Rania terlahir kembali ke lima tahun sebelum tragedi dalam hidupnya terjadi. Di masa depan setelah ia menikah dengan Arya, Rania dijebak oleh Salsa dan dibunuh tepat di malam pertamanya. Di kesempatan kedua ini, ia akan menghindar dari pernikahan itu agar tidak mengalami nasib yang sama.
Berhasilkah ia kabur dari genggaman sang Tuan Muda dan menghindari takdir kematiannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12. Hari Ulang Tahun
Di kehidupan sebelumnya, tepat di hari ulang tahun Rania. Arya membuat sebuah pesta kejutan. Pesta diadakan di sebuah vila milik Arya yang terletak di daerah puncak. Suasana yang asri dan dingin sangat menyegarkan setelah setiap hari harus berkutat dengan hiruk pikuk ibu kota. Dan yang paling membuat Rania bahagia adalah, merayakan ulang tahun di vila itu merupakan keinginannya sejak lama. Ia merasa Arya begitu peka karena bisa mengetahui hal itu.
Rania dijemput secara khusus oleh Arya di siang hari. Karena perjalanan cukup panjang, mereka sampai tepat di jam tujuh malam. Sesampainya di sana, Rania melihat sudah ada teman-temannya menunggu di halaman vila. Dekor ulang tahun terpasang dengan begitu indahnya dan sebuah kue dengan ukuran cukup besar sudah ditata sedemikian rupa. Rania tersenyum begitu senang dengan kejutan itu.
Setelah proses tiup lilin dan potong kue, acara dilanjutkan dengan pesta di area belakang vila. Di sana terdapat sebuah kolam renang yang cukup besar dan dalam. Serta pemandangan yang begitu indah. Ditambah dengan taburan bintang di langit jadi semakin memanjakan mata.
Hari yang begitu indah itu tiba-tiba berubah saat Rania dan Salsa cekcok. Diawali oleh Salsa yang menghampiri Rania lalu menyombongkan diri karena beberapa hari ini dia dekat dengan Arya. Rania yang memang sangat menyukai Arya pun langsung terpancing.
Salsa tersenyum miring lalu meraih tangan Rania dan membuat situasi seolah-olah dia mendorongnya hingga jatuh ke kolam renang.
"AKHH."
Semua orang langsung berkerumun namun tidak ada yang mau turun untuk menyelamatkannya.
"sepertinya dia tidak bisa berenang!" ucap seseorang dengan suara cukup keras membuat suasana semakin panik.
Lalu ada seorang pemuda yang berlari dan langsung masuk ke dalam kolam renang. Meraih Salsa yang sudah hampir kehilangan kesadaran lalu membawanya ke tepi kolam. Dibantu oleh yang lain, akhirnya Salsa bisa diselamatkan. Ia terbatuk beberapa kali hingga keluar air kolam yang sempat masuk. Tubuhnya lemas tidak sanggup berdiri. Rania di sana hanya bisa berdiri dengan raut panik yang tidak bisa disembunyikan. Ia tidak peduli dengan apa kata orang selama dirinya memang tidak bersalah. Tapi ia masih peduli dengan apa kata Arya terlepas dari dirinya bersalah atau tidak.
Arya naik dari kolam lalu langsung menghampiri Salsa dan menggendongnya.
"Arya, aku tidak mendorongnya!"
Arya hanya meliriknya sekilas lalu kembali berjalan masuk ke dalam vila.
"aku tidak mendorongnya," ucapnya lagi dengan nada suara yang lirih. Kedua tangannya jatuh lemas ke sisi tubuhnya. Tatapan matanya kosong dengan air mata yang mulai mengalir.
Malam itu Rania ditinggal sendirian di tepi kolam. Arya langsung mengantar Salsa ke rumah sakit diikuti oleh teman-teman yang lain. Tidak ada satupun yang ingat dengan dirinya yang masih berdiri mematung.
Angin berhembus semakin dingin membuat Rania menggigil. Ia masuk ke dalam vila yang sudah kosong dan bingung sendiri harus ke mana. Instingnya mengarahkannya ke pintu yang ia kira itu adalah kamar. Namun pintu tersebut terkunci, mencoba ke pintu lain dan sama semuanya terkunci. Berjalan ke depan dan tidak ada kendaraan sama sekali. Lalu Rania mencari ponselnya, namun ternyata ponselnya tidak ada dan entah di mana.
Malam ini mungkin akan menjadi malam terberat dan terpanjang di hidupnya. Rania duduk di sofa dengan memeluk kakinya sendiri. Suhu semakin rendah dan Rania hanya memakai gaun pesta tanpa lengan. Matanya semakin lama semakin berat dan ia tertidur dalam posisi duduk.
