Diusir keluarga karena hamil di luar nikah dan ditinggalkan pria yang menghamilinya, Kemala bertahan hanya demi satu alasan, yaitu bayinya.
Namun dua hari setelah melahirkan, putranya menghilang tanpa jejak.
Takdir mempertemukannya dengan Bastian Rothmere, pewaris keluarga konglomerat yang sedang putus asa mencari ibu susu bagi seorang bayi yang kehilangan ibu kandungnya.
Sebagai imbalan, Bastian berjanji membantu mencari putra Kemala yang hilang.
Namun tinggal di kediaman Rothmere justru menyeret Kemala ke dalam perang dingin keluarga kaya raya. Terutama ketika istri sah Bastian terang-terangan menolak keberadaan sang bayi pewaris.
Di tengah rahasia, ambisi, dan perebutan kekuasaan yang semakin berbahaya, Kemala mulai menyadari bahwa hilangnya putranya mungkin bukan sekadar kebetulan.
Hingga suatu malam, Bastian menghantam meja rapat dan berkata dengan suara dingin,
“Siapa pun yang berani menyentuh pewaris Rothmere atau anak Kemala, akan kubuat menyesal telah dilahirkan!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon N A R I, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32. Titipan dari Kampung
“Sebanyak ini?”
Reynard menatap tas pendingin besar di tangannya dengan mata membulat. Di hadapan pria itu, Kemala hanya tersenyum kecil.
“Lalu bagaimana dengan Arkana?” tanya Reynard langsung menatap rumah sederhana Rani tempat bayi laki-laki itu berada.
Kemala menunduk sebentar.
“Stok saya masih banyak, Pak Reynard.”
“Banyak?” tanya Reynard yang melihat kelelahan di Kemala.
“Sangat banyak,” jawab Kemala sambil menatap Reynard dengan mata yang tergenang.
Reynard benar-benar tak menyangka. Tas yang diberikan Kemala bukan sekadar beberapa kantong ASIP. Jumlahnya cukup untuk memenuhi kebutuhan Nathan selama berhari-hari. Padahal bayi yang bersama wanita itu juga membutuhkan susu yang sama.
Kemala membuka sedikit ritsleting tas. “Di dalam sudah saya susun berdasarkan tanggal. Yang paling lama harus digunakan dulu.”
Reynard mengangguk.
“Kemudian jangan terlalu sering dibuka-tutup. Kalau sudah dicairkan, jangan dibekukan lagi,” lanjut Kemala sambil meneliti kembali setiap kantong ASIP di dalam tas itu.
“Baik,” jawab Reynard memegang tas itu kuat-kuat.
“Kalau Nathan menolak ASIP yang lain, mungkin ini masih bisa membantu sementara,” suara Kemala terdengar pelan seolah sedang berbicara tentang anaknya sendiri.
Dan mungkin memang begitu, Nathan bukan darah daging wanita desa itu. Namun selama berbulan-bulan terakhir, bayi itu tumbuh dalam pelukan Kemala.
Reynard memperhatikan wajah wanita desa itu cukup lama. Lalu tersenyum tipis. “Aku akan menyampaikannya. Terima kasih.”
“Harusnya saya yang berterima kasih.” Kemala hanya menggeleng.
Beberapa menit kemudian Reynard berpamitan. Mobil hitam yang membawa pria itu perlahan meninggalkan halaman rumah Rani. Kemala masih berdiri di teras. Memandang kendaraan itu sampai menghilang di tikungan jalan. Rani yang berada di sampingnya ikut melihat ke arah yang sama.
“Kamu kangen Jakarta ya?” tanya Rani pelan.
Kemala terdiam.
“Tidak,” jawab Kemala kemudian.
Rani mendengus. “Bohong.”
Kemala tersenyum tipis. Namun senyum itu tak sampai ke mata polosnya itu. Tatapan wanita desa itu masih jauh. Seolah mengikuti sesuatu yang dibawa Reynard pergi. Bukan Reynard melainkan sebagian dari diri Kemala yang tertinggal di Jakarta.
Tangisan bayi dari dalam rumah memecah keheningan. Kemala tersentak.
“Arkana bangun.” Kemala segera berlari masuk.
Rani memandang punggung sahabatnya itu lama. Lalu menghela napas pelan.
