Li Yunru tidak pernah menyangka, bahwa cincin perak berukir naga yang menjadi hadiah saat membeli seekor kelinci akan mengubah seluruh hidupnya—menyeretnya ke dunia kuno tempat manusia dan beastmen hidup berdampingan.
Belum sempat memahami situasi, Li Yunru malah terikat sebagai pasangan hidup Raja Naga Putih wilayah utara, Bai Muzhi. Berkat cincin misterius itu, mimpi Li Yunru untuk menjadi koki akhirnya terwujud. Namun, kedatangannya ke dunia itu ternyata bukan kebetulan.
Sedikit demi sedikit, tabir asal-usulnya mulai terbuka. Dan musuh-musuh yang selama ini bersembunyi ikut bergerak. Di tengah bahaya, rahasia dan takdir yang menantinya ... mampukah Li Yunru bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risa Jey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kerabat Burung
Mendengar pertanyaan bodoh itu, Bai Muzhi benar-benar tidak bisa berkata-kata. Memang tidak masalah jika wanita memiliki lebih dari satu pasangan. Begitu pula sebaliknya. Tapi Bai Muzhi tidak mau.
Wajahnya pun menjadi segelap tinta. "Kamu hanya bisa memilih antara aku atau dia!"
Untungnya Li Yunru bukan tipe gadis yang penakut. Meski Bai Muzhi memegang pedang, instingnya yakin jika pria itu tidak akan menebas lehernya.
Gadis itu memutar bola matanya. Dia buru-buru menghampiri Bai Muzhi dan memeluk lengannya.
"Tentu saja aku memilihmu. Kamu adalah ular berkumis dan dia hanyalah burung berjambul. Kamu bisa bersinar di langit dan dia hanya bisa menghiasi rumput di hutan. Aku tidak bodoh!"
Ia hanya merasa bahwa Lan Peijun memiliki sikap yang ramah dan bersahabat. Sama sekali bukan perasaan cinta. Ini hanya murni kesukaannya terhadap hewan berbulu.
"... Ular berkumis?" Sudut mulut Bai Muzhi berkedut. "Kamu menyamakanku dengan seekor ular?"
"Maksudku, kamu adalah naga, naga!" ralat Li Yunru. "Jangan salah paham, ular berkumis adalah julukan untuk naga."
Setelah berpikir cukup lama, Bai Muzhi mengangguk kecil. "... Tidak buruk," katanya, sama sekali tidak marah.
"...."
Lan Peijun yang disebut burung berjambul hanya bisa menyaksikan gadis manusia itu membodohi Bai Muzhi. Suku naga tidak suka disebut ular. Jika hanya masalah kumis, bukanlah ikan lele juga memiliki kumis?
Dan Bai Muzhi tidak marah sama sekali?!
Apakah otaknya ditendang kelinci?
Lan Peijun melihat ke arah Ruu dan bertanya dengan suara yang sedikit diturunkan, "Gendut, apakah dia masih Bai Muzhi yang kukenal?"
Kelinci gemuk itu mengangkat kedua telinga dan menoleh padanya. "Kamu bertanya padaku?"
"Memangnya siapa lagi yang paling gemuk di sini selain kamu?"
"Oh, aku tidak gemuk. Aku hanya bulat."
"...."
Tidak heran Bai Muzhi dibodohi oleh kata-kata gadis manusia itu, hewan peliharaannya pun sama bodohnya.
Setelah Bai Muzhi ditenangkan oleh Li Yunru, keduanya kembali ke Istana Shing. Siapa tahu bahwa Lan Peijun yang telah kembali ke wujud manusia, mengikuti mereka tanpa rasa malu sama sekali.
Di perjalanan kembali setelah memasuki dinding tanaman merambat, Li Yunru penasaran. Ia menoleh ke arah Bai Muzhi.
"Mengapa ada dinding tanaman merambat di sini?" tanyanya.
Bai Muzhi mendengus ketika memikirkan perjanjian di masa lalu. "Ini hanyalah perjanjian bodoh ayahku dengan raja wilayah timur sebelumnya. Tempat itu adalah penghubung rahasia wilayah utara dan timur. Bukankah kamu punya peta yang kubuat? Mengapa tiba-tiba pergi ke sana?"
"Katakanlah, aku tersesat." Li Yunru menyadari kesalahannya.
"...."
Bai Muzhi mendesah tidak berdaya. Apa yang harus dia lakukan di masa depan jika Li Yunru bepergian sendirian? Ia mulai curiga bahwa kemampuan gadis itu untuk membaca rute memang bermasalah.
