tiga tahun sudah pernikahan kita...Dipaksa menikah di usia muda ketika kita masih duduk di bangku SMA..
Tak ada kontak fisik. Di rumah seperti orang asing. Aku tahu Aksa memiliki ke kasih tapi apa salah ku. Hingga batas kesabaran ku hilang juga.
"Kak Aksa aku ingin gomong".
"Kalau ngomong ya ngomong aja Bintang".
"Kak mari kita berpisah".
Apa Aksa mengabulkan permintaan Bintang. Atau mempertahankan pernikahannya ???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vita no, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Kelulusan Aksa
Liburan kami tiga hari di Vila telah usai. Kami sekarang menuju ke kota lagi. Dengan berat hati kami harus mengakhiri liburan yang singkat ini.
"Kapan kapan jika ada libur lagi. Kita kesini lagi ya guys."
"Aku sih ok ok aja Mil. Ya nggak Bin."ucapan Silvi hanya aku anggukkan saja. Pertanda setuju dengan apa yang dikatakan Silvi.
Aku sampai juga di apartemen. Ketika aku buka pintu apartemen aku lihat kak Aksa lagi duduk di ruang tv dengan matanya fokus pada laptopnya. Mendengar pintu ku tutup, kak Aksa baru melihat ke arah ku.
"Kenapa nggak ada kasih kabar selama liburan?"
"Ah...maksud kakak?"
"Ya kenapa nggak chat kakak selama kamu liburan dengan teman kamu. Apa kamu segitu senangnya liburan dengan mereka hingga nggak ingat ada suami mu di rumah menunggu kabar kamu."ucap kak Aksa sangat panjang buat aku bengong sendiri mendengar kata katanya.
"Oh itu maaf kak. Bintang kira, Bintang nggak perlu kasih tahu kakak!" Karena Bintang juga sudah kasih kabar ke mommy."
"Harusnya tu kamu kasih kabarnya tu ke kakak, bukan ke mommy, Bintang."geram kak Aksa sama aku.
"Jadi kakak marah ya sama Bintang." Ucap ku sambil menunduk.
"Nggak, nggak Bin, kakak nggak marah. Kakak hanya kasih tahu aja. Ya sudah, sana kamu ganti baju. Apa kamu sudah makan ?"
"Belum kak."
"Ya sudah kamu siap siap aja sekalian. Hari ini kita makan di luar.
"Iya kak."
Kenapa akhir akhir ini sikap kak Aksa berubah ya jadi perhatian. Beda kali dengan saat awal kami jumpa. "Aku jadi takut dengan sikapnya saat ini, takut jika nanti aku jatuh cinta sama dia."ungkap ku dalam hati.
Aku dan kak Aksa berjalan keluar dari apartemen beriringan menuju mobil sport kak Aksa. Kami menggunakan mobil saat ini karena cuaca yang sepertinya akan hujan. Dan benar saja, dipertengahan jalan hujan pun turun. Akhirnya kak Aksa ngajak aku makan di cafe Hit nya.
Sesampai disana, tangan ku dipegang kak Aksa menuju ruang kerjanya. Dan disanalah kami makan. Setelah selesai makan, aku dan kak Aksa berencana untuk pulang ke apartemen. Karena aku takut dengan kilat dan petir oleh sebab itu aku minta kak Aksa buat pulang aja.
"Kak habis ini kita pulang aja ya. Soalnya Bintang takut kali sama kilat dan petir."
"Ya, cepat aja makannya, biar kita juga cepat sampainya di apartemen."
Pas aku dan kak Aksa menuju ke parkiran. Aku dengar suara Tiara.
"Kak Aksa, Tia boleh nebeng nggak pulang. Soalnya sopir Tia nggak bisa jemput." Ucap Tia sangat berharap.
"Boleh. Naik aja."
"Yes, makasih ya kak Aksa."ucapnya dengan senang hati.
Kami menuju ke mobil kak Aksa. Kak Aksa membuka pintu penumpang disamping pengemudi dan menyuruh ku masuk. Sedang kan dia memutarkan tubuhnya ke pintu pengemudi. Sementara Tia, dia hanya menyuruhnya naik. Karena tak punya plihan, Tia duduk dibelakang dan membuka pintunya sendiri.
"Kakak antar Bintang dulu. Setelah itu baru antar aku kan kak?"
"Maaf Tia, kakak akan antar kamu dulu. Baru habis itu kakak antar Bintang."
"Baiklah kak."kata Tia. "Kenapa sih selalu Bintang yang diutamakan oleh kak Aksa. Apa jangan jangan kak Aksa sudah jatuh cinta sama Bintang. Nggak, nggak ini nggak boleh terjadi. Kak Aksa hanya milik ku. Kemana kak Aksa pergi aku akan selalu menempelinnya kayak perangko."gumam Tia dalam hati.
"Tia kita sudah sampai depan rumah mu. Kamu bisa buka pintu sendiri kan."
"Bisa kak. Kalau gitu, makasih ya kak sudah antar Tia pulang."
"Hmmm."