“Aku harap kamu benar, Mala ….”
***
Keesokan harinya. Lantai paling atas gedung pusat Rothmere Group. Suasana ruang direktur utama terlihat kacau. Tumpukan dokumen memenuhi meja. Beberapa berkas bahkan jatuh hingga ke lantai. Laptop masih menyala menampilkan grafik saham, laporan proyek, dan dokumen investasi.
Semua bercampur menjadi satu. Sangat bertolak belakang dengan pemilik ruangan itu. Bastian Rothmere dikenal sebagai sosok yang hampir obsesif terhadap keteraturan. Namun kini meja kerja pria kaku itu terlihat seperti kapal pecah.
Pria itu sedang membaca laporan ketika telepon kantor berbunyi. Tatapan Bastian langsung tajam. “Apa?”
“Pak, Pak Reynard ingin bertemu.” Suara Alya terdengar dari seberang sana.
“Tidak,” ucap Bastian sangat singkat.
“Akan saya–”
“Saya sudah bilang tidak menerima tamu,” potong Bastian dengan nada suara yang lebih tinggi dari biasanya.
Sebelum Alya menjawab, suara lain terdengar dari telepon. “Kalau bukan karena permintaan Kemala, aku juga malas melihat wajah murammu itu.”
Bastian langsung membeku. “Reynard.”
“Masih hidup ternyata,” kelakar Reynard mengejek sahabatnya itu.
Rahang Bastian mengeras. Beberapa detik berlalu. Kemudian pria kaku itu menekan pangkal hidungnya.
“Masuk.”
Di lobi lantai eksekutif. Alya menghela napas lega.
Sementara Reynard tersenyum puas. “Lihat? Saya bilang dia akan mengizinkan.”
“Bapak memang keterlaluan,” ujar Alya kembali menghela napas.
“Saya tahu,” jawab Reynard singkat sambil tersenyum.
Alya memutar bola mata.
Namun sebelum Reynard bergerak menuju lift privat, seseorang yang duduk di area tunggu memperhatikan mereka. Seorang wanita berpenampilan elegan. Tatapan wanita itu mengikuti langkah Reynard hingga menghilang di balik pintu lift. Lalu senyum tipis muncul di bibir wanita elegan itu.
Pintu ruang direktur utama terbuka. Reynard masuk sambil membawa tas pendingin besar. Bastian langsung memandang tas itu lalu memandang sahabatnya.
“Apa itu?” tanya Bastian.
“Salam dari seseorang,” jawab Reynard melangkahkan kaki mendekati Bastian.
“Jangan bermain teka-teki.” Bastian mengernyitkan wajahnya.
Reynard malah tertawa. Pria yang selalu berpenampilan kasual itu duduk santai di sofa. Kemudian menatap meja kerja Bastian.
“Hah.” Reynard menghela napas panjang.
“Apa?” tanya Bastian.
“Kasihan juga meja itu,” jawab Reynard sedikit berdecak.
Bastian tak menjawab. Reynard menggeleng. Lalu menyapu tumpukan dokumen di meja depan sofa begitu saja dengan tangannya.
Bruk!
Beberapa berkas jatuh ke lantai.
“Reynard.” Bastian mencoba menghardik sahabatnya yang membuat dokumen penting itu jatuh dari meja sofa begitu saja.
“Aku sedang membersihkannya,” ujar Reynard begitu santai.
“Dasar!” Bastian yang sudah tak lagi duduk di kursi kerjanya kini berada di depan Reynard.
Tas pendingin itu langsung diletakkan di atas meja yang sudah kosong oleh Reynard.
“Bagaimana kondisi Nathan?” tanya Reynard.
Pertanyaan itu membuat Bastian terdiam. Wajahnya sedikit mengeras. “Belum membaik.”
“Apa tak ada stok ASI lain?” tanya Reynard yang sudah duduk di sofa ruangan itu.
“Ada, tapi Nathan menolak,” jawab Bastian yang juga ikut duduk di sofa seberang Reynard.
Reynard mengangguk pelan. “Kesehatannya?”
“Menurun,” jawab Bastian dengan tatapan sedikit menunduk.
Keheningan muncul sesaat. Lalu Reynard mengetuk tas di depannya. “Kemarin aku bertemu Kemala.”
