NovelToon NovelToon
Residu Ingatan

Residu Ingatan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Teen / Time Travel
Popularitas:354
Nilai: 5
Nama Author: yopoyoi

Layaknya residu yang menggumpal dan sudah mendangkal, sulit sekali untuk dibersihkan. Ingatan yang sangat membekas itu juga sulit sekali disingkirkan-tentang dia yang ternyata tereliminasi oleh waktu.

Arinta masih tak menyangka kejadian ini benar-benar menimpanya. Kejadian yang melemparnya kembali ke dua puluh tahun silam. Tahun dimana bibit-bibit kehancuran dari rasa damai dikeluarganya dimulai.

Kejadian yang entah bisa dibilang membawa berkah atau justru membawa bencana?


Mulai: 6 Juni 2026
Selesai:

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yopoyoi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15. Panti

"Ta.." sapa Andre yang sudah menunggu Arinta didepan kelas saat bel istirahat berbunyi.

"Ndre.." balas Arinta canggung.

"Lu masih punya utang loh sama gua," tagih Andre.

"Ngga harus sekarang sih, asal lu nggak lupa aja kalo nanti-nanti." Andre menyadari kalau Arinta kali ini bawa teman untuk ke kantin.

"Hehe. Iya. Kapan-kapan aja ya?"

"Oke. Gua duluan," pamit Andre.

"Iya."

Ketiganya kembali melanjutkan langkah kakinya yang sempat terhambat. Namun, seseorang kembali mencegat.

"Meswari, jadi kan? Katanya tadi pas istirahat aja," tanya Deri dengan panggilan baru.

Arinta tertawa canggung untuk kesekian kalinya, ia menarik Deri untuk menjauh dari Diah dan Wiwin yang masih setia menunggu.

"Ngapain lu manggil gua gitu? Mereka kenal gua sebagai Arinta, bukan Prameswari!" bisik Arinta penuh penekanan.

"Ya maaf. Tapi jadi kan? Tadi lu udah janji loh," ucap Deri.

"Sekarang gua nggak bisa, istirahat ini gua mau bahas tugas kelompok."

"Tapi kan-"

"Bareng aja gak apa-apa kok, Ta. Deri suruh gabung aja kalo emang kalian ada perlu juga," ucap Diah menginterupsi keduanya yang langsung menoleh.

"Nggak!" ucap Arinta dan Deri berbarengan.

"O-oh?" Diah terlihat terkejut dengan bentakan mantan pasangan dihadapannya.

"Nggak penting kok, udah ayo!" Arinta menggandeng Diah dan Wiwin, meninggalkan Deri begitu saja.

Deri menoleh saat pundaknya ditepuk dari belakang oleh seseorang.

"Lu ngerasain hal yang sama?" tanya Andre.

Deri hanya menatapnya sekilas, lalu beranjak pergi.

Andre berdecak.

"Susah ngomong sama monyet mah."

Deri berbalik dan bersiap meninju Andre, tapi tidak terealisasikan.

"Kenapa? Takut diambekin Arinta?" tanya Andre tengil.

Deri menghempaskan kerah Andre dengan kasar.

"Lu nggak usah belagu ya!"

Wajah tengil Andre malah semakin dibuat-buat.

"Backing-an lu emang banyak, tapi backingan gua itu pawang lu. Hmm? Kenapa? Nggak setuju?"

"Udah dari lama gua jadi pemenangnya, lu nggak usah mimpi!" ketus Deri.

"Yakin?"

"Nggak usah banyak omong ah. Minggir!" Deri mendorong Andre kasar

Andre sebenarnya sudah tidak mempermasalahkan Deri, tapi ia sedang mempermasalahkan tentang isi hati Arinta. Kenapa pula tiba-tiba ngasih gelang, batinnya.

***

"Mbak Nanda? Ya ampun, udah lama mbak nggak main kesini."

"Iya ya? Terakhir tuh tahun kemaren kalo nggak salah."

"Iya, waktu itu si adek masih kecil banget, sekarang udah besar aja. Udah dua tahun kan, ya?"

"Iya dua tahun. Ternyata bener ya, ngangkat anak bisa mancing buat hamil."

Keduanya tertawa, tapi kemudian suara seorang bocah kecil menginterupsi.

"Ati! Ati! Fara mau kebelakang ya?" bocah empat tahun itu menunjuk kearah belakang.

"Iya, sayang. Ada temen-temen Fara juga dibelakang," sahut Rasti—yang dipanggil Ati oleh bocah tadi.

Tami yang baru selesai menyapu halaman, dipanggil oleh Rasti.

"Tolong bilangin ke bu Ira, bikinin minum, ada tamu."

Tami melirik sekilas orang yang dimaksud tamu oleh Rasti. Wajahnya terlihat tidak asing, pikir Tami.

"Iya, teh," sahut Tami, lalu ia berlalu masuk untuk melaksanakan perintah.

"Bu Ira.. Ada tamu, kata teh Ati minta tolong bikinin minum."

"Oh iya iya, tadi ibu udah liat, ini lagi dibikin," sahut bu Ira.

"Siapa bu? Ada yang mau diangkat anak lagi kah?" tanya Tami.

"Kalopun ada, yang dipilih pasti yang masih kecil, bukan yang udah besar kayak kamu," sahut bi Ira dengan guyonan.

