NovelToon NovelToon
Gen Z Emperor

Gen Z Emperor

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:51
Nilai: 5
Nama Author: AEERA-ALEA

maizy melihat berita tentang sepasang tulang dengan cincin pernikahan yang saling menggenggam romantis, menandakan cinta mereka tidak akan pernah tergerus oleh peradaban. Di bawah reruntuhan istana yang baru saja di temukan arkeolog Jerman, membuatnya penasaran namun harus menutup rasa ingin tahu nya di sekolah

pada perjalanan dia tidak sengaja bertabrakan dengan seorang anak laki laki yang sangat ia kenali, seseorang yang selalu menghujami nya dengan perkataan dan perundungan. Di sana Paul berdiri dengan angkuh di saat maizy dengan tertatih memungut buku nya..

perdebatan mereka masih berlanjut, sampai kedua nya muak dan memutuskan untuk beradu mulut dan malah membawa petaka. Kedua nya terjatuh dari tangga lantai 3

saat maizy terbangun, apa lah daya nya. dia terbangun di tengah tengah hutan hujan Jerman kuno, di keliling kuil kerajaan yang tidak asing, namun baru pertama kali ia datangi.

ternyata maizy terlempar ke masa lalu dan harus menduduki tahta ratu

apa yang akan dia lakuka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1

Aroma roti panggang segar dan kopi hitam pekat memenuhi dapur apartemen bergaya klasik di sudut kota Berlin. Pagi itu, matahari musim panas baru saja mengintip dari balik celah tirai, menyinari Maizy yang sedang sibuk setengah mati.

Dengan kacamata yang sedikit melorot di hidungnya dan rambut coklat pendeknya yang masih agak berantakan, gadis ENFJ itu bergerak lincah—atau setidaknya, berusaha terlihat lincah.

Prakkk!

"Ah, Verdammt... maaf!" Maizy meringis, cepat-cepat menangkap botol selai strawberry yang hampir saja menggelinding jatuh dari meja makan. Beruntung, tutupnya masih rapat. Dia mengembuskan napas lega, membetulkan letak kacamatanya, lalu tersenyum ceria seolah tidak terjadi apa-apa.

Di seberang meja, duduklah sang paman, Michael Siegfried Falkenhayn.

Pria berusia 25 tahun itu tampak kontras dengan Maizy yang ekspresif. Sebagai seorang masinis kereta api, Michael memiliki aura yang super dingin, disiplin, dan tenang—karakteristik yang membuatnya tampak jauh lebih dewasa dari usianya. Namun, jika ada orang luar yang melihat mereka duduk bersama, tak akan ada yang percaya kalau Michael adalah pamannya. Wajah mereka sangat mirip; garis rahang yang tegas namun menawan, struktur mata yang indah, dan ketampanan visual yang luar biasa. Hanya saja, yang satu versi hangat penuh senyuman, dan yang satu lagi versi patung es yang memesona.

Michael perlahan menurunkan cangkir kopi hitamnya tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Matanya yang tajam menatap Maizy yang sekarang sedang sibuk mengoleskan selai ke rotinya dengan semangat membara.

"Kau bisa menghancurkan dapur ini bahkan sebelum jam tujuh pagi, Maizy," ucap Michael datar, suaranya berat dan sedingin angin malam Berlin.

"Aku cuma terlalu bersemangat, Paman Michael!" sahut Maizy riang, sama sekali tidak terintimidasi oleh tatapan dingin pamannya. Menjadi seorang ENFJ membuat Maizy selalu bisa melihat sisi positif dan peduli pada kenyamanan orang di sekitarnya.

Maizy menyodorkan sepiring roti panggang yang sudah diolesi mentega dan selai dengan rapi ke hadapan Michael. "Ini untukmu. Kau punya jadwal shif pagi untuk kereta regional ke Hamburg hari ini, kan? Kau harus sarapan yang banyak supaya tetap fokus."

Michael menatap piring itu, lalu beralih menatap keponakannya yang sedang tersenyum lebar hingga matanya menyipit di balik lensa kacamata. Meski wajahnya tetap sedatar papan talenan, sudut hati Michael sebenarnya menghangat. Maizy selalu tahu detail kecil tentang jadwalnya, selalu peduli apakah dia sudah makan atau belum, tidak peduli seberapa dingin Michael memperlakukannya.

"Danke," gumam Michael pendek. Dia mengambil garpu, memotong roti itu dengan sangat rapi—berbanding terbalik dengan cara Maizy yang mengunyah rotinya sambil sesekali sibuk merapikan catatan di ponselnya.

"Sama-sama! Oh ya, nanti malam mau kubuatkan Königsberger Klopse untuk makan malam? Kau pasti lelah setelah seharian memimpin jalannya kereta," tawar Maizy, matanya berbinar penuh perhatian.

Michael mengunyah rotinya perlahan, lalu menyeka bibirnya dengan tisu sebelum menjawab, "Terserah kau saja. Asalkan kau tidak menjatuhkan pancinya lagi seperti minggu lalu."

Maizy tertawa kecil, pipinya agak merona karena malu mengingat kejadian itu. "Janji, kali ini tidak akan ada insiden panci terbang!"

