NovelToon NovelToon
Diacuhkan Dokter Eh Dikejar Direktur Rumah Sakitnya

Diacuhkan Dokter Eh Dikejar Direktur Rumah Sakitnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Abu

Adera mencintai Ezra selama dua tahun, tapi cintanya diremehkan dan ditolak mentah-mentah. Saat hatinya mati dan ia memilih fokus pada diri sendiri, Ezra justru menyesal dan panik.

Namun terlambat, karena kini hadir Damar pria yang jauh lebih sempurna yang ternyata adalah calon suaminya.

Akankah Damar mampu menghidupkan kembali rasa cinta Adera yang bertekad untuk tidak jatuh cinta lagi?

Simak kisah cinta mereka bertiga, di novel ini akan disuguhi komedi yang lucu agar tidak terlalu mengantuk ketika membaca.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Abu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Pagi ini suasana rumah terasa aneh. Terlalu sepi bahkan hening yang mencekam.

Tidak ada suara keributan yang biasa terdengar dari kamar Adera saat gadis itu sibuk memilih-milih pakaian sebelum pergi ke rumah sakit. Tidak ada suara langkah kaki riang, atau senandung kecil sambil memasukkan bekal makanan ke dalam tas dengan penuh semangat.

Hari ini, semuanya sunyi senyap. Seolah ada bagian dari rumah yang hilang.

Mama Adera yang merasakan ketidakwajaran ini akhirnya melangkah pelan menuju kamar putrinya. Ia membuka pintu perlahan, membiarkan cahaya pagi menyelinap masuk.

“Adera?” panggil Mama lembut.

Namun begitu melihat kondisi di dalam, wajah wanita itu langsung pucat pasi dan panik bukan main.

Adera terlihat meringkuk kedinginan di balik selimut tebal. Wajahnya memerah padam karena panas, napasnya terdengar berat dan tersengal, sementara rambut panjangnya basah kuyup oleh keringat dingin.

Mama buru-buru mendekat dan menempelkan telapak tangannya ke dahi anak itu.

“Astaga sayang… panasnya bukan main! Kayaknya hampir empat puluh derajat!” seru Mama dengan nada panik yang tak bisa disembunyikan.

Adera membuka matanya pelan, pandangannya kabur dan terasa sangat berat.

“Ma… Jangan teriak dong… Nanti kepalaku pecah,” ucap Adera lirih, suaranya serak dan lemah sekali.

“Kamu demam tinggi begini kenapa gak bilang sama Mama dari tadi?” tegur Mama cemas, tangannya gemetar mengusap pipi anaknya yang panas membara.

“Cuma demam biasa kok, Ma… nanti juga sembuh,” jawab Adera berusaha terdengar santai meski tubuhnya menggigil hebat.

“Ini gak biasa, Adera! Lihat wajahmu merah padam begini. Kita ke rumah sakit sekarang, yuk! Biar diperiksa dokter!” ajak Mama tegas, sudah siap membantu anaknya bangun.

Namun begitu mendengar kata ‘rumah sakit’, mata Adera yang semula sayu langsung membelalak sedikit, dan ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat meski terasa berat dan pusing.

“Gak mau ah… Mama lebay banget sih!” tolak Adera dengan sisa tenaga yang dimilikinya.

Mama mengernyitkan dahi, merasa sangat heran dengan reaksi anaknya yang berubah drastis.

“Kamu kenapa sih? Biasanya paling semangat mau ke sana, bahkan cari-cari alasan. Sekarang disuruh malah nolak?” goda Mama pelan, mencoba mencari tahu apa yang terjadi.

Adera memalingkan wajahnya ke arah dinding, menghindari tatapan ibunya.

“Mama ih… Adera mau tidur aja… Adera janji nanti jam tiga sore sembuh kok, oke?” ucap Adera dengan nada membujuk yang terdengar sangat lelah dan putus asa.

“Jam tiga sore? Jangan lawak deh, Adera! Demamnya tinggi gini mana bisa sembuh sendiri kalau dibiarkan? Setidaknya minum obat dulu gitu!” omel Mama sambil bergegas mengambil obat dan air putih.

“Tadi Adera sudah minum, Ma…” jawab Adera berbohong cepat, hanya agar ibunya tenang dan membiarkannya sendiri dalam kesedihannya.

Mama Adera masih terus mencoba membujuk, namun gadis itu tetap keras kepala menolak pergi ke mana pun. Padahal suhu tubuhnya saat itu benar-benar tinggi dan berbahaya.

Sementara itu di rumah sakit, Denial sudah sibuk bekerja sejak pagi buta. Pria itu sama sekali tidak mengetahui bahwa adik kesayangannya sedang terbaring lemah dan menderita di rumah.

Hingga malam hari, saat dirinya baru saja melangkah pulang dengan wajah lelah.

Baru saja membuka pintu dan melepas jas kerjanya, sang Mama langsung menghampirinya dengan wajah panik luar biasa.

“Denial! Cepat lihat adikmu! Bahaya nih!” seru Mama dengan nada tinggi.

Denial langsung menegang, jantungnya berdegup kencang tak karuan.

“Kenapa, Ma? Adera kenapa?” tanya Denial cepat, napasnya tertahan.

