NovelToon NovelToon
ALUNA : Transmigrasi Cegil

ALUNA : Transmigrasi Cegil

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem / Teen / Transmigrasi
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: Dhanvi Hrieya

𝐀𝐥𝐮𝐧𝐚 𝐂𝐚𝐥𝐢𝐬𝐭𝐚 nyaris mati tenggelam dan saat matanya terbuka, ia mulai menyadari jika dunianya yang sekarang hanyalah dunia novel fiksi. Ia terbangun sebagai karakter figuran dalam sebuah novel 𝚝𝚑𝚛𝚒𝚕𝚕𝚎𝚛-𝚛𝚘𝚖𝚊𝚗𝚌𝚎 yang pernah ia bacanya. Sialnya lagi, Aluna bukan siapa-siapa hanya pemeran kecil yang dikenal sebagai biang kerusuhan. Tapi apa jadinya saat ia mulai menyadari, ulah kecilnya mengacaukan alur cerita?
Dalam usahanya untuk memperbaiki kesalahan dan bertahan hidup di dunia yang bukan miliknya, Aluna justru menarik perhatian empat karakter pria berbahaya. 𝐆𝐚𝐯𝐢𝐧𝐨, si obsesif yang tak bisa membedakan cinta dan obsesi. 𝐊𝐚𝐢, si manipulatif yang pandai bermain peran. 𝐉𝐚𝐲𝐝𝐞𝐧, si red flag yang sulit ditebak-beracun tapi memikat. Dan 𝐒𝐞𝐛𝐚𝐬𝐭𝐢𝐚𝐧, ketua geng motor yang haus kendali. Dunia novel mulai runtuh. Alur cerita berubah liar. Aluna jadi buruan. Kini, hanya ada dua pilihan: kabur atau menghadapi mereka satu per satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhanvi Hrieya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11| Diam-diam Tergoda

Suara pantulan high heels mengudara mendekat ke arah mereka terdengar samar di sela tawa Kai yang mengalun, Aluna melirik ke arah gadis bergaun biru laut yang mengerutkan dahinya saat ia sampai di sisi Aluna. Atensinya melirik Kai dan Aluna bergilir, tawa Kai mereda ia membuang muka. Karina gelisah di pesta tanpa Aluna memutuskan untuk menyusulnya ke toilet, siapa sangka ia menemukan Aluna tak jauh dari toilet khusus untuk para tamu.

"Kalian ngapain berdiri di sini?" tanya Karina, kedua matanya tampak memicing menatap Kai curiga, "lo lagi nggak ngapa-ngapain besti gue 'kan Kai?"

Kai mendengus mendengar tudingan Karina, Kai dan ketiga sahabatnya sangat tidak menyukai gadis bermata rubah didepannya ini.

"Keknya bukan urusan lo deh," tukas deep voice Kai tak senang.

Mata Karina melotot bibirnya terbuka telapak tangannya digenggam, Aluna menggeleng sekilas saat mata mereka bersirobok.

"Kita balik ke aula pesta aja Na, Kai mah nggak penting buat diladenin," sela Aluna sebelum tangannya menarik tangan Karina menjauh dari Kai.

Bibir Kai terbuka lebar tanpa suara, hanya memperhatikan Aluna dan Karina semakin menjauh dari posisinya berdiri. Decakan sebal mengalun tapi saat tangannya terangkat dan didekatkan ke indera penciumannya, kelopak mata Kai tertutup ia menyesap aroma parfum yang tertinggal di tangannya kala ia meremas kedua sisi bahu Aluna.

"Hm..., wanginya," gumam Kai dengan intonasi nada rendah dan serak.

...***...

Pesta ulang tahun ke-17 berjalan sukses, kini yang tersisa hanyalah acara bebas yang diperuntukkan untuk para remaja yang hadir. Sementara para orang dewasa tampaknya telah menyingkir dari aula, mereka tak begitu menyukai suara bising dari musik yang mengalun.

Segelas minuman diulurkan ke arah Sebastian, pria jangkung dengan wajah datar itu menerimanya dengan ekspresi serius.

