Prabu, seorang pria yang dulunya penuh ambisi, kini tenggelam dalam depresi berat yang merenggut gairah hidupnya. Melihat kondisi sang putra yang kian memprihatinkan, ayahnya yang merupakan seorang pilot senior, merasa hanya ada satu orang yang mampu menarik Prabu keluar dari kegelapan: Xena.
Xena bukan sekadar wanita dari masa lalu yang pernah mengejar-ngejar Prabu saat SMA, ia kini adalah seorang dokter spesialis jiwa yang handal. Sang ayah yakin bahwa kombinasi antara keahlian medis dan ketulusan hati Xena adalah kunci kesembuhan Prabu.
Meski dipenuhi penolakan dan sikap dingin yang membeku, Prabu akhirnya menyerah pada desakan orang tuanya. Ia menyetujui pernikahan tersebut dengan satu syarat mutlak di kepalanya: pernikahan ini tak lebih dari sekadar sesi pengobatan.
Xena pun melangkah masuk ke dalam hidup Prabu, bukan lagi sebagai gadis remaja yang naif, melainkan sebagai penyembuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Sinar matahari pagi mulai menembus sela-sela gorden, menyinari sosok Xena yang masih meringkuk di lantai marmer.
Tubuhnya terasa kaku dan mati rasa.
Sayup-sayup, ia mendengar suara langkah kaki menuruni tangga.
Prabu berdiri di hadapannya. Wajahnya tampak datar, tanpa sisa kemarahan semalam, namun juga tanpa rasa bersalah.
Ia berlutut, menarik sumpalan kain dari mulut Xena, lalu dengan kasar membuka kaitan jaket pengikat itu.
Xena terbatuk, menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.
Ia mencoba duduk meski seluruh sendinya terasa nyeri.
Matanya yang sembap menatap selembar kertas yang tiba-tiba dilemparkan Prabu ke pangkuannya.
"Apa ini?" tanya Xena dengan suara serak, nyaris berbisik.
"Surat kontrak pernikahan kita. Baca dan lekas tanda tangan agar aku bisa mendapatkan rekomendasi medis darimu," jawab Prabu dingin. Ia berdiri sambil berkacak pinggang.
"Aku butuh lisensiku kembali. Aku harus terbang lagi, Xena. Menikahimu adalah syarat dari ayahku, dan sekarang aku sudah memenuhinya."
Xena membaca poin-poin di kertas itu dengan tangan gemetar.
Kontrak itu berisi larangan untuk mencampuri urusan pribadi masing-masing dan janji bahwa pernikahan ini akan berakhir segera setelah kondisi Prabu dianggap stabil oleh otoritas penerbangan.
Xena mendongak, menatap tajam ke arah suaminya.
"Pra, kamu belum bisa mengemudikan pesawat dalam keadaan seperti ini. Kamu membahayakan penumpangmu!"
"Jangan sok tahu! Aku merasa sudah baik-baik saja!" bentak Prabu.
"Secara fisik mungkin iya, tapi jiwamu masih di sana, di lokasi kecelakaan itu!" Xena bangkit berdiri meski harus berpegangan pada pinggiran meja.
"Depresi mayor dengan fitur psikotik bukan sesuatu yang hilang hanya karena kamu sudah makan dan mandi. Kamu masih berhalusinasi, kamu masih emosional. Sebagai doktermu, aku tidak akan pernah menandatangani surat apa pun yang membiarkanmu memegang kemudi pesawat saat ini."
Prabu maju selangkah, memangkas jarak di antara mereka. Matanya berkilat penuh ancaman.
"Jadi itu rencanamu? Menahanku di rumah ini agar kamu bisa terus berperan sebagai istri?"
"Rencanaku adalah menyembuhkanmu, Prabu! Bukan membiarkanmu melakukan bunuh diri massal di udara!" jawab Xena tegas, meskipun hatinya hancur melihat pria yang ia cintai kini menganggapnya sebagai musuh terbesar dalam hidupnya.
Prabu menatap Xena dengan seringai meremehkan, seolah ingin menantang seluruh ilmu medis yang dimiliki istrinya.
"Oke. Mari kita taruhan di pagi hari ini, Dokter Xena yang terhormat. Kalau aku bisa membuktikan aku sudah stabil, kamu harus tanda tangan dan mengembalikan lisensi terbangku," tantangnya dengan nada angkuh.
