Riven Daylon Chamron adalah pria yang memiliki segalanya. Terlahir sebagai putra sulung Thomas Chamron dan Hellary Chamron, ia tumbuh di tengah kemewahan, kekuasaan, dan lingkaran pergaulan elit yang membuat namanya dikenal di banyak kalangan.
Namun, ada satu hal yang tidak pernah diajarkan oleh dunia bisnis, kekuasaan, ataupun pendidikan terbaik yang pernah ia terima: cinta.
Angelina Angie, seorang gadis yang terlihat polos dan pekerja keras demi mencapai impiannya mampu meluluhkan hati Riven.
Namun, saat perasaannya semakin dalam, Riven mulai menyadari bahwa wanita yang dicintainya mungkin tidak mencintainya dengan alasan yang sama.
Angelina Angie yang tak memiliki apapun tak membawa apapun hingga akhirnya menjadi Ratu Instagram berkat Riven, ternyata memiliki kehidupan yang penuh kontroversi. Di balik senyumnya yang memikat, tersimpan ambisi, drama, intrik, serta rahasia yang tak di ketahui.
Sebuah kisah tentang cinta, pengkhianatan, ambisi, dan harga yang harus dibayar ketika seorang pewaris konglomerat jatuh hati pada wanita yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Newbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 20
Angie melangkah masuk dengan sisa-sisa keraguan yang menggelayuti pundaknya. Begitu kaki telanjang mereka menyentuh lantai lantai dinginnya marmer di dalam, sensor pintar mendeteksi kehadiran mereka, membuat lampu-lampu utama tersembunyi menyala otomatis.
Apartemen itu memancarkan kemewahan yang minimalis namun maskulin. Luas, beratap tinggi, dan sangat bersih. Tidak ada setitik pun debu yang menempel di permukaan furnitur berbahan marmer dan kulit. Segala sesuatu tertata rapi, seolah-olah tempat ini selalu siap menyambut pemiliknya kapan saja.
“Apartemen ini memang jarang kutempati,” ujar Riven seraya melangkah masuk dan menutup pintu.
“Tapi manajemen gedung memiliki jadwal rutin untuk mengirim petugas kebersihan ke sini.” Ia melepaskan sepatu formalnya, menggantinya dengan sandal rumah yang nyaman, lalu memberikan sandal formal pada Angie, pria itu berjalan menuju ruang tamu yang didominasi sofa modular.
“Sesekali, adikku, Elena, juga suka menggunakannya untuk berpesta dengan teman-temannya,” tambah Riven.
Ia menanggalkan jas formal yang sejak pagi mencekik tubuhnya, menyampirkannya begitu saja di sandaran sofa. Menyusul kemudian, ia membuka jam tangan kronograf mewahnya dan meletakkannya di atas meja kopi marmer.
“Anggap saja tempat ini rumahmu sendiri untuk malam ini.”
Riven berjalan menuju salah satu pintu kamar tamu di sisi kanan, lalu mendorongnya terbuka. “Kalau kau ingin membersihkan diri, ada pakaian tidur bersih di dalam lemari kamar.” Ia memutar tubuh, menatap Angie yang masih berdiri kaku.
“Mungkin ukurannya agak terlalu besar di tubuhmu, karena itu semua ukuranku.”
Untuk pertama kalinya sejak badai sore tadi, seulas senyum tipis, hampir tak kentara, muncul di wajah Riven. “Aku tidak memiliki persediaan pakaian tidur wanita di sini.” Seolah ingin memberitahu bahwa ia tak pernah membawa seorang wanipun.
Angie kembali menundukkan kepala, namun kali ini ia menekan sudut bibirnya, berusaha menyembunyikan senyum kecil yang hampir lolos akibat candaan canggung pria itu.
Sementara itu, Riven menunjuk pintu kamar lain yang berada di ujung koridor dalam. “Aku akan menggunakan kamar utama di sebelah sana.” Ia mulai melangkah menjauh, memberikan ruang privat yang luas bagi Angie.
Namun baru beberapa langkah, Riven menghentikan gerakannya dan menoleh kembali.
“Oh ya, satu hal lagi. Kalau kau lapar, cari saja apa pun yang kau suka di dalam kulkas. Petugas selalu mengisi ulang bahannya setiap minggu.”
Setelah menyampaikan hal tersebut, Riven mengusap tengkuknya yang terasa kaku dan pegal.
Rasa lelah yang terakumulasi akibat bekerja semalaman dan ketegangan di ruang rapat mulai menagih haknya. “Aku akan mandi, lalu langsung beristirahat. Istirahatlah juga.”
Dan untuk pertama kalinya sejak ia menemukan gadis itu menangis di gang sempit, Riven benar-benar berharap bahwa di balik dinding beton apartemennya yang kokoh ini, semoga Angie akhirnya bisa mencicipi rasa aman dan nyaman.
Begitu sampai di kamar utama Riven langsung menanggalkan sisa-sisa harinya dan melangkah ke kamar mandi.
Siraman air shower yang menghantam kulit seketika meluruhkan ketegangan yang sejak pagi membebani pundak dan isi kepalanya. Ia berdiri mematung di bawah derasnya air untuk waktu yang lama, membiarkan gemuruh di dalam dadanya diredam oleh kesunyian yang basah.