"halo Arya, apa Rania bersama denganmu?"
Pertanyaan dari ayah Rania membuat Arya mematung sesaat. Ia baru ingat kalau Rania masih di vila sendirian. Bahkan ponselnya tadi ia lihat ada di dalam mobilnya.
"ayah telfon tapi tidak diangkat juga, apa dia bersamamu? perasaan ayah tidak enak."
"Rania ada di vila Arya yang di puncak yah."
Arya menjelaskan secara singkat lalu meminta ayah Rania untuk menjemput sendiri putrinya. Tentu saja ia tidak menceritakan seluruh kejadiannya begitu saja. Hanya mengambil beberapa poin yang menurutnya perlu disampaikan saja.
Dini hari, Rania samar-samar mendengar suara deru mesin mobil mendekat lalu berhenti di halaman vila. Ia ingin sekali bangun dan melihat ke depan tapi entah kenapa kepalanya terasa sangat berat dan ia tidak bisa membuka matanya.
Lalu samar-samar ia mendengar suara ayah dan ibunya memanggilnya. Tapi kemudian suara itu hilang dan ketika ia terbangun, pemandangan serba putih yang pertama kali dilihatnya.
Rania mengedarkan pandangannya melihat sekeliling. Bau obat, ranjang rumah sakit, infus dan ibunya tertidur di kursi samping ranjangnya dengan kepala menelungkup ke atas ranjang. Lalu sang ayah tertidur di sofa dengan diselimuti sebuah jaket.
"ayah, ibu."
Sang ibu terbangun lebih dulu setelah mendengar panggilan dari Rania. Ia langsung berdiri dan menanyakan kondisi Rania lalu memanggil dokter. Setelah diperiksa dan dinyatakan kondisinya sudah stabil, sang ibu duduk di tepi ranjang sambil mengusap kepala Rania.
"tadi malam saat ibu dan ayah menjemput kamu, pintu depan tidak tertutup rapat dan kamu tidur di sofa ruang tamu."
Waktu itu sesampainya Hanum dan Bagaskara di Vila, mereka bergegas turun dari mobil dan memencet bel. Namun tidak ada yang membukakannya.
"pintunya bu," tunjuk Bagaskara melihat pintu yang tidak tertutup rapat.
Perlahan mereka membuka pintu sambil memanggil nama Rania namun masih tidak ada jawaban. Mereka memutuskan masuk lebih dalam dan melihat putri kesayangan mereka meringkuk di atas sofa dengan tubuh menggigil. Hanum mendekat, menyentuh lengan putrinya dan ia sedikit terkejut karena tersengat hawa panas.
"panas banget yah!"
"kita ke rumah sakit sekarang," ucap Bagaskara yang dengan sigap langsung membopong tubuh putrinya.
Rania yang mendengar cerita itu pun hanya diam saja. Bahkan pertanyaan ayahnya tentang bagaimana bisa hal seperti itu terjadi pun tidak bisa ia jawab. Ia berfikir kalau sampai ayahnya mendengar cerita aslinya, ayahnya pasti akan marah ke Arya.
"ayah akan menemui Arya dan menanyakannya langsung!"
"jangan yah, jangan temui Arya. Aku cuma ketiduran di sofa, nggak tau kalau akan demam begini. Arya dan teman-teman pergi juga sudah pamit, akunya aja yang masih pengen di sana," ucapnya membohongi semua orang.
Dulu itulah yang terjadi, namun yang didapatnya hanyalah sikap dingin dari Arya. Bahkan pria itu tidak berusaha mencari tau apa yang sebenarnya terjadi. Dia juga tidak muncul sekalipun selama dirinya dirawat di rumah sakit.
Tapi di hidup kali ini ia akan merubah nasib hidupnya sendiri. Sekarang Salsa berada di pihaknya, nanti siapapun yang akan berada di posisi Salsa seperti kehidupan lalu, ia pasti akan menang menghadapinya.
"kita ikuti alurnya saja," ucap Rania lalu menyesap minumannya.
"apa kamu bodoh? kalau hanya mengikuti, semua akan terulang lagi seperti dulu."
"aku bilang ikuti alurnya, dan aku yang akan membuat alur tersebut."
Rania tersenyum lalu menatap Salsa dengan tatapan aneh membuat bulu kuduknya berdiri seketika.
"jangan lupa pakai gaun yang paling cantik untuk menonton pertunjukan di hari itu ya."
Setelah mengatakan itu, ia berdiri lalu menepuk bahu Salsa sebelum berjalan keluar dari kafe. Setelah keluar, ia baru sadar kalau hari sudah gelap. Rania menghela nafas lelah lalu melanjutkan langkah kakinya untuk pulang.