"Tanda tangani surat cerai ini atau keluargamu membusuk di penjara!"
Difitnah atas kejahatan yang tidak dilakukannya, Flossie diusir oleh suaminya, Alfie Kincaid, ke tengah badai malam. Pria itu tidak pernah tahu, Flossie pergi dengan membawa rahasia yang terkunci rapat di dalam rahimnya.
Lima tahun kemudian, wanita yang disangka telah mati itu kembali sebagai sosok berkuasa yang siap membalikkan keadaan.
Saat kebenaran masa lalu mulai terungkap satu per satu, Alfie berlutut memohon kesempatan kedua. Namun, sepasang mata dingin sang mantan istri menatapnya tanpa emosi.
Apakah Alfie sanggup membayar harga dari sebuah pengkhianatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miarosa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Seminggu kemudian, deru mesin jet pribadi bersalut logo mahkota Ellis Corporation membelah langit pagi Kota London. Setelah penerbangan singkat dari Paris, roda pesawat akhirnya menyentuh landasan pacu Bandara Heathrow.
Di luar terminal privat VIP, puluhan mobil mewah hitam berbaris rapi di bawah pengawalan ketat instruktur keamanan internasional.
Di dalam kabin privat, Emma berdiri merapikan mantel bulu hitamnya yang jatuh sempurna hingga ke betis. Di lehernya melingkar syal sutra putih, berpadu dengan kacamata hitam rona pekat yang menyembunyikan tatapan matanya.
Xavier melangkah mendekat dan mengulurkan tangan dengan penuh penghormatan.
"Selamat datang kembali di London, Madame Emma Ellis."
Emma tersenyum tipis dan menerima uluran tangan Xavier.
"Terima kasih, Xavier!"
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Xavier pelan.
Emma menoleh ke luar jendela kusam khas langit London yang berawan. Napasnya teratur dan penuh ketenangan.
"Empat tahun lalu, aku meninggalkan kota ini di tengah badai hujan sebagai Flossie yang dihina, dibuang, dan dianggap tak berharga," ujar Emma.
"Hari ini, aku menapakkan kaki di tanah ini sebagai penguasa yang siap menagih balik setiap luka yang pernah mereka torehkan."
Dari arah belakang kabin, Leon yang mengenakan setelan jas mungil cokelat tua dan Leah bergaun wol merah melangkah menyusul. Leon menggenggam tablet khusus terenkripsinya, sementara Leah memeluk boneka beruang kecil.
"Mama, wartawan di luar banyak sekali," celetuk Leah riang, menyingkap sedikit tirai jendela.
"Banyak lampu kilat menyala!"
"Biarkan saja, Leah," sahut Leon datar tanpa mengalihkan pandangannya dari layar tablet.
"Sistem pengenalan wajah para wartawan itu sudah masuk ke daftar pantauanku. Tidak akan ada yang bisa mengambil foto wajah kita secara ilegal."
Pintu jet terbuka. Ketika Emma, Xavier, dan kedua anak kembar melangkah turun dari tangga pesawat, sorakan riuh serta blitz kamera puluhan wartawan finansial dan fashion papan atas Eropa langsung menyambar.
Belasan pengawal berbadan tegap membuat barikade kokoh, mengawal langkah mereka menuju deretan mobil limousine.
Pada saat yang bersamaan, di area terminal kedatangan komersial VIP yang hanya terpisah oleh lorong kaca eksklusif, seorang wanita berpenampilan sangat modis baru saja keluar dari gate penerbangan dari Amsterdam.
Nadia, sahabat masa kecil Alfie Kincaid yang baru saja menyelesaikan studi master di Belanda. Dengan gaun desainer ternama, kacamata gaya, dan riasan tebal, Nadia melangkah anggun diiringi asisten pribadinya yang membawakan belasan koper barang mewah.
"Pastikan mobil penjemput dari Kincaid Group sudah bersiap di depan!" perintah Nadia dengan nada suara yang angkuh dan menuntut.
"Aku tidak mau menunggu satu detik pun. Aku harus langsung menemui Alfie dan Tante Willa hari ini!"
"Sudah siap, Nona Nadia," sahut asistennya gugup.
"Pak Alfie juga kabarnya baru tiba dari Paris seminggu yang lalu."
"Bagus," cibir Nadia.
Ia merapikan rambutnya yang bergelombang.
"Tanpa Flossie wanita sialan itu, jalan untuk menjadi pendamping Alfie sudah terbuka lebar. Tante Willa pasti sangat merindukanku."
Nadia melangkah tergesa-gesa memotong jalur koridor tengah menuju pintu keluar utama, bertepatan dengan rombongan Ellis Corporation yang juga melintasi lorong persimpangan VIP yang sama.
Keadaan mendadak ramai karena riak pengawalan ketat rombongan Emma.
