Kisah ini mengikuti perjalanan Raka Pratama, seorang mantan prajurit pasukan khusus Indonesia yang harus meninggalkan dinas militer karena kejadian berbahaya yang disembunyikan pemerintah. Tanpa tujuan dan terjebak dalam hutang, ia akhirnya bergabung dengan salah satu Perusahaan Militer Swasta (PMS) terbesar dan paling rahasia di dunia: "Garuda Security International".
Apa yang dimulai sebagai pekerjaan untuk bertahan hidup, perlahan mengungkap jaringan rahasia yang mengendalikan perang, politik, dan ekonomi dunia. Raka dan rekan-rekannya akan berhadapan dengan musuh dari negara saingan, organisasi bayangan, hingga pemimpin dunia sendiri. Dari misi penyelamatan sederhana hingga menjadi kunci penyelamatan kemanusiaan dari kehancuran total.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dena gusdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Rahasia Kapal Induk
Setelah debu dan asap perlahan menghilang terbawa angin, suasana menjadi sunyi sejenak. Kedua pihak yang bertikai sama-sama diam, seolah butuh waktu untuk mencerna apa yang baru saja terjadi. Di sisi bumi, rasa lega bercampur bangga mulai menyebar dari mulut ke mulut, tapi di sisi Kerajaan Langit, ketegangan dan kekesalan justru makin menumpuk setinggi langit.
Raka masih berdiri tegak di tengah medan, meski napasnya terasa agak memburu dan keringat bercucuran membasahi seluruh tubuhnya sampai ke pakaian. Ia merasakan aliran energi di dalam dirinya berdenyut perlahan, seolah baru saja mengangkat beban yang sangat berat. Matanya tak lepas menatap ke atas, ke arah kapal induk raksasa yang kini terlihat sedikit miring dan mengeluarkan kepulan asap hitam dari bagian depan lambungnya. Serangan gabungan tadi memang tidak sampai menghancurkan kapal itu, tapi cukup memberi goresan nyata—sesuatu yang belum pernah dialami oleh armada Kerajaan Langit selama ribuan tahun perjalanan mereka.
Kakek Aran melangkah mendekat dengan langkah tenang, lalu menepuk bahu Raka pelan tapi penuh dukungan.
“Bagus sekali, Nak. Kau berhasil memadukan semuanya lebih baik dari yang aku bayangkan. Menggabungkan kekuatan alam, semangat manusia, dan inti Sumber Unggul bukan hal yang mudah—bahkan para leluhurku dulu butuh ratusan tahun untuk bisa mengendalikannya. Tapi ingat baik-baik, ini baru permulaan. Kerusakan yang kau buat tadi hanya goresan kecil buat mereka. Kapal itu sudah terbang melintasi bintang-bintang selama ribuan tahun, terbuat dari logam yang ditempa di jantung bintang yang mati. Di balik dindingnya yang tebal itu, masih ada kekuatan yang belum mereka keluarkan sama sekali.”
Raka mengangguk perlahan, matanya tetap menatap tajam ke arah kapal raksasa itu.
“Aku merasakannya, Kek. Di balik semua besi dan mesin itu, ada sesuatu yang berdenyut lembut tapi kuat. Bukan suara mesin atau aliran listrik biasa… rasanya sama seperti detak jantung. Dan anehnya, energi itu terasa tidak asing—seolah ia adalah bagian dari kekuatan yang ada di dalam diriku sendiri.”
Di dalam ruang kendali utama kapal induk, suasana sudah tidak lagi senyap dan dingin seperti biasanya. Para petugas berlarian ke sana kemari, mengoperasikan panel dan melaporkan kerusakan yang terjadi dengan suara tergesa-gesa. Suara alarm peringatan masih berdengung pelan di seluruh ruangan, menandakan bahwa sistem perisai utama sempat tertekan hingga batas bahaya.
Penatua Zorvath, pemimpin tertinggi yang sudah memerintah selama lebih dari seribu tahun, kini berjalan mondar-mandir di depan layar pengawasan raksasa. Wajahnya yang biasanya datar tanpa ekspresi kini terlihat berkerut menahan amarah sekaligus kebingungan. Selama ini ia selalu menganggap penghuni bumi hanyalah makhluk lemah yang hanya bisa mengandalkan teknologi sederhana. Tapi apa yang baru saja terjadi membuat keyakinannya itu terguncang hebat.
“Periksa semuanya! Cari tahu apa yang membuat serangan mereka bisa menembus lapisan terluar kapal kita!” bentaknya dengan suara berat yang bergema di seluruh ruangan.
