Alundra Kylie patah hati saat mengetahui Arsenio Ghaisan, cinta pertamanya, ternyata dijodohkan dengan sepupunya, Alora Eleandra.
Untuk melupakan cinta pertamanya itu, Alundra memutuskan untuk kembali ke luar negeri menyusul orang tuanya yang menetap di sana. Namun, saat perjalanan menuju bandara, Alundra tidak sengaja menabrak seseorang hingga mengalami koma.
Masalah kian rumit saat orang yang Alundra tabrak ternyata adalah kekasih Qireia Zhavara, seorang Nona kaya yang terkenal arogan.
"Aku akan mengampunimu, tapi dengan satu syarat, kamu harus menggantikanku menemui calon tunanganku. Kamu harus berpura-pura menjadi aku." Qireia Zhavara.
Apa yang akan terjadi, jika tunangan Qireia tahu Alundra menyamar sebagai Qireia?
Apa yang akan Alundra lakukan saat mengetahui tunangan Qireia ternyata dosen killer baru di kampusnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kikan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23
"Dasar pria tua sialan!" Umpat Alundra.
Alundra sedang berada di dapur, karena sibuk mengumpat Sabiru, wanita cantik itu lupa jika ia sedang memegang pisau. Alhasil, jari mulusnya harus terkena sayatan pisau dapur yang cukup tajam.
Wanita cantik itu meringis saat melihat darah keluar dari jari telunjuknya. Kepalanya tiba-tiba pusing, penglihatannya menggelap. Alundra nyaris saja jatuh andai tidak berpegangan pada kursi.
"Nona, tidak apa-apa?" Seorang asisten rumah tangga datang menghampiri Alundra dengan panik.
Asisten rumah tangga yang bernama Bi Rani itu baru saja kembali setelah membuang sampah. Ia sangat terkejut saat melihat cucu majikannya berjalan sempoyongan. Ditambah lagi saat melihat darah berceceran di lantai.
"Aku gak apa-apa, Bi," lirih Alundra.
Alundra duduk sambil memejamkan matanya. Sementara Bi Rani sibuk mengobati luka Alundra.
"Bibi kan sudah bilang, biar Bibi saja," ucap Bi Rani.
Bi Rani takut jika Gefanda tahu, majikannya itu akan memarahinya dan menyalahkannya.
"Bibi tenang saja, Opa tidak akan menyalahkan Bibi," ucap Alundra. Wanita cantik itu sangat menyadari kekhawatiran sang asisten rumah tangga. "Ini semua gara-gara dosen sialan itu," gerutunya.
Beberapa hari ini Alundra dibuat kesal oleh tingkah Sabiru. Dosen killer yang berstatus sebagai kekasih rahasia Alundra itu, selalu memintanya melakukan hal-hal yang tidak masuk akal.
Dari mulai menyiapkan sarapan untuk Sabiru, sampai mengantar jemput pria itu. Alundra terpaksa harus melakukan semua itu demi Kalandra. Sabiru selalu mengancam akan menghancurkan Kalandra jika Alundra membantah perintahnya.
Bayangkan saja, Alundra yang tidak bisa memasak sedikit pun, harus mati-matian belajar tutorial memasak atas perintah pria itu. Bahkan kepala Alundra nyaris saja meledak saat dihadapkan dengan berbagai bumbu rempah-rempah yang ternyata sangat beragam.
Drrttt drrtttt
Alundra hanya melirik sekilas ponselnya yang tampak bergetar. Ia enggan mengangkat panggilan itu, wanita cantik itu sudah bisa menebak siapa yang menghubunginya.
Namun, semakin Alundra mengabaikannya, justru pria itu semakin gencar menghubunginya. Ya, Sabiru lah orang yang menghubungi Alundra.
"Hallo!"
Pada akhirnya Alundra memilih mengalah dan mengangkat panggilan itu. Tentu saja setelah pria itu mengiriminya pesan ancaman.
'Kalau kamu tidak mengangkat panggilanku, dalam hitungan tiga, kamu akan mendengar kabar kehancuran Kalandra.'
