NovelToon NovelToon
Pernikahan Yang Tidak Diinginkan

Pernikahan Yang Tidak Diinginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Maullll

"Pernikahan yang Tidak Diinginkan" bercerita tentang Kirana Putri, seorang wanita muda yang cantik dan berhati lembut, yang terpaksa harus menikah dengan Arga Wijaya, seorang pengusaha sukses yang terkenal dingin, tegas, dan tak tersentuh.

Pernikahan ini bukanlah hasil dari cinta, melainkan sebuah perjanjian bisnis dan kewajiban keluarga untuk menyelamatkan perusahaan ayah Kirana dari kebangkrutan. Bagi Arga, pernikahan ini hanyalah formalitas dan cara untuk memenuhi keinginan orang tuanya, sementara bagi Kirana, ini adalah pengorbanan besar demi keluarganya.

Sejak hari pertama, rumah tangga mereka dipenuhi dengan kebekuan. Mereka hidup satu atap layaknya dua orang asing—saling menghormati tapi jauh dari kata dekat, sering bertengkar karena salah paham, dan masing-masing menyimpan perasaan terpaksa.

Namun, seiring berjalannya waktu, di tengah sikap dingin dan pertengkaran, benih-benih perhatian mulai tumbuh perlahan. Mereka mulai melihat sisi lain dari satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maullll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7 Sandiwara yang Melelahkan

Pagi itu, suasana di meja makan terasa sangat berbeda. Ratu sudah duduk dengan wajah ceria, menanti kedua anaknya turun. Ketika Arga dan Kirana muncul berbarengan dari tangga, senyum Ratu semakin lebar.

"Wah, pagi-pagi sudah terlihat serasi sekali kalian ini," goda Ratu sambil terkekeh. "Ayo duduk, Mama sudah siapkan sarapan spesial."

Arga duduk di kursi kepala meja dengan wajah datar seperti biasa, berusaha menyembunyikan rasa canggung yang masih membekas di hatinya. Sementara Kirana duduk di sebelahnya dengan wajah yang masih sedikit merona, tidak berani menatap mata suaminya bahkan untuk sedetik pun.

Setiap kali Kirana mengingat bagaimana ia tidur nyenyak dalam pelukan pria itu semalam, pipinya terasa panas membara. Dan setiap kali Arga mengingat betapa lembutnya tubuh wanita itu di dalam genggamannya, ia merasa harus minum air putih satu gelas penuh untuk menetralkan detak jantungnya yang tiba-tiba jadi tidak beraturan.

"Makan yang banyak ya, Ran. Kamu kurusan, lho. Arga, kamu harus sering ajak istri kamu makan enak," celetuk Ratu sambil menyendukkan nasi ke piring Kirana.

"Iya, Ma," jawab mereka berdua serempak, lalu saling melirik cepat karena kaget dengan keserempakan itu, sebelum buru-buru membuang muka masing-masing.

Ratu yang melihat interaksi canggung itu justru semakin tersenyum bahagia. "Wah, masih malu-malu nih kayaknya. Lucu deh kalian. Padahal kan sudah suami istri sah."

Kirana semakin menunduk, makanannya rasanya jadi sulit ditelan karena rasa malu yang luar biasa. Arga hanya berdeham keras, lalu mengambil koran dan membacanya dengan serius seolah itu adalah hal paling penting di dunia saat ini, demi menghindari tatapan ibunya.

Setelah sarapan, Ratu mengajak Kirana berkeliling taman belakang sambil mengobrol santai. Arga yang tadinya ingin ke ruang kerja akhirnya memutuskan untuk ikut duduk di teras, entah kenapa ia merasa tidak tega membiarkan Kirana sendirian, atau mungkin ia hanya ingin memastikan istrinya tidak mengatakan hal aneh pada ibunya.

"Ran, Mama mau tanya sesuatu ya..." Ratu memulai pembicaraan dengan nada lembut sambil memetik sekuntum bunga mawar.