Xena hanya menatapnya tenang. "Setuju. Taruhannya sederhana. Kamu cukup berdiri di sana dan dengarkan aku."
Xena kemudian mengambil ponselnya, memutar suara rekaman yang menyerupai deru mesin pesawat dan bunyi alarm darurat—suara yang sangat akrab bagi seorang pilot.
Baru beberapa detik suara itu menggema, perubahan drastis terjadi pada Prabu.
Wajah angkuh itu seketika pias. Sorot matanya yang tajam berubah menjadi liar dan penuh ketakutan.
Prabu mundur beberapa langkah hingga menabrak dinding, tangannya gemetar hebat mencoba menutupi telinganya.
Napasnya tersengal, persis seperti orang yang tercekik.
"Matikan. Xena, matikan!" rintih Prabu, tubuhnya merosot ke lantai.
Bayangan kecelakaan itu kembali menghantamnya tanpa ampun.
Xena segera mematikan suara itu dan menghampiri Prabu.
Ia berlutut di hadapan suaminya, menahan tangan Prabu yang terus gemetar.
"Kamu belum sembuh, Pra! Lihat diri kamu sekarang. Suara itu adalah rutinitasmu di kokpit, tapi sekarang suara itu adalah monster bagimu. Bagaimana kamu bisa membawa ratusan nyawa kalau jiwamu sendiri masih terperangkap dalam trauma?"
Prabu terdiam, keringat dingin membanjiri pelipisnya.
Ia tidak lagi bisa membantah. Egonya runtuh seketika di hadapan realitas kondisinya sendiri.
"Minum ini dulu," ucap Xena sambil menyodorkan obat penenang dosis ringan.
Prabu menerimanya tanpa perlawanan, tangannya masih sedikit bergetar saat memasukkan obat itu ke mulutnya.
"Istirahatlah di sini sebentar. Aku akan buatkan sesuatu untuk menenangkan perutmu," lanjut Xena pelan.
Xena bangkit dan melangkah menuju dapur. Ia mengeluarkan mesin pengolah kacang dan bahan-bahan organik yang sudah ia siapkan sebelumnya.
Dengan telaten, ia mulai membuat susu kedelai organik hangat—minuman yang kaya akan triptofan untuk membantu memicu hormon kebahagiaan di otak Prabu.
Di tengah suara mesin dapur yang halus, Xena meneteskan air mata yang sejak tadi ia tahan.
Ia tahu, perjuangannya baru saja dimulai. Ia tidak hanya sedang menghadapi seorang suami yang membencinya, tapi juga sedang berperang melawan trauma besar yang mencengkeram erat pria yang ia cintai.
Baru saja Xena meletakkan segelas susu kedelai hangat di atas meja, suara bel pintu terdengar.
Xena bergegas membukanya dan terkejut mendapati Ayah Prabu sudah berdiri di sana dengan raut wajah cemas.
"Ayah? Pagi sekali sudah ke sini," sapa Xena mencoba tersenyum sealami mungkin.
Namun, langkah Ayah Prabu terhenti tepat di ambang pintu.
Tatapannya tertuju pada perban yang menempel di kening Xena.
Ekspresi wajahnya seketika berubah menjadi tegas dan penuh selidik.
Beliau melangkah masuk, melewati Xena, dan langsung menatap Prabu yang masih terduduk lemas di sofa ruang tamu.
"Xena, kenapa keningmu itu?" tanya Ayah Prabu dengan suara berat yang menahan amarah.
Beliau menoleh ke arah putranya. "Prabu! Apa kamu yang melakukannya? Jawab Ayah!"
Prabu hanya diam, menunduk sambil meremas gelas kosong di tangannya.
Ia tidak membela diri, namun juga tidak membenarkan.
Melihat ketegangan itu, Xena segera berdiri di antara mereka.
Ia memegang lengan Ayah Prabu dengan lembut, mencoba meredam suasana yang mulai memanas.
"Bukan, Yah. Mas Prabu tidak melakukan apa-apa," ucap Xena dengan suara yang sangat meyakinkan.
Ia menggelengkan kepalanya perlahan, menatap Ayah mertuanya dengan tulus.