Tapi Bai Muzhi tidak mengatakannya di depan Li Yunru. Yang ada, gadis itu pasti mengira ia merendahkan cara berpikirnya.
"Jadi, aku baru saja memasuki wilayah timur?" Li Yunru merasa tidak percaya.
Sebelum Bai Muzhi buka suara, Lan Peijun menyela lebih dulu. "Benar, Cantik. Apakah kamu terkejut? Biarkan aku memperkenalkan diri, namaku adalah Lan Peijun, raja Istana Pihua di wilayah Lanxing bagian timur Kekaisaran Chaoming. Jadi, Cantik, siapa namamu?"
"... Namaku Li Yunru." Gadis itu menjawab santai. Menurutnya, tidak ada salahnya memperkenalkan diri.
"Marga Li? Aku mencium aroma spiritual tumbuhan dari tubuhmu. Apakah kamu keturunan ras peri hutan?"
"Mungkin?"
"...??"
Apa maksudnya dengan mungkin? Lan Peijun tidak pernah menduga jika pihak lain akan menjawab setengah bingung. Ia sedikit mengernyit. Marga Li dari ras peri hutan ...
Entah mengapa nama marga itu terasa familier, seolah ia pernah mendengarnya dari suatu tempat. Namun sekarang, ingatannya sedikit kabur.
Setelah mengobrol cukup lama, mereka akhirnya kembali ke halaman belakang Istana Shing. Mereka beristirahat di gazebo. Terutama Li Yunru yang merasa kelelahan.
Ruu yang berjalan dengan kedua kaki belakangnya dengan kedua telinga terkulai, kemudian berkata, "Aku ... Aku merasa telah menjadi kurus sekarang."
Lan Peijun yang tangannya gatal akhirnya menusuk perut kelinci putih itu dengan jari telunjuknya. Rasanya kenyal dan lembut.
"Gendut, perutmu masih berlemak seperti itu. Di mana kamu menjadi kurus?"
Ruu tidak terima dengan perlakukannya dan mencoba untuk menggigitnya. "Dasar burung mesum! Rasakan ini!"
Pria berhanfu biru tua bercorak merak itu duduk di salah satu kursi gazebo, menghindari setiap tendangan dan pukulan kelinci gemuk itu dengan ekspresi santai.
Betisnya tak sengaja terkena tendangan dan perasaan nyut-nyutan lumayan kentara, hingga ia mengelus tempat yang ditendang oleh kelinci itu.
"Gendut, apakah kamu benar-benar kelinci?" Lan Peijun terlihat sangat heran. "Mengapa tendanganmu begitu kuat?"
"Tentu saja aku ini kelinci!" Ruu langsung menyentuh kedua telinganya dengan kaki depan, tampak sangat sombong. "Apa kamu tidak melihat telingaku yang panjang ini?!"
Lan Peijun mengelus dagunya sambil mengeluarkan bunyi hmm~ cukup lama. Tatapannya tertuju pada telinga panjang Ruu yang kadang bergerak naik turun.
"Bukankah kambing juga punya telinga panjang?"
"Kambing ekormu!"
Kemarahan Ruu langsung meledak di tempat. Ia menendang kaki Lan Peijun beberapa kali lagi sampai pria itu buru-buru menghindar.
Wajahnya saja tampan tapi otaknya seperti keledai! pikirnya. Ada banyak pemikiran di kepala kelinci gemuk itu.
Lan Peijun sendiri hanya bisa menyerah untuk berdebat dengan seekor kelinci yang emosinya mudah meledak-ledak.
Li Yunru yang sejak awal tidak ingin ikut campur, akhirnya melihat langit yang mulai gelap. Karena wilayah Baiyun berada di utara, malam datang lebih cepat dibandingkan wilayah lainnya.
"Aku lapar. Apa yang harus kita makan malam ini?" tanyanya pada Bai Muzhi. "Suamiku, sayang, kamu ingin makan apa?"
Sebelum Bai Muzhi menjawab, Ruu menyela lebih dulu. "Daging! Daging!" Kelinci itu langsung melompat penuh semangat. "Aku ingin makan daging!"
Lan Peijun mendengus pelan sambil meliriknya. "Gendut, bagaimana mungkin seekor kelinci makan daging?" ejeknya. "Bukankah kamu hanya makan rumput?"
"Rumput! Seluruh keluargamu adalah rumput!" Ruu membusungkan dadanya. "Itu jauh lebih baik daripada kamu yang pemakan segalanya!"
"Pemakan segalanya?" Li Yunru langsung menatap Lan Peijun dengan curiga. "Apakah kamu makan serangga goreng atau ular panggang?" tanyanya serius.
