Bagi Karin, dosen pembimbingnya yang bernama Pak Arkan adalah monster nyata di dunia perkuliahan. Dingin, kaku, dan tidak segan mencoret draf skripsinya sampai penuh tinta merah. Karin bertekad untuk segera lulus agar bisa terbebas dari pria menyebalkan itu.
Namun takdir berkata lain. Demi melunasi utang pengobatan ibunya yang menumpuk, Karin terpaksa menyetujui pernikahan kontrak selama satu tahun dengan Pak Arkan sebuah rencana perjodohan rahasia yang diatur oleh keluarga mereka.
Kini, Karin tidak hanya harus berhadapan dengan Pak Arkan di ruang dosen yang menegangkan, tapi juga harus berbagi atap di apartemen yang kamarnya saling bersebelahan. Di kampus mereka harus pura-pura tidak kenal, sementara di rumah, Karin perlahan menemukan sisi lain sang dosen.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak tii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sarapan pagi di ruang sidang
Pukul delapan kurang lima belas menit.
"Karin! Kalau dalam tiga detik kamu belum keluar dari kamar mandi, Mbak siram kamu pakai air bekas cucian piring ya!"
Gedoran pintu kayu yang super kencang dari Mbak Rika sukses membuat jantungku serasa melompat ke tenggorokan. Dengan panik, aku langsung menyambar handuk, memakai baju kaos seadanya, dan menyisir rambutku yang masih setengah basah menggunakan jari tangan.
"Iya, Mbak! Ini udah keluar, jangan teriak-teriak napa, berisik banget!" sahutku sambil membuka pintu kamar mandi dengan napas tersengal-sengal.
Mbak Rika, kakak sepupuku yang punya kosan tempat aku menumpang selama kuliah di Banjarmasin ini, hanya berkacak pinggang di depan pintu. Matanya menatapku tajam dari balik kacamata bulatnya.
"Kamu itu ya, hari ini jadwal bimbingan draf proposal skripsi jam delapan pagi kan? Ini udah jam berapa, Karin Senjana? Kamu mau dikuliti hidup-hidup sama Pak Arkan?"
Begitu mendengar nama "Pak Arkan", seluruh badanku mendadak merinding.
Arkananta Dewangga. Dosen muda berumur dua puluh delapan tahun yang menjabat sebagai kepala laboratorium sekaligus dosen pembimbing utamaku. Orangnya tinggi, wajahnya sebenarnya lumayan tampan kalau tidak ditekuk datar seperti papan pengumuman, dan yang paling penting: dia adalah definisi nyata dari kata killer.
Bagi mahasiswa semester akhir Jurusan Sistem Informasi, bimbingan dengan Pak Arkan itu rasanya seperti maju ke meja hijau tanpa pengacara. Salah ketik satu koma saja di draf, draf itu bisa langsung dicoret pakai pulpen merah dari ujung atas sampai ujung bawah.
"Mampus! Gue lupa kalau hari ini jadwal bimbingan pertama setelah revisi kemarin!" pekikku panik.
Aku langsung berlari ke kamar, menyambar tas ransel abu-abu yang sudah butut, dan memasukkan tumpukan kertas draf proposal skripsi tanpa sempat merapikannya lagi. Aku bahkan tidak sempat memakai bedak, hanya mengoleskan lipbalm seadanya biar bibirku tidak kelihatan seperti orang yang sedang tipus.
"Mbak, Karin berangkat dulu! Gak usah nungguin Karin buat makan siang ya!" teriakku sambil berlari keluar rumah menuju motor matic merahku yang terparkir di halaman.
"Heh! Itu helmnya dipakai yang bener, jangan kebalik!" sayup-sayup terdengar teriakan Mbak Rika dari dalam rumah.
Aku tidak memedulikan hal itu lagi. Di dalam kepalaku, hanya ada bayangan wajah dingin Pak Arkan yang sedang menatap jam dinding sambil memegang pulpen merah andalannya.
Kampus pagi itu sangat ramai. Mahasiswa baru berlarian ke sana kemari memakai seragam putih hitam, sementara aku harus setengah berlari menyusuri koridor lantai tiga gedung fakultas teknik menuju ruang dosen.
Napas yang memburu membuat dadaku terasa sesak. Aku berhenti sejenak di depan pintu kayu bertuliskan "Ruang Dosen - Arkananta Dewangga, M.T.".
Aku merapikan kemeja flanel kotak-kotakku yang agak kusut karena angin jalanan, menarik napas dalam-dalam, lalu mengetuk pintu itu perlahan.
Tok... Tok...
"Masuk," terdengar suara berat dan dingin dari dalam ruangan.
Aku menelan ludah dengan susah payah sebelum memutar gagang pintu dan melangkah masuk.
Ruangan Pak Arkan sangat rapi dan wangi aroma kopi hitam yang pekat. Di balik meja kayu besar, Pak Arkan sedang duduk fokus menatap layar laptop MacBook-nya. Ia mengenakan kemeja biru navy dengan lengan yang digulung rapi hingga ke siku, menampilkan jam tangan kulit hitam yang terlihat mahal.