Kali ini kepala Bastian langsung terangkat. Tatapan tajam itu muncul begitu cepat. “Di mana?”
“Wah.” Reynard tersenyum lebar. “Cepat sekali reaksimu.”
“Jawab,” desak Bastian lebih tajam menatap sahabatnya itu.
“Kenapa? Kamu ingin tahu bagaimana aku bertemu dia?” Reynard sedikit mencondongkan badannya ke arah Bastian. “Atau kamu ingin tahu bagaimana kabarnya?”
Bastian diam. Rahang pria itu mengeras. Beberapa detik berlalu. Sampai akhirnya suara rendah keluar. “Bagaimana kabarnya?”
Senyum Reynard semakin lebar. “Sudah kuduga.”
“Reynard.” Bastian menegaskan suaranya yang rendah itu.
“Oke. Oke.” Reynard mengangkat kedua tangannya lalu menyandarkan tubuhnya.
“Kemala terlihat lelah.”
Tatapan Bastian berubah.
“Dia juga terlihat sedih.” Reynard sengaja memberi jeda. Ruangan menjadi hening. “Bahkan ketika dia sedang menggendong bayi yang katanya Arkana.”
Jari Bastian perlahan mengepal mendengar nama bayi Kemala itu. Ada perasaan menggantung di dalam diri pria kaku itu.
“Bahkan ketika dia sudah berada di kampung halamannya,” ucap Reynard menatap tas besar yang berada di atas meja itu.
“Kamu pergi ke kampungnya?” Tatapan Bastian langsung bergerak menatap sahabatnya.
“Tentu saja,” balas Reynard kembali menatap Bastian.
“Kapan?” tanya Bastian penuh rasa penasaran.
“Kemarin.”
Bastian terlihat tak percaya. Sedangkan Reynard justru santai.
“Kurang-kurangilah gengsimu itu,” ujar Reynard menyilangkan kakinya.
“Aku tidak punya urusan dengan itu,” jawab Bastian memalingkan muka ke arah meja kerjanya.
“Benarkah?” tanya Reynard kemudian mencondongkan badannya ke arah Bastian.
“Dia memilih pergi.” Bastian bergumam memandang jauh keluar jendela gedung pencakar langit itu.
“Dan kamu kecewa.” Reynard hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap sahabatnya itu.
Bastian diam tak menjawab.
Reynard tertawa kecil. “Kalian berdua benar-benar menyebalkan.”
“Langsung ke inti,” dengus Bastian menatap sahabatnya tajam.
Reynard menunjuk tas pendingin yang sejak tadi pria kasual itu letakkan di atas meja. “Itu dari Kemala.”
“Apa?” Bastian mengernyit.
“ASIP.”
Beberapa detik tanpa satupun respons. Seolah otak pria kaku itu membutuhkan waktu untuk memproses kalimat itu.
“ASIP?” tanya Bastian menatap tajam sahabatnya.
“Untuk Nathan.” Reynard kembali menunjuk tas itu dengan telapak terbuka.
Bastian menatap tas itu sangat lama. Kemudian bersuara, “Dia mengirim ini?”
“Ya,” jawab Reynard menyilangkan tangannya santai.
“Untuk Nathan?” tanya Bastian masih ragu dengan apa sahabatnya katakan.
“Ya.” Reynard mengangguk pelan.
Ada jeda sebelum pertanyaan berikutnya keluar dari mulut Bastian. “Padahal dia sudah pergi?”
Reynard mengembuskan napas pelan. “Ya.”
Bastian kembali terdiam. Tatapan pria kaku itu tak pernah lepas dari tas itu. Reynard lalu membuka ritsleting tas ASIP itu.
“Dia bahkan menuliskan semuanya dengan rapi.” Reynard mengeluarkan beberapa kantong ASIP.
“Yang ini harus dipakai lebih dulu.” Reynard menunjukkan satu kantong dengan tanggal terlama lalu mengurutkan. “Ini berdasarkan tanggal pemerahan.”
“Dan ini cara mencairkannya.” Reynard terus menjelaskan tentang urutan tanggal, suhu penyimpanan, proses pencairan, dan hal-hal kecil yang bahkan tak pernah terpikirkan oleh mereka sebelumnya.
Semua dijelaskan dengan sangat rinci, semua disiapkan oleh Kemala. Bastian mendengarkan tanpa menyela sampai Reynard selesai berbicara.
