NovelToon NovelToon
Petualangan Dua Bersaudara

Petualangan Dua Bersaudara

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:257
Nilai: 5
Nama Author: LanLan.CNL

membalas dendam atas kematian keluarga dari seorang penghianat.

bercerita tentang Kenzie Laurent dan Reinzie Laurent yang telah menjadi yatim piatu, dua sosok saudara yang memiliki sifat yang berbanding terbalik Kenzie memiliki selera humor yang teramat konyol dan santai sedangkan Reinzie memiliki sifat normal dan sangat serius.

mereka berdua melakukan petualangan di dunia. Kaka beradik ini ingin membalas nyawa pada seorang penghianat yang telah membunuh orang tua mereka.

dan keduanya diseguhkan oleh petualangan yang mengubah takdir dari yang konyol menjadi sosok yang sangat di hargai serta di agungkan dan yang satunya akan menjadi seorang pendekar hebat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanLan.CNL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 33

BAB 33: FIRASAT RYUJIN DAN RAVA!

...****************...

Setelah menempuh perjalanan yang teramat jauh melintasi hamparan samudra luas menuju area di antara Benua Shindai dan Benua Shenlong, kini Reinzie dan Chelsea mulai bergerak melangkah memasuki area gerbang kota Kerajaan Baekryeon. Di bawah langit baru yang asing ini, sepasang pendekar muda tersebut bersiap untuk kembali mengasah ketajaman ilmu bela diri mereka dengan satu cara yang mutlak: menantang dan bertarung melawan para monster jenius berbakat yang menguasai wilayah kerajaan tersebut.

Sementara itu, di tempat latihan yang berada di halaman belakang kediaman Master Helena di Benua Laurentia, atmosfer tegang perlahan-lahan mulai mencair. Sosok Master Helena kini telah resmi pergi melompat menembus pekatnya kegelapan, meninggalkan keenam muridnya yang masih berdiri di area pelatihan yang dipimpin oleh metode gila Kenzie.

Waktu kini terus berjalan dengan lambat, berputar dari kesunyian dini hari hingga perlahan-lahan mulai memasuki pukul empat pagi. Udara dingin sebelum fajar terasa menusuk hingga ke tulang, berpadu dengan kabut tegap yang menyelimuti aliran air terjun.

Melihat kondisi fisik teman-temannya yang sudah benar-benar terkuras habis, Kenzie mengibaskan tangannya sembari menguap lebar. "Sudahlah, untuk sekarang kalian boleh pergi beristirahat dan tidur sejenak. Tapi ingat, tepat jam delapan pagi nanti, kalian semua harus sudah berkumpul kembali di sini untuk melakukan sesi latihan selanjutnya. ingat jangan ada yang berani terlambat!" perintah Kenzie dengan santai.

Mendengar kalimat pembebasan tersebut, kelima murid lainnya bernapas lega. Mereka perlahan membalikkan tubuh untuk berjalan kembali menuju area asrama kediaman mereka.

Di barisan belakang, Ryujin dan Rava berjalan dengan langkah gontai mengekor di belakang Kenzie. Namun, sepanjang koridor jalan setapak, sepasang mata Ryujin dan Rava tidak sedetik pun lepas dari punggung Kenzie.

Mereka memandangi penampilan fisik pemuda berambut perak itu—mulai dari ujung rambut, setelan jubah hitamnya, hingga detail sepasang anting tindik berlian hitam dan manik-manik yang menjuntai di daun telinganya—secara berulang-ulang kali dari bawah hingga ke atas. Secercah rasa penasaran, kecurigaan yang teramat besar, serta benang merah yang janggal mendadak mulai merayap masuk dan berkecamuk di dalam pikiran kedua orang konyol tersebut.

Set!..Tiba-tiba, Ryujin menghentikan langkah kakinya secara mendadak di tengah jalan. Wajahnya seketika berubah drastis, memasang ekspresi terkejut yang luar biasa dramatis dengan mulut yang sedikit menganga bak orang yang baru saja melihat penampakan makhluk gaib.

Sontak saja, Rava yang berjalan tepat di sebelahnya ikut terhenti. Ia menatap juniornya itu dengan dahi berkerut dalam penuh keheranan. "Kamu ini kenapa, Ryujin?.. Tiba-tiba berhenti dengan muka bodoh seperti itu, sudah persis seperti orang yang sedang kerasukan tuyul saja!." oceh Rava meluapkan rasa herannya yang tidak tertahan.

