"Kakak, aku haus. Ambilin minum, dong!"
"Aku enggak sedih lagi, karena punya suami sebaik Kakak."
"Kakak udah maafin aku. Tapi Kakak enggak peluk aku."
Juan tak pernah mengira hidupnya akan berubah seperti ini.
Istri yang dulu bersikap dingin, tidak peduli, bahkan pernah meremehkannya karena kelumpuhannya, kini justru terus menempel di sisinya.
Sebuah kecelakaan telah merenggut sebagian ingatan Ailin.
Wanita itu melupakan tahun-tahun penuh kebencian di antara mereka. Melupakan luka yang pernah tercipta. Melupakan alasan mengapa ia begitu membenci suaminya.
Yang tersisa hanyalah Ailin dengan kepribadian ceria, banyak bicara, penuh perhatian, dan tanpa sadar terus membuat jantung Juan berdebar.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Juan kembali memiliki harapan.
Namun harapan itu datang bersama ketakutan.
Karena cepat atau lambat, ingatan Ailin akan kembali.
Dan saat hari itu tiba...
Akankah wanita itu tetap memilihnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joy Jasmine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 ~ Aku Membencimu!
Ailin mengendap-endap mendekati sang suami. Saat tinggal beberapa langkah lagi, niatnya untuk mengagetkan pria itu langsung urung ketika melihat raut wajah Juan yang begitu serius.
Wanita itu berhenti di balik sebuah tiang besar. Dari sana ia belum bisa mendengar suara Juan dengan jelas.
Sementara di sisi Juan, pria itu mendengarkan lawan bicaranya dengan wajah tak senang.
"Tidak bisakah kau menemuinya sebentar? Dia amnesia, dalam ingatannya kau masih kakak yang sangat menyayanginya," ujar pria itu dengan nada yang lebih dingin dari biasanya.
Di ujung sambungan telepon, Renzhi terdiam cukup lama. Mendengar perkataan sang adik ipar sekaligus teman baiknya di masa lalu itu, tanpa sadar membuat hatinya merasa gundah.
Pria itu lalu memejamkan mata sejenak.
"Baiklah... aku akan ke sana," ujar Renzhi akhirnya setelah tadi sempat menolak keras. Ia tidak menyangka kecelakaan sang adik ternyata begitu parah hingga membuat wanita itu kehilangan ingatannya.
Di sisi lain, rasa penasaran Ailin semakin besar. Tanpa sadar, ia kembali melangkah beberapa langkah.
Juan akhirnya menyadari langkah seseorang yang semakin mendekat. Tanpa berpikir panjang, ia langsung menutup telepon.
"Sudah dulu!" katanya mematikan panggilan tanpa menunggu balasan dari seberang.
Saat Ailin hampir sampai, ia mengangkat tangan, bersiap menepuk pundak sang suami. Namun pria itu lebih dulu memutar kursi rodanya.
"Kamu kenapa ke sini?" tanya pria itu dengan senyum lembut. Sangat kontras dengan raut wajahnya beberapa saat lalu.
Namun yang ditanya justru memasang wajah kesal. Tangannya masih terangkat sebelum ia hempaskan asal. "Kakak kok tahu ada aku di sini? Padahal aku udah susah-susah ngendap-ngendap. Sedikit lagi berhasil kagetin Kakak!"
Juan mengerutkan kening, melihat wajah kesal sang istri kemudian membuatnya tertawa kecil. Sepertinya mulai sekarang ia harus belajar membaca apa keinginan sang istri.
"Aku hanya enggak tahu kalau itu kamu. Kalau tahu kamu, aku akan pura-pura enggak tahu."
Ailin menghembuskan napas kesal. "Sudahlah! Lili pasti menunggu kita makan bersama."
Wanita itu lalu berbalik, berjalan pergi diikuti Juan yang segera menekan tuas. Namun baru dua langkah, ia berhenti. Kepalanya menoleh dan melirik sang suami yang memiringkan kepala seakan bertanya ada apa.
"Hmph." Ailin mendengus, namun kali ini tak langsung melangkah maju lagi. Melainkan berbalik dan berjalan ke belakang tubuh Juan. Tanpa mengatakan apa pun, ia mendorong kursi roda sang suami. Sementara Juan yang sebelumnya bingung jadi mengulum senyum. Ailin yang sekarang... benar-benar seperti gadis kecil yang manis.
Keduanya berjalan dalam diam. Ailin masih sedikit kesal, sementara Juan diam-diam menikmati kehangatan yang semakin menguasai hatinya.
"Mama, Papa." Lili yang sudah duduk di atas kursi meja makan itu tersenyum senang melihat kedatangan orangtuanya.
Sementara Kean melirik saja. Anak lelaki itu lalu memberi kode pada seorang pelayan di sebelahnya. Pelayan itu pun sigap mengambil sebuah bakpao yang tersedia. Lalu membelah dan memilah-milah sayur sawi putih hingga menyisakan daging.
"Tuan Kecil, makanannya sudah siap." Anya menggeser pelan dan menunduk dengan hormat. Namun Kean memasang wajah marah.
"Kau tuli, ya? Aku tadi sudah bilang kan kalau aku mau disuapi."
Anya langsung menunduk lebih dalam. Namun tangannya bergerak untuk mengambil sepotong bakpao di piring Kean. "Ma-maaf, Tuan Kecil. Saya akan menyuapi Anda."
"Anya, jangan suapi dia!" Ailin yang telah duduk di samping kiri sang suami itu masih belum menyentuh makanannya. Wanita itu telah memperhatikan gerak-gerik sang putra, dan ia merasa tidak bisa membiarkan sikap manja dan temperamen seperti itu terus dipelihara.
Sementara setelah mendengar seruan sang nyonya. Tangan Anya berhenti di udara, ia menelan ludah kasar.
"Aku bilang suapi aku! Jangan dengarkan wanita jahat itu!"
"Jangan suapi dia!"
Anya mengangkat sedikit kepalanya. Memandang Juan, berharap sang tuan akan mengatakan sesuatu. Namun pria itu justru diam sembari menyesap teh. Seakan tengah menonton pertunjukkan bagus yang sayang sekali untuk dilewatkan.
Ia lalu melirik ke arah Lulu. Ternyata gadis itu juga sama, bahkan lebih parah sampai menghentikan makannya untuk melihat perdebatan di depannya ini.
"Wanita jahat! Apa yang kau mau?"
"Kamu makan sendiri."
"Enggak mau. Di rumah nenek aku selalu disuapi."
"Itu rumah nenek, kan? Kalau di sini kamu harus belajar makan sendiri dan jangan pilih-pilih makanan."
"Enggak mau! Enggak mau! Kalau begitu aku enggak mau makan!"
"Baik." Ailin mengangguk pelan, lalu menoleh pada Anya.
"Anya, angkat makanannya."
Mata Kean langsung membulat. "Apa?"
"Bukankah tadi kamu bilang enggak mau makan?"
"Aku...."
"Kalau seseorang bilang tidak mau makan, berarti makanannya tidak perlu disediakan lagi."
Mata Kean langsung memerah. Bibirnya bergetar menahan kesal.
"Wanita jahat! Aku membencimu!" pekik anak lelaki itu sembari mencengkram pinggir piringnya erat-erat. Takut Anya benar-benar akan mengambilnya.
.
.
.