"Apa, Ma?" tanya Kirana hati-hati.

"Arga... dia sudah pernah menyakiti hati kamu atau kasar sama kamu nggak, sih? Jujur sama Mama, jangan takut," tanya Ratu dengan tatapan tajam namun penuh perhatian.

Kirana tersentak. Ia menoleh sekilas ke arah Arga yang sedang pura-pura main HP tapi sebenarnya telinganya terpasang baik mendengarkan.

"Enggak kok, Ma. Arga... baik banget. Dia selalu hormat sama aku, dan nggak pernah kasar sama sekali," jawab Kirana jujur pada satu sisi. Arga memang dingin, tapi dia tidak pernah main tangan atau memaki dengan kata-kata kotor.

Ratu menghela napas lega. "Syukurlah kalau begitu. Mama tahu anak Mama itu orangnya pendiam dan dingin, dia tipe orang yang susah banget nunjukin rasa sayang lewat kata-kata. Tapi Mama yakin, di dalam hatinya dia sayang banget sama kamu. Cuma caranya aja yang unik."

Kirana hanya bisa tersenyum kecut. Sayang? Sepertinya kata itu tidak ada dalam kamus hidup Arga Wijaya untuk dirinya, batinnya berpikir sedih.

"Arga itu dulu anak yang sangat periang dan ceria, lho," tiba-tiba Ratu bercerita lagi. Matanya menerawang jauh, seolah mengingat masa lalu.

Kirana dan Arga sama-sama menoleh kaget.

"Dulu?" tanya Kirana pelan.

"Iya. Dulu waktu kecil sampai remaja, Arga itu anak yang sangat humoris, suka bercanda, dan sangat penyayang. Tapi semenjak... kejadian itu," Ratu berhenti sejenak, menatap putranya dengan wajah sendu, "semenjak dia kehilangan orang yang sangat dia sayang dulu, dia berubah total. Menjadi dingin, tertutup, dan susah sekali percaya sama orang lain."

Kirana menelan ludah. Kejadian apa? Orang yang disayang? Apakah ini berkaitan dengan masa lalu yang dilarang Arga untuk ditanyakan?

Ia melirik Arga. Pria itu kini menunduk, rahangnya mengeras, tangannya mengepal kuat di saku celana. Terlihat jelas bahwa pembicaraan ini menyentuh luka lama yang sangat perih baginya.

"Mama..." suara Arga terdengar serak, mencoba menghentikan cerita ibunya.

"Tapi Mama yakin, Kirana," Ratu memegang tangan Kirana erat-erat. "Kamu adalah obat untuk luka di hati dia. Kamu wanita yang baik, lembut, dan sabar. Mama yakin pelan-pelan kamu bisa mencairkan es yang membeku di hati anak Mama ini. Tolong ya, Nak, sabar menghadapi dia."

Permintaan itu terdengar begitu tulus dan memilukan. Kirana merasa dadanya sesak. Ia menatap wajah Arga yang kini terlihat begitu suram dan menyedihkan. Ternyata, di balik kesuksesan dan kekerasannya, ada trauma masa lalu yang begitu dalam.

"Iya, Ma. Aku janji akan selalu sabar dan berusaha menjadi istri yang baik untuk Arga," jawab Kirana tegas, meski hatinya bergemuruh.

Ratu tersenyum lebar dan memeluk Kirana. "Terima kasih, Nak. Mama sangat bahima punya menantu sebaik kamu."

Sore harinya, Ratu memaksa mereka berdua untuk pergi jalan-jalan keluar.

"Udah lama kan kalian nggak kencan? Ayo pergi makan malam romantis berdua! Mama di rumah saja nggak apa-apa," seru Ratu mendorong-dorong tubuh Arga ke arah garasi.

"Ma, kan kita baru saja..." Arga mencoba menolak, tapi ibunya sudah memotong.

"Udah jangan banyak alasan! Ayo sana! Ini perintah Mama!"

Akhirnya, dengan berat hati, Arga masuk ke dalam mobilnya. Kirana pun dengan patuh masuk ke kursi penumpang. Suasana di dalam mobil kembali hening dan kaku setelah kepergian Ratu.

"Kamu mau makan di mana?" tanya Arga memecah kebisuan, matanya fokus menyetir.

"Terserah Arga saja. Aku ikut," jawab Kirana singkat.

Arga menghela napas pendek. "Jangan gitu dong. Kita kan lagi 'kencan' kata Mama. Pura-puranya harus totalitas, Kirana."

Kalimat itu menyakitkan. Pura-pura. Ya, memang semua ini hanyalah sandiwara belaka.

"Aku tahu," jawab Kirana datar. "Kalau begitu ke restoran seafood saja, yang tidak terlalu formal."

Akhirnya mereka berhenti di sebuah restoran kelas atas namun dengan suasana yang cukup santai. Arga memesan meja di sudut agar lebih privat.

Saat makan malam berlangsung, anehnya percakapan mereka mulai mengalir lebih lancar. Mungkin karena suasana di luar rumah, atau mungkin karena mereka sudah terlalu lelah berpura-pura menjadi orang asing.

"Kamu... tidak benci Mama kan?" tanya Arga tiba-tiba saat mereka sedang menikmati hidangan penutup.

Kirana menggeleng. "Tidak. Mama baik sekali. Sangat penyayang dan ramah. Aku justru senang bisa dekat sama Mama."

Arga menatap wajah istrinya itu lekat-lekat. Di bawah cahaya lampu restoran yang remang, wajah Kirana terlihat sangat cantik dan teduh.

"Terima kasih," ucap Arga pelan, hampir tak terdengar.

Kirana mengerjap, tidak menyangka akan mendengar ucapan itu. "Hah? Untuk apa?"

"Sudah bersikap baik. Sudah mau main peran ini dengan sungguh-sungguh. Dan... sudah mau mendengarkan cerita Mama tadi," jawab Arga, matanya menatap gelas di hadapannya, tidak berani menatap Kirana. "Maaf soal masa laluku. Aku bukan bermaksud menyembunyikan sesuatu yang buruk darimu. Cuma... itu terlalu menyakitkan untuk diingat dan diceritakan."

Untuk pertama kalinya, Kirana melihat sisi rapuh dari pria yang selalu terlihat kuat dan tak terkalahkan ini. Rasa kesal dan dingin yang selama ini ia simpan perlahan luntur, digantikan oleh rasa iba dan ingin mengerti.

"Aku mengerti, Arga," jawab Kirana lembut. "Tidak perlu diceritakan kalau belum siap. Aku tidak akan memaksa. Kita jalanin saja hari ini, ya?"

Arga mendongak, menatap mata Kirana. Ada kedamaian di sana yang tidak pernah ia temukan di tempat lain. Untuk sesaat, waktu seakan berhenti. Arga merasa ada dorongan kuat untuk meraih tangan wanita itu di atas meja, untuk mengatakan bahwa mungkin pernikahan ini bukanlah kesalahan terbesar dalam hidupnya.

Namun, ego dan tembok tinggi yang ia bangun selama bertahun-tahun terlalu kuat untuk dirobohkan hanya dalam satu malam.

Arga menarik napas panjang, lalu kembali memasang topeng dinginnya. Meskipun begitu, suaranya terdengar lebih lunak dari biasanya.

"Makasih, Kirana. Kamu... wanita yang luar biasa sabar."

Malam itu, saat perjalanan pulang, tidak ada lagi percakapan panjang. Tapi ada sesuatu yang berbeda di udara. Jarak di antara mereka terasa tidak sejauh dulu. Dan untuk pertama kalinya, Kirana bisa tertidur di dalam mobil dengan tenang, merasa aman meski di sampingnya adalah pria yang awalnya ia takuti.

Sandiwara ini memang melelahkan, tapi entah mengapa... mulai terasa sedikit menyenangkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!