"Bujuk dia kembali." Reynard menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi.
Bastian mengangkat kepala. "Apa?"
"Kemala." Jawaban itu datang begitu saja, seolah hal tersebut sudah sangat jelas.
"Tidak," tolak Bastian mencoba terlihat tegas.
Reynard mendengus. "Jangan gengsi."
"Aku tidak gengsi," bantah Bastian memalingkan wajahnya.
"Kalau begitu jelaskan kenapa kamu masih menyimpan kamar itu apa adanya," ujar Reynard mencoba memancing sahabatnya.
Tatapan Bastian langsung berubah.
Reynard hanya mengangkat kedua tangannya. "Santai. Aku cuma menebak."
"Semua itu demi Nathan." Bastian memalingkan pandangan.
"Bukankah kamu selalu mempertahankan orang yang kompeten?" Reynard menunjuk tas pendingin di atas meja. "Dan sejauh ini, Kemala satu-satunya orang yang berhasil membuat Nathan membaik."
Bastian tak membantah.
Reynard menyeringai tipis. "Kebetulan saja kamu juga terlihat sangat merindukannya."
"Omong kosong," bantah Bastian masih membuang wajahnya.
"Benarkah?" tanya Reynard dengan begitu santai.
Kali ini Bastian tak menjawab. Keheningan itu justru membuat senyum Reynard semakin lebar. Setelah beberapa saat, ekspresinya berubah lebih serius.
"Dengar. Kemala membutuhkan pekerjaan untuk membesarkan bayinya." Reynard kemudian kembali menunjuk tas di atas meja itu. "Nathan membutuhkan ibu susunya."
Reynard memberi jeda lalu menunjuk sahabat di depannya. "Dan kamu membutuhkan–"
"Aku tidak membutuhkan apa pun." Bastian langsung memotong Reynard. Potongan kalimat itu keluar terlalu cepat.
Reynard langsung tertawa. "Baiklah."
Keheningan kembali memenuhi ruangan. Namun kali ini Bastian tak langsung membantah. Tatapan pria kaku itu justru jatuh pada tas pendingin itu. Pada sesuatu yang tetap dikirim Kemala. Meski wanita desa itu sudah meninggalkan kediaman Rothmere.
Tok. Tok. Tok.
Mendengar pintu diketuk, Bastian langsung berbicara ke arah pintu. “Alya, saya sedang–”
Belum selesai Bastian berbicara, pintu itu justru langsung terbuka.
Alya muncul dengan wajah panik. “Maaf, Pak. Saya sudah mencoba menghentikannya.”
Namun seseorang sudah melangkah masuk. Seorang wanita dengan gaun elegan, senyum sempurna, dan tatapan tenang. Clarissa Rothmere memasuki ruangan itu begitu saja.
“Maaf mengganggu,” ucap Clarissa dengan senyum sempurnanya.
Bastian langsung menyipitkan mata sedangkan Reynard menatap wanita itu tanpa senyum. Clarissa berjalan masuk perlahan lalu berhenti di tengah ruangan.
“Aku baru saja mendengar sesuatu yang menarik,” ucap wanita elegan itu menyilangkan tangannya santai.
Tak ada yang menjawab. Bukan merasa diabaikan, justru senyuman wanita elegan itu semakin manis.
“Aku tak menyangka membantu Kemala bisa berakibat sejauh ini,” tutur Clarissa dengan intonasi yang dibuat agar terdengar seolah menyesal.
“Apa maumu?” Bastian menatapnya dingin.
Clarissa tertawa kecil. Wanita itu kemudian menatap tumpukan dokumen proyek di atas meja. Lalu kembali memandang Bastian.
“Membujuk Kemala kembali pasti membutuhkan waktu,” ucap Clarissa dengan tatapannya yang berkilat. “Dan kamu tidak mungkin meninggalkan megaproyek nasional ini begitu saja.”
Keheningan langsung turun lalu wanita elegan itu tersenyum semakin lebar.
“Sebagai permintaan maafku ...” Clarissa menangkupkan kedua tangannya dengan anggun. “Biarkan aku yang mengurus proyek ini.”
Like+ bunga🌹 , semangat thor ✍️
kalo berkenan mampir juga y😉