NovelToon NovelToon
Cinta Yang Datang Terlambat

Cinta Yang Datang Terlambat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Perjodohan
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: M. Aipp

Follow IG @samsularipin_101

"Beberapa hati baru disadari berharga justru setelah mereka memutuskan untuk menyerah".

Alana Gabriela Indira selalu tahu bahwa hidupnya tidak sepenuhnya milik dirinya sendiri. Sebagai putri dari pengusaha sukses, Raden Wijaya dan Retno Indira, ada harga mahal yang harus ia bayar, termasuk menyetujui perjodohan bisnis dengan Jevandra Pratama, CEO muda dari Pratama Group. Alana menerima pernikahan ini dengan hati terbuka, siap belajar mencintai pria yang dipilihkan orang tuanya.

Namun, bagi Jevandra, pernikahan ini adalah sebuah penjara. Hatinya sudah terkunci rapat untuk Silvia Anita, kekasih yang sudah menemaninya selama bertahun-tahun. Terpaksa tunduk di bawah tekanan sang ayah, Bimo Pratama, dan ibunya, Diana Prameswari, Jevandra melimpahkan seluruh rasa frustrasinya kepada Alana. Ia bersumpah tidak akan pernah memberikan ruang bagi Alana di hidupnya.

Di bawah satu atap, Alana bertahan dalam keheningan dan penolakan yang dingin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M. Aipp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Singgasana Sang Patriark

Malam kian larut, namun Jakarta tidak pernah benar-benar tidur. Iring-iringan sedan mewah hitam yang membawa Jevandra dan Alana membelah jalanan protokol yang mulai lengang, menuju ke kawasan Menteng. Di sanalah berdiri kediaman utama keluarga Wijaya—sebuah rumah bergaya kolonial yang megah, dikelilingi pagar besi tinggi dan pohon-pohon beringin tua yang kokoh. Tempat itu bukan sekadar rumah tinggal; itu adalah tempat di mana keputusan-keputusan politik dan ekonomi penting di negara ini sering kali digodok di balik pintu tertutup.

Di dalam mobil, keheningan terasa mencekam. Jevandra melirik ke arah luar jendela, mengamati sorot lampu jalanan yang silih berganti menerangi wajahnya. Tangannya masih menggenggam jemari Alana. Ada kehangatan yang kontras di antara dinginnya AC mobil dan ketegangan yang mendera mereka.

"Kakek Haryo bukan tipe orang yang bisa digertak dengan retorika bisnis biasa," Alana membuka suara, memecah kesunyian. Suaranya rendah, hampir berbisik, namun sarat akan peringatan. "Dia telah melihat tiga masa pergantian kekuasaan di negara ini. Dia tahu perbedaan antara gertakan dan keberanian yang sesungguhnya. Jika dia melihat sedikit saja keraguan di matamu, dia akan menghancurkan kita berdua tanpa berkedip."

Jevandra menoleh, menatap lekat sepasang mata Alana yang berkilau di kegelapan kabin mobil. "Dia ingin tahu apakah aku memanfaatkanmu, atau apakah kita benar-benar bergerak sebagai satu kesatuan. Benar begitu?"

"Tepat," Alana mengangguk kecil. "Bagi Kakek, nama besar Wijaya adalah segalanya. Pernikahan kita awalnya disetujui hanya karena ayahku melihat keuntungan taktis dari Pratama Group. Tapi menggunakan aset intelijen internal Wijaya untuk urusan internal Pratama di Surabaya? Itu sudah melewati garis batas yang dia toleransi."

Jevandra mempererat genggaman tangannya. "Kalau begitu, kita beri dia apa yang ingin dia lihat. Sebuah aliansi yang terlalu berharga untuk dihancurkan."

Mobil perlahan melambat dan berbelok memasuki pekarangan luas kediaman Wijaya. Begitu pintu mobil dibukakan oleh penjaga berseragam, hawa malam Menteng yang lembap menyergap mereka. Jevandra turun lebih dulu, lalu berbalik untuk mengulurkan tangannya pada Alana. Sikapnya alami, tak lagi kaku seperti beberapa bulan lalu saat mereka pertama kali tampil di depan publik sebagai pasangan kekasih.

Mereka melangkah masuk melewati pintu jati besar yang diukir indah. Di dalam, interior rumah itu dipenuhi dengan barang-antik, lukisan maestro bernilai miliaran, dan aroma kayu cendana yang menenangkan namun intimidatif. Mereka dituntun menuju ruang kerja pribadi Haryo Wijaya yang berada di bagian belakang rumah, menghadap langsung ke taman dalam yang gelap.

Di balik sebuah meja kerja besar dari kayu ek kuno, seorang pria tua dengan rambut yang sepenuhnya memutih duduk dengan posisi tegak. Meskipun usianya telah melewati angka delapan puluh, sorot mata Haryo Wijaya masih setajam elang. Mengenakan kemeja batik sutra lengan panjang, ia sama sekali tidak terlihat seperti pria ringkih. Di dekatnya, berdiri dua orang pria berbadan tegap dengan setelan jas rapi—orang-orang kepercayaan yang mengurus lini keamanan keluarga.