"Lo yakin soal itu?" Deep voice Gavino mengalun, bersamaan dengan musik DJ yang ikut menggema.

Sebastian menyesap perlahan minumnya, dan mengangguk. "Yeah..., lumayan yakin. Gue kira dia nggak seburuk apa yang kita duga," balasnya setelah meneguk minuman di tangannya.

Ekspresi Gavino tampak tenang, ia bersandar di pilar bangunan. Manik mata hazelnya mengedar, hanya untuk mencari satu sosok yang berada di tengah-tengah tamu pesta. Gadis polos yang ia gilai tampaknya telah berganti dari gaun mahal ke baju maid, melayani teman-temannya dengan senyuman lembut. Gadis itu sangat amat berati bagi Gavino, tidak peduli bagaimana kedua orang tuanya bereaksi menolak Zea—putri pembantu di mansion mereka.

Bagi Gavino status itu hanya omong kosong belaka, yang ia inginkan adalah Zea terlepas dari status Zea di keluarganya. Tidak seorang pun yang boleh menganggu Zea, gadis dengan aroma mawar lembut itu akan selalu ada di genggaman tangannya.

Sebastian ikut melirik ke mana arah pandang mata Gavino—sahabatnya, tatapan mata Sebastian tampak rumit saat mata Zea bersitatap dengan matanya. Ada getaran tak terduga di antara mereka, Sebastian lebih dahulu membuang muka. Memilih melirik minuman yang ia pegang.

"Gimana sama Jayden?" Gavino masih menatap Zea yang kini tersenyum lebar untuknya di sebarang sana.

Garis senyum di bibi Gavino ikut tertarik tinggi ke atas, merasa tak ada sahutan dari Sebastian. Gavino melongok ke samping, Sebastian terlihat tak fokus. Merasa ditatap dengan intens, Sebastian mengerut dahinya.

"Apa?" tanya Sebastian balik.

Gavino menggeleng, "Pikiran sama badan lo nggak sinkron, huh!"

Sebastian meneguk air liur di kerongkongannya, ia meletakkan kembali gelas di atas meja tepat di belakang tubuhnya. Bibir merah Sebastian terbuka, panggilan dari arah lain menghentikan laju perkataannya. Dua gadis remaja kini mendekat ke arah Gavino dan Sebastian, Gavino berdecak tak suka.

"Sorry banget nih, gue rasa gue harus balik udah malam banget. Gue balik sama Karina ya, Bas!" seru Aluna tampak mengandeng tangan Karina.

Karina berbinar menatap Gavino dari dekat, Gavino membalas tatapan memuja dari Karina dengan tatapan jijik. Sayangnya sorot mata jijik yang Gavino layangkan tidak memberikan pengaruh apapun pada Karina, ia malah semakin merasa terobsesi untuk menaklukkan Gavino.

"Gue juga udah mau balik, lo berangkat sama gue. Baliknya harus sama gue juga dong, apa kata Nyokap sama Bokap lo kalo sampek lo baliknya malah sama Karina bukan gue," tolak Sebastian tegas, ia meraih tangan Aluna menggenggamnya.

Aluna tertegun dengan sentuhan telapak tangan besar yang membuat telapak tangannya tampak mungil saat digenggam erat, Karina melepaskan tangan Aluna dengan senyum menggoda.

"Ya udah deh kalo gitu, lo balik aja sama Sebastian," sela Karina ceria, tak lupa mengedipkan sebelah matanya pada Aluna dengan tatapan mata genit.

"Gue sama Aluna cabut duluan, Gav!" seru Sebastian, ia melangkah lebih dahulu setelah mendapat anggukan persetujuan dari Gavino—pemilik pesta.

Lagi-lagi keduanya mendapat sorotan dari puluhan pasang mata, tidak ada yang berani mengklarifikasi hubungan yang terjalin di antara keduanya. Masih menjadi tanya tanya di pikiran banyak orang, Sebastian melewati Zea begitu saja tanpa basa-basi. Aluna merasa tatapan tajam tak kasat mata, seakan-akan siap mencabik-cabik Aluna menjadi beberapa bagian. Tatapan mata berapi-api serat akan kebencian mendalam, genggam hangat Sebastian menariknya semakin menjauh dari kerumunan.