Ancaman demi ancaman selalu berhasil membuat Alundra tidak berkutik. Sabiru pikir, dengan mengendalikan Alundra, ia bisa membuat wanita cantik itu sadar, tidak ada siapapun yang bisa membohonginya apalagi melawannya.
Jika ada yang berani mengusiknya, maka Sabiru tidak akan segan-segan memberikannya hukuman yang setimpal, hukuman yang tidak akan bisa dilupakan seumur hidupnya.
Namun, alih-alih memberi Alundra hukuman, pria tampan itu justru tampak sibuk memikirkan cara supaya Alundra mau menerimanya dan terbiasa dengan kehadirannya. Dengan begitu perlahan Alundra akan mulai bertekuk lutut memujanya seperti wanita-wanita lain.
Sikap acuh Alundra yang tidak menginginkannya membuat harga diri Sabiru tercabik. Selama ini tidak ada wanita mana pun yang menolaknya. Hanya Alundra yang terang-terangan keberatan menjadi wanitanya.
"Kamu di mana, kenapa lama sekali?" Tanya Sabiru di seberang telepon. Suaranya terdengar tidak sabaran.
Alundra menggeram kesal, gara-gara pria itu, Alundra nyaris saja kehilangan satu jarinya.
"Aku masih di rumah, masakanku belum jadi," jawab Alundra dengan ketus. Ia benar-benar kesal, gara-gara pria menyebalkan itu ia harus terluka.
"Ini sudah jam berapa? Aku sudah kelaparan, Lundra."
Diseberang sana Sabiru menggerutu. Sudah hampir satu jam pria tampan itu menunggu Alundra. Tapi dengan gampangnya wanitanya itu mengatakan belum selesai dengan masakannya.
"Kamu tinggal pesan sendiri saja kan bisa. Kenapa harus nyusahin aku?"
Alundra mendengus kesal. Kesabarannya sudah habis. Lukanya belum juga sembuh, masih terasa sangat perih. Sekarang ditambah lagi ocehan Sabiru, kepala Alundra rasanya ingin meledak. Menghadapi Sabiru benar-benar membuatnya frustasi.
"Ohh... kamu berani sama aku?" Tanya Sabiru. Suaranya lembut, namun terdengar sangat menyebalkan di telinga Alundra.
Alundra berteriak tanpa suara. Entah sudah berapa banyak sumpah serapah yang wanita cantik itu lontarkan untuk Sabiru. Jika bukan demi Kalandra, Alundra bersumpah akan menghajar pria menyebalkan itu.
"Bu-bukan begitu. Tapi jariku terpotong saat memasak, jadi---"
"Apa?" Pekik Sabiru di seberang sana. Alundra sampai mengusap-usap telinganya karena pekikan pria itu.
"Jangan teriak, telingaku sakit!" Gerutu Alundra.
"Kamu ke sini sekarang juga!"
Entah kenapa, mendengar Alundra terluka, pria tampan itu merasa begitu cemas. Apalagi saat membayangkan wanitanya itu memberengut kesakitan, membuatnya ingin melahap bibirnya.
Ehhh...
"Tapi masakannya---"
"Kamu ke sini sekarang, atau aku yang ke sana?"
"Ok, aku ke sana sekarang."
Alundra berlari ke kamarnya. Rasa perih di jarinya bahkan sudah tidak ia perdulikan. Alundra harus segera sampai di apartemen Sabiru, sebelum pria itu yang mendatangi rumahnya.
Jangan sampai dia ke sini, aku tidak mau mereka tahu hubunganku dengan pria sialan itu. Bisa gawat!
...----------------...
Sementara itu, persiapan acara pertunangan Arsenio dan Alora sudah hampir 95%. Mereka tidak akan menggelar acara mewah, hanya acara sederhana saja. Tamu yang diundang pun hanya beberapa kolega bisnis kedua keluarga saja dan para sahabat Arsenio dan Alora.
Acaranya pun tergolong sangat privat. Tidak ada media yang diundang. Bahkan para tamu yang hadir pun nantinya tidak diizinkan mengabadikan gambar ataupun video selama proses berlangsung.
