Alma setelah kematiannya mengetahui bahwa sebenarnya dia hanyalah salah satu karakter sampingan di novel yang semua takdir kehidupannya sudah di tentukan oleh penulis.
Penderita yang telah dia lalui sebenarnya tidak lain dan tidak bukan hanyalah kata-kata yang tertulis untuk mempromosikan plot tentang protagonis wanita di novel.
Dia marah, dan kecewa tidak menerima semua takdir itu, dia ingin membalas rasa sakit yang dia terima dari orang-orang yang telah menyakitinya.
Dan kesempatan itu muncul, dia di hidupkan kembali , hari di mana semua penderitaannya belum terjadi.
Dan dia bersumpah akan membalas setiap inci perbuatan mereka padanya menghancurkan mereka secara perlahan.
Alma ingin mereka membayarnya dengan lunas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bearbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab
Dua orang siswa menyeret tubuh Alma ke dalam aula sekolah. Ruangan luas itu tampak sunyi, dingin, dan mencekam. Hanya ada tiga orang lelaki yang berdiri di tengah aula, menunggu. Bukan menunggu siapa pun, mereka menunggu Alma.
Langkah mereka semakin mendekat. Tanpa basa-basi, tubuh Alma dilemparkan begitu saja ke lantai, bergeming di hadapan ketiga lelaki itu. Dentuman tubuhnya terdengar nyaring, namun tak ada satu pun yang bereaksi. Dia terhempas keras, tubuhnya merasakan nyeri yang menjalar tajam dari berbagai arah. Bukan semata karena lemparan itu, tapi karena luka-luka lebam dan goresan hasil penyiksaan yang diterimanya sebelum sampai di sini.
Sudah hampir satu bulan hidupnya di sekolah ini berubah menjadi mimpi buruk yang tak berujung. Setiap harinya, dia dijadikan sasaran ejekan, hinaan, dan kekerasan, baik secara verbal maupun fisik. Semua karena satu hal: ketiga lelaki yang kini berdiri di depannya. Calvin Harris Tarrant, Leon Esmith Radcliffe, dan Kaiden Luis Harrington.
Ironisnya, Alma bahkan tidak tahu kesalahannya. Tidak mengingat pernah menyinggung siapa pun.
"Oh? Masih berani datang ke sekolah, ya?" suara dingin dan tajam milik Calvin memecah keheningan. Langkahnya perlahan membawa tubuh tegapnya ke depan Alma. Tatapannya merendahkan,seolah gadis itu bukan manusia. "Tak tahu malu. Jasmine masih terbaring di rumah sakit, dan kau? Berani-beraninya masih mondar-mandir di sekolah ini, dasar gadis jalang."
Rokok di tangan kirinya menyala, asapnya membentuk lingkaran sebelum dihembuskan langsung ke wajah Alma. Gadis itu tersedak, batuk kecil keluar bersama air mata yang sudah mulai tergenang di pelupuknya.
Calvin berjongkok, menyamakan tinggi wajah mereka. Ia mencubit keras pipi Alma hingga kemerahan. Senyum tipis menyungging di wajahnya, senyum iblis yang menyimpan kebencian membara. Rokok itu, masih menyala di tangan kanannya diarahkan perlahan ke wajah Alma.
Alma tahu apa yang akan terjadi.
"Jangan... aku mohon... jangan lakukan itu..." suaranya bergetar, air matanya luruh tanpa henti.
Namun permohonan itu hanya menjadi angin lalu. Calvin menekankan ujung rokok itu ke pipi Alma. Asap mengepul, disertai bau daging terbakar dan jeritan yang memilukan.
"SAKITTTT...!! SAKITTTTT...!!!" Suaranya menggema, parau dan memilukan, namun tidak satu pun dari mereka yang menunjukkan rasa iba. Tidak ada belas kasihan. Yang ada hanyalah tatapan dingin, seperti melihat seekor serangga yang pantas diinjak-injak.
"Inilah akibatnya kalau kau berani menyakiti Jasmine kami," gumam Calvin, menjatuhkan wajah Alma dengan kasar seolah dia hanyalah seonggok sampah.
"TIDAK!! Tidak! Aku tidak pernah menyakitinya!" Alma menjerit, suaranya dipenuhi kepanikan dan keputusasaan. "Aku hanya... aku hanya kebetulan ada di sana... Aku hanya ingin menolongnya..."
Tak ada yang mendengarkan. Seolah kebenaran tak pernah punya tempat di dunia ini.
