Mikayla benci rumah barunya. Ia benci Hesti, ibu tiri tegas yang dianggapnya menghancurkan keluarga lamanya. Demi membalas dendam, Kayla nekat masuk ke pergaulan bebas bersama Gavin, mengabaikan peringatan Arka.
Namun, saat bahaya mengintai, bukan ibu kandungnya yang datang menyelamatkan, melainkan Hesti—ibu tiri yang selama ini ia lawan habis-habisan. Di sela perang dingin dan tingkah bucin kocak ayahnya pada Hesti, sebuah rahasia besar masa lalu siap terbongkar. Siapa korban dan siapa pelaku sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia di Balik Ketegasan
Di dalam keheningan gudang tua yang remang-remang, waktu seolah berjalan melambat. Di atas sofa usang, Kayla baru saja selesai merapikan kotak P3K. Jarak di antara wajah mereka begitu dekat, menyisakan deru napas yang saling berkejaran. Gavin menatap lekat manik mata Kayla, matanya perlahan turun tertuju pada bibir merah muda gadis itu. Didorong oleh perasaan yang membuncah, Gavin perlahan memajukan wajahnya, berniat mengambil kesempatan untuk mendaratkan kecupan yang sudah lama ia dambakan.
Sementara itu, Kayla seolah tersihir. Tubuhnya mendadak kaku, ia tidak berontak, ia juga tidak melawan. Hanya logikanya saja yang berteriak ketakutan di dalam kepala, mengingatkannya bahwa ini salah.
BRAKKK!
Pintu besi gudang tua itu mendadak terbuka dengan kasar, menghantam dinding hingga menimbulkan suara dentuman yang memekakkan telinga. Sentakan keras itu seketika membuat Gavin dan Kayla refleks menjauhkan tubuh mereka dan menoleh cepat ke arah pintu.
Di ambang pintu, berdiri Hesti dengan raut wajah dingin yang mematikan. Di belakangnya, tampak dua pria berbadan tegap dan berjas hitam berdiri berjaga dengan sigap.
"Bagus ya! Mau ngapain anak saya kamu?!" tunjuk Hesti dengan jari telunjuknya langsung ke arah wajah Gavin. Langkah kakinya terdengar tegas saat melangkah memasuki ruangan. "Bukannya sekolah yang bener, malah main di tempat kayak begini. Keterlaluan lagi!" tambahnya dengan nada penuh penekanan.
Kayla mendengus kesal, namun di balik itu, sebentuk rasa takut yang besar mendadak menyergap dadanya. Ia takut jika ibu tirinya ini akan melaporkan adegan ini ke Papihnya.
"Kamu! Siapa kamu? Ngapain ajak anak saya ke tempat kayak gini? Kalau kamu mau jadi berandalan jalanan, jangan ajak-ajak anak saya!" ucap Hesti tanpa henti, memojokkan Gavin dengan rentetan kalimatnya yang tajam hingga membuat cowok itu sempat kelu.
Gavin menarik napas dalam, mencoba menetralkan ketegangannya, lalu menjulurkan tangannya dengan sopan. "Saya Gavin, Tante. Temannya Kayla. Maaf, saya ajak Kayla keluar karena ada urusan mendadak tadi."
Namun, Hesti sama sekali tidak berniat membalas jabatan tangan itu. Ia hanya menatap sinis jemari Gavin yang terulur di udara, lalu beralih menatap tajam ke arah Kayla.
"Kenapa lo bisa tahu gue di sini? Lo mata-matain gue, ya?!" cetus Kayla ketus, mencoba menutupi rasa salah tingkahnya.
Hesti tidak menjawab pertanyaan Kayla. Ia hanya memberikan isyarat pelan dengan lambaian tangannya kepada dua bodyguard di belakangnya. "Bawa Kayla ke mobil," perintahnya tegas.
Dua pria tegap itu langsung melangkah maju mendekati Kayla. "Apa-apaan nih?! Lepasin gue, ah!" seru Kayla berang saat lengannya hendak dipegang.
"Jelasin sama saya apa yang kamu lakuin hari ini sebelum saya kasih tahu Papih kamu," potong Hesti dengan nada mengancam yang mutlak. "Dan kamu... jangan berani-berani deketin anak saya lagi!" tunjuk Hesti sekali lagi pada Gavin.
"Ah, lepasin! Iya, gue ikut! Gue bisa jalan sendiri!" bentak Kayla ketakutan jika ayahnya sampai tahu. Ia menghentakkan tangannya, lalu berjalan cepat keluar dari gudang diikuti oleh rombongan Hesti.
Di dalam mobil sedan hitam yang berjalan membelah jalanan kota, atmosfer di dalam kabin terasa sangat mencekam. Kayla membuang mukanya lurus ke arah jendela luar, melipat tangannya di dada dan enggan menatap Hesti yang duduk tenang di sampingnya.
"Jelasin sama saya, kenapa kamu bolos sekolah?!" ucap Hesti menuntut penjelasan, memecah keheningan.
"Bukan urusan lo," jawab Kayla tanpa menoleh sedikit pun.
Hesti menyandarkan punggungnya, melirik Kayla dari sudut matanya. "Oke, kalau kamu gak mau bicara. Saya pastiin setelah ini, saya akan bikin teman kamu yang berandalan tadi gak bakal bisa dekat-dekat atau ketemu sama kamu lagi."
Mendengar ancaman itu, Kayla langsung memutar tubuhnya, menatap Hesti dengan napas memburu. "Bisa gak sih lo jangan berlagak kayak ibu gue? Gue muak tahu gak!"
"Ya kalau bukan saya, siapa lagi, Kay? Mommy kamu?" balas Hesti telak, suaranya terdengar sangat tenang namun menghujam langsung ke ulu hati Kayla. "Dia aja gak peduli sama kamu. Di saat kamu kabur dan bolos kayak gini, apa pernah dia menelepon buat menanyakan keadaan kamu?"
"Jangan jelekin nyokap gue!" bentak Kayla, matanya mulai memerah menahan amarah.
"Saya gak ngejelekin, emang itu faktanya," jawab Hesti dengan nada datar namun logis. "Selama setahun ini, ke mana aja ibu kamu? Nyatanya dia baru kembali ngehubungin kamu pas saya dan Papah kamu nikah, kan? Selebihnya saya gak tahu dia ngelakuin apa sama kamu di luar sana. Entah kamu yang butuh didengar, atau justru ibu kamu yang lebih banyak curhat soal masalah pribadinya ke kamu."
JEDARRR!
Kalimat Hesti barusan seolah menjadi petir yang menyambar kesadaran Kayla. Gadis itu seketika terdiam seribu bahasa, tenggelam dalam kebungkamannya sendiri. Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Kayla tidak bisa mengelak dari kebenaran ucapan Hesti. Mengingat beberapa hari ini, setiap kali Mommy-nya menelepon, beliau memang jauh lebih sering mengeluh dan curhat tentang kesedihannya sendiri dibanding menanyakan kabar atau perasaan Kayla.
Namun, rasa ego dan doktrin di kepalanya membuat Kayla kembali membela diri. "Jangan ngerasa lo lebih baik dari ibu gue! Lo cuman pelakor yang udah ngerebut kebahagiaan keluarga gue!"
Hesti hanya mengembuskan napas pendek, lalu menggelengkan kepalanya pelan. "Halah, terserah deh. Biar waktu yang jawab fakta sebenarnya nanti. Percuma saya jelasin panjang lebar sekarang, otak kamu udah terdoktrin hal yang gak bener."