NovelToon NovelToon
Suamiku Dokter Dewa

Suamiku Dokter Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Penyelamat / Epik Petualangan
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Sayap perak

Alvian Wira. Di panggung internasional, dunia mengenalnya sebagai Hades, Dokter Dewa, karena kemampuan medisnya luar biasa. Tapi setelah kembali ke Indonesia, dia hanya seorang dokter umum biasa yang mendirikan sebuah klinik kecil di pinggir kota.

Konflik kepemilikan tanah membawanya ke sebuah pernikahan dengan anak direktur rumah sakit terkenal, Clarissa Amartya. Dokter SpJP yang hanya ingin fokus dengan karirnya, tapi dipaksa menikah dengan ancaman mencabut izin prakteknya.

Clarissa yang dingin seperti kulkas, Alvian yang pecicilan dan suka menggoda. Dua kepribadian tinggal bersama, perlahan menumbuhkan perasaan.

Namun, ketika perasaan itu mulai tumbuh, masalah datang silih berganti, hingga mengungkap kebenaran tentang masa lalu Alvian. Tentang siapa dia sebenarnya, dan alasan kenapa dia menyembunyikan semuanya.

Apakah Clarissa bersedia menerima Alvian? Terlebih setelah mengetahui jika Alvian yang ia kenal selama ini, hanyalah topeng untuk menutupi identitas dan masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sayap perak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 : Penyelidikan BPOM

Jum'at, jam 13.15. Langit sedikit mendung tapi panasnya masih menyengat. Mbak Sari baru saja datang. Dia izin setengah hari karena keluarga suaminya berkunjung dari kampung.

Dia masuk. Udara sejuk yang datang dari atas pintu membuatnya mendongak. Matanya menyipit dengan ekspresi terkejut.

"Dok, baru pasang AC?"

Alvian yang sedang memeriksa pasien berhenti sejenak dan menoleh ke Mbak Sari.

"Bagaimana? Dingin tidak AC-nya?"

Mbak Sari mengangguk-angguk, mengangkat tangannya seolah tak ingin pergi dari sana.

"Dingin, Dok. Enak. Lebih kerasa segarnya daripada kipas yang lama. Tidak bising pula, buat orang pusing."

"Bising-bising begitu juga ada sejarahnya. Mbak Sari nih, tidak bisa menghargai. Kita itu jadi manusia tidak boleh lupa yang sudah menemani dari awal hanya karena ada yang baru. Paham, kan, Mbak?" ucap Alvian panjang lebar, dengan nada sok bijak.

Mbak Sari kembali mengangguk-angguk tetapi pada saat yang sama dia juga mendesis. "Paham. Memang cuma Dokter yang paling tahu cara menghargai."

"..."

"Omong-omong, Dok. AC nya beli di mana? Sepertinya itu model yang terbaru."

Setelah selesai memeriksa pasien Alvian duduk di kursi resepsionis, sambil menyeruput kopi. Dia mengedikkan bahu.

"Tidak tahu. Bukan saya yang beli."

"Lha, kok gitu?"

"Saya mana ada uang buat beli AC. Istri yang beli, ini, notanya masih di sini."

Mengetahui Clarissa yang membelikan AC membuat Mbak Sari semakin penasaran. Dia melihat nota pembelian tersebut, dan memang benar ada tanda tangan Dok Clarissa di bagian bawahnya.

"Saya tidak sangka Dok Clarissa sangat royal. Baru datang sekali, sudah kirim AC ke sini. Mungkin kasihan melihat di klinik hanya ada kipas yang ngos-ngosan."

"Istri saya memang baik. Cuma galak, sama judes dikit." Alvian tersenyum, menyombongkan diri.

Tepat saat itu, pintu klinik terbuka. Dua orang masuk mengenakan batik, dengan ID Card BPOM RI.

"Selamat pagi, kami dari BPOM. Betul ini Klinik Aditya Medika, dokter penanggung jawab dr. Alvian Wira?"

Alvian berdiri, memasang ekspresi bingung sambil menatap kedua petugas itu bergantian. "Betul, saya sendiri. Silakan duduk.

Sambil mempersilakan Alvian meminta Mbak Sari ke belakang buatkan minuman.

Mbak Sari tampak agak gugup. Dia segera pergi ke belakang.

Salah satu petugas BPOM tunjukkan ID-nya. "Saya Dimas. Ini rekan saya, Rani. Kami mau konfirmasi terkait laporan obat palsu di RS Harapan Kita."