Nadia yang tidak sabar mencoba menerobos celah pengawal.
"Hei! Berikan jalan! Kalian tidak tahu siapa saya?!" bentak Nadia angkuh pada salah seorang pengawal berjas hitam.
Di tengah keributan kecil itu, Leon melangkah santai sedikit jauh di depan ibunya sembari sibuk mengetik baris kode di tabletnya dan tanpa sengaja, ujung koper mahal milik Nadia yang ditarik secara kasar menyenggol tablet di tangan Leon.
Tablet kecil bertaraf militer itu terlepas dan terjatuh di atas lantai marmer. Leon menghentikan langkahnya dan menunduk menatap tabletnya yang kotor, lalu pelan-pelan mendongak.
Ia menatap Nadia dengan sorot mata dingin, tatapan yang seketika membuat bulu kuduk Nadia merinding tanpa alasan yang jelas.
"Heh, anak kecil!" semprot Nadia keras yang sama sekali tidak merasa bersalah.
"Jalan pakai mata, dong! Koperku ini harganya puluhan ribu Poundsterling! Kalau tergores tablet murahmu, apa kamu mampu ganti?!"
Leah yang berjalan di belakang Leon seketika berkacak pinggang kecil.
"Tante galak! Tante yang menabrak tablet Leon duluan!"
Nadia mendelik kaget, tidak menyangka akan dilawan oleh dua anak kecil.
"Apa?! Tante galak?! Kurang ajar sekali anak-anak ini! Siapa orang tua kalian?!"
"Ada masalah di sini?"
Sebuah suara dingin, anggun, dan penuh dominasi bergema dari balik barikade pengawal. Emma melangkah maju. Mantel hitamnya mengibas anggun saat ia menghentikan langkah tepat di depan kedua anaknya.
Dari balik kacamata hitamnya, Emma terpaku menatap sosok Nadia, wanita yang dulu sering berpura-pura baik padanya di depan Alfie, namun menusuknya dari belakang. Emma kembali bersikap seperti biasa tenang dan terukur.
Nadia juga terpaku. Walau mata wanita di hadapannya tertutup kacamata hitam pekat dan separuh wajahnya terhalang syal sutra tinggi, aura keanggunan dan angkuh yang memancar dari tubuh Emma terasa teramat mengintimidasi dan membuat lidah Nadia mendadak kelu.
"Siapa kau?" bisik Nadia.
Nada suaranya mendadak tertahan karena gugup.
"Saya Emma Ellis," sahut Emma dalam bahasa Inggris beraksen Eropa kontinental yang begitu berkelas dan dingin.
"Dan ini adalah kedua anak saya."
Nadia tersentak hebat dan matanya melebar sempurna seolah pasokan udara di paru-parunya mendadak disedot keluar. Langkah kakinya refleks mundur dan cengkeraman tangannya pada gagang koper mahal itu mengencang.
"E-Emma Ellis?" bisik Nadia gagap. Suaranya tercekat di tenggorokan.
Jantung Nadia berdegup kencang. Selama di Belanda, ia terus mengikuti berita tentang seorang desainer misterius bernama Emma Ellis.
Ia membayangkan desainer misterius itu sebagai sosok wanita tua yang dingin atau pengusaha paruh baya yang intimidatif. Namun, wanita di hadapannya ini begitu muda, sangat anggun, dan memancarkan aura keagungan yang begitu mendominasi hingga membuat Nadia merasa kerdil seketika.
"K-kau desainer utama ELLIS Corporation?" gagap Nadia lagi
Ia mencoba menguasai suaranya yang gemetar dan matanya bergerak liar memindai dari ujung kaki hingga kacamata hitam pekat yang dikenakan Emma.
Emma tidak menjawab pertanyaan itu. Bibirnya hanya menyunggingkan senyuman tipis yang penuh dengan kejayaan dan penindasan terselubung.
Leon menatap Nadia sekali lagi. Nadia berdegup kencang secara tidak wajar karena merasa familier.
Xavier melangkah ke samping Emma dan menatap Nadia dengan pandangan meremehkan.
"Tolong untuk menjaga sikap di area umum, Nona. Kamu sedang berhadapan dengan eksekutif utama Ellis Corporation."
Sebelum Nadia sempat membela diri atau membalas, Emma mengibaskan tangan pelan.
"Ayo pergi, Xavier. Kita tidak punya waktu untuk melayani hal-hal tidak penting."
Rombongan Emma melangkah pergi dan meninggalkan Nadia yang berdiri mematung di tengah koridor dengan napas naik-turun dan wajah pucat pasi.
"Nona Nadia, Anda tidak apa-apa?" tanya asistennya cemas.
Nadia memegangi dadanya yang berdebar hebat dan menatap punggung wanita berkacamata hitam itu yang perlahan menghilang di balik pintu mobil limousine.