NovelToon NovelToon
Istri Tanpa Sentuhan Pewaris Adinata

Istri Tanpa Sentuhan Pewaris Adinata

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:13k
Nilai: 5
Nama Author: najwa aini

Shafiya Elara Hanum, namanya. Ia tidak pernah menyangka hidupnya akan berakhir dalam sebuah pernikahan dengan pria yang tak pernah benar-benar menjadi suaminya.




Ia adalah putri seorang kiai.
Dibesarkan dengan kehormatan dan batasan.
Namun satu kesalahan yang tidak ia lakukan, telah merenggut segalanya. Pernikahannya batal. Nama baik keluarganya ikut hancur, dan ia pun terseret ke dalam ikatan dengan SAGARA ADINATA.
Pewaris tunggal keluarga Adinata.
Seorang pria yang dingin. Tegas. Dan tidak percaya pada pernikahan.




Mereka menikah tanpa cinta.
Tanpa keinginan. Tanpa sentuhan.
Namun satu hal mengikat mereka--Seorang anak yang tumbuh di rahim Shafiya…
anak yang bahkan tidak pernah mereka rencanakan.




Di balik hubungan yang datar dan penuh jarak, rahasia demi rahasia mulai terkuak.
Dan perlahan, batas yang mereka jaga mulai goyah.



Mampukah mereka bertahan dalam pernikahan yang bukan hanya sekedar kesepakatan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 Bidikan Lensa Jadi Berita.

Department store itu belum terlalu ramai karena masih hari kerja. Dan justru karena itu Shafiya memilih belanja di tempat ini. Bukan di pusat perbelanjaan Adinata yang tak jauh dari sana.

Musik pelan mengalun samar di antara deretan rak dan pencahayaan putih yang terang. Winda mendorong troli di belakang, sementara Shafiya berjalan pelan di bagian perlengkapan muslimah.

Tangannya beberapa kali menyentuh bahan mukena yang tergantung rapi. Memilih dengan teliti. Tidak terlalu mahal. Tapi nyaman dipakai. Warna-warnanya juga lembut. Tidak mencolok.

“Yang ini bagus, Nona.” Winda menunjukkan satu mukena berwarna dusty olive.

Shafiya memperhatikan sebentar lalu mengangguk kecil. “Iya. Bahannya adem.”

Mukena itu dimasukkan ke troli.

Di sisi lain ada beberapa sajadah lipat dengan motif sederhana. Shafiya memilih satu per satu sendiri. Sesekali bertanya pendapat Winda. Kadang tersenyum kecil saat menemukan warna yang cocok dipadukan dengan jilbab yang sudah dipilih sebelumnya.

Agam hanya mengikuti dari belakang. Tidak banyak ikut campur. Tapi pandangannya beberapa kali jatuh ke arah Shafiya.

Perempuan itu terlihat jauh lebih hidup dibanding beberapa hari terakhir.

Tidak banyak diam.

Tidak terlihat menahan sesuatu terlalu dalam. Dan itu cukup membuat Agam mengerti kenapa tempat seperti pondok tadi begitu berarti untuknya.

“Sepuluh cukup, Nona?” tanya Winda sambil mulai menghitung isi troli.

Shafiya mengangguk. “Iya. Untuk teman-teman mengajar dan beberapa pengurus.”

“Cantik-cantik semua pilihