Adrianne Hana kehilangan ayahnya akibat kesalahan operasi yang ditutupi keluarganya sendiri. Alih-alih mendapat keadilan, ia dan ibunya justru disalahkan, membuat hubungan Hana dengan keluarga Soediro dipenuhi kebencian—terlebih karena ia memilih jalan hidup berbeda sebagai aktris dan pengusaha.
Dipaksa menghadiri perjodohan dengan Reiga Reishard, Hana berencana menggagalkannya. Namun, pertemuan mereka justru menghadirkan hal tak terduga yang perlahan mengikat dua hati dengan prinsip bertolak belakang—antara luka, penolakan, dan kemungkinan cinta yang tak pernah direncanakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LDCYTD
Cekrik! Cekrik! Cekrik!
Beno tersenyum lebar setelah memotret belasan momen krusial Hana dan Reiga di depan rumah Hana. Wartawan dari berita online Spatch! yang biasa mengungkap rahasia besar para artis negara ini. Beno yakin, foto-foto ini akan mengantarkannya pada jabatan lebih. Foto yang diyakininya akan memberikan bonus besar. Rezeki nomplok untuk membantu pengobatan ginjal ibunya yang harus cuci darah 2x sebulan. Setelah memergoki Hana dan Reiga di Singapura, Beno mengikuti instingnya yang berujar bahwa date Hana dan Reiga akan berlanjut di Jakarta. Benar saja! Reiga kedapatan mengunjungi Hana di rumah aktris papan atas ini.
"Bos, bisa ketemu sekarang?"
Beno tampak berbicara dengan seseorang melalui handphone-nya.
"Ada apa, Ben?" tanya Pramono. Pemimpin redaksi Spatch!
"Saya punya berita besar, Bos."
Suara Beno memang terdengar sangat semangat dan senang. Namun Pramono tidak senudah itu percaya.
"Yakin kamu? Terakhir kali kamu bilang berita besar, satu hari saja tidak mampu bertahan jadi headline, Ben," tanggap Pram.
Beno menelan ludah.
"Kali ini saya yakin, Pak."
"Okay, saya masih percaya kualitas kamu. Ini kesempatan terakhir dari saya. Kamu bisa ke kantor sekarang. Kebetulan saya masih ada di kantor," ucap Pram sebelum mendengar jawaban iya pak dari Beno lalu sambungan telepon itu terputus.
"Udah pulang?" tanya Sara melihat Hana sudah masuk rumah.
Hana mengangguk sambil berjalan menuju Ibunya yang tengah cuci piring mangkuk bekas mie instant miliknya dan Reiga. "Nggak usah dicuciin, Bu," ucap Hana lantas membantu Sara mengeringkan mangkuk yang sudah dibilas. Berdiri berdampingan.
"Nice to know that you have a good taste," celetuk Sara.
"A good taste about?" Hana belum menangkap maksud Sara.
"Your man," jawab Sara dengan sebuah kedipan mata kiri yang menjengkelkan Hana.
"Bu, he is not my boyfriend!" seru Hana jengah.
"Not your boyfriend, tapi peluk dijabanin, tangan digandeng, kepala dikecup. Ibu juga pernah muda Adrianne Hana. You can't fool me!" timpal Sara makin menjadi.
Wajah Hana memerah. Susah juga sih menjelaskan hubungannya dengan Reiga. Pria itu menegaskan tidak ingin berteman.
"Jadi tadi ngintipin Hana nih??? Please deh, Bu.
Hana bukan anak remaja lagi. Nggak perlu diintipin," ujar Hana.
Sara nyengir.
"Ini pertama kalinya seorang Adrianne Hana bawa pulang lelaki ke rumah. I think it's a normal reaction from me!" ucap Sara membenarkan perbuatan ngintipnya tadi dari balik semak.
Hana tersenyum geli melihat cara Ibunya bicara. Pertama kalinya Sara kembali begitu excited membicarakan sesuatu.
"Lebay!" tukas Hana.
"Serius atuh, Neng Hana," balas Sara dengan logat sunda.
Mereka saling tersenyum.
"One of trivia ya, Bu. Hana nggak bawa Reiga ke rumah. Dia sendiri yang datang ke rumah ini. I don't even know he will comes," aku Hana.
Sara memberikan reaksi 'WHAT!?' kearah Hana. Tak percaya.
"What are you doing to him!?" tuduh Sara.
"Idihhh, nggak diapa-apain, Bu!" sahut Hana cepat.
"Reiga yang sedingin frezeer 17 pintu bisa samperin anak gadis ibu tanpa disuruh, tanpa woro-woro. Kamu apain dia, Han???" ledek Sara dengan mata dikedap-kedipkan. Sungguh menyebalkan bagi Hanin.
"Dih! Apaan sih, Bu? Nggak usah ngeledek Hana lagi ya. Hana udah kenyang seharian ini diledekin sama Reiga," ujar Hana tanpa maksud apa-apa namun bagi Sara, kalimat Hana barusan membuktikan bahwa anaknya memang ada apa-apa dengan anak teman baiknya itu.
"SE-HA-RI-AN!?" ledek Sara.
Hana terdiam. Ah, rupanya dia telah salah bicara.
"Reaksinya sama Reiga seheboh ini. Giliran sama Arnold malah berbanding terbalik," ucap Hana mengubah topik.
"Ya tentu beda dong."
"Apa bedanya?"
"Arnold tuh dari awal cintanya bukan sama kamu," Kebenaran ucapan Sara itu menusuk ulu hati Hana. Menghentikan senyum lebar Hana.
"I don't hate him, Han. Sumpah deh! Ibu kagum juga kok sama Arnold. But he didn't love you. Dari cara dia memperlakukan kamu, itu sudah sangat minus di mata Ibu."
"He treated me well," ujar Hana bicara fakta.
Arnold memang sangat baik hati, perhatian, dan peduli dengannya. Sikap yang membuat Hana yakin bahwa suatu hari, cinta bertepuk sebelah tangannya selama 4 tahun ini akan berbalas.
"Mungkin karena pengalaman, tapi ibu bisa lihat, dia tahu dan sadar kamu suka sama dia.
Perhatiannya kamu. Pedulinya kamu. Dia nikmati itu semua secara sadar tanpa ada satu kali pun niat untuk membalasnya. Bahkan yang terburuk, he knew, he can't loved you back, but all he did is nothing. Dia biarin kamu menggantung dan berhalusinasi dengan harapan kamu. Sebagai ibu kamu, tentu Ibu sakit hati," ungkap Sara menumpahkan pemikirannya selama 4 tahun ini tentang Arnold.
"Omongan Ibu jauh lebih pedes dari omongannya Nana, Sam, atupun Juni," ucap Hana dengan tatapan sendu.
Sara melirik Hana yang menunduk.
"Do you wanna know a secret?" gumam Sara.
Hana mengangkat kepala lalu menatap Ibunya.
"Mungkin ayah akan badmood di sana setelah tahu kalau Ibu kasih tahu pesan terakhirnya untuk ibu sama kamu, Han. Dia nggak pernah mau membebani kamu. Ayah mau kamu selalu berbahagia," ucap Sara dengan kedua pelupuk mata yang memanas. Hampir sembilan tahun Denis pergi, tapi bagi Sara, perasaan sedih dan kehilangan itu masih baru. Seperti terjadi kemarin.
"Ibu..."
Baik Hana maupun Sara, selalu sama merananya setiap kali membahas Denis. Ribuan kenangan yang diberikan Denis. Abadi tanpa tanding.
"Pria yang paling ibu cintai, ayah kamu, berpesan sama ibu untuk memastikan kamu menikahi lelaki yang minimal mencintai kamu sebesar ayah mencintai kamu, Hana. And i didn't see it from Arnold since day one," ucap Sara.
Hana terhenyak akan pesan itu. Kedua pelupuk matanya ikut memanas. Ayahnya memang akan selalu menjadi pria yang paling mencintainya. "Then i will never married," gumam Hana.
"Ngomong apa sih!? Idih amit-amit..." Sara merangkul Hana erat. "Tega kalau saatnya tiba Ibu ketemu Ayah terus Ibu dicemberutin karena gagal misi?" ujar Sara.
Secarik senyum muncul di wajah Hana. Ibunya memang memiliki bakat alami komedi dalam darahnya.
"Terus kok bisa Ibu segitu yakinnya sama Reiga since day one!? Kalau dia bakal cinta sama Hana sebesar ayah mencintai Hana. Padahal ada pepatah yang bilang, cari suami tuh yang sayang banget sama ibunya. Kalau dia baik sama ibunya maka sudah pasti dia akan memperlakukan kamu dengan baik pula," usil Hana diprakarsai keingintahuannya akan kisah masa kecil Reiga dari sudut pandang yang lain.
Sara tersenyum melihat kebiasaan mendebat Hana sudah keluar. Putrinya boleh saja selalu berseteru dengan keluarga Soediro. Tapi, bakat mendebat alamiahnya ini jelas mentasbihkan Hana memang bagian dari keluarga Soediro. Darah memang lebih kental dari air.
"Padahal Ibu tahu sendiri kan, betapa Arnold baik dan sayang banget sama Mami-nya. Ibu lihat sendiri waktu nikahan adiknya tahun lalu," ujar Hana merasa di atas angin dalam perdebatan ini.
"Bagaimana Reiga bisa mencintai Hana dengan amat sangat kalau baktinya sama Mama-nya aja harus kita evaluasi ulang?" lanjut Hana.
Sara tersenyum. Sebenarnya ia enggan membuka aib Sheila. Sahabatnya. Sayangnya, kalau analogi Hana barusan tidak diluruskan, maka sama saja Sara menutupi kebenaran dan menjelekkan nama Reiga. Anak malang itu.
"Bakti itu telah ditunaikan, Han," ucap Sara.
Raut wajah Hana berubah. Ia tampak serius memperhatikan ucapan Sara.
"Kalau ada anak yang sudah disakiti, dicampakan, dan ditinggalkan sebegitunya merana tapi masih menunaikan baktinya sebagai anak, maka Reiga mungkin akan jadi salah satu kandidat penerima apresiasi itu," tambah Sara.
"Dia memang jarang ketemu Mama-nya. Selain karena Tante Sheila tinggal di Bali. Fakta salah ambil keputusan Sheila di masa lalu juga berimbas pada hilangnya sorot mata penuh cinta Reiga untuk dia. And it's not his fault. Bukan salah Reiga kalau hati dia sesakit itu. Dia cuma anak kecil saat ditinggalkan. Sungguh tidak bijaksana dan egois, jika meminta Reiga untuk memaafkan semua kesalahan Sheila di masa lalu," ucap Sara memahami posisi Reiga.
Hana entah bagaimana juga bisa mengerti. Gambaran peristiwa yang dilihatnya. Sesak yang kini terasa lagi dihatinya.
"Bagi Ibu, Reiga tumbuh menjadi sehebat dan seluarbiasa sekarang itu adalah salah satu bukti baktinya dia sebagai seorang anak. Tahu Papa-nya sama menderita dan merana. Reiga meringankan beban Papa-nya dengan ratusan prestasi yang membanggakan Rahardian. And for your information, Han. Sampai detik ini, Reiga adalah investor utama semua usaha Sheila. Se-mu-a-nya! Bukan dengan uang perusahaan loh! Tapi uang pribadinya sendiri. Mungkin karena itu Sheila maklum kalau Reiga masih menjaga jarak.
Penyesalan memang datangnya di akhir kan, kalau di depan namanya pendaftaran," ujar Sara mencoba bercanda di akhir rangkaian kalimat panjangnya.
Hana menyunggingkan senyum kecil nan tipis.
Ada perang batin dalam hatinya. Hana yang tidak bisa lagi menahan hatinya yang tenggelam dalam badai simpati untuk Reiga.
hati. "Kasian banget sih tuh orang, "ucap Hana dalam
"Jadi gimana? Masih mempertanyakan kasih sayangnya Reiga buat Mama-nya?" celetuk Sara mengingatkan Hana akan topik awal mereka.
"Ibuuuuuu," seru Hana panjang.
Sara terkekeh pelan. Angin apa yang dibawa Reiga ke rumah yang hampir mati tanpa matahari ini? Intuisi Sara mengatakan bahwa apapun itu, akan bermakna kebaikan. Bukankah semua hal baik harus kita aamiin-kan?
*
Pramono membelalakan mata melihat slide demi slide foto yang diambil Beno. Slide yang ditampilkan di ruang meeting mereka. Beno tersenyum penuh percaya diri setelah melihat reaksi bos-nya ini.
"Ini asli, Ben? Bukan editan kamu kan?" telisik Pramono.
"Asli, Pak! Saya berani sumpah!" seru Beno serius seraya mengangkat tangan kanan siap bersumpah.
"Berita besar ini! Adrianne Hana yang sangat pelit akan berita kehidupan pribadinya ternyata menyimpan rahasia sebesar ini!"
"Benar, Pak. Saya setuju! Saat memergokinya tadi pagi saya pun kaget, Pak!"
"Sudah berapa lama mereka berpacaran? Hana memang bukan aktris sembarangan! Siapa yang menyangka pacarnya adalah Reiga Rahardian Reishard!!"
Beno mengangguk-angguk.
"This will becomes a big hit! Sumber uang bagi perusahaan kita, Ben. Kamu jenius!" puji Pramono.
Beno tersenyum senang. Sudah lama Pramono tidak memujinya begini. Harga diri Beno sebagai wartawan dengan julukan 'pembuka fakta' telah kembali seutuhnya.
"Sebar malam ini juga. Jadikan headline. Suruh Asti buat artikelnya. Nggak usah panjang. Yang penting isinya penuh penjelasan mengambang," ujar Pramono lugas.
"Siap, Pak."
Pramono menatap Beno serius.
"Dan pastikan untuk kali ini, blur wajah Reiga Reishard."
Pramono mengatakannya nyaris berbisik. Beno memasang wajah bertanya.
"Ke... Kenapa, Pak? Bukannya itu inti dari berita ini!??"
Pramono menghela napas.
"Reiga Reishard itu orang dengan kekuasaan besar, Ben. Dalam beberapa menit, dia bisa menghancurkan Spatch! begitu dia merasa dirugikan atas berita ini. Jadi untuk saat ini wajahnya kita blur. Kita buat masyarakat yang membesarkan berita ini dengan main tebak-tebakan nama si pria," ucap Pramono tersenyum licik.
Beno ikut tersenyum. Sekarang dia paham.
"Judul headline-nya apa, Pak?"
Pramono menyeringai.
"Oh tentu apalagi yang cocok selain 'PACAR ADRIANNE HANA!' it will be so fucking epic!" ujar Pramono dramatis.
"Jenius! Pak Pram memang jenius!!" puji Beno seraya bertepuk tangan.
Reiga membuka pintu kamarnya. Kepalanya menggeleng melihat Papa-nya sudah duduk bersandar di atas kasurnya. Ketimbang menghampiri Rahardian. Reiga memilih duduk di sofa abu-abu untuk melepas sepatunya. Sungguh ia tidak kaget melihat Rahardian ada di kamar ini. Oh, tentu Papa-nya akan sangat kepo mengenai kebenaran dibalik pikiran Dimas soal Hana dan Singapura kan!?
"Papa siap mendengarkan cerita dating kamu, Rei," ujar Rahardian penuh semangat dan muka full senyum.
"Bukan dating, Pah. Not yet," ujar Reiga.
"Terus apa?"
Rahardian mengernyitkan kening. Ia kemudian berdiri dan memutuskan menghampiri putra semata wayangnya itu. Duduk di kursi single seraya menatap Reiga dengan raut wajah minta jawaban.
"Coincidence alias kebetulan aja ketemu terus jadi jalan bareng," jawab Reiga.
Jawaban yang sungguh tidak memuaskan Rahardian.
"Memangnya kamu pernah mengalami 'coincidence' kayak gitu juga sama perempuan lain!?" sewot Rahardian yang kadung bete karena reaksi Reiga yang tak pernah asik.
Putranya yang sudah menyender di badan sofa itu lantas tertawa.
"Bete amat sih, Pah. Udah segitu ngebetnya punya menantu?" ledek Reiga.
"Masih tanya!? Serius mau dengar jawaban Papa!?" sinis Rahardian.
Reiga tersenyum. Hari ini selain Hana, ternyata ia juga harus menghadapi mode on-off ngambek Papa-nya.
"Bukannya Papa lebih suka kalau Reiga sama Lana?" tanya Reiga yang ingin tahu pendapat Papa-nya mengenai Hana.
Tentunya fakta bahwa Reiga telah membocorkan rahasia atas kepemilikan kemampuan aneh tidak perlu diberitahukan dulu pada Rahardian. Bisa gawat!
"Kapan Papa bilang begitu? Papa sih yang penting anak Papa itu happy dan merasakan cinta lagi," sangkal Rahardian.
Reiga tidak tahan untuk tertawa.
"Ini kesannya Reiga antipati banget sama yang namanya cinta," canda Reiga.
Namun Rahardian menanggapinya serius. Raut wajah sedih dan menyesalnya itu begitu kentara.
"Bukannya memang begitu?"
Tawa Reiga berhenti. Ia menatap Papa-nya.
Suasana ini, biasanya Rahardian menghindarinya dan langsung pergi. Kali ini pria setengah baya itu sendiri yang membahasnya.
"Tumben," ucap Reiga.
"Udah nggak tahan," sahut Papa-nya.
"Reiga baik-baik aja, Pah. Hidup Reiga juga baik-baik aja. Sekadar informasi di luar sana, banyak sekali orang yang berharap jadi Reiga," ucap Reiga yang justru membuat Rahardian makin merasa bersalah.
"Then prove me. Dated Hana," ucap Rahardian menyebut pembuktian yang harus dilakukan Reiga.
"She is not a doll. She deserves a true love, Dad," tolak Reiga.
Rahardian terhenyak mendengar kalimat penolakan Reiga.
"Kan udah Papa bilang, jangan baca pikiran ora..."
"Her mind is the most beautiful mind i've ever read in my life," potong Reiga dengan raut wajah serius kearah Rahardian.
Tanggapan yang membuat Rahardian terhenyak dengan secuil rasa senang.
"Perjelas."
"Hana tuh apa adanya banget. Apa yang dia pikirin, itu yang dia katakan dan lakukan. Sungguh orang yang menarik," ujar Reiga.
Bibir Rahardian menyunggingkan senyum.
"Someone in love on the first sight?" ledek Rahardian.
Reiga terkekeh.
"Stop, Pah. Geli tahu dengarnya!" tukas Reiga.
Rahardian malah tertawa.
"Ngapain aja di Singapore sama Hana?"
Reiga menatap heran Rahardian.
"Ini seriusan sampai segininya mau ikut campur urusan Reiga?" canda Reiga.
"Abis gimana dong?? Semenjak era Cyila berakhir, kamu nggak pernah kelihatan gandeng perempuan. Papa frustasi loh, Rei. Sekarang tahu-tahu terbang pakai jetpri, tinggalin meeting pula. Demi seorang Hana. It's a normal thing if i'm so curious!!" heboh Rahardian.
Reiga tersenyum.
"We just sit down, enjoy the view, enjoy the silence with two chocolate of Bomboloni flavour and one iced coffee in China Garden," ujar Reiga tanpa menyembunyikan apapun.
"What!?"
Rahardian merasa jawaban Reiga tidak menarik.
"Itu kenyataan, Pah. Memang hanya itu," ujar Reiga menanggapi pikiran Rahardian.
"Curang! Jangan baca pikiran Papa!"
Reiga tertawa. Rupanya Papa-nya menyadari sudah sejak lama Reiga menge-blocked akses baca pikiran pada Papa-nya.
"Because i want some private area for my self," ujar Reiga sekali lagi menjawab pertanyaan dari pikiran Rahardian.
"I think we are a bestfriend," ucap Rahardian sambil merengut.
"Toxic bestfriend?" canda Reiga.
Rahardian tertawa.
"Udah ah, Papa ngantuk. Mau tidur," ujar Rahardian menyerah lalu berdiri dari duduknya.
"Nite, Dad," ucap Reiga sambil tersenyum kearah Rahardian yang sudah membuka pintu kamarnya.
"Perjodohannya mau diterusin nggak?"
"Maksudnya?"
"I know you want her, Son. I see it in your eyes. I feel it in your heart," ucap pelan Rahardian dengan tatapan hangatnya.
Reiga terdiam.
Karena ia tidak bisa membantah dugaan tidak berdasar Papa-nya barusan. Reiga mungkin bisa menutupi akses baca pikiran dari Papa-nya. Tapi tidak dalam menelusuri hati dan menilik arti sorot matanya.
"She just wants me to be her friend, Dad. She loves someone else," ujar Reiga.
Raut wajah Rahardian menegang.
"Di mana semangat kamu!? Emang cowoknya seganteng apa!? Yang mana sih orangnya!!?" sewot Rahardian tiba-tiba.
Reiga menyunggingkan senyum.
"Terdengar seperti mafia ya, Pah," ledek Reiga.
"Kalau memang perlu jadi mafia, let's do it!" sahut Rahardian dengan muka serius.
Reiga tertawa.
"Papa bahkan belum ketemu Hana dan Papa udah segininya ingin merekrut Hana jadi anggota keluarga kita? Malu nih sama, Om Denis," ledek Reiga.
"Hana itu anaknya Denis. She must be so special like her dad. Ya nggak, Den?"
Rahardian melirik Denis yang ada di samping kiri Reiga. Ah, Denis memang sudah bergabung bersama mereka sejak Reiga duduk di sofa tersebut. Rahardian tersenyum kearah Denis yang juga tersenyum padanya.
"My son is not that bad, Den," ujarnya sambil senyum sebelum akhirnya benar-benar keluar dari kamar Reiga.
"Maafin Papa ya, Om. You know him more better than me, right? He loves to joking around," ujar Reiga.
Denis tersenyum.
"Makasih udah temenin Hana. She needs someone like you to lean on," ucap Denis.
"Maksudnya Om, untuk jadi tempat pelampiasan marah-marahnya Hana?" canda Reiga.
Denis tertawa kecil.
"Kalau Hana sudah bisa marah-marah sama kamu kayak tadi. Itu berarti dia sudah merasa dekat dengan kamu," ucap Denis.
Reiga tersenyum. Ada hal yang ingin ditanyakan olehnya namun masih ragu diutarakannya.
"Om nggak aneh lihat saya sama Papa saya dengan kemampuan kami?" tanya Reiga. "Apa Om nggak masalah melihat anak perempuan satu-satunya Om, bergaul sama manusia aneh kayak saya. Yang bukan hanya memiliki kemampuan aneh, tapi juga riwayat keluarga yang cacat," tambah Reiga.
Denis tersenyum. Tidak menjawab apapun dan malah menghilang tanpa aba-aba. Reiga hanya bisa menghela napas. Inilah minus-nya membuka obrolan dengan makhluk tak kasat mata.
*
"Siri, play the Ayah playlist, please," ucap Hana yang sudah duduk di depan jendela besar kamarnya. Ia memberi instruksi pada sistem yang bekerja di iPhone miliknya. Sembari menatap langit yang malam itu cerah dengan tangan yang memeluk dua kakinya yang ditekuk. Ada si bintang kejora menemani si bulan sabit yang bersinar indah malam itu. Siri, sistem dari iPhone milik Hana mulai mendendangkan satu-satunya lagu yang ada dalam playlist. Sebuah lagu dari Phil Collins berjudul You'll be in my heart. Lagu original soundtrack salah satu film Disney berjudul Tarzan. Lagu kenangannya Hana dengan almarhum Ayah-nya. Lagu yang selalu ia dengarkan saat ia kangen dengan Denis Soediro.
Ingatan Hana terlempar pada momen di mana Hana menangis saat menonton film tersebut bersama Ayah-nya. Hana yang masih anak ingusan. Terisak saat adegan Kerchak's, ayah gorilla Tarzan mati tertembak pemburu jahat. Kerchak's yang tidak pernah menganggap Tarzan ada, untuk pertama dan terakhir kalinya menyebut Tarzan sebagai anak lelakinya. Menitipkan semua anggota keluarga yang tersisa pada Tarzan. Dengan bangga mempercayai Tarzan.
"Why are you crying, Han?" tanya Denis.
"He loves him but it's too late, Yah," jawab Hana yang masih sesunggukkan.
Denis tersenyum lalu memeluk Hana.
"Enggak ada cinta yang terlambat. Apalagi kalau itu adalah sebuah cinta yang tulus," ucap Denis sambil memeluk Hana dengan tangan yang mengelus punggung Hana lembut.
"His dad's dead," ucap Hana menahan isaknya.
"Di dunia ini memang semua yang hidup akan mati, Sayang," ujar Denis memberi pengertian.
Mendengarnya, Hana malah lebih terisak sampai Denis bingung.
"Kenapa, Sayang?"
"Hana nggak mau Ayah dan Ibu pergi tinggalin Hana kayak Kerchak's tinggalin Tarzan," jawab Hana meraung.
Kala itu Denis tertawa mendengarnya lalu memeluk Hana erat.
"Ayah nggak akan kemana-mana. Persis sama seperti lirik lagu-nya Tarzan ini, Han," ucapnya.
Pertama kalinya mereka mendengarnya bersama.
For one so small
You seem so strong
My arms will hold you
Keep you safe and warm
This bond between us
Can't be broken
I will be here don't you cry
"You're not here anymore, Yah. Enggak lagi.
Ayah pergi. Bukan berarti Hana nggak ikhlas. Hana cuma rindu. Wish you're happy to see me from there," ucap Hana dengan airmata yang sudah tidak bisa ditahannya.
Tak pernah bisa ditahannya.
'Cause you'll be in my heart
Yes, you'll be in my heart
From this day on
Now and forever more
Hana mengusap tangisnya. "Mision called Arnold was failed. He is not you. Harusnya dari awal, Hana nggak mengharapkan seseorang untuk menggantikan Ayah. There's no one will be like you, Yah," ucap Hana.
Ia mendengus pelan dengan bibir tersenyum miris.
"Gimana nih? Apa Hana bisa menemukan lelaki yang bisa mencintai Hana minimal sama besarnya seperti Ayah?" gumam Hana mengingat ucapan Ibu-nya atas pesan terakhir ayahnya.
"Hana, you've got call from unknown number,"
ujar Siri menghentikan lantunan lagu.
"Pick up the phone, Siri," ujar Hana lalu telepon itu tersambung.
"Kirain nggak akan diangkat," Suara Reiga menggema di kamar Hana. Gadis itu terhenyak.
Reiga mengingat lelucon nomor yang disebutkannya satu kali dalam pikirannya tanpa aba-aba itu?
"Inget?"
Tawa Reiga terdengar.
"Ngeremehin daya ingat aku banget ya," canda Reiga.
Tanpa sadar Hana tersenyum.
"Lagi nangis ya?"
Hana terhenyak.
"Sok tahu!" bantah Hana.
Padahal Reiga melihatnya jauh dari sana. Jelas dari kedua matanya. Kalau sudah niat, Reiga memang bisa memaksimalkan kemampuannya sampai segitunya.
"Wish i'm there to hug you, Han," ucap Reiga.
"Dih! Modus! Lagian emangnya aku kenapa sampai harus dipeluk kamu!?" seru Hana masih membantahnya.