'Gue rasa gue mulai jadi sasaran banyak orang, idup hedon bin tenang milik gue buat ngejauh dari semua tokoh penting ini novel keknya kandas sudah.' Keluh Aluna dalam diam, memasang ekspresi nelangsa di sela langkah kakinya dan Sebastian.

...***...

Laju mobil perlahan memelan saat berhenti tepat di depan mansion milik keluarga angkat Aluna, mesin mobil di matikan. Sebastian menoleh ke samping mendapati gadis bergaun hitam itu memejamkan mata dengan damai, manik mata hitam dingin milik Sebastian tanpa ia sadari menatap wajah Aluna lebih dekat dengan saksama. Aroma harum dari parfum samar-samar tercium, Sebastian mencondongkan tubuhnya ke arah kursi Aluna.

Cantik dan menggoda.

Dua kata yang terbersit di otak Sebastian saat mengamati wajah Aluna hingga turun di bibir merah cherry yang tampak berminyak dan berkilau, semburan napas hangat menerpa wajah Aluna. Aluna masih tenggelam dalam mimpi indahnya, gadis bibirnya naik dengan mata terpejam. Bulu mata Sebastian berkibar, jakunnya bergulir naik-turun saat ujung hidungnya terbentur wajah Aluna.

GLEK!

Susah payah Sebastian meneguk air liurnya, pupil matanya melebar degup jantungnya bertalu-talu saat ia sadari tindakan tak senonoh yang hampir ia lakukan. Sebastian memundurkan tubuhnya ke belakang, wajahnya memanas. Warna merah menjalar naik ke daun telinga Sebastian.

"Ugh..., brengsek." Maki Sebastian tangannya bergerak mengusap wajahnya yang memerah dengan kasar.

Mata Sebastian kembali tertuju pada wajah cantik Aluna yang masih tak terganggu, ada yang salah dengan gadis di sampingnya ini. Seakan-akan ada magnet tersendiri yang menyedot tindakan tak sadar Sebastian, ia bukan pria yang berpikir mesum. Anehnya, untuk pertama kalinya seakan ada bisikan setan yang berbisik lembut agar ia mengecup bibir ranum Aluna yang tengah tertidur.

"Sialan, kenapa gue jadi semesum Kai," monolog Sebastian kesal.

Suara erangan serak dan gerakan tubuh Aluna yang mencari posisi nyaman untuk tidur menyentak Sebastian yang tengah bergulat dengan pemikirannya, kepala Sebastian menggeleng kuat-kuat.

Tangannya bergerak cepat mendorong bahu Aluna ke samping dengan keras, Aluna melenguh kesal karena tidurnya terganggu.

"Bangun, udah nyampek rumah lo. Gue harus balik." Sebastian mengeraskan suaranya tanpa melirik ke samping.

Aluna menguap tangannya menggosok kedua kelopak matanya, ia sama sekali tak sadar kapan ia terlelap. Ia menoleh ke samping dengan mata memerah, dahinya berkerut samar-samar mendapati daun telinga Sebastian memerah.

"Baru nyampek?" tanya Aluna serak.

"Ya, turun gih!" Sebastian masih melirik ke luar.

Aluna bergumam tak jelas, ia meraih tasnya dan membuka pintu mobil. Bunyi suara pintu ditutup mengalihkan pandangan mata Sebastian kembali ke arah kursi kosong, ia mendesah resah.

"Kayaknya gue benar-benar udah nggak waras," kata Sebastian, telapak tangannya terangkat menyentuh dadanya.

Suara debaran jantung yang keras masih dapat ia dengar, ia menggeleng menolak pemikiran aneh yang berkecamuk di otaknya. Tangannya kembali menghidupkan mesin mobil, ia harus segera pulang dan berendam air dingin untuk memulihkan gejolak panas yang bergelora.

1
Jessica Elvira Aulia
lanjut🙏
Dhanvi Hrieya: 🫶🏻🫶🏻❤️❤️❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!