Bukan karena tidak ingin, semua orang tentu ingin hari bahagia mereka disaksikan oleh khalayak ramai. Dengan begitu banyak orang yang mendoakan kebahagiaan mereka.
Hanya saja, demi menjaga perasaan Alundra, mereka mengalah.
"Aku masih tidak percaya, besok kita akan bertunangan, Kak," ucap Alora dengan antusias.
Alora dan Arsenio sedang berada di hotel, di tempat yang akan di selenggarakannya acara pertunangan mereka.
Alora bergelayut manja di lengan Arsenio. Wanita itu sudah tidak sungkan lagi menunjukkan cintanya pada Arsenio. Perasaan yang semula ia tutup rapat, kini seolah meluap tanpa bisa dibendung.
Arsenio tersenyum. Ia pun tidak menyangka keinginannya yang dulu terasa begitu mustahil, akan segera terwujud. Hanya tinggal menghitung jam saja, impiannya untuk memiliki Alora akan menjadi kenyataan.
Apa Arsenio puas?
Tentu saja, pria itu sangat puas. Sudah lama ia menantikan hari ini tiba. Akan tetapi, ia merasa ada sesuatu yang menahan kebahagiaannya. Perasaan yang tak bisa dijelaskan. Karena, Arsenio sendiri tidak tahu jawabannya.
"Aku juga," ucapnya lirih. Pria itu menggenggam tangan Alora. Lalu, keduanya sama-sama tersenyum.
Alora sangat lega, sepertinya ketakutannya tidak terbukti. Buktinya saja Arsenio masih menatapnya penuh cinta.
Sepertinya kemarin-kemarin itu hanya kekhawatiranku saja, batin Alora.
"Apa tidak sebaiknya kita mengundang media saja, Kak? Aku ingin semua orang merasakan kebahagiaan kita," ucap Alora.
Sejak awal Alora tidak setuju dengan syarat yang Roland ajukan. Ya, Roland menyetujui pertunangan Alora dengan Arsenio dengan syarat, tidak ada media dalam acara itu. Dan kedua belah pihak sudah sepakat dengan syarat itu.
Alora merasa hubungannya dengan Arsenio tidak perlu lagi disembunyikan. Ia ingin semua orang tahu jika selama ini Arsenio hanya mencintainya.
"Kita sudah sepakat, Ra. Tidak ada media," tegas Arsenio.
Arsenio setuju dengan syarat Roland. Ia tahu, Roland melakukan itu bukan hanya untuk menjaga perasaan Alundra, tapi juga untuk menjaga kehormatan putrinya. Tapi sepertinya, Alora tidak memahami maksud Daddynya itu. Wanita itu terus menganggap jika Roland terus membela Alundra.
"Tapi Kak, aku hanya ingin semua orang tahu hubungan kita. Aku capek sembunyi terus," rengek Alora.
Arsenio mengernyitkan keningnya. Sejak awal ia sudah meminta untuk mengungkapkan yang sebenarnya pada Alundra, tapi dia sendiri yang menginginkan semuanya disembunyikan dari Alundra.
Dan sekarang, Alora justru menyalahkan Arsenio karena menyembunyikan statusnya dari media. Apa mau Alora sebenarnya? Kenapa wanita itu tiba-tiba berubah egois seperti ini?
"Aku tidak menyangka, kamu memiliki sisi seperti ini, Ra."
Arsenio meninggalkan Alora begitu saja. Ia benar-benar kecewa dengan calon tunangannya itu.
To be continued
biru jgn macem macem ya kmu main ancam ancam terus,, kalo ketauan keluarganya alundra habis kamu GK bakal dikasih restu 🤣
Sabirin jahat bertekuk lutut nanti kebalik lih kamu yang bertekuk lutut bucin akut
sementara alundra sedang berada diambang menuju ke move on an dari arsenio karena dia GK bakal sempet mikirin masa lalu kalo udh mulai dipepet SM pk dosen 🤣
ayo pk dosen jerat pak jerat biar alundra cepet move on dari si kadal buntung itu 🤣