"Ibu anter ini dulu." bu Ira meninggalkan Tami yang masih membisu di tempat.

"Eh, adek. Jangan main di dapur ya?" ucap Tami sambil berusaha mendekat ke arah bocah hiperaktif yang sedang mencoba meraih meja.

"Ndak.. Mau main!" ucapnya sambil menghindar.

"Heh! Heh! Jatoh, nanti jatoh!" Tami kini hanya memperingatkan, biarkan saja bocah itu merasakan sakitnya terjatuh biar kapok.

"Kenapa sih, Mi?" tanya bu Ira yang sudah kembali.

"Aduh.. Anak ganteng jangan main di dapur." bi Ira menghampiri bocah tersebut sambil menggendongnya.

Tami bertanya-tanya dengan raut wajahnya. Semudah itu?

"Anak siapa sih, bu?" tanya Tami.

"Anaknya bu Nanda, tamu yang didepan," jawab bu Ira.

Tami masih mengikuti langkah bu Ira kedepan.

"Adek namanya siapa?" tanya Tami berusaha mengakrabkan diri.

Bukan hal sulit sih. Tami itu tipe orang yang mudah beradaptasi, tak terkecuali anak-anak, karena ia merasa dirinya masih anak-anak juga.

"Fara."

Bu Ira menurunkan bocah laki-laki itu diantara anak lainnya.

"Bang Fara ketemu lagi ya sama temen-temen?"

"Dia anak panti yang diangkat sama tamu itu, bu?" bisik Tami ke bu Ira.

"Iya. Buat mancing kehamilan, dan ternyata berhasil. Sekarang Fara udah punya adek," jelas bu Ira dengan suara serendah mungkin.

"Terus? Sekarang Fara mau dibalikin lagi?" tanya Tami.

"Hish kamu! Ya nggak lah. Masa dibalikin," gubris bu Ira.

"Kenapa aku ngerasa nggak asing yo, bu? Dejavu aja mungkin ya?" Tami sudah menetralkan suaranya, alias tidak berbisik lagi.

"Sama siapa? Fara?"

"Bukan."

"Sama bu Nanda."

"Mungkin pernah ketemu dijalan."

"Nama adeknya Fara siapa? Ibu tau nggak?" tanya Tami

"Ghifari. Kalo Fara kan, Muhammad Al-Farabi. Nah, kalo adeknya, Muhammad Al-Ghifari."

"Nama Fara itu ibu yang ngasih loh."

"Ghifari? Dipanggil Ari?" tanya Tami dengan wajah serius.

"Kayaknya kamu penasaran banget toh, Mi."

"Iya. ibunya manggil gitu."

Mulut Tami seketika membulat. Berarti benar dugaannya. Ia langsung bangkit berniat mencari kembarannya.

Fara malah menghalangi jalan Tami, ia menyodorkan mobil-mobilan yang ada ditangannya.

"Apa sayang?" Tami mensejajarkan tubuhnya dengan Fara.

"Main!!" ajaknya menarik tangan Tami untuk melihat deretan mainan lain.

"Aku siapa? Kamu kenal aku nggak?" tanya Tami.

Fara menggeleng.

"Kakak siapa?"

"Aku Tami, aku punya kembaran loh. Namanya Tama."

"Ami? Ama?"

Tami paham. Memang kebanyakan anak kecil pasti suka meringkas-ringkas nama agar mudah disebut.

"Ami mau mobil yang biru dong, boleh ga?"

Oke. Niatnya mencari Tama terlupakan.

"Ijo aja!" Fara menyerahkan mobil-mobilan berwarna hijau neon ke Tami.

"Ih pinter! Udah kenal warna," puji Tami.

"Kalo yang Fara pegang itu warna apa?"

"Birru."

Tami tertawa saat huruf "R" yang disebut Fara bergetar panjang.

"Kalo Fara gimana, kalo Fara?"

"Farra?"

Tami membulatkan mulut.

"Ooo.."

"Kalo namanya sendiri udah pro."

"Gua cariin kemana-mana lu!" Tama menendang bokong Tami pelan.

"Shut ih. Nggak boleh kasar didepan anak kecil."

"Tumben lu mau ngeladenin anak kecil," bisik Tama.

"Ini bukan sembarang anak kecil, cok! Ini calon kakak ipar lu."

"Hah? Lawak lu! Abangnya sebocil ini, adeknya mah masih bayi!"

"Lu kan pedofil, Ma." Tami tertawa puas.

"Taik lu ah!"

"Heh! Ada anak kecil ih!" omel Tami.

"Nggak ngedenger dia."

"Lu kata dia budeg?!"

"Asal lu tau ya, ini tuh bang Fara. Farabi. Kalo lu macem-macem, dicincang lu sama Arinta."

"Hah? Yang bener lu?!" tanya Tama tak percaya.

"Bener! Ada bang Ari juga malah didepan sama ibunya."

"Hah?"

"Hah hoh hah hoh. Laler tuh masuk!"

"Ih, Mi. Serius!"

"Gua serius, nyet!"

Tama berdecak.

"Mulut lu sama aja. Diliatin bang Fara tuh."

"Sama." tunjuk Fara pada si kembar.

Tiba-tiba si kembar saling tatap dengan senyum mencurigakan.

"Lu mikir yang sama kayak gua?" tanya Tami.

Tama mengangguk, "kayaknya iya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!