Di selamatkan oleh iblis saat nyaris di lecehkan oleh para bandit, seorang gadis kini harus menghadapi kenyataan kelam. ia bebas dari ancaman manusia, namun kini takdirnya terikat pada penghuni neraka. kontrak telah di tandatangani, dan meski iblis itu menjadi pelindungnya, harga yang harus di bayar jauh lebih besar dari sekedar nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DewaC1nta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31. Kesembilan Iblis (bagian kedua)
"Kau begitu terburu-buru, Zhao Yun," sambung iblis bertubuh paling besar di antara mereka. Jemari pucatnya mengetuk-ngetuk permukaan meja panjang dengan ritme yang lambat, kontras dengan ukuran tubuhnya yang raksasa. "Bukankah kau membawa sesuatu yang sangat berharga di balik jubahmu itu?"
Mendengar ucapan iblis besar tersebut, iblis berkepala dua tersenyum menyeringai lebar, memperlihatkan deretan taringnya yang mengerikan.
Suasana di dalam ruangan seketika berubah menjadi sangat mencekam. Tekanan dari iblis bertubuh paling besar itu terasa bagai gunung yang siap runtuh menimpa Zhao Yun. Sembilan iblis kini menatap punggung Zhao Yun dengan pandangan lapar, seolah-olah mereka siap mencabik-cabik pemuda itu jika ia salah memberikan jawaban.
Zhao Yun memejamkan mata sesaat, mengatur napas dan detak jantungnya agar tidak menunjukkan kepanikan. Di bawah tekanan aura purba yang begitu menindas, ia perlahan membalikkan sedikit tubuhnya, namun tetap menjaga jarak aman di dekat pintu keluar.
"Kalian salah paham, para Tetua," sahut Zhao Yun, suaranya diatur sedatar dan setenang mungkin, meskipun tangannya yang mencengkeram gelang giok di balik jubah mulai basah oleh keringat dingin. "Sesuatu yang berharga yang dimaksud... mungkin adalah sisa energi spiritual dari Lembah Seribu Bunga yang melekat pada pakaianku. Aku baru saja terlibat bentrokan dengan salah satu ahli tenaga dalam di dunia manusia."
Zhao Yun menutup kalimatnya dengan seulas senyuman tipis, mencoba mengalihkan perhatian Dewan Iblis. Namun, mereka sama sekali tidak terpengaruh oleh muslihat kecilnya dan tetap memasang ekspresi menyelidik yang tajam.
Selama beberapa saat, suasana di dalam ruangan berubah menjadi sangat mencekam. Keheningan itu baru terpecah ketika salah seorang iblis perlahan bangkit dari kursinya. Penampilannya tidak semenakutkan iblis yang lain; tubuhnya tampak seperti manusia normal, bahkan memiliki lekuk tubuh yang sempurna untuk seorang wanita. Dia adalah iblis yang tidak mengandalkan kekuatan brutal, melainkan pesona dan keanggunan yang mematikan. Namun, meski mengandalkan daya pikat sebagai senjatanya, siapa pun yang terjerat oleh pesonanya dipastikan akan berakhir dengan nasib yang tak kalah mengerikan.
"Zhao Yun...tampaknya kamu sedang membutuhkan sesuatu, apa aku bisa membantumu?" ucap iblis wanita itu dengan nada lembut. ia berjalan mendekati Zhao Yun dengan langkah kaki yang sengaja di buat meliuk menggoda.
Aroma harum bunga Krisan yang manis namun beracun seketika merebak di antara mereka, mengikis hawa belerang yang pekat di dalam ruangan. Jubah sutra tipisnya yang berwarna merah darah berdesir halus di atas lantai batu, menciptakan ketegangan baru yang berbeda dari intimidasi fisik para iblis pria sebelumnya.
Zhao Yun tetap bergeming di tempatnya berdiri, namun seluruh indranya seketika menegang. Iblis wanita ini adalah Li Mei, sang Ratu Ilusi Asmara. Di balik wajah cantiknya yang tanpa cela, ia adalah makhluk paling manipulatif di dunia bawah yang gemar mengisap esensi kehidupan korbannya hingga mereka menjadi mayat kering.
Li Mei menghentikan langkahnya tepat di hadapan Zhao Yun. Jarak mereka begitu dekat hingga napasnya yang hangat bisa dirasakan oleh pemuda itu. Dengan gerakan yang sangat lentik, jemarinya yang berkuku panjang berwarna hitam perlahan terangkat, membelai halus rahang tegas Zhao Yun sebelum bergerak turun ke arah dada, lalu perlahan menelusuri lengan jubah tempat Zhao Yun menyembunyikan gelang giok tersebut.
"Suaramu terdengar bergetar, Anak Muda," bisik Li Mei, sepasang matanya yang berkilat ungu menatap lurus ke dalam manik mata Zhao Yun, mencoba menembus dinding pertahanan mentalnya melalui sihir pemikat. "Dan detak jantungmu... berpacu terlalu cepat untuk seorang utusan yang hanya bertemu dengan ahli tenaga dalam biasa. Katakan padaku, apa yang sebenarnya kau sembunyikan di balik kain hitam ini?"
Jantung Zhao Yun memang berdegup kencang, bukan karena terpesona, melainkan karena ia tahu jari-jari Li Mei hanya tinggal beberapa senti lagi dari potongan Gelang giok kuno.
Diam-diam, Zhao Yun mengerahkan energi sihirnya untuk melenyapkan wujud gelang giok di tangannya ke dalam dimensi penyimpanan, tepat sebelum jemari Li Mei meraih benda itu. Setelah memastikan pusaka tersebut aman, secara spontan ia langsung menangkap pergelangan tangan Li Mei.
"Apa maksud Tetua Li Mei dengan kata 'menyembunyikan'? Aku... mana berani menyembunyikan rahasia dari para master di neraka ini," ucap Zhao Yun, mencoba menyunggingkan senyuman tipis dan hambar demi mencairkan ketegangan sekaligus mengalihkan perhatian wanita itu.
...****************...