Kami pun melanjutkan perjalanan menuju ke apartemen. Ditengah perjalanan terdengar petir disertai kilat yang kuat. Secara reflek aku memeluk lengan kak Aksa yang duduk disamping ku. Kusandarkan kepala ku dilengan kekarnya sambil menutup mata ku.
"Sudah nggak apa apa, jangan takut, ada kakak disini."ucapnya sambil membelai kepala ku sebentar.
Setelah sampai diapartemen aku turun dan memegang lengan kak Aksa dengan erat. "Jadi dia takut benaran dengan kilat dan petir, sampai sampai tangannya gemetar begini."gumam Aksa dalam hati.
Tak aku duga, kak Aksa merangkul tubuh ku dalam dekapannya. Buat aku salah tingkah dibuatnya. Hingga sampai dalam apartemen aku masih merangkul tangannya.
"Sudah Bin, kita sudah di dalam. Petir dan kilatnya juga nggak kelihatan. Apa kamu setakut itu kali dengan petir dan kilat."
"Iya kak, Bintang takut kali." Ah...tiba tiba lampu apartemen mati, aku makin dekap erat lengan kak Aksa.
"Ya sudah malam ini kak Aksa akan temani kamu tidur dalam kamar kamu. Apa kamu nggak masalah ?"
Aku terdiam sejenak dan baru ku jawab."kita cuma tidur aja kan kak?"tanya ku dengan polosnya.
"Iya cuma tidur aja. Emang kamu maunya lebih gitu."
"Ah..nggak kak. Kalau gitu kita kekamar Bintang aja ya kak. Nanti jika lampunya hidup, petir dan kilatnya berhenti, kakak boleh tinggalkan Bintang di kamar sendirian lagi kak."
"Iya."ucap Aksa tapi dalam hati Aksa bergumam dengan senyuman yang tak terlihat "mana mungkin aku tinggalkan kamu dikamar sendirian jika sudah tidur satu tempat tidur."
Aku malam ini tidur dengan kak Aksa. Walau takut tidur dengan kak Aksa, tapi itu lebih baik dari pada aku tidur sendirian. Bisa mati ketakutan akunya tidur sendirian.
Pagi menjelang, aku bangun seperti biasa. Aku lihat kesamping ada kak Aksa yang masih enak tidur sambil tangannya memegang dada ku. Mau teriak pun, takutnya kak Aksa bangun. Kucoba melepaskan tangan kak Aksa dari dada ku, eh malah kak Aksanya bangun dan tanpa dosa mengecup bibir ku dengan bibirnya sebentar. Apa Aksa melakukannya dengan sadar atau tidak.
"Pagi sayang, morning kiss."ucapnya tanpa dosa. Aku yang mendapat serangan tiba tiba malah menangis.
"Whuaaaaa...kak Aksa kenapa kakak ambil cium pertama ku hiks hiks hiks."
"Maaf Bin, kakak nggak sengaja, maaf ya. Nggak akan kakak ulangi lagi. Maafkan kakak ya. "Ucap Aksa sambil membujuk Bintang. Akhirnya suara tangisnya pun berhenti.
"Janji kakak, nggak akan lakukan lagi ya."
"Ya kakak janji."kalau tidak khilaf dalam hati Aksa. Entah kenapa otak Aksa mesum sekali.
Sarapan pagi pun telah selesai. Kak Aksa pergi kesekolah untuk mempersiapkan acara kelulusannya, karena anak kelas XII sudah menyelesaikan ujian akhirnya. Sementara aku berencana mau ke rumah mommy. Karena sudah lama aku nggak kerumah mommy.
"Nanti biar kak Aksa antar kamu kerumah mommu dulu, baru setelah itu kakak kesekolah."
"Baik kak."
Sesampai di rumah mommy, mommy sangat senang sekali dengan kehadiran ku.
"Mom, Aksa kesekolah dulu."pamit Aksa dan mencium tangan mommy dengan takzim
Sesampai sekolah, Aksa ditunggu sama temannya di parkiran mobil. Dan disana juga ada Tia. Dia masih aja memiliki muka tebal.
"Gimana acara nanti malam. Apa semua sudah beres."
"Sudah Aks."ucap Juan dengan muka datarnya.
"Yuk kita lihat kelengkapan alat untuk acaranya."
Setelah mengecek semuanya. Acara yang ditunggu untuk kelas XII dimulai juga. Dimana diacara tersebut didatangi oleh orang tua siswa dan siswi kelas XII.
Aksa juga didampingi oleh mommy dan deddynya. Tapi Bintang nggak ikut dengan alasan nggak mau ada gosip yang enggak enggak tentang dirinya.
Diacara tersebut, kepala sekolah juga mengumumkan murid yang berprestasi dan yang dapat beasiswa kuliah di luar negri. Dan salah satu murid yang mendapatkan kesempatan itu di dapatkan oleh Aksa dan Juan.
"Selamat ya sayang. Mommy bangga sama kamu."ucap mommy dengan senang hati. Dan juga dapat pelukan dari deddynya.
"Selamat ya kak, kakak dapat kuliah di tempat yang kakak inginkan."ucap Tiara juga. Yang mana dalam hati Tia akan meminta mama dan papanya untuk kuliah di tempat kuliah yang sama dengan Aksa.