Christian sudah menyukai Maya sejak lama—gadis manja, pemarah, dan tertutup yang selalu menjauh darinya.
Sementara itu, Chris adalah kebalikan dari semua yang Maya benci. Pria urakan, berisik, mesum, dan terlalu bebas.
Chris selalu mengejar Maya. Bahkan sampai menunda kelulusannya hanya untuk tetap berada di dekat gadis itu.
Awalnya, Maya menganggap Chris gangguan. Seseorang yang tak pernah ia anggap serius.
Tapi perlahan, perhatian yang tak pernah hilang itu mulai melemahkan pertahanannya.
Sampai tanpa sadar, Maya jatuh cinta.
Namun saat perasaan itu akhirnya saling terbalas, kenyataan justru datang menghantam mereka. Perbedaan keyakinan membuat cinta mereka… mustahil.
Sekarang Chris harus memilih, melawan segalanya atau kehilangan Maya untuk selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eliana Rovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 23. hanya ingin diakui
Chris menyodorkan tangannya, mengisyaratkan Maya untuk mengikutinya menaiki tangga spiral besi yang berada di pojok bangunan kos. “Ayo, aku mau tunjukin sesuatu,” katanya sambil tersenyum penuh rahasia.
Maya sempat ragu, menatap ke arah lorong sempit menuju tangga yang tampak gelap dan sunyi. Bayangan dinding tampak mengintimidasi, dan aroma lembap bercampur bau besi tua tercium samar.
“Chris… ini gelap banget,” gumamnya pelan, Maya semakin mengeratkan genggamannya di pergelangan tangan Chris.
“Tunggu,” ucap Chris, lalu ia merogoh sakunya dan menyalakan senter dari ponselnya. "Hati-hati. Jalan pelan-pelan saja."
Dengan langkah ragu, Maya mengikuti. Setiap anak tangga yang dilaluinya berderit pelan, menambah kesan menyeramkan. Tapi Chris tak henti menoleh ke belakang, memastikan Maya baik-baik saja.
"Apa masih lama?"
"Sabar, May." Chris mengusung senyum tipis seraya masih memimpin ke depan.
"Kenapa harus ke sini, sih? Aku nggak suka tempat yang gelap," ucap Maya dengan raut wajah masam karena Chris memaksanya untuk terus mengikutinya. Chris hanya tertawa renyah.
"Ish! Nggak ada yang lucu!" Maya merasa kesal saat ia mendengar suara tawa Chris.
"Iya, maaf Honey. Habisnya selain galak, ternyata kamu sangat penakut," ucap Chris santai, masih berusaha menahan tawa yang begitu sulit ia hentikan.
Maya mencubit lengan Chris, tetapi tidak memberikan efek apapun kepada lelaki itu.
"Hampir sampai, May. Udah, jangan marah lagi, oke?" Chris berganti meraih tangan Maya, lalu menggenggamnya lembut penuh kasih sayang.
Begitu sampai di puncak, Chris membuka engsel pintu besi kecil menuju rooftop dan membukanya lebar-lebar. Hembusan angin malam langsung menyambut wajah mereka. Maya berhenti sejenak di ambang pintu, napasnya terhenti oleh pemandangan yang terbentang di hadapannya.
"Gimana?" tanya Chris, sukses membuat Maya terpana untuk waktu yang lama.
“Ya ampun…” bisiknya takjub.
Langit malam Yogyakarta tampak jernih, dengan gugusan bintang yang bersinar terang seperti bertaburan gula kristal di atas beludru hitam. Bintang-bintang tampak begitu dekat, seolah bisa dijangkau hanya dengan mengangkat tangan. Di kejauhan, siluet kota terlihat tenang, lampu-lampunya redup membaur dalam damai. Keindahan yang jarang Maya lihat.
“Indah banget, Chris.” Maya menoleh padanya dengan mata berbinar. “Aku nggak nyangka pemandangan kayak gini ada di atas kos kamu.”
Chris tersenyum kecil, menatap wajah Maya yang terpukau. "Aku sering ke sini kalau lagi penat. Tempat paling tenang buat mikir, atau cuma duduk sambil lihat bintang. Aku tahu kamu akan menyukainya." Chris sambil kembali menggandeng tangan Maya untuk duduk di sebuah papan yang menyerupai tempat tidur.
Maya pasrah dan masih takjub dengan pemandangan yang ada di hadapannya saat ini. Ia merasa telah terduduk, dengan mata masih terangkat lurus ke atas. Maya begitu setia memandangi bintang-bintang itu, dan tanpa sadar, ia telah membaringkan tubuhnya di papan itu. Saat itulah tiba-tiba Maya merasakan sesuatu bergerak di sampingnya.
"Nggak boleh! Kamu cuma boleh duduk di bawah!" Maya memekik saat Chris berniat untuk ikut berbaring di sampingnya.
"Kenapa nggak boleh?" tanya Chris sok polos.
"Pokoknya nggak boleh! Kamu tetap di bawah!"
Chris memutar matanya jengah. Dengan malas, ia kembali turun dari papan kayu dan duduk di lantai. Chris kemudian mengeluarkan rokok dari dalam saku jaketnya.
Setelah beberapa saat mereka duduk diam menikmati semilir angin malam dan gemerlap bintang di langit, Maya akhirnya angkat bicara.