Seorang penasihat tua yang berdiri di sampingnya segera menunduk hormat, lalu menjawab dengan suara gemetar karena takut:
“Sudah diperiksa berulang kali, Tuan Penatua. Energi yang mereka gunakan bukan jenis yang biasa kami temui. Ia bukan sekadar tenaga ledakan atau sinar panas seperti senjata kami. Energi itu menyatu dengan medan gaya alam di sekitarnya—makin banyak tenaga yang kami kirimkan untuk melawannya, makin kuat ia justru menjadi. Bahkan sebagian tenaga serangan kami tadi malah terserap dan dipantulkan kembali ke arah kami.”
Penatua Zorvath berhenti melangkah. Ia menoleh perlahan ke arah sebuah dinding tertutup di sudut ruangan. Di sana tersimpan arsip sejarah kuno yang sudah lama tidak dibuka, hanya boleh diakses oleh pemimpin tertinggi saja. Ia mengangkat tangannya, menyentuh permukaan dinding itu, dan memasukkan rangkaian kode rahasia yang diturunkan dari generasi ke generasi.
Seketika itu, dinding itu menyala dan terbuka menjadi layar besar. Gambar-gambar yang sudah usang, tulisan dalam bahasa kuno yang hampir terlupakan, mulai muncul perlahan. Di sana terlihat gambaran tentang awal mula semesta, tentang saat bumi dan langit masih menjadi satu kesatuan yang utuh.
Penatua Zorvath membaca tulisan itu dengan saksama, dan seiring berjalannya waktu, matanya makin terbelalak kaget.
“Jadi benar… Legenda itu bukan sekadar dongeng untuk menakut-nakuti anak-anak muda,” gumamnya pelan, suaranya terdengar berat dan penuh arti. “Ribuan tahun yang lalu, saat bumi dan langit belum terpisah batasnya, terciptalah dua inti kekuatan utama. Satu menjadi nyawa dan sumber kehidupan bagi seluruh makhluk di bumi—itulah yang mereka sebut Sumber Unggul. Satu lagi menjadi tenaga penggerak peradaban, cahaya yang menerangi langit dan menggerakkan segala ciptaan—itulah Jantung Langit. Dulu kami mengira Jantung Langit sudah habis energinya dan tersebar menjadi butiran-butiran kecil tak berguna… tapi ternyata ia masih terhubung erat dengan Sumber Unggul itu.”
Ia menoleh kembali ke arah jendela besar yang menghadap ke bawah, menatap sosok Raka yang terlihat kecil dari ketinggian itu. Wajahnya kini berubah menjadi lebih serius, bahkan terlihat sedikit khawatir.
“Kalau pemuda itu suatu hari nanti bisa memahami hubungan kedua kekuatan ini dan menguasainya sepenuhnya… bukan hanya wilayah ini yang terancam. Seluruh tatanan kekuasaan Kerajaan Langit bisa runtuh dalam sekejap. Kita tidak bisa lagi main-main dengan kekuatan setengah hati.”
Penatua Zorvath berjalan menuju ruangan tersembunyi di belakang singgasananya. Dengan satu sentuhan tangannya, pintu rahasia itu terbuka perlahan. Dari dalam ruangan itu, langsung menyembur keluar cahaya keemasan yang lembut namun terasa sangat dahsyat. Di tengah ruangan itu, tergantung di dalam wadah kristal tebal, terlihat sebuah benda bulat sebesar kepala manusia. Benda itu berdenyut lambat, persis seperti detak jantung makhluk hidup, dan memancarkan energi yang membuat udara di sekitarnya terasa hangat namun menekan.
“Ini dia… Jantung Langit asli yang kami bawa dari markas pusat, hanya untuk keadaan darurat terparah,” ucap Penatua Zorvath dengan suara lirih. “Selama ini kami hanya menggunakan serpihan-serpihannya untuk menggerakkan mesin dan senjata kapal. Sekarang, waktunya menggunakan intinya sendiri. Kita akan tunjukkan kepada mereka apa arti kekuatan yang sesungguhnya.”
Di bawah sana, tepat saat Jantung Langit mulai didekatkan ke sistem penggerak utama kapal, Raka tiba-tiba memegang dadanya erat-erat. Wajahnya berubah sedikit menahan rasa aneh yang tiba-tiba muncul. Cahaya biru yang menyala di tubuhnya tadi langsung meredup sejenak, lalu berdenyut kembali dengan ritme yang sama persis dengan denyutan dari atas kapal.