"Duduk," suara Haryo terdengar berat dan serak, namun memiliki gaung yang menuntut kepatuhan instan.

Jevandra dan Alana mengambil tempat di dua kursi kulit di hadapan sang patriark. Jevandra menjaga punggungnya tetap tegak, sementara Alana memasang wajah tenangnya yang biasa, topeng sempurna yang telah ia latih sejak kecil.

Haryo tidak langsung berbicara. Ia mengambil sebatang cerutu, menyalakannya dengan perlahan, lalu mengembuskan asap tipis ke udara. Matanya beralih dari Alana, lalu tertuju sepenuhnya pada Jevandra. Tekanan di dalam ruangan itu seolah meningkat beberapa kali lipat.

"Jevandra Pratama," Haryo menyebut nama itu dengan nada datar, seolah sedang menguji bobot dari nama belakang tersebut. "Siang tadi, kamu membuat kehebohan di Tanjung Perak. Menggunakan nama Wijaya Logistics untuk memblokir manifes kargo, menggerakkan otoritas Bea Cukai, bahkan sampai melompat ke atas speedboat seperti seorang interseptor lapangan. Apakah itu tindakan yang pantas dari seorang CEO Pratama Group?"

Jevandra tidak mengedipkan mata. Ia menatap balik sang orang tua dengan keyakinan penuh. "Itu adalah tindakan yang diperlukan untuk menyelamatkan aset yang juga akan berdampak pada Wijaya, Kek. Baskoro tidak hanya mencuci uang Pratama Group; dia menggunakan jalur logistik yang terafiliasi dengan proyek Temasek. Jika Vanguard Maritime lolos, nama Wijaya Logistics yang memegang otoritas di pelabuhan timur juga akan terseret dalam investigasi internasional. Saya memotong ekornya sebelum racunnya menyebar ke kepala."

Haryo mengangkat alisnya tipis. "Sangat pandai berbicara. Tapi kamu menggunakan intelijen kami. Sesuatu yang bahkan ayahmu sendiri tidak punya akses ke sana. Siapa yang memberimu izin?"

"Saya yang memberikannya, Kakek," Alana memotong dengan cepat, suaranya terdengar tegar tanpa ada nada ragu. "Jevandra bergerak atas persetujuan penuh dari saya. Kami adalah suami istri. Kehormatan Pratama saat ini adalah kehormatan Wijaya juga. Saya tidak akan membiarkan seorang pengkhianat merusak pondasi yang sedang kami bangun."

Haryo mengalihkan pandangannya ke arah cucunya. Senyum tipis, hampir tak terlihat, muncul di sudut bibirnya yang berkerut. "Alana... kamu selalu menjadi anak yang paling rasional di keluarga ini. Itulah sebabnya aku membiarkanmu memilih jalanmu sendiri, termasuk pernikahan ini. Tapi jangan kira aku tidak tahu apa yang tertulis di dalam brankas pribadimu di apartemen."

Kata-kata itu membuat jantung Jevandra berdesir tajam. Apakah Kakek Haryo tahu tentang kontrak pernikahan mereka?

Alana tetap bergeming, meskipun jemarinya di bawah meja sempat menegang sejenak sebelum kembali rileks. "Apa pun yang ada di dalam brankas saya, Kek, itu adalah strategi. Dan hasil hari ini membuktikan bahwa strategi kami berhasil. Baskoro sudah ditangkap. Dana likuid Pratama berhasil diselamatkan, dan Vanguard Maritime kini berada di bawah kendali penuh Wijaya Logistics sebagai kompensasi atas bantuan malam ini."

Haryo terdiam cukup lama. Ia mengisap cerutunya sekali lagi, membiarkan keheningan malam kembali menguasai ruangan. Jevandra bisa mendengar detak jarum jam dinding antik di sudut ruangan yang terasa lambat.

"Vanguard Maritime masuk ke dalam portofolio Wijaya?" Haryo memastikan.

"Benar," Jevandra menimpali, mengambil alih pembicaraan untuk menunjukkan posisinya sebagai kepala. "Saya sudah meminta tim legal Pratama untuk melepaskan seluruh klaim atas aset sitaan Vanguard di Surabaya dan menyerahkannya kepada Wijaya sebagai bentuk kemitraan strategis. Mulai besok pagi, jalur logistik timur sepenuhnya bersih dan berada di bawah kendali penuh keluarga Wijaya. Pratama hanya meminta hak distribusi eksklusif untuk komoditas kami dengan tarif preferensial."

Haryo Wijaya mengetukkan jemarinya di atas meja kayu. Sorot matanya yang semula dingin perlahan melunak, digantikan oleh binar kepuasan seorang pengusaha ulung yang melihat keuntungan besar di depan matanya.

"Kamu memiliki keberanian yang tidak dimiliki ayahmu, Jevandra," ucap Haryo akhirnya, suaranya kini terdengar lebih santai namun tetap berwibawa. "Surya Pratama terlalu kaku, terlalu mengandalkan hukum tertulis. Di dunia ini, hukum dibuat oleh mereka yang memiliki kekuatan di lapangan. Kamu membuktikannya hari ini."