Calvin kembali mendekat, kali ini menginjak punggung tangan Alma dengan sepatu kulitnya yang mahal. Bunyi retakan samar terdengar, diiringi jeritan kesakitan yang kembali meluncur dari bibir gadis itu.
"Masih belum mau mengaku?" nada suara Calvin seperti cambuk, menampar harga diri Alma.
"Hentikan, Calvin." Suara itu datang dari Leon, pria yang sejak tadi duduk santai di kursi dengan ponselnya. Tapi bukan karena iba ia bicara. "Cara seperti itu tidak akan membuatnya mengaku."
Leon tak mengangkat wajah, matanya tetap tertuju pada layar ponsel. Namun suaranya tenang dan mengerikan seperti peluru tanpa suara.
"Alma Romily Morrison. Anak bungsu dari keluarga Morrison. Memiliki kakak laki-laki yang terpaut enam tahun, ayah dan ibu yang terlihat sangat mencintainya. Keluarga yang hangat. Indah sekali ya..."
Ia berhenti sejenak. Lalu kalimat berikutnya membuat jantung Alma seperti dihantam palu godam.
"Bagaimana jika kebahagiaan itu... dihancurkan hingga tak bersisa?"
Mata Alma membelalak. Napasnya tersengal. Tubuhnya gemetar.
"Jangan... jangan bawa-bawa keluarga ku... JANGAN SENTUH MEREKA!!" Suaranya berubah tajam, penuh amarah. Untuk pertama kalinya sejak penyiksaan itu dimulai, Alma berani bersuara lantang.
Dia mengangkat wajahnya, meski sakit tak tertahankan menggerogoti tubuhnya. Matanya yang merah karena tangis, kini menatap tajam ketiga lelaki itu.
"Sebenarnya apa yang kalian inginkan dariku? Sudah kubilang aku tidak bersalah! Bukan aku yang menyakiti Jasmine. Kenapa kalian tidak bisa percaya."
Ketiga lelaki itu terdiam. Untuk sejenak, ketegangan menggantung di udara. Lalu Leon menatap Alma dengan intens.
"... Menarik. Tak kusangka wajahmu bisa menunjukkan ekspresi sekuat itu." Dia mengangkat alis, nyaris kagum. "Gadis pendiam yang biasanya hanya menangis... sekarang menggertak?"
"Cukup. Jangan buang waktu di sini," suara dingin Kaiden memecah momen itu. Ia baru saja menutup panggilan telepon. "Jasmine sudah sadar. Kita ke rumah sakit."
Calvin dan Leon saling bertukar pandang. Mata mereka berbinar. Satu minggu penantian tanpa kejelasan, dan akhirnya, gadis yang mereka puja membuka matanya.
Ketiganya berbalik, melangkah meninggalkan Alma tanpa kata maaf. Tanpa rasa bersalah. Tapi sebelum pintu aula tertutup sepenuhnya, Leon menoleh. Tatapannya menancap dalam-dalam di mata Alma.
"Ini masih belum berakhir."
Kemudian, keheningan kembali menyelimuti aula. Tubuh Alma masih tergeletak di lantai, gemetar dan terluka. Tapi kini, sesuatu di matanya mulai berubah. Bukan hanya luka dan tangis, tapi juga amarah yang perlahan tumbuh dari kepedihan.
🥀🥀🥀
Hanya Alma yang tersisa di sana. Sendirian, rapuh, dan compang-camping. Dua siswa yang tadi menyeretnya sudah menghilang entah ke mana, seolah misi mereka telah selesai. Tangannya yang gemetar perlahan terangkat menyentuh pipinya yang terasa panas dan perih. Luka bakar yang masih baru menyisakan nyeri menusuk, dan ketika ia menunduk, matanya menangkap punggung tangannya yang lecet parah, kulitnya terkelupas seperti serpihan kertas yang dilukai pisau. Air mata pun mengalir, tak mampu ia bendung. Isakan lirih lolos dari bibirnya yang bergetar, membentur keheningan aula yang kosong dan menggema seperti jeritan tanpa suara.
Seumur hidupnya, Alma tak pernah membayangkan dirinya akan menjadi korban dari kebiadaban semacam ini.
"Apa sebenarnya dosaku?" bisiknya pelan, getir dan nyaris tak terdengar.
Apa yang telah ia lakukan hingga pantas menerima siksaan seperti ini? Ia tidak tahu. Atau mungkin... dunia memang tidak butuh alasan untuk menghancurkan seseorang.
"Andai waktu bisa diulang," gumamnya pelan. Suaranya lebih terdengar seperti rintihan daripada harapan.