“Dia demam tinggi dari pagi dan gak mau dibawa ke rumah sakit! Padahal panasnya luar biasa! Dia nolak keras, Nak!” jelas Mama panik.

Wajah Denial langsung berubah serius dan khawatir setengah mati.

“Apa?!”

Tanpa membuang waktu sedetik pun, Denial langsung berlari menaiki tangga menuju kamar Adera dengan langkah lebar.

Begitu pintu kamar terbuka, pemandangan di depannya membuat jantung pria itu seakan berhenti berdetak sesaat.

Adera tertidur lemas, wajahnya merah padam menahan panas. Tubuh kecilnya sesekali menggigil hebat di balik selimut yang tebal, terlihat begitu rapuh dan menyedihkan.

“Aderaa…” panggil Denial lembut, suaranya terdengar berat dan penuh kekhawatiran yang mendalam.

Ia cepat mendekat dan menempelkan punggung tangannya ke dahi adiknya.

“Gila… Ini panas banget! Sampai keringat dingin gini,” gumam Denial panik, matanya berkaca-kaca melihat kondisi adiknya.

Adera membuka matanya perlahan, pandangannya kabur saat melihat sosok kakaknya.

“Kak…” panggilnya lirih.

“Kamu sakit begini kenapa diem aja? Kenapa gak bilang Kakak?” tanya Denial, suaranya terdengar parau dan sangat khawatir.

Adera hanya tersenyum kecil, senyum yang terasa sangat pahit dan lemah.

“Ganggu kerjaan Kakak nanti… Adera gak mau jadi beban,” jawab Adera pelan.

“Kerjaan bisa nanti! Yang penting kesehatan kamu sekarang! Ayo bangun, kita ke RS sekarang!” seru Denial tegas, langsung berdiri dan mengambil jaket adiknya.

“Aku gak mau kemanapun, Kak… Lebih enak di rumah. Di sini tenang,” tolak Adera dengan alasan yang terdengar sangat lemah.

“Pokoknya tidak ada alasan lagi! Kondisi kamu bahaya begini! Kita ke rumah sakit sekarang juga!” perintah Denial tak bisa ditawar lagi.

Namun Adera buru-buru menggelengkan kepalanya, kali ini dengan penolakan yang sangat kuat meski tubuhnya tak berdaya.

“GAMAU!” serunya, suaranya melengking tinggi karena kepanikan. “Aku gak mau ke sana!”

“Jangan keras kepala, Adera! Ini demi kebaikan kamu sendiri!” bentak Denial mulai kesal dan cemas.

“Aku cuma capek doang! Entar juga sembuh sendiri kalau di rumah!” bantah Adera, matanya mulai berkaca-kaca.

“Kondisi kamu sudah drop begini! Lihat diri kamu!” ucap Denial tak kalah keras.

Adera pun akhirnya diam. Dia hanya menunduk pelan, kedua tangannya menggenggam ujung selimutnya erat-erat sampai buku-buku jarinya memutih.

Denial menatap adiknya lekat-lekat selama beberapa detik. Otaknya bekerja cepat menganalisis situasi.

Ada sesuatu yang sangat berbeda. Biasanya Adera itu paling antusias kalau dibawa ke rumah sakit. Bahkan sering mengarang alasan sakit agar bisa datang ke sana.

Tapi sekarang… Gadis itu justru terlihat takut. Sangat takut dan enggan untuk melangkah ke sana.

“Adera…” suara Denial perlahan melunak, nada tegasnya hilang berganti dengan kelembutan. “Ada masalah apa? Sampai segitunya kamu nolak ke sana?”

Adera langsung menggelengkan kepalanya cepat, meski kepalanya terasa pening.

“Enggak ada, Kak… Beneran enggak ada,” jawab Adera cepat, berusaha menyembunyikan sesuatu.

“Yakin?” tanya Denial menatap tajam.

“Iya…” jawab Adera pelan, menunduk dalam.

Denial paham. Adiknya sedang berbohong. Dia bisa melihatnya jelas dari getaran tubuh dan mata yang tak berani menatap.

Namun melihat kondisi Adera yang sudah terlalu lemah dan lemas, pria itu memilih untuk tidak mendesak saat ini juga.

Tanpa banyak bicara lagi, Denial langsung membuka selimut dan dengan sigap mengangkat tubuh mungil adiknya ke dalam gendongan kuatnya.

Adera terlalu lemah untuk memberontak atau melawan.

Dia hanya bisa menyandarkan kepalanya lemas di dada bidang kakaknya, lalu memejamkan matanya perlahan, membiarkan air mata yang tertahan akhirnya jatuh tanpa suara.

Sementara Denial berjalan keluar kamar dengan langkah cepat namun hati-hati, perasaannya berkecamuk gelisah.

Entah kenapa… Dia punya firasat kuat. Bahwa ada seseorang di luar sana yang baru saja berhasil mematahkan semangat dan hati adiknya yang selama ini selalu ceria dan penuh warna.

1
Perempuan
Alurnya bagus, gak menoton. Ada lucu²nya. Semangat update ya Thor biar pembaca tetap ingat alur ceritanya
Perempuan
lanjut Thor 👍👍
Alvi
bagus . semangat terus 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!