Reiga kembali terkekeh.
"Aku kira setelah kamu bilang kita bukan orang asing. Ada satu langkah maju dalam hubungan ini."
Hana melongo mendengarnya.
"Hubungan apa? Langkah maju apa? Mulai halu kan? Susah ya menepis pesona aku," ujar Hana balik meledek Reiga.
Sulit bagi Reiga menahan desakan hatinya untuk tidak tertawa.
"Iya nih. Aku nggak sehebat Arnold yang tahan sampai 4 tahun nggak jatuh cinta balik sama kamu."
Hana mendesis.
"Malah ngeledek! Aku matiin nih teleponnya."
"Yaudah matiin aja," lembut Reiga mengucapnya.
Hana malah tertegun mendengarnya. Ada rasa tak rela. Konyol sekali memang! Mungkin bukan karena orang yang berkata adalah Reiga. Atau karena hatinya yang mulai jatuh untuk Reiga. Mungkin karena hatinya sedih harus menerima fakta bahwa semua orang selalu mudah menyerah padanya. Sementara ia selalu memberikan hatinya sepenuh jiwa. Seutuhnya. Malang benar nasib Hana.
"Jangan salah paham dulu, Cantik," ucap Reiga membaca pikiran Hana.
Hana terperangah.
itu?" "Kamu bisa baca pikiran aku dari jarak sejauh
"Kalau lagi konsentrasi, iya."
"What the hell!" umpat Hana. "Nggak adil banget!" kesal Hana.
Reiga terkekeh.
"Matiin teleponnya. Ambil wudhu, sholat isya, terus doain Om Denis, dan pergi tidur. Udah malam. Besok ada kegiatan menguras tenaga pikiran serta jiwa kan?"
Hana mencibir.
"Sok tahu banget! Kegiatan menguras tenaga pikiran serta jiwa apanya. Aku cuma photoshoot sama big reading persiapan syuting film. Itupun syutingnya masih 3 bulan lagi," ucap Hana heran.
"Big reading-nya di kantor Arnold kan?"
Hana syok. Bagaimana Reiga bisa tahu?
"Kok tahu?"
"Apa sih yang aku nggak tahu? Suami kamu di masa depan aja aku tahu kok siapa? Sampai makanan favoritnya aku tahu. Mau aku kasih tahu juga nggak makanan favoritnya? Jadi bisa cari referensi resep yang enak dari sekarang kan," canda Reiga.
Bibir pria itu tersenyum lebar sekarang.
"Kalau dekat aku toyor nih," sebal Hana.
"Aku lebih tua 3 bulan dari kamu loh. Kualat nanti," ujar Reiga.
Hana hanya berdehem sewot.
"Sok ingetin orang sholat, kayak diri sendiri sholat aja," sinis Hana.
Bukan rahasia lagi, kalau banyak orang dalam circle-nya yang jarang ibadah. Agama hanya sampai pada ktp mereka.
"Lain kali jadi makmum aku deh biar bisa nilai sendiri," balas Reiga santai.
Hana sekali lagi mencibir. Sementara Reiga di sana tersenyum.
"Kamu telepon aku cuma untuk ajak aku berantem?"
"Emangnya kalau diajak nikah udah mau?"
"Reishard!"
Reiga tertawa.
"Aku juga nggak mau nikah sih. But keep this as our secret ya, Han."
Hana mulai tertarik.
"Wait, why?" tanyanya.
"Aku nggak yakin ada orang yang tahan hidup bareng aku seumur hidupnya," aku Reiga setengah jujur.
"Kenapa punya pemikiran begitu?"
"Karena aku ini gelas yang kosong, Han."
"Maksudnya?"
"Aku nggak tahu cara mencintai dengan benar.
Nggak pernah dicintai dengan benar juga. So i doubt about my own competence to love someone's right," jujur Reiga yang bingung mengapa bisa semudah itu membuka rahasia-rahasia kelamnya.
Hana diam. Kepalanya kembali memutar gambaran yang dikirim Reiga. Lagi-lagi hatinya jatuh kasihan.
"Emangnya mencintai yang benar itu gimana?"
"Nggak tahu."
"Kamu kan udah banyak baca pikiran orang. Kamu pasti lebih banyak pilihan jawaban atas pertanyaan ini kan?"
Reiga menghela napas.
"Kamu mungkin nggak akan percaya ini, tapi di setiap pikiran yang aku baca, cinta selalu tentang untung dan rugi," jawab Reiga.
Sekarang Hana paham mengapa Reiga begitu antipati dengan cinta sejati.
"Kalau aku gimana?"
Hana jadi ingin tahu pendapat Reiga mengenai dirinya.