"Selamat pagi, Pak Arkan," sapaku dengan suara yang diusahakan selembut mungkin, meskipun kakiku sebenarnya sudah gemetaran.
Pak Arkan tidak langsung mendongak. Ia mengetik beberapa karakter di keyboard-nya sebelum akhirnya mengalihkan pandangan tajamnya ke arahku dari balik kacamata bacanya.
"Jam berapa sekarang, Karin?" tanya Pak Arkan datar. Nada suaranya tidak tinggi, tapi justru itu yang membuatnya terasa menakutkan.
"Delapan lewat lima menit, Pak. Maaf tadi di jalan jalanan macet karena ada perbaikan aspal," dustaku, mencoba mencari alasan aman yang terdengar logis.
"Saya tidak butuh alasan klasik seperti itu. Kalau kamu tahu ada perbaikan jalan, seharusnya kamu berangkat tiga puluh menit lebih awal," sahutnya dingin sembari melepas kacamatanya dan meletakkannya di atas meja. "Serahkan draf kamu."
Dengan tangan yang sedikit gemetar, aku mengeluarkan tumpukan kertas dari dalam tas dan menyerahkannya ke hadapannya.
Pak Arkan menerima kertas-kertas tersebut. Detik-detik berikutnya adalah siksaan paling berat bagiku. Sunyi senyap menyelimuti ruangan itu, hanya terdengar suara gesekan lembaran kertas yang dibalik oleh Pak Arkan.
Dahinya berkerut. Matanya bergerak cepat membaca baris demi baris tulisan yang kubuat dengan sistem begadang tiga hari tiga malam itu.
Sret... Sret...
Jantungku rasanya mau copot saat melihat ujung pulpen merahnya mulai menari-nari di atas kertasku, mencoret beberapa paragraf di bab pendahuluan tanpa ampun.
"Karin," panggil Pak Arkan tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas.
"I-iya, Pak?"
"Kamu ini mau membuat aplikasi sistem informasi atau mau menulis novel fiksi?" tanya Pak Arkan tajam, menatapku dengan tatapan yang sangat menyebalkan. "Bahasa yang kamu gunakan di bagian latar belakang ini terlalu bertele-tele. Banyak menggunakan kata-kata kiasan yang tidak perlu. Ini karya ilmiah, bukan tulisan media sosial."
Aku meremas ujung kemejaku sendiri, mencoba menahan rasa kesal yang mulai naik ke ubun-ubun. Gila ya ini dosen, padahal gue udah nulis ini pakai hati sampai mata gue mirip panda! batinku menjerit.
"Tapi Pak, itu kan buat menjelaskan urgensi dari pembuatan aplikasinya agar pembaca paham..." cobaku membela diri dengan suara pelan.
"Urgensi itu dijelaskan dengan data dan fakta yang konkret, bukan dengan kalimat puitis seperti ini," potong Pak Arkan cepat, langsung membuatku bungkam seketika. Ia menyodorkan kembali tumpukan draf yang kini sudah penuh dengan coretan tinta merah di hampir setiap halaman. "Revisi bagian ini. Ganti semua kalimat yang tidak efektif. Saya tunggu draf perbaikannya hari Senin depan sebelum jam delapan pagi."
"Senin depan, Pak? Tapi sekarang udah hari Kamis..." ujarku memelas.
"Mau lulus tahun ini atau tidak?" tanya Pak Arkan balik dengan satu alis yang terangkat naik.
"Mau, Pak," jawabku pasrah sambil menerima draf tersebut dengan lesu.
"Ya sudah. Silakan keluar."
Aku membungkuk sedikit, lalu segera berbalik melangkah menuju pintu keluar dengan perasaan yang sangat jengkel. Baru saja tanganku memegang gagang pintu, suara berat Pak Arkan kembali terdengar dari belakang.
"Satu lagi, Karin."
Aku menoleh perlahan. "Iya, Pak?"
"Lain kali, kalau mau bimbingan dengan saya, tolong rapikan dulu rambut kamu. Dan... kancing baju paling atas kamu itu lepas satu, sangat tidak rapi untuk lingkungan akademis," ujar Pak Arkan tanpa ekspresi, lalu kembali menatap layar laptopnya seolah tidak baru saja membuat wajahku memerah sempurna karena malu.
Aku refleks meraba kancing kerah bajuku yang ternyata memang lepas satu karena terburu-buru tadi. Dengan wajah yang terasa panas luar biasa, aku langsung membuka pintu dan berlari keluar dari ruangan ber-AC yang terasa seperti ruang interogasi polisi itu.
"Dosen killer sialan! Awas aja lo ya, kalau gue udah lulus, gue coret nama lo dari daftar orang yang mau gue sapa seumur hidup!" gerutuku sepanjang koridor dengan langkah kaki yang dihentak-hentakkan kesal.
Aku sama sekali tidak pernah membayangkan, bahwa dosen killer yang baru saja membuatku ingin menangis di koridor kampus ini, dalam waktu dekat akan menjadi sosok yang harus aku panggil dengan sebutan Suami di dalam satu rumah yang sama.