Pria tua itu kemudian berdiri dari kursinya, berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke taman. "Pernikahan kalian... aku tidak peduli bagaimana mulanya, atau apa yang kalian sepakati di balik pintu kamar. Tapi malam ini, aku melihat dua orang yang tahu cara menguasai keadaan. Wijaya tidak butuh menantu yang hanya bisa mengekor. Kami butuh sekutu."

Haryo berbalik, menatap mereka berdua dengan pandangan final. "Urusan di Surabaya sudah selesai. Tapi ingat, mata-mata di sekitar kalian tidak hanya datang dari luar. Ayahmu, Jevandra, pasti akan menuntut penjelasan tentang bagaimana kamu bisa menggerakkan Bea Cukai tanpa bantuannya. Bersiaplah untuk itu."

"Saya mengerti, Kek," jawab Jevandra tulus.

"Bagus. Sekarang pergilah pulang. Kalian berdua terlihat berantakan," usir Haryo dengan lambaian tangan, namun ada nada restu yang tersirat di sana.

.

.

.

Begitu mereka keluar dari kediaman utama Wijaya dan kembali ke dalam mobil, ketegangan yang menumpuk sejak di Surabaya seolah menguap begitu saja. Jevandra bersandar di kursi mobil, mengembuskan napas panjang yang terdengar sangat lega.

"Kita lolos," gumam Jevandra, menatap langit-langit mobil.

Alana tidak langsung menjawab. Ia melepaskan sepatu hak tingginya dan memijat pergelangan kakinya yang lelah. "Lolos adalah kata yang meremehkan. Kita baru saja membuat Kakek Besar Wijaya mengakui keberadaanmu, Jevandra. Itu adalah pencapaian yang bahkan tidak bisa dilakukan oleh beberapa paman saya sendiri."

Jevandra memiringkan tubuhnya, memandangi Alana yang kini terlihat jauh lebih rapuh dan manusiawi tanpa sepatu hak tinggi dan sikap formalnya. Rambut wanita itu sedikit berantakan ditiup angin pelabuhan dan malam, membuat kecantikan alaminya justru semakin terpancar.

"Alana," panggil Jevandra lembut.

"Hmm?" Alana menoleh.

"Terima kasih."

Alana mengangkat alisnya. "Untuk apa? Membuka laptop? Atau berbohong di depan Kakek?"

"Untuk semuanya," Jevandra meraih kembali tangan Alana, kali ini tidak lagi untuk formalitas atau pertunjukan di depan orang lain. Ia membawa punggung tangan Alana ke bibirnya, mengecupnya perlahan dengan penuh rasa hormat dan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar rasa terima kasih. "Untuk mempercayai aku di atas kapal tadi. Untuk tidak melepaskan tanganku saat Kakekmu mencoba menekan kita."

Sentuhan bibir Jevandra di kulit tangannya mengirimkan getaran aneh yang belum pernah dirasakan Alana sebelumnya. Selama hidupnya, Alana selalu diajarkan untuk menghitung segala sesuatu berdasarkan angka, untung, dan rugi. Cinta adalah variabel yang tidak stabil, sesuatu yang selalu ia hindari karena dianggap bisa merusak logika penalarannya. Namun malam ini, di bawah sorot lampu jalanan Jakarta yang temaram di dalam mobil, logika itu perlahan mulai runtuh.

Alana tidak menarik tangannya. Ia membiarkan Jevandra menggenggamnya, merasakan kehangatan yang menjalar hingga ke dadanya.

"Jevandra... permainan kita sekarang sudah melangkah terlalu jauh," ucap Alana lirih, matanya menatap lurus ke dalam manik mata Jevandra. "Jika kita terus seperti ini, kita mungkin tidak akan bisa kembali ke garis awal saat kontrak ini selesai."

Jevandra tersenyum, tatapannya begitu dalam dan mengunci seluruh pertahanan Alana. "Lalu siapa yang bilang aku ingin kembali ke garis awal?"

Mobil mewah itu terus melaju menembus keheningan malam Jakarta, membawa dua jiwa yang kini sadar bahwa kontrak di atas kertas yang mengikat mereka telah terbakar oleh api realita, menyisakan sebuah ikatan baru yang jauh lebih kuat, lebih berbahaya, dan tak lagi bisa mereka sangkal.

Bersambung......

1
fatmawati (pipit)
mungkin digaleri ini jevandra dijebak dari seseorang yg tidak menyukai dirinya dan bisa saja jevandra menghamili alana... setelah itu mungkin alana pergi jauh yg tidak diketahui oleh orang jevandra
fatmawati (pipit)
Alana terpaksa menikah dengan orang iblis bermuka manusia lalu silvia pintar cari muka dari jevandra
fatmawati (pipit)
kenapa alana masih bertahan, klau memang dia masih mencintai masa lalu lebih baik pergi dari kehidupan javier saja
fatmawati (pipit): klau nikah karna kerjasama lebih baik perusahaan bangkrut lalu pelan pelan bangkit memulai usaha sendiri tanpa ada suntikan dana dari perusahaan lain
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!