NovelToon NovelToon
Cinta Terakhir Sang Kolonel

Cinta Terakhir Sang Kolonel

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Dulu, demi ambisi karier militer, Kolonel Victor melepaskan Ayu, cinta sejatinya. Lima tahun berlalu dalam penyesalan, takdir seolah mempermainkan Victor saat keluarganya justru mualaf setelah Ayu telanjur menikah dengan pria lain.

Dipertemukan kembali dalam satuan Markas Militer yang sama. Victor harus menelan pil pahit melihat Ayu yang kini begitu anggun berhijab dan setia pada suaminya.

Namun, takdir tidak pernah benar-benar berhenti berputar. Lalu, sebuah masalah besar telah terjadi. Ketika pertemuan dadakan yang tak pernah Victor bayangkan membuatnya berpikir.

Akankah ini menjadi kesempatan kedua bagi Victor untuk menebus dosa masa lalunya? Sanggupkah ia meruntuhkan benteng hati Ayu yang terlanjur mati rasa akibat kekecewaan masa lalu? Ataukah Victor harus mengikhlaskan bahwa beberapa dermaga memang hanya diciptakan untuk disinggahi, bukan untuk menjadi pelabuhan terakhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29: DI BAWAH TEMARAM

Dua tahun belakangan ini, ketegaran yang ditunjukkan Kolonel Victor di hadapan seluruh ksatrian Bukit Raya sebenarnya hanyalah sebuah topeng taktis. Di balik kesibukan komando yang padat, pria raksasa itu selalu saja mencuri-curi waktu di sela-sela jam dinas maupun sore hari yang lengang agar bisa sekedar mengobrol atau bertukar sapa dengan Ayu.

Namun, tembok pertahanan yang dibangun oleh sang Kapten Intelijen teramat kokoh. Ada saja alasan logis yang dilontarkan Ayu untuk menghindar; entah itu urusan laporan Satdik yang belum selesai, jadwal piket yang padat, atau alasan klise mengenai tumbuh kembang Arkan yang tidak bisa ditinggal. Setiap kali Victor mencoba menggeser arah pembicaraan secara halus menuju topik masa depan atau bagaimana kelanjutan hubungan mereka kedepannya, Ayu akan dengan sangat lihai memotong pembicaraan dan menarik diri kembali ke dalam batasan hubungan antara komandan dan bawahan.

Malam ini, tekad Victor sudah bulat. Tepat pukul sembilan malam tadi, ia meluangkan waktu untuk melakukan panggilan telepon yang cukup panjang dengan ibunya, Ibu Hedy. Di seberang telepon, setelah mendengar penuturan jujur dari putra kembarnya mengenai niat baik untuk segera meminang Ayu, Ibu Hedy langsung memberikan restu mutlak tanpa keraguan sedikit pun.

Beliau tentu saja akan sangat setuju dan bersukacita jika menantunya adalah Ayu. Ibu Hedy bukanlah tipe wanita yang suka pandang bulu. Baginya, Ayu adalah sosok yang sudah sangat familiar karena merupakan sahabat karib Shaneen sejak masa-masa sekolah militer dulu, yang kerap kali main dan menginap di rumah mereka. Beliau sama sekali tidak pernah mempermasalahkan status Ayu, apakah wanita itu seorang single mom beranak satu ataukah masih gadis. Bagi Ibu Hedy, kebahagiaan putra-putrinya adalah yang utama.

Beliau benar-benar tidak ingin memberikan beban psikologis tambahan bagi Victor, mengingat dari keempat anaknya, hanya Victor-lah yang tersisa dan belum membangun bahtera rumah tangga. Victor sendiri memiliki struktur keluarga yang cukup unik, ia terlahir sebagai anak kembar laki-laki. Saudara kembar laki-lakinya saat ini tengah disibukkan oleh gurita bisnis keluarga, bahu-membahu mengurus perusahaan bersama dengan sang kakak tertua mereka, Shayne, yang merupakan seorang perempuan. Jadi, di dalam silsilah keluarga mereka, Shayne adalah anak sulung, disusul oleh kelahiran si kembar tampan, dan ditutup oleh si bungsu yang paling ajaib, Lettu dr. Shaneen. Dengan restu mutlak yang kini sudah mengantongi kekuatan hukum adat keluarga di tangannya, Victor memantapkan langkah taktisnya malam ini.