"Apanya?"
"Pikiran aku. Menurut kamu gimana?"
Reiga diam sebentar.
"Yakin mau tahu?"
"Yakin."
"Yakin nggak akan menuduh aku modus kalau aku kasih tahu?"
"Hmmm..." Hana berdehem. "Udah buruan kasih tahu nggak!" ujar Hana tak sabar.
"Kamu cukup mengagetkan sih," tukas Reiga.
"Apanya?"
Hana jadi kian penasaran.
"Niat kamu selalu sama dengan apa yang tercetus di kepala kamu, Han. Hampir punah loh orang kayak kamu," ucap Reiga.
Hana terdiam. Bingung.
"Is that a normal thing?"
"No," jawab Reiga cepat.
"What!?"
Hana kaget akan kenyataan yang dikatakan Reiga.
"Pikiran manusia itu menyeramkan dan kelam lebih daripada yang kamu kira, Adrianne Hana," ucap Reiga.
"Polos dan naif banget sih kamu. Jadi makin pengen melindungi kan," Reiga sudah kembali menggoda Hana.
Hana berdecak.
"Mulai lagi deh! Belajar dari mana sih!?" ketus Hana.
"Brandon. Salah satu sahabat aku. Sahabatnya Niyo juga," jawab Reiga.
"Dih! Kenapa kasih tahunya jelas banget begitu?" sinis Hana.
Reiga tersenyum.
"Tuh, marah-marah lagi aja kan sama aku,"
keluh Reiga yang sebenarnya tidak mempermasalahkan sikap Hana. Yang justru sangat menarik baginya. Belum ada perempuan yang marah-marah dengannya.
"Tingkah kamu yang minta dimarahin, Reishard," ujar Hana membela diri.
"Tingkah aku yang mana?"
"Yang selalu godain aku!" tandas Hana cepat.
""
"Nah, diam kan!"
Tawa Reiga terdengar.
"Siapapun yang jadi suami kamu, dia pasti beruntung dan akan jadi manusia paling bahagia di muka bumi," ucap Reiga keluar konteks.
Dua pipi Hana bersemu merah mendengarnya.
Karena itu Hana memilih mengalihkan perasaan itu.
"Katanya udah tahu siapa suami aku? Kok masih ada kalimat siapapun yang jadi suami kamu," ujar Hana.
Reiga terkekeh.
"Karena sepertinya orang itu terlalu pengecut untuk tugas besar penuh tanggung jawab yang akan diemban seorang suami," jawab Reiga membicarakan dirinya sendiri.
Entah bagaimana hati Hana terenyuh. Sejak kapan ia tidak suka mendengar Reiga sedih?
"Then i will never married dong," ujar Hana.
"You will. Ada kemungkinan. Sama manusia yang paling kamu inginkan cintanya," sahut Reiga menanggapi ucapan asal Hana dengan serius.
Hana sampai terdiam.
"Reiga."
"Hana."
Mereka jadi saling memanggil.
"Aku nggak suka dengar kamu yang sok sedih kayak gini. Nggak cocok," ujar Hana.
Reiga tertegun. Hana yang belum genap 24 jam mengenalnya bisa se-peka itu dengan perasaan terselubungnya. Gadis ini memang beda.
"Jadi kamu lebih senang aku pura-pura bahagia?"
"Bukan gitu juga konsepnya, Rei!" sebal Hana geregetan.
Reiga tertawa.
"Sholat isya dulu sebelum kemalaman. Nanti takut sendiri terus jadi bablas isya menjelang subuh," ucap Reiga seakan tahu kebiasaan Hana.
"Kok bisa tahu?"
"Harus banget dijawab?"
"Kalau kita ketemu lagi, kamu harus jawab semua pertanyaan aku buat kamu!"
Hana serius ingin menggali kemampuan Reiga.
"Ajakan dating nih?" ledek Reiga.
"Aku tampar ya," sahut Hana.
Reiga tertawa.
"Sholat dulu ya. Aku telepon 10 menit dari sekarang. Jangan lupa doain ..."
"Aku nggak akan lupa doain Ayah aku sendiri, Rei!" potong Hana.
"Bukan itu terusannya, Han."
"Terus?"
Kening Hana mengerut. Reiga tersenyum kecil.
"Jangan lupa doain calon suami kamu ini," ujar Reiga yang membuat Hana melongo seketika karena tidak percaya ia telah menunggu sebuah gombalan picisan kurang kerjaan dari Reiga.
NUT! NUT! NUT!
Sambungan telepon itu diputuskan Hana sepihak. Reiga tersenyum geli. "Astaga, Reiga! Kenapa jadi senang gangguin Hana?" gumamnya sendiri.