Bukannya menjawab, Ryujin justru bergerak cepat. Tanpa rasa sopan sedikit pun, ia langsung menjulurkan tangannya dan menarik daun telinga Rava dengan kuat, menyeret kepala pemuda itu mendekat ke arahnya.

"Aduhh! Sakit, keparat! Apa yang kau—" Rava menjerit kesakitan, namun sebelum suaranya sempat meninggi memecah malam, Ryujin dengan sigap langsung membekap mulut Rava rapat-rapat menggunakan telapak tangannya.

"Sstt! Diamlah, bodoh! Jangan berteriak!" bisik Ryujin dengan nada yang teramat serius di dekat daun telinga Rava. Sembari melirik waspada ke arah punggung Kenzie yang sudah berjalan agak jauh di depan, Ryujin melanjutkan bisikannya, "Rava... coba kau pikirkan baik-baik ucapan Master Helena tadi. Pria misterius yang melumpuhkan kelima akademi itu... bukankah ciri-cirinya memiliki rambut hitam bercorak merah, memakai jubah hitam, dan mengenakan anting tindik berlian hitam serta manik-manik? Sekarang, coba kau lihat anting yang dipakai Kak Kenzie! Deskripsinya benar-benar persis sama! Hanya warna rambut mereka saja yang berbeda!"

Deg!... Seketika itu juga, sepasang mata Rava membelalak sempurna. Rasa terkejut yang teramat sangat kaget dan sebuah teori gila yang tidak pernah terpikirkan oleh otaknya sebelum ini mulai merayap masuk membanjiri ruang pikirannya.

Fakta bahwa Ryujin yang biasanya bodoh justru bisa menyadari detail sehalus itu lebih dulu, membuat bulu kuduk Rava mendadak berdiri tegak.

Setelah berhasil menetralkan rasa syok yang melanda, keduanya kembali melanjutkan langkah kaki mereka untuk mengikuti Kenzie. Namun, kali ini cara berjalan mereka berubah drastis, dengan tubuh yang sedikit membungkuk dan langkah kaki yang dibuat se-senyap mungkin, Rava dan Ryujin terlihat bergerak mengendap-ngendap dengan penuh kecurigaan di belakang Kenzie bak sepasang pencuri yang sedang mengintai mangsa.

Setelah berjalan beberapa menit, mereka akhirnya tiba di area depan kompleks perumahan asrama. Alih-alih langsung masuk ke dalam rumah masing-masing untuk merebahkan tubuh yang remuk, Rava dan Ryujin justru kompak memutar arah langkah kaki mereka, berjalan cepat menuju teras depan kediaman pribadi Kenzie.

Tiga gadis yang ada merasa heran melihat perilaku kedua pria tersebut namun mereka mengabaikannya dan memilih untuk pergi pulang ke kediaman masing-masing.

Di sana, didorong oleh rasa penasaran yang sudah berada di ubun-ubun, Ryujin langsung berteriak memanggil, sebelum Kenzie sempat melangkahkan kakinya melewati pintu rumah.

"Kakak Kenzie, tunggu sebentar! Kakak angkatku yang tampan, tolong berhenti dulu!" panggil Ryujin dengan intonasi cepat.

Kenzie menghentikan gerakan tangannya yang hendak mendorong pintu. Ia membalikkan tubuhnya perlahan, menatap Rava dan Ryujin dengan sepasang mata merah padamnya yang kini memancarkan aura ketus dan nada yang super malas. "Ada apa lagi, hah?.. Apakah siksaan latihan pedang dan tempaan fisik tadi belum cukup untuk menguras habis seluruh energi tubuh dan tenaga, Ryujin?"

"Ehh... Hehe.. tentu saja sangat lelah, Kak. Tubuhku rasanya sudah mau hancur berkeping-keping," sahut Ryujin segera menjelaskan keadaan tubuhnya yang mengenaskan, sebelum dengan cepat mengalihkan topik utama, "Tapi... ada satu hal darurat yang ingin sekali aku tanyakan padamu sekarang, Kak."