Jarum jam dinding tepat menunjuk ke angka sepuluh malam ketika sebuah mobil dinas berpelat komando berhenti senyap di depan rumah dinas yang ditempati oleh Ayu. Suasana komplek perwira sudah sangat sunyi, hanya menyisakan gemerisik angin malam yang menerpa dedaunan. Victor melangkah turun dari mobil, didampingi oleh Sersan Satu Johan. Demi menjaga etika kedinasan dan moralitas asrama agar tidak disalahartikan atau memicu desas-desus miring bagi siapa saja oknum yang kebetulan lewat, Victor sengaja membiarkan pintu depan rumah dinas Ayu terbuka lebar. Johan pun dengan sigap mengambil posisi berdiri tegap berjaga di luar, tepat di depan ambang pintu yang terbuka tersebut laksana sebuah benteng pembatas yang kokoh.

Ayu yang baru saja selesai menyetrika seragam dinasnya terkejut bukan main saat melihat sosok raksasa sang Kolonel sudah berdiri di ruang tamunya yang minimalis. Ia meletakkan alat setrika, merapikan kaus rumahannya, lalu berdiri dengan sikap tegap yang kaku.

"Komandan... apa yang membuat Anda datang bertamu di jam tengah malam seperti ini?" tanya Ayu, suaranya terdengar datar namun ada nada getar kecemasan yang samar di sana.

Victor tidak langsung mengeluarkan untaian kata. Pria raksasa itu hanya berdiri diam, memandangkan sepasang mata kelamnya begitu lama ke arah wajah Ayu, seolah-olah sedang merekam setiap jengkal gurat kelelahan dan kecantikan wanita di depannya yang tidak pernah pudar oleh waktu. Ruang tamu itu mendadak diselimuti keheningan yang mencekam, hingga akhirnya Victor mengembuskan napas berat.

"Ayu saya datang malam ini tanpa basa-basi."

"Sekali lagi aku tanya padamu, Ayu... apakah aku benar-benar sudah tidak ada lagi di dalam hatimu?" tanya Victor dengan suara bariton yang teramat rendah, menanggalkan sejenak pangkat kolonelnya demi berbicara sebagai seorang pria yang sedang menuntut kepastian cinta.

Ayu menatap wajah tegas Victor dengan pandangan tertegun. Kedua alis cantiknya ditekuk dalam-dalam, menyiratkan pergolakan batin yang luar biasa hebat di dalam dadanya. Ia mengepalkan jemarinya kuat-kuat di balik saku celananya.

"Komandan, duduk dulu. Anda ingin meminum apa?"

"Saya serius Ayu!"

"Komandan... di luar sana ada begitu banyak wanita yang jauh lebih baik, lebih muda, dan tanpa beban masa lalu yang mungkin jauh lebih pantas untuk mendampingi hidup Anda," jawab Ayu dengan suara yang diusahakan tetap tegar.

Benar, inilah tameng alasan yang selalu Ayu tanamkan dengan paksa ke dalam alam bawah sadarnya selama dua tahun terakhir. Baginya, Victor yang memiliki karier militer cemerlang dan berasal dari keluarga terpandang berhak mendapatkan kesempurnaan yang terbaik dalam hidupnya. Di mata Ayu, Victor adalah laki-laki yang teramat sangat baik. Ayu merasa dirinya akan menjadi sosok yang sangat egois jika membiarkan Victor masuk ke dalam hidupnya yang sudah rumit dan membawa beban seorang anak. Walau jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Ayu tidak bisa membohongi nuraninya sendiri bahwa ia juga sangat mengharapkan hal tersebut terjadi—mengharapkan kehangatan pelukan Victor yang sesungguhnya. Tapi ego pertahanannya kembali berbisik, memaksanya untuk terus mendorong pria itu menjauh demi kebaikan sang Kolonel sendiri.

"Ayu... apakah kamu benar-benar tahu apa alasan utama kenapa aku memilih untuk tetap tidak menikah sampai detik ini?" tanya Victor, melangkah maju satu kali hingga bayangan tubuh besarnya mengurung siluet Ayu.

Alasannya sebenarnya teramat sangat sederhana bagi Victor. Walau Ayu bukan cinta pertamanya, namun siapa sangka ayu ia pasangkan sebagai cinta terakhir yang pernah singgah di dalam lembaran hidupnya. Bahkan, setiap kali ia memejamkan mata di keheningan malam barak, bayangan yang selalu hadir menghantui pikirannya adalah momen di mana Ayu menangis tersedu-sedu di dalam dekapannya bertahun-tahun lalu, sebuah memori lama yang sukses membuatnya terus dihantui oleh rasa bersalah yang teramat dalam karena tidak mampu melindunginya saat itu.