"Oh... iya, Pak. Silakan. Saya juga mendengar kasus ini dari istri." Alvian duduk lagi. Tangannya di atas meja, keliatan santai.

Sementara Pak Dimas membuka map dan meletakkannya di meja. "Kami dapat data pasien atas nama Sariyem, 35 tahun. Dapat kapsul biru-putih tanpa merek dari UGD RS Harapan Kita tanggal 16 Mei. Beliau staf di sini, benar?"

Mbak Sari balik membawa 2 gelas teh. Taruh, tangannya gemetar. "Itu saya, Pak."

"Boleh kami minta keterangan, Bu? Nggak lama, paling cuma lima sampai sepuluh menit."

Alvian menepuk kursi plastik di sebelahnya. Berkata, "Tenang saja, Mbak. Jawab saja yang jujur. Mereka tidak gigit, kok."

Celetukan Alvian berhasil membuat Mbak Sari tertawa. Dua petugas BPOM juga tertawa, tapi tak sampai keluar suara dan mereka fokus mengajukan pertanyaan.

Mbak Sari pun diminta cerita kronologi bagaimana akhirnya mendapatkan obat kapsul "probiotik". Dia juga cerita tentang situasinya setelah minum satu kapsul, yang membuatnya didiagnosis diare akut.

"..."

Pak Dimas selesai mencatat. Perhatiannya kini beralih ke Alvian. "Dokter Alvian, Anda yang pertama bilang ke Bu Sari kalau obatnya mencurigakan. Boleh tau alasannya?"

Alvian terdiam beberapa saat. Menggaruk kepala, menatap ke langit-langit.

"Waduh, Pak. Itu cuma feeling. Saya dokter umum yang setiap hari pegang obat. Probiotik biasanya sachet, atau tablet kunyah. Kapsul polos seperti itu... jarang. Lalu warnanya biru-putih. Mirip permen. Ya saya was-was jadinya." Alvian tertawa. "Namanya juga jaga-jaga, Pak. Sedia payung sebelum hujan."

Pak Dimas manggut-manggut. "Insting dokter memang beda ya. Oh ya, Dok. Istri Anda, dr. Clarissa Amartya, SpJP di RS Sentral Nusantara?"

"Benar. Pak Dimas kenal istri saya?"

"Beliau yang meneruskan laporan Bu Sariyem ke saya. Gerak cepat. Efisien." Pak Dimas menjabat tangan Alvian. "Negara butuh dokter seperti Anda berdua."

Alvian tersenyum. "Ah, bisa aja Bapak. Saya hanya dokter batuk pilek. Yang hebat istri saya," ucapnya.

Pak Dimas masih memperhatikan Alvian. Diam sebentar, lanjut bicara. "Ngomong-ngomong, Dok. Kami kemarin malam dapat kiriman email anonim. Jam 21.20, dari warnet Blok M. Isinya sangat detail, dari ciri suster, sampai gudang B2. Berkat email itu kami langsung sidak. Suster tersebut sudah kami tahan."

Tujuannya jelas. Dia ingin melihat bagaimana reaksi Alvian ketika mendengarnya. Namun tak sesuai bayangan, Alvian masih terlihat tenang seperti hal tersebut benar-benar tidak berhubungan dengannya.

"Wah... hebat ya warga +62. Gercep." Alvian seruput kopi sampai habis. "Saya aja baru mendengarnya tadi pagi dari istri saya."

Pak Dimas masih bergeming. Dua detik, kemudian bangkit dari kursi sambil tertawa. "Ha-ha-ha-ha... Memang hebat ya warga. Jika terus seperti ini tugas saya mungkin akan lebih ringan."

"Baik, Dok. Kami rasa sudah cukup. Ini kartu nama saya. Kalau ada info lagi, hubungi ya. Gratis kok, tidak pakai pulsa."

Pak Dimas pergi meski matanya sibuk melihat-lihat keadaan klinik.

"Dok... Dokter tadi pucat."

Alvian menatap Mbak Sari. "Masa sih? Perasaan aku glowing." Tangannya kipas-kipas pakai buku. "Udah ah, Mbak. Lanjut kerja. Sebentar lagi mungkin ada pasien yang datang."

Mbak Sari manggut, tapi masih menatap Alvian aneh.

__

RS Sentral Nusantara. Ruang Rapat Direksi lantai 3.