Lan Peijun langsung tersedak dan merasa harga dirinya terluka. "... Raja ini tidak makan ular dan tidak makan serangga," jawabnya agak tersendat.
"Tidak?"
"Tentu saja tidak!" Ia langsung membela diri. "Raja ini manusia setengah binatang, bukan binatang sungguhan!"
Siapa sangka, Bai Muzhi yang berdiri di samping Li Yunru tiba-tiba tersenyum tipis penuh arti. Oh, masih ingin mengelak, mimpi!
"Aku ingat seratus tahun lalu kamu pernah makan ulat hijau," katanya.
"...."
Wajah Lan Peijun langsung berubah drastis. Ia merasa seperti terkena sambaran petir saat teringat kembali adegan kelam itu.
Dia buru-buru membantahnya dengan suara marah. "Sudah lama sekali! Mengapa kamu masih mengingatnya?!"
"Itu berarti kamu memakannya."
"Aku sengaja memakannya hanya untuk mengelabui musuh!"
"Tetap saja kamu memakannya, bukan?"
"...."
Lan Peijun merasa ususnya mendadak berubah hijau hanya karena diingatkan kembali pada kejadian memalukan itu. Ia langsung menyentuh perutnya sambil menahan rasa mual. Wajahnya sedikit pucat.
"Uh ... Raja ini benar-benar tidak suka serangga."
Li Yunru melihat keduanya hampir berdebat, jadi ia buru-buru memotong pembicaraan. "Baiklah, mari kita makan ayam panggang saja malam ini," usulnya.
"Ya! Ya! Ayam!" Ruu begitu bersemangat sampai hampir memegang perutnya yang bulat. "Aku ingin makan paha ayam."
Lan Peijun tampak berpikir sebentar lalu mengangguk pelan. "Tidak buruk juga. Meski raja ini jarang sekali makan ayam."
"Tidak? Lalu apa yang biasa kamu makan?" Li Yunru penasaran. Bisakah merak makan tahu bau dan durian? pikirnya.
"Aku biasanya makan buah-buahan segar. Jadi aku menjadi seperti sekarang ini, kulit halus dan sehat," jawabnya seraya pamer ketampanannya.
Ruu langsung mendengus dan mengejek. "Hah! Memakan kerabat sendiri. Kanibalisme!"
Lan Peijun langsung memutar bola matanya. "Bagaimana mungkin ayam dan merak berkerabat? Kami bahkan beda kasta dan bulu."
"Bukankah kalian sama-sama burung?"
"Kami disebut burung merak. Mana ada ayam disebut burung ayam?"
"Kalian tetap kerabat perburungan!"
"Tidak!"
Ruu langsung mengambil posisi siaga seperti hendak menerkam. "Kamu cari masalah, ya?! Ayo bertarung!"
Namun kali ini, Lan Peijun yang sempat naik darah tiba-tiba tenang. Ia perlahan menyentuh bagian atas kepalanya. Ia ingat laporan bawahannya tentang Hei Sanfeng yang menjadi mudah tersinggung setelah kehilangan sejumput bulu di kepalanya.
Konon, elang itu masih botak sampai sekarang.
"Lupakan saja," katanya pelan.
"...."
Li Yunru awalnya cukup tertarik melihat Ruu dan Lan Peijun berdebat. Tetapi melihat Lan Peijun menyentuh kepalanya, ia langsung mengerti. Rupanya kedua burung berbeda ras itu sama-sama takut botak.
Apakah Lan Peijun tidak tahu bahwa Hei Sanfeng botak karena dirinya? Elang itu hanya bertambah botak setelah bertarung dengan Ruu.
Tepat saat suasana mulai tenang, tiba-tiba terdengar suara kepakan sayap. Sebelum mereka sempat bereaksi, sebuah bayangan hitam melesat ke arah gazebo seperti meteor.
Wushhh!
Sebuah bayangkan hitam bersayap lebar langsung menghantam wajah Lan Peijun dengan keras.
Pria itu dengan refleks memaki, "Bahh!! Burung jelek mana yang berani menabrak raja ini?! Apakah sudah bosan hidup di langit?!"
ayo Yunru botakin aja Lan Peijun🤣🤣
Yunru hrs tetap sm Tuan Naga satu²nya.. ga boleh ada yg lain.. apalagi Merak bau.. bikin botak aj itu Merak...
Yunru kamu udah mulai berani ya minta cium dulu 🤣/Facepalm//Facepalm/
Klo kata Yunru, Narsistik sekali kelinci gendut ini 😒😒😒
Liatin aj noh pantatnya si Ruu yg montok dan seksih