"Victoria..." sebut Ayu lirih, untuk pertama kalinya ia kembali memanggil nama kecil pria itu, bukan lagi dengan sebutan komandan. "Waktu sudah lama berlalu, dan begitu banyak hal di antara kita yang sudah berubah secara radikal. Mungkin saja... mungkin saja kemarin di masa muda dulu, kita berdua masih terlalu kanak-kanak dan egois. Aku pun sadar aku terlalu menyalahkan kamu perihal perpisahan kita waktu itu. Padahal sekarang aku sudah paham dengan jelas, bahwa orang tuaku lah yang saat itu tidak bisa menerima kehadiranmu karena adanya perbedaan keyakinan di antara kita."

Ayu menghela napas panjang, mencoba menahan sesak yang mulai menjalar di dadanya. "Tapi untuk sekarang, semuanya sudah benar-benar berubah, Victoria. Bahkan aku sendiri sudah melupakan semua hal menyakitkan itu dan tidak pernah menaruh dendam lagi. Jadi... aku sangat berharap kamu bisa melangkah ke depan, membuka lembaran baru, dan menemukan wanita terbaik yang bisa membahagiakan dirimu."

"Tapi aku tidak bisa, Ayu! Aku tidak bisa kalau harus dengan orang lain." bantah Victor dengan nada yang meninggi, sarat akan frustrasi yang mendalam.

"Victoria... Kamu selalu saja memejamkan mata dan mengunci diri pada masa lalu kita yang sudah runtuh," ucap Ayu lembut, menatap lurus mata kelam pria itu. "Coba sesekali buka matamu lebar-lebar. Lihatlah di sekeliling kamu. Ada banyak hal baik, ada banyak wanita terhormat di luar sana yang menginginkanmu, yang mungkin selama ini kehadirannya tidak pernah bisa kamu rasakan hanya karena kamu terlalu sibuk menghukum dirimu sendiri atas kesalahanku."

"Oke. Kalau itu memang maumu," ucap Victor dingin, rahang tegapnya mengeras sempurna.

Lagi dan lagi, Ayu memilih untuk menolaknya dengan tameng kebaikan semu yang menjengkelkan. Di bawah temaram lampu ruang tamu jam sepuluh malam itu, ego mereka kembali berbenturan.

Namun, di tengah-tengah ketegangan senyap yang melingkupi kedua orang dewasa tersebut, baik Victor maupun Ayu sama sekali tidak menyadari bahwa di balik celah pintu kamar yang sedikit terbuka, ada seorang anak kecil bertubuh mungil yang sejak tadi tengah mengintip diam-diam. Dengan sepasang mata bulatnya yang berkedip polos, Arkan berdiri mematung di sana, mengawasi dengan seksama setiap gerak-gerik dan untaian kalimat serius yang sedang didebatkan oleh ibunya dan pria raksasa yang sore tadi baru saja mengumumkan status kepemilikan atas dirinya di depan lobi Mako.

Begitu langkah tegap Kolonel Victor benar-benar menjauh dan deru mesin mobil dinasnya perlahan menghilang ditelan sunyinya malam asrama, Sersan Satu Johan dengan rapat menutup pintu kayu depan rumah dinas tersebut. Keheningan yang mencekam seketika runtuh, menyisakan ruang tamu kecil itu dalam atmosfer yang teramat sunyi sekaligus menyakitkan. Luruh sudah pertahanan wanita tegap itu.

"Victoria... Maafkan aku... Maaf..."

Pecah sudah tangisan Ayu yang sejak sejam lalu ia tahan sekuat tenaga di hadapan sang komandan. Tubuhnya mendadak lemas laksana kehilangan seluruh tulang penyangga, membuatnya terpaksa merosot dan terduduk di atas lantai marmer yang dingin di samping meja setrikaan. Ayu menyembunyikan wajahnya di antara kedua lutut yang ditekuk, membiarkan bahunya berguncang hebat diiringi isak tangis yang terdengar begitu memilukan.