Ya, jika saja waktu bisa ia tarik kembali, Alma tidak akan keluar dari sekolah sebelum sopirnya tiba. Ia tidak akan mengambil keputusan bodoh itu. Ia tidak akan memberi kesempatan pada mereka.
Saat jemarinya hendak mengusap rambut, gerakan tangannya mendadak terhenti. Ia terdiam sejenak, lalu tertawa miris, getir, menghina diri sendiri.
"Dasar pelupa..." desahnya, menyadari bahwa rambut panjang yang biasa ia banggakan sudah tak ada lagi.
Dengan tubuh yang limbung, Alma berusaha bangkit. Lututnya masih mengucurkan darah, meski sebagian sudah mengering, menyisakan kerak luka yang menghitam. Setiap langkahnya terasa seperti disayat, namun ia tetap memaksa dirinya berjalan keluar dari aula menuju koridor yang kini lengang dan sunyi. Langit di luar telah berubah gelap, menelan seluruh warna, dan Alma tidak tahu lagi pukul berapa sekarang. Dunia terasa seperti lubang hitam yang menelannya bulat-bulat.
Ia melangkah pelan menyusuri lorong. Ketika sampai di dekat salah satu ruang kelas, matanya tanpa sengaja menangkap pantulan dirinya di jendela kaca. Ia terpaku.
Gadis yang ia lihat di sana berambut pendek dengan potongan acak, wajah penuh lebam dan luka, seragam compang-camping dan tubuh penuh luka. Tak lagi seperti Alma yang ia kenal. Rambut indah yang dulu ia rawat telah dicabik dengan kejam, digunting tanpa belas kasihan oleh tangan Freya dan antek-antek Jasmine saat siang tadi.
Alma menunduk. Ia tak sanggup menatap pantulan dirinya lebih lama. Pemandangan itu menghancurkan sisa harga diri yang masih ia genggam erat.
Ia tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika keluarganya tahu. Ayahnya pasti akan murka. Ibunya tak akan berhenti menangis. Mereka akan melakukan apa pun untuk membalas perbuatan keji ini. Tapi Alma tahu, tiga keluarga itu bukan orang sembarangan. Mereka adalah pilar kekuasaan sosial yang tak mudah dijatuhkan.
Keluarga Morrison memang termasuk dalam lima keluarga berpengaruh di negara ini, tetapi melawan tiga keluarga besar sekaligus? Itu sama saja menggali kubur sendiri. Dan Alma tidak akan membiarkan keluarganya hancur karena dirinya.
Dengan langkah tertatih dan kepala tertunduk, ia terus berjalan hingga mencapai gerbang sekolah. Udara malam menusuk kulit, tapi ia bahkan tak merasa dingin. Semua rasa telah tumpul.
Jalanan di luar sunyi. Lampu jalan hanya menerangi sebagian trotoar, sisanya dibiarkan tenggelam dalam kegelapan. Alma melangkah tanpa arah, pandangannya buram, bukan hanya karena luka di tubuhnya. Tapi juga karena luka yang jauh lebih dalam di dalam hatinya. Ia tak tahu ke mana harus pergi. Ia bahkan tak tahu apakah ia masih ingin hidup.
Tiba-tiba, matanya menyipit saat cahaya terang menyilaukan penglihatannya. Sebuah mobil melaju kencang dari kejauhan. Lampunya menyorot tepat ke arahnya.
Mobil itu tidak melambat.
Justru semakin cepat.
Alma tidak sempat menghindar. Dalam sekejap, tubuhnya terhempas keras ke aspal, terguling beberapa meter di atas jalanan kosong. Dunia seketika terasa melambat.
Darah mengalir dari pelipis dan hidungnya, membentuk genangan kecil di bawah kepalanya. Napasnya terengah, penglihatannya kabur, dan tubuhnya mulai kehilangan rasa.
Namun, sebelum kesadarannya benar-benar hilang, matanya sempat menangkap siluet seseorang turun dari mobil.
Sosok itu berjalan mendekat. Langkahnya tenang, bahkan bisa dibilang malas. Dan ketika wajah itu semakin jelas...
Leon.
Tatapannya kosong, dingin, membosankan. Seolah tak ada satu pun kepedulian atas kondisi Alma yang tergeletak sekarat di hadapannya.
Kenapa...?
Pertanyaan itu kembali muncul di benak Alma. Mengendap-endap seperti racun yang merusak pelan-pelan.
Kenapa harus dia?
Kenapa semua ini terjadi padanya?
Lalu gelap.
atau alma dengan kesadaran penuh yang bunuh orang2 sebelumnya?