Seusai membersihkan diri, Riven mengenakan sepasang piyama sutra gelap. Ia menyimpulkan tali piyama itu dengan lilitan sederhana di pinggang, sebelum melangkah malas menuju ranjang king-size miliknya.
Pria itu sempat duduk di tepi kasur, menatap kekosongan, hingga sebuah riak rasa penasaran yang asing perlahan-lahan menggelitik benaknya.
Riven mengulurkan tangan, meraih ponsel yang tergeletak di atas meja nakas. Jemarinya bergerak efisien membuka toko aplikasi untuk mengunduh Instagram, sebuah platform yang selama ini tak pernah ia sentuh.
Sambil menunggu bar unduhan penuh, ia merebahkan tubuh, menumpu kedua tangan di belakang kepala, dan memaku pandangan pada langit-langit kamar yang temaram.
Begitu notifikasi keberhasilan muncul, Riven segera membuat sebuah akun anonim baru. Setelah seluruh protokol pendaftaran selesai, ketukan jemarinya di atas layar melahirkan sebaris nama.
Angelina Angie.
Beberapa opsi akun bermunculan. Riven memilahnya satu demi satu, menyisir profil-profil yang sekiranya memuat identitas gadis tersebut.
Hingga akhirnya, pergerakan jemarinya terhenti pada sebuah kurasi foto profil. Itu Angie.
Pria itu mengunci pandangan pada potret tersebut selama beberapa saat. Di bawah pencahayaan layar yang redup, ia harus mengakui satu hal, Angie memiliki kecantikan yang memikat. Struktur wajahnya sehalus porselen, dengan fitur-fitur proporsional yang menyerupai boneka kaca.
Tipikal kulit putih rapuh yang pipinya akan langsung merona kemerahan saat air mata jatuh. Namun, bagian paling berbahaya adalah sepasang netranya, ada kabut misteri di sana yang membuat siapa pun akan kesulitan untuk memalingkan muka.
Riven mulai menggulir isi akun tersebut, memeriksa satu per satu unggahan. Jika Angie benar-benar seorang influencer yang kebanjiran kontrak endorsement seperti yang ia duga, logikanya jumlah pengikut gadis itu haruslah masif. Namun, realitas di layar justru menyuguhkan anomali.
Sebagian besar baris unggahannya hanya berupa foto Angie dan potongan video amatir yang diproduksi secara sederhana.
Memang ada beberapa produk yang ditampilkan, Bahkan, jumlah pengikutnya sangat sedikit. Tidak sampai 1000 orang.
Kening Riven mengernyit dalam. Fakta ini berbanding terbalik dengan asumsinya selama ini.
Namun, samar-samar kalimat Jack di kafe tadi kembali bergaung di kepalanya, Jack yang memiliki curiga aneh.
Namun Riven menepisnya, ia tahu bahwa meniti karier di dunia digital tidak pernah instan. Mungkin, gadis itu memang sedang merangkak dengan berdarah-darah dari titik nadir.
"Masuk akal,” gumam Riven parau. Ia meletakkan ponselnya telungkup di samping bantal. Perlahan, kelopak matanya terasa berat, dan tubuhnya yang didera letih luar biasa mulai tenggelam dalam keheningan kantuk.
Sementara itu, di sayap lain apartmen.
Angie melangkah dengan ritme yang sangat pelan, mengitari ruang tengah yang luas. Sepasang matanya menyapu setiap sudut dengan binar kagum yang tertahan. Tempat ini jauh menembus batas kemewahan dari fajar mana pun yang pernah ia saksikan dalam hidupnya.
Jemari lentiknya terulur, menyentuh permukaan ornamen marmer dan kristal dengan teramat hati-hati, seolah embusan napasnya saja bisa meretakkan benda-benda mahal itu.
Langkah kakinya nyaris tak bersuara, bagai siluet yang melayang di atas lantai kayu ek.
Tak lama, ia mengayun langkah memasuki kamar tamu yang telah ditunjuk Riven. Ia meletakkan tas kecilnya di atas ranjang, lalu mendudukkan diri di atas kasur yang begitu empuk hingga tubuhnya seakan tenggelam. Tepat saat ia tengah mengagumi kemegahan kamar tersebut, sebuah getaran konstan memutus lamunannya.
Drrtt… Drrttt…
Angie berkedip samar.
“Ah...” Ia membukatas nya. “Benar juga. Aku belum menyentuh ponsel sejak kemarin.”
Angie segera merengkuh gawai tersebut. Sebuah panggilan masuk tengah berkedip. Nama yang tertera di sana seketika memicu ketegangan kecil di bahunya: Zhengki.
Angie menggeser tombol hijau, menempelkan ponsel ke telinga. “Apa?”
“Hei! Aku sudah menghubungimu seperti orang gila sejak semalam! Ke mana saja kau?!”
Bersambung
act service riven bnr² bkin meleyott wkw
btw angie mau k rumah tmn yg mana yaa ??
nah kan ditnyain kmu kenapa blum ke kantor