Rapat bukan sembarang rapat. Itu adalah rapat gabungan yang dihadiri Direksi RS Harapan Kita, RS Sentral Nusantara, BPOM, dan Dinas Kesehatan.

Clarissa duduk paling ujung. Mengenakan jas dokter, rambut digelung, masker turun di dagu.

Direktur RS Harapan Kita, dr. Heru menjelaskan dengan menyesal. "Kami benar-benar kecolongan. Suster itu masuk melalui outsourcing. Baru 3 bulan, SK-nya juga dipalsukan."

Pak Dimas meletakkan catatan di tangannya, meminta semua menatap layar proyektor.

"Ini pola yang sama seperti 3 tahun lalu di Papua. Mereka menyusup sebagai paramedis, main di UGD, buat pasien panik hingga tak pikir mengecek obat."

Direktur RS Sentral, dr. Hendra Amartya ikut bersuara. "Masalahnya, kita masih belum tahu siapa yang suplai obatnya. Suster bernama Siska jelas hanya sebagai kurir. Dia hanya ambil barang, lalu dapat upah."

"Benar. Jika yang suplai tidak segera ditangani, akan ada Siska Siska lain yang menyebabkan lebih banyak korban," ucap petugas Dinkes, mengikuti perkataan Hendra.

Satu ruangan tidak ada yang bicara. Clarissa mengangkat tangan. "Prof, saya ada data. Pasien anak Dito, 7 tahun. Trombosit normal, tapi dikasih kapsul. Artinya target mereka bukan cuma pasien lambung. Kemungkinan random, asal bisa masukin barang."

Semua orang mengangguk paham. Pak Dimas lalu mengungkit e-mail anonim, tiba-tiba memuji Alvian yang mampu mengetahui obat palsu tersebut dalam satu kali lihat.

Beberapa dokter saling memandang. Dokter Heru, Direktur Rumah Sakit Harapan Kita mengetuk pena di samping tangan Hendra. "Pak Direktur, kamu punya menantu yang lumayan."

Masih ada petugas Dinkes yang juga ikut memuji Alvian. Membuat Hendra tersenyum dan merasa puas di dalam hatinya.

"Sepertinya keputusanku saat itu sudah tepat."

__

Rapat berakhir jam lima sore. Clarissa keluar dari ruangan berniat kembali ke IGD, tapi saat itu Pak Dimas menyusulnya dan kembali membahas Alvian.

"Sebelum rapat saya sempat datang ke kliniknya buat minta keterangan karyawannya, Bu Sari. Kami berbincang cukup lama, dan saya merasa dia dokter yang santai dan suka bercanda."

"Dia memang seperti itu. Hampir tidak pernah serius," ucap Clarissa.

Pak Dimas tertawa dengan suara rendah. "Tapi kamu tahu tidak, saat saya sebut e-mail anonim, tidak banyak, tapi saya liat, tangan kirinya meremas jempol di bawah meja."

Clarissa diam. Kepalanya mengingat kejadian tadi pagi ketika dia juga berusaha mengetahui reaksi Alvian. "Itu tidak mungkin. Bisa saja dia gugup karena didatangi petugas BPOM."

"Yah. Itu mungkin. Tapi ... Bagaimana jika dia takut karena alasan lain?" Pak Dimas menepuk bahu Clarissa. "Hati-hati, Dok. Kalau ada apa-apa, telpon saya. Nomor saya 24 jam untuk menerima pengaduan."

Clarissa memandang punggung Pak Dimas yang semakin menjauh. Dia langsung buka HP, ingin tanya Alvian sekali lagi, tapi baru beberapa kata sudah dihapusnya kembali.

"Tidak. Jika benar dia yang buat pesan anonim itu, tidak ada alasan untuk menyembunyikannya. Lagipula, dengan sifatnya, sudah pasti sudah berlagak ke mana-mana."

Clarissa mematikan HP, menyimpannya ke dalam saku, kembali ke IGD.

1
Agos Widodo
mulai dapat musuh ini🤣🤣🤣🤣
Joni Walinton Butarbutar
mantap
Joni Walinton Butarbutar
keren
irawan muhdi
lanjut 🙏
Aang Reza
leng shui kapan di novelkan tor?
Teh Gelas: Dre*ame.. tanpa bintang. Judulnya "Kembalinya Sang Legenda" - Berbayar, sudah tamat.
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!