“Chris?” katanya sambil menunduk, jemarinya meremas ujung baju.
"Hm?" Chris tidak menoleh, ia masih memainkan puntung rokok di tangannya. Ia ingin sekali menghisapnya, tetapi tahu Maya sangat sensitif dengan asap rokok.
"Aku ke sini karena bingung." Maya menarik napas dalam, menahan gejolak emosi di dadanya. "Ayah meminta ku untuk segera menikah. Namanya Reza. Anak dari rekan bisnis ayah. Aku bahkan belum pernah ketemu orangnya. Tapi ayah bilang... ini semua demi masa depanku. Menurut mu, aku harus apa?"
Chris menghentikan permainannya. Wajahnya yang sebelumnya santai, kini berubah serius.
"Kalau begitu ya.. menikah saja," ucap Chris kaku.
"Ish! Aku nggak mau menikah dengan orang yang tidak aku kenal!" Maya menatap Chris dengan kesal.
Chris terdiam untuk sementara waktu.
Maya melanjutkan, “Aku nggak suka cara seperti itu. Aku nggak pengin hidupku ditentukan oleh siapapun.”
Suasana terasa tegang seketika. Maya menatap ke depan, berharap tidak ada air mata yang tumpah. Chris menoleh lalu membalas tatapan gadis cantik yang kini telah duduk di belakangnya. Dan Chris berkata..
“Menikahlah denganku.”
DEG!
Maya tersentak. Terkejut dan merasakan debaran asing di jantungnya. Maya menoleh cepat ke arah Chris. “Apa maksud mu?”
Chris tetap menatapnya, tenang namun serius. “Menikahlah denganku, Maya.”
Maya terdiam dan berusaha melihat apa maksud ucapan Chris lewat mata lelaki itu. Namun Maya tidak bisa membaca pikiran Chris. Suasana berubah menjadi canggung dan Maya tidak menyukainya.
"Ish! Jangan bercanda!" Maya berubah gugup. Ia berusaha bangkit dan kembali berdiri seraya berkata, "A- aku mau pulang. Anterin aku pulang!"
Maya berjalan kembali ke arah pintu. Tetapi langkahnya harus terhenti karena ucapan Chris kepadanya.
"Satu setengah bulan lagi aku akan sidang." Chris berdiri dan berjalan menghampiri Maya dengan tatapan mata yang masih dan hanya terpusat ke arah gadis itu. "Setelah itu, aku mungkin akan kembali ke Jakarta."
Maya merasakan dirinya sulit untuk bernafas. "Ke- kembali ke Jakarta?"
Chris mengangguk. "Ayah meminta ku untuk kembali dan ikut membantu proyek jangka panjang dengan salah satu perusahaan konstruksi disana yang saat ini sedang dibangun bersama oleh ayahku."
Maya menyentuh dadanya. Rasa sakit di dadanya tiba-tiba kembali di rasakan olehnya, setelah hampir satu tahun ini tak lagi kambuh.
Maya menatap langit yang bertabur bintang, namun pikirannya kembali ke masa lalu, saat semuanya berubah. Ia mengingat dengan jelas hari itu, di lapangan sekolah, ketika pelajaran olahraga berlangsung seperti biasa. Usianya baru dua belas tahun, duduk di bangku kelas enam SD, dan sedang bermain voli bersama teman-temannya. Suasana riuh, penuh tawa dan semangat, tapi tubuhnya tiba-tiba melemah.
Bola baru saja dipukul ke arahnya, namun belum sempat ia mengangkat tangan, pandangannya mengabur, tubuhnya limbung, dan semuanya menggelap.
Ketika Maya terbangun, ia sudah berada di ranjang rumah sakit. Selang infus menancap di tangannya, dan wajah kedua orang tuanya terlihat pucat dan panik. Sejak itulah, dokter mendiagnosis bahwa Maya memiliki kondisi jantung lemah. Penyakit yang sama di derita oleh neneknya.
Sejak saat itu, hidup Maya berubah. Keluarganya, terutama ayah dan kakaknya, menjadi jauh lebih protektif. Maya yang dulunya bebas berlarian dan mengikuti berbagai kegiatan sekolah, perlahan dikekang oleh kekhawatiran. Ia tidak boleh ikut kegiatan yang terlalu melelahkan, tidak boleh stress, tidak boleh pulang terlalu malam, dan yang paling menyebalkan baginya, ia tidak boleh merasa sedih terlalu dalam.
Keluarganya menyayanginya, Maya tahu itu. Tapi kasih sayang yang berlebihan sering kali berubah menjadi belenggu. Ia mulai diperlakukan seperti barang rapuh yang bisa pecah kapan saja. Setiap keputusan yang ia buat selalu diawasi, setiap langkahnya selalu dipertanyakan. Ia tidak pernah merasa benar-benar diberi kepercayaan.
Dari situlah muncul keinginan Maya untuk membuktikan bahwa ia bisa kuat, bisa mandiri. Tapi semakin ia mencoba menunjukkan dirinya tangguh, semakin keluarganya menariknya kembali dalam kepompong perlindungan mereka. Dan itulah yang membuatnya sering berselisih dengan ayahnya dan Lia. Maya benci dengan segala sikap protektif berlebihan padanya. Mereka mengira Maya keras kepala. Padahal Maya hanya ingin diakui.