Kalau boleh jujur pada nuraninya sendiri, siapa yang bisa benar-benar melupakan dan melangkah pergi dari masa lalu seindah itu? Membangun sebuah jalinan kasih selama bertahun-tahun sejak masa-masa paling polos di sekolah dasar hingga akademi, lalu kemudian secara paksa dipisahkan oleh benteng perbedaan keyakinan yang tak kasat mata namun teramat kokoh. Lalu kini, takdir dengan lucunya mempertemukan mereka kembali di satu ksatrian militer yang sama. Apalagi, hubungan masa lalu itu dibangun di atas fondasi rasa cinta yang teramat tulus dari sosok pria yang amat penyayang, protektif, dan memiliki hati sehangat Victor. Siapa yang bisa benar-benar move on jika standarnya sudah diletakkan setinggi itu oleh seorang Kolonel Victor? Tidak ada. Ayu pun sama sekali belum bisa melupakannya.

Namun, rasa bersalah dan inferioritas yang berkecamuk di dalam dada Ayu jauh lebih besar daripada egonya. Ayu merasa dirinya akan menjadi wanita yang teramat sangat egois jika harus egois menerima dan merengkuh kembali cinta suci Victor ke dalam hidupnya yang sekarang. Apalagi, telinganya bukan telinga tuli. Selama dua tahun berdinas di Satdik, banyak sekali gosip miring, sindiran, dan bisik-bisik miring dari oknum Persit komplek belakang yang tersebar luas, yang tidak mungkin tidak tertangkap oleh indra pendengarannya. Mereka selalu mempertanyakan, apakah seorang janda anak satu sepertinya pantas atau sebanding dengan sosok perwira menengah cemerlang sekelas Danpusdikmil?

Walau sebenarnya, dalam berbagai kesempatan di ruang kerja maupun saat berkumpul santai, Lettu dr. Shaneen selaku adik bungsu Victor dan juga Lettu Yunita sahabat karibnya, sudah sering kali membujuk dan memohon agar Ayu menurunkan egonya dan mau menerima niat baik Victor. Namun, Ayu tetap kokoh pada pendiriannya yang keliru; ia tidak ingin menjadi parasit egois yang merusak reputasi dan masa depan pria yang paling dicintainya. Ia ingin Victor mendapatkan kesempurnaan terbaik dalam hidup ini, bahkan jika kesempurnaan itu artinya bukan bersama dirinya.

"Ibu..."

Sebuah suara pelan yang teramat lirih dan serak mendadak memecah keheningan malam di ruang tamu tersebut. Suara itu laksana sentrean taktis yang langsung menyentak kesadaran Ayu.

Ayu tersentak, dengan gerakan refleks yang cepat, ia segera mengusap kasar seluruh sisa air mata di pipinya menggunakan punggung tangan, mencoba menata kembali ekspresi wajahnya agar terlihat tegap di depan sang buah hati. Ia mendongak, menemukan siluet tubuh mungil Arkan sedang berdiri di ambang pintu kamar dengan seragam sekolah yang sudah sedikit kusut dan mata yang tampak kuyu.

"Arkan? Kenapa bangun, Sayang? Ini sudah lewat jam tidurmu," ucap Ayu dengan suara yang diusahakan sehangat dan senormal mungkin, berjalan menghampiri anaknya.

Arkan tidak banyak bicara, dia hanya memeluk ibunya dengan posesif. Apa benar ya, ibunya dan ayahnya berpisah karena mereka sering bertengkar?

1
Deuis Lina
tentunya punya jurus terakhir ya komandan rencana A gagal pasti ada rencana B
Deuis Lina
duh Arkan kamu bahagianya punya ayah besar yg sangat menyayangi mu
Deuis Lina
wah kekuasaannya keluar tuh ayah besar,,
Deuis Lina
lanjuut
Deuis Lina
makasih upnya
Deuis Lina
aku kasih vote mingguannya kak,,semangat teruuus
Deuis Lina: sama2 kak
total 2 replies
Deuis Lina
mengandung bawang banget ceritanya
Deuis Lina
lanjuuut
Deuis Lina
ayu oh ayu,,,
Deuis Lina
lanjuut,,
Deuis Lina
lanjuut,,
Deuis Lina
kayaknya ada yg senyum merekah nih,,,
Deuis Lina
lanjuut
Deuis Lina
berbalik lah karena ada laki laki yg lebih tulus mencintaimu ayu
Deuis Lina
CLBK ya Bu Intel buang suami yg tak mencintaimu
Deuis Lina
terlalu menyesakan dada bacanya kak,🤣🤣🤣🤣
Deuis Lina
Hem,,
Deuis Lina
kejar lagi bang Victor,,
Deuis Lina
kejar lagi bang Victor,
Deuis Lina
nyesek sekali bacanya,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!