Rava yang berdiri di samping Ryujin tidak ingin membuang waktu lagi, ia langsung ikut menimpali demi menuntaskan rasa penasaran mereka. "Benar, Kakak Senior Kenzie. Sebenarnya kami berdua ingin menanyakan sesuatu yang sangat penting kepadamu!"

"Apa yang ingin kalian tanyakan? Cepat sebutkan sekarang juga, jangan berbelit-belit! Aku sudah tidak sabar untuk segera merebahkan tubuh indahku ini di atas ranjang empuk yang sudah melambai-lambai sejak tadi!" desak Kenzie dengan raut wajah tidak sabar yang teramat menyebalkan.

"Eh.. anuu.. itu, Kak. Soal..." sahut Ryujin mendadak terbata-bata dengan kaku. Nyalinya tiba-tiba menciut begitu ditatap langsung oleh sepasang mata merah Kenzie.

Melihat kepayahan juniornya, Rava segera menyela dan mengambil alih pembicaraan dengan lugas. "Sebenarnya begini, Kak Senior," ucap Rava, lalu dengan tempo cepat ia langsung menembakkan pertanyaan intinya, "Apakah Kakak... sebenarnya tahu siapa identitas asli dari dua pendekar hebat di Wilayah Tengah yang diceritakan oleh Master Helena sebelumnya?"

"Iya, Kak! Kami ingin menanyakan hal spesifik tersebut!" timpal Ryujin yang kini sudah kembali menemukan keberaniannya untuk berterus terang, "Sebab, ketika melihat gerak-gerik dan perubahan ekspresi Kak Kenzie saat Master menceritakan ciri-ciri mereka tadi, aku melihat Kakak tampak sangat mengenal dan mengetahui dengan pasti siapa kedua pendekar misterius itu! Tolong jawab kami, Kak!"

Mendengar rentetan pertanyaan yang keluar dari mulut Ryujin dan Rava, Kenzie tidak memperlihatkan keterkejutan sedikit pun. Sebaliknya, seulas senyuman manis yang dipenuhi oleh misteri perlahan merekah di wajah tampannya. Sembari menatap kedua adik juniornya yang bermuka serius itu, Kenzie berkata dengan nada suara yang teramat santai.

"Hahaha! Jadi, hanya karena urusan itu kalian sampai rela datang padaku?" Kenzie terkekeh pelan, lalu melanjutkan kalimatnya dengan santai, "Baiklah, karena kalian bertanya dengan sangat serius, maka aku akan memberikan jawabannya secara jujur. Iya, aku memang tahu dengan sangat pasti siapa mereka berdua. Nah, sudah terjawab, kan? Sampai jumpa besok pagi jam delapan ya, dadah!."

*Blam!*

Selesai mengucapkan kalimat pendek tersebut, Kenzie langsung melangkah masuk ke dalam rumahnya dan menutup pintu kayu kediamannya dengan rapat tanpa memberikan jeda sedetik pun bagi kedua rekannya untuk merespons.

Kenzie sengaja menggantungkan akhir perkataannya begitu saja tanpa kejelasan rinci. Alhasil, ia meninggalkan Ryujin dan Rava yang kini berdiri mematung di depan pintu dengan ekspresi wajah yang membeku total, syok, sekaligus dongkol setengah mati karena ditinggal pergi begitu saja di tengah rasa penasaran yang semakin menggila.

...****************...

1
LanLan.CNL
Tolong dong setelah membaca novelnya berikan tanggapan kalian agar aku sebagai author bisa menjadi lebih semangat lagi updatenya🙏🙏

setiap bab yang kalian baca berikan tanggapan kalian agar author tau apa yang kurang dari novelnya /Grievance//Whimper//Whimper/
Ibar, {iba'rat Askar}
Dari sini kita tahu bahwa kebaikan seseorang bisa jadi adalah?...
Ibar, {iba'rat Askar}: @Abdul Halim @💕NEKO DES!🐈 @Mystorios _ Writer @Yedija Agung@أسوين سي @knovitriana @Yedija Agung @nia♡ @zichani @Gaizra
total 1 replies
LanLan.CNL
berbagi pengalaman itu adalah kebaikan.. jadi sering seringlah menerima kebaikan Kenzie ya🤣🤣
Ibar, {iba'rat Askar}
gue komentar pertama disini..
jadi ingat untuk memberi like yaa😄..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!