"Lalu kenapa bisa luka begitu? Ayah tahu Prabu sedang tidak stabil, tapi bukan berarti dia bisa kasar padamu!"
"Xena kemarin terjatuh, Yah. Lantainya agak licin karena Xena terburu-buru menyiapkan obat, jadi kepala Xena terbentur sudut meja. Bukan Mas Prabu," bohong Xena demi melindungi suaminya.
Xena melirik sekilas ke arah Prabu. Pria itu tampak tersentak mendengar pembelaan Xena. Ada kilatan aneh di matanya—mungkin rasa heran atau sedikit rasa bersalah—karena wanita yang baru saja ia siksa semalam justru kini menjadi tameng baginya di depan sang Ayah.
"Kamu yakin, Nak? Jangan menutupi kesalahannya hanya karena kamu istrinya," Ayah Prabu memastikan sekali lagi, matanya masih menatap tajam ke arah Prabu.
"Yakin, Yah. Mas Prabu justru yang menolong Xena tadi," tambah Xena sambil tersenyum tipis, meski hatinya terasa perih karena kebohongan yang ia buat demi menjaga martabat pria yang bahkan tidak menginginkannya itu.
Ayah Prabu menghela napas panjang, tampaknya sedikit luluh oleh penjelasan Xena meski sorot matanya masih menyimpan keraguan.
Beliau meletakkan beberapa kantong berisi sarapan hangat di atas meja makan—bubur ayam favorit dan beberapa kudapan tradisional.
"Ayah bawakan sarapan untuk kalian. Makanlah, setidaknya isi tenaga kalian untuk menghadapi hari ini," ucap beliau sambil menarik kursi.
Suasana hening sejenak saat mereka duduk bersama, meski Prabu hanya diam membisu sambil mengaduk bubur di depannya tanpa selera.
Ayah Prabu kemudian menatap Xena dengan serius.
"Xena, Ayah tahu kondisi Prabu tidak mudah. Menikahkan kalian adalah usaha terakhir Ayah agar dia punya sandaran. Tapi melihat kalian seperti ini, Ayah jadi bertanya-tanya. Apa rencana kamu selanjutnya, Xen? Bagaimana kamu akan menangani anak nakal ini?"
Xena terdiam sejenak, melirik Prabu yang tetap memalingkan wajah.
Ia menarik napas panjang, memantapkan keyakinannya.
"Xena sudah memikirkan ini matang-matang, Yah," jawab Xena dengan suara lembut namun tegas.
"Xena akan mengajak Mas Prabu ke suatu tempat. Tempat di mana hanya ada kami berdua, jauh dari hiruk-pikuk kota dan bayang-bayang pekerjaannya. Tempat itu akan menjadi ruang pemulihan untuk Mas Prabu."
Prabu tiba-tiba menghentikan gerakan sendoknya. Ia mendongak, menatap Xena dengan dahi berkerut.
"Apa? Ke mana kamu mau membawaku? Jangan konyol, Xena!"
Xena tidak menghiraukan protes suaminya. Ia tetap menatap Ayah mertuanya.
"Di sana, Xena bisa memantau terapinya secara intensif tanpa gangguan. Dia butuh berdamai dengan dirinya sendiri sebelum bisa kembali ke masyarakat, apalagi kembali terbang. Xena ingin Mas Prabu fokus hanya pada kesembuhannya."
Ayah Prabu tampak menimbang-nimbang, lalu perlahan sebuah senyuman muncul di wajahnya yang mulai renta. Beliau menepuk punggung tangan Xena.
"Ayah serahkan Prabu sepenuhnya padamu, Xena. Ayah percaya padamu. Lakukan apa pun yang menurutmu terbaik untuknya. Jika itu artinya kalian harus mengasingkan diri, Ayah akan siapkan segala kebutuhannya."
Di seberang meja, Prabu mengepalkan tangannya di bawah meja.
Ia merasa seperti tawanan yang sedang dipindahkan ke penjara lain, namun di balik amarahnya, ada rasa penasaran yang samar tentang tempat yang dimaksud Xena—tempat yang diklaim bisa menyembuhkan kegelapan di jiwanya.
wwkwkwkwk
gemes bgt sama nie orang dech
hahahahaha
ketawa jahat ini🤭
nanti kalau bucin Kutendang dari pesawat🤣