Di balik sapu yang digenggamnya, Bagas menyimpan kecerdasan yang tak pernah disadari siapa pun. Ia pun diam-diam memendam rasa pada Naya, wanita yang dunianya terasa sejauh langit dan bumi darinya. Dihimpit kemiskinan dan biaya pengobatan ibu yang mahal, ia bertekad mengubah setiap informasi yang didengarnya menjadi jalan keluar. Cintanya yang tulus perlahan meluluhkan hati Naya, meski harus berhadapan dengan penghinaan, saingan licik, dan larangan tegas orang tua. Saat segalanya tampak mustahil dan terhalang tembok kasta tinggi, Bagas pergi membangun kerajaan bisnisnya sendiri dari nol. Ia kembali bukan lagi sebagai OB yang diremehkan, melainkan pengusaha sukses yang membuat semua orang terdiam kagum. Bukti nyata bahwa kesabaran dan ketajaman akal mampu mengangkat derajat setinggi langit. Akhirnya, ia bersanding dengan pujaan hati, hidup bahagia, dan membuktikan bahwa nasib buruk bisa diubah menjadi kemewahan yang abadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 : Langkah di pagi buta
Jam menunjukkan pukul 04.00 pagi ketika kabut tipis masih menyelimuti kawasan perumahan padat itu. Di sebuah rumah kayu kecil yang dindingnya mulai lapuk, Bagas sudah terjaga. Ia bangun tanpa perlu alarm, karena tubuhnya sudah terbiasa bergerak sebelum matahari menyingsing. Dengan gerakan pelan agar tidak menimbulkan suara, ia turun dari ranjang kayu sempitnya, lalu berjalan menuju kamar ibunya, Bu Siti, yang sejak setahun terakhir sering terbaring lemah karena penyakit paru-paru dan rematik yang tak kunjung sembuh.
"Ibu, minum obat dulu ya?" bisik Bagas pelan sambil menyentuh lengan keriput wanita yang melahirkannya itu. Bu Siti hanya mengangguk lemah, matanya sayu menatap anak tunggalnya yang wajahnya tetap tampan meski terlihat lelah dan kusam. Bagas membantu ibunya duduk, menyuapi air hangat dan beberapa butir obat yang dibelinya dengan sisa uang receh, lalu mengusap punggung ibunya perlahan sampai napas wanita itu kembali teratur. Hati Bagas terasa perih setiap kali melihat kondisi ibunya. Hidup mereka memang serba kekurangan, baju yang dipakai sudah bolong di sana-sini, makanan pun seadanya saja, namun kasih sayang di antara mereka tak pernah kurang sedikit pun.
Setelah memastikan ibunya kembali terlelap dan selimutnya tertutup rapat, Bagas segera bersiap berangkat kerja. Ia memakai seragam kebesarannya berwarna abu-abu tua yang sudah sering dicuci hingga warnanya memudar. Di cermin retak di sudut ruangan, ia melihat bayangannya sendiri, pemuda berusia 22 tahun dengan raut wajah yang sangat tampan, rahang tegas, mata tajam yang menyimpan banyak cerita, dan kulit sawo matang yang sehat. Namun, seketika ia menundukkan kepala, menyembunyikan ketampanan itu di balik sikap bungkuk dan malu-malu. Ia tahu betul, ketampanan dan kecerdasannya tak ada harganya di mata orang-orang selama ia masih berstatus anak miskin dan seorang OB — Office Boy.
Perjalanan ke Gedung Artha Mas memakan waktu hampir satu jam dengan sepeda tua yang rantainya sering berdecit. Gedung itu menjulang gagah di tengah pusat kota, bangunan bertingkat dua puluh lima dengan kaca-kaca reflektif yang berkilauan saat terkena sinar matahari. Di sana, orang-orang berdasi dan bergaun mahal berlalu-lalang, orang-orang yang hidupnya serba berkecukupan, berbanding terbalik dengan dirinya yang harus berjuang keras hanya untuk makan dan biaya berobat ibunya.
Sesampainya di sana, Bagas langsung mengambil peralatan kerjanya, sapu, kain pel, ember, dan lap debu. Tugas utamanya adalah membersihkan area lobi, koridor, dan ruang rapat. Ia bekerja dengan sangat teliti dan cekatan, tak ada satu sudut pun yang terlewatkan. Meski hanya dianggap sebagai 'pekerja kasar', Bagas sebenarnya adalah orang yang paling paham seluk-beluk gedung ini, bahkan lebih paham daripada pegawai tetap sekalipun.
Saat ia menyapu di dekat lift atau memungut sampah di depan ruangan kantor para pimpinan, telinganya selalu menangkap banyak hal. Ia mendengar pembicaraan tentang angka-angka besar, strategi bisnis, rencana kerja sama, hingga persaingan antar perusahaan. Orang-orang di sana menganggap Bagas tidak lebih dari perabot tak bernyawa. Mereka berbicara terbuka seolah-olah dia tidak ada, berpikir bahwa seorang OB pasti tidak mengerti apa-apa tentang dunia bisnis dan uang.
Padahal, Bagas sangat paham. Ia pemuda yang sangat cerdas, sayangnya tak mampu melanjutkan kuliah karena kekurangan biaya. Otaknya bekerja cepat, menganalisis setiap kata yang didengarnya, mencatatnya dalam ingatan yang tajam. Ia tahu siapa yang jujur, siapa yang curang, proyek mana yang menguntungkan, dan mana yang berisiko bangkrut. Namun, ia selalu memilih diam, menundukkan pandangannya, dan berpura-pura bodoh. Ia tahu, menjadi 'tak terlihat' adalah cara terbaik untuk bertahan hidup dan mengamati segala sesuatu dengan aman.
"Eh, Bagas! Pelnya jangan asal lewat saja dong, lihat tuh masih ada noda di sana!" tegur seorang pegawai wanita yang lewat sambil mengetuk-ngetuk sepatu hak tingginya ke lantai.
"Baik, Bu. Maaf, nanti saya bersihkan lagi," jawab Bagas pelan, kepalanya makin menunduk rendah, namun matanya yang tajam menyimpan ketenangan yang luar biasa. Ia tidak marah, tidak pula dendam. Ia hanya mengerti posisinya saat ini.
Di tengah debu dan lelahnya bekerja, di balik sapu dan kain pel yang digenggamnya, Bagas memendam satu tekad besar. Ia tidak akan selamanya begini. Ia tidak akan membiarkan ibunya terus menderita dalam kemiskinan. Segala yang ia lihat, ia dengar, dan ia pelajari di gedung mewah ini suatu saat akan menjadi kunci untuk mengubah nasibnya. Langkah kakinya terus berjalan menyusuri koridor panjang itu, diam-diam membawa mimpi besar yang perlahan mulai ia susun di dalam benaknya.