“Kek… ada sesuatu yang berubah,” kata Raka dengan nada waspada, matanya menatap tajam ke arah kapal induk. “Energi di dalam sana makin kuat, dan rasanya… seperti ada bagian dari diriku sendiri yang memanggil dari atas sana. Seolah dua saudara yang terpisah ribuan tahun akhirnya saling mengenali keberadaan satu sama lain.”
Mendengar itu, wajah Kakek Aran langsung berubah pucat. Ia langsung teringat cerita-cerita kuno yang diturunkan oleh para leluhurnya, yang dilarang untuk diceritakan kepada sembarang orang.
“Jantung Langit… Mereka benar-benar membawa inti kekuatan tertinggi mereka ke sini,” gumam Kakek Aran, suaranya terdengar kaget sekaligus khawatir. “Kalau mereka benar-benar mengaktifkannya, pertarungan ini tidak lagi sekadar soal siapa yang punya senjata lebih banyak atau pasukan lebih banyak. Ini akan menjadi pertarungan antara dua asal mula kekuatan—yang menjadi nyawa bumi melawan yang menjadi penggerak langit. Kalau sampai terjadi benturan penuh antara keduanya, bukan hanya kita atau mereka yang terancam, tapi seluruh wilayah ini bahkan bisa hancur tertimbun ledakan energi yang tak terbayangkan.”
Belum sempat mereka bicara lebih lanjut, kapal induk itu tiba-tiba bergetar hebat seolah baru saja menerima suntikan tenaga yang sangat besar. Seluruh lampu di tubuh kapal itu berubah warna dari putih keperakan menjadi keemasan yang menyilaukan mata. Suara dengungan yang jauh lebih dalam, lebih berat, dan lebih menggetarkan tulang terdengar menggema, sampai terasa menekan dada setiap orang yang berdiri di bawah sana.
Ajaibnya, retakan yang ada di bagian depan kapal tadi perlahan menutup sendiri, seolah daging yang sembuh kembali. Bagian yang penyok lurus kembali mulus, dan seluruh sistem perisai yang tadinya melemah kini menyala lagi—bahkan berkali-kali lebih tebal, lebih padat, dan lebih berkilau dari sebelumnya.
Dari atas kapal induk, suara Penatua Zorvath terdengar lagi, kali ini tidak lagi penuh amarah, melainkan terdengar dalam, tenang, namun menyimpan wibawa yang bisa membuat siapa saja ingin menunduk tanpa sadar:
“Kalian sudah memaksa kami membuka rahasia terbesar yang kami miliki. Dengarkan baik-baik, seluruh penghuni bumi. Selama ribuan tahun kami menguasai langit bukan hanya karena teknologi yang kami bangun, tapi karena kami memegang separuh dari kekuatan penciptaan itu sendiri. Selama ini kami hanya menahan diri agar bumi tidak hancur terhempas kekuatan kami. Tapi sekarang, kalian sudah melanggar batas yang tidak boleh dilewati. Kami akan tunjukkan kenapa selama ribuan tahun ini kami dianggap sebagai penguasa yang tidak boleh ditentang.”
Udara di sekitar kapal mulai berputar kencang, membentuk pusaran angin raksasa yang makin lama makin besar. Awan-awan di langit tertarik masuk ke dalam pusaran itu, membentuk lubang hitam besar yang memancarkan cahaya keemasan dari dalamnya. Tekanan udara makin berat, sampai pohon-pohon di kejauhan tertekuk, dan tanah di sekitar kubah pertahanan terasa bergetar lembut seolah takut akan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Raka menggenggam kedua tangannya erat-erat sampai kuku hampir menancap ke telapak tangannya. Ia merasakan energi di dalam dirinya juga mulai bergejolak hebat, seolah ingin melompat keluar dan berhadapan langsung dengan pasangannya yang ada di atas sana. Ia menegakkan punggungnya, mengangkat kepala setinggi mungkin, dan menatap ke atas dengan tatapan yang tidak lagi menunjukkan rasa takut, melainkan penuh tantangan.
“Baiklah… Kalau begini caranya, berarti pertarungan kita baru benar-benar dimulai,” ucapnya dengan suara lantang yang terdengar sampai ke telinga semua orang di sekitarnya. “Ayo kita lihat bersama… siapa yang sebenarnya layak memegang dan mengendalikan kekuatan besar ini. Kami tidak akan lari, dan kami tidak akan tunduk. Buktikan saja kalau kalian memang lebih kuat dari kami.”