghadap ke pemandangan kota.
"Kamu benar-benar gila, Devan," bisik Clarissa, tertawa kecil. Ia bersandar di dada Devan, menatap lampu-lampu kota. "Membawa Jenderal ke pesta ulang tahun perusahaan? Itu langkah yang sangat berlebihan."
Devan melingkarkan lengannya di pinggang Clarissa, menariknya lebih dekat. "Untuk istriku yang paling berharga, tidak ada kata berlebihan."
Clarissa menoleh, wajahnya sangat dekat dengan Devan. Rasa lelah, ketakutan, dan egonya telah hilang sepenuhnya. Yang tersisa hanyalah rasa cinta yang mendalam. Ia menjinjit, mendekatkan wajahnya, dan tanpa ragu mencium bibir Devan dengan lembut namun dalam.
Itu bukan lagi ciuman kontrak. Itu adalah ciuman penyerahan diri.
Kehancuran reputasi di pesta tadi malam membuat Keluarga Sanjaya bak binatang yang terjepit. Di sebuah gudang bawah tanah yang jauh dari pusat kota, Bram Sanjaya, dengan wajah yang tidak terawat dan mata merah menahan amarah, menatap seorang pria asing berkulit gelap yang duduk di hadapannya.
Pria itu adalah Vindicator, pemimpin kelompok tentara bayaran Black Cobra cabang Asia Tenggara. Ia adalah profesional sejati yang tidak mengenal hukum, hanya mengenal bayaran.
"Devan bukan sekadar pengawal, Bram," suara Vindicator terdengar berat dengan aksen asing yang kental. "Dia adalah legenda yang tidak boleh disinggung. Tapi... selama uangnya cukup, kami bisa membungkam legenda itu selamanya."
Bram meletakkan sebuah koper logam di atas meja. "Ini adalah seluruh aset terakhir milik keluarga Sanjaya. Ambil semuanya. Aku tidak ingin dia mati dengan cepat. Aku ingin dia melihat kerajaannya dan istrinya hancur berkeping-keping sebelum dia menghembuskan napas terakhir."
Vindicator menyeringai, menampilkan barisan gigi yang tampak menakutkan. "Kesepakatan diterima."
Kediaman Utama Clarissa
Sementara itu, di dalam rumah, suasana terasa tenang namun intens. Clarissa sedang berdiri di depan cermin besar di ruang ganti. Ia baru saja menyelesaikan sesi latihan pernapasan teknik Naga Kuno yang diajarkan Devan semalam.