Suasana dapur yang tenang itu mendadakah terasa hidup karena kehadiran Maizy. Di seberang meja, Michael diam-diam mengamati keponakannya itu sambil meminum sisa kopinya. Pria dingin itu mungkin jarang bicara atau tersenyum, tapi di dalam hatinya, dia bersyukur memiliki Maizy yang selalu berhasil mencairkan suasana beku di apartemen Berlin mereka.

Pintu apartemen tertutup dengan bunyi klek yang solid dan tegas. Michael sudah berangkat, meninggalkan keheningan khas pagi hari di Berlin yang langsung diselimuti oleh kehangatan energi Maizy.

Gadis itu melirik jam dinding. Masih ada waktu 45 menit sebelum bel masuk sekolah berbunyi. Jarak ke sekolahnya tidak terlalu jauh, jadi Maizy memutuskan untuk menikmati sisa rotinya dengan santai. Dia meraih *remote* dan menyalakan televisi kecil yang bertengger di sudut konter dapur, sekadar mencari suara latar agar apartemen tidak terasa terlalu sepi.

Dia memindahkan saluran ke berita lokal Berlin, lalu ke saluran dokumenter dan berita internasional. Sebuah *breaking news* dari siaran arkeologi nasional langsung menarik perhatiannya.

Di layar kaca, latar belakang berganti menjadi situs penggalian tanah yang luas di pinggiran jerman, dikelilingi oleh garis pembatas kuning dan para ahli yang mengenakan pakaian pelindung.

"Penemuan Spektakuler: Sisa Reruntuhan Kerajaan Bangsawan yang Hilang dari Sejarah."

Suara reporter terdengar penuh antusiasme lewat pengeras suara TV.

"Para arkeolog baru saja mengeksplorasi lapisan terdalam dari situs yang diduga merupakan sebuah benteng atau kastil megah. Mengejutkannya, kerajaan bangsawan ini sama sekali belum teridentifikasi di dalam buku sejarah resmi Jerman maupun Eropa. Segala arsitektur dan simbol yang ditemukan masih menjadi teka-teki besar."

Maizy, yang dasarnya adalah seorang ENFJ dengan rasa ingin tahu yang tinggi dan empati yang dalam, langsung terpaku. Dia menopang dagunya dengan kedua tangan, kacamatanya agak merosot saat dia condong ke depan, memperhatikan layar televisi dengan saksama. Roti di tangannya bahkan terlupakan sejenak.

Kamera televisi kemudian bergeser, memperlihatkan hasil tangkapan kamera makro dari dalam ruang bawah tanah situs tersebut. Di sana, di atas sebuah altar batu yang telah hancur sebagian, terekam sebuah pemandangan yang seketika membuat dada Maizy berdesir aneh.

"Namun, yang paling menarik perhatian dunia hari ini adalah penemuan di ruang utama bawah tanah," lanjut sang reporter, nadanya melembut, hampir terdengar khidmat. "Tim arkeolog menemukan dua kerangka tulang tangan manusia. Di masing-masing jari manisnya, masih melingkar sebuah cincin kuno dengan ukiran rumit yang sangat indah. Dan yang paling menyentuh hati... kedua tangan ini ditemukan dalam posisi saling menggenggam erat, bertahan melewati waktu ratusan tahun."

Layar TV menampilkan foto close-up kedua tulang tangan tersebut. Cincin mereka tampak berlumur tanah tua, namun kilau logam mulianya masih samar-samar terlihat di bawah lampu sorot para peneliti. Mereka saling bertautan, seolah-olah kematian pun tidak bisa memaksa mereka untuk saling melepaskan.

"Oh, Gott..." Maizy berbisik pelan tanpa sadar. Matanya berkaca-kaca di balik lensa kacamatanya.

Sebagai orang yang sangat sensitif terhadap perasaan dan hubungan antarmanusia, Maizy langsung merasakan dorongan emosional yang kuat. Pikirannya langsung melayang membayangkan masa lalu. Siapa mereka? Mengapa kerajaan mereka terhapus dari sejarah? Dan seberapa besar rasa cinta atau kesetiaan yang mereka miliki sampai-sampai di detik-detik terakhir hidup mereka, yang mereka pikirkan hanyalah memegang tangan satu sama lain?

"Romantis sekali... tapi juga sangat sedih," gumam Maizy, hatinya mendadak dipenuhi rasa simpati yang mendalam untuk dua jiwa dari masa lalu itu.

Bzzz... Bzzz...

Getaran ponsel di atas meja membuyarkan lamunan Maizy. Alarm pengingatnya berbunyi, menandakan dia harus segera berangkat jika tidak ingin ketinggalan kereta bawah tanah (U-Bahn).

"Ah! Sudah jam segini!" Maizy panik. Dia langsung menenggak habis susu di gelasnya, menyambar tas sekolahnya dengan terburu-buru hingga hampir menyenggol vas bunga kecil di dekat pintu. Setelah memastikan penampilannya rapi dan kacamata tidak miring, Maizy mengunci pintu apartemen dengan tergesa-gesa.

Namun, sepanjang perjalanannya menuju sekolah, bayangan dua tulang tangan yang saling berpegangan erat itu terus berputar di kepalanya, meninggalkan rasa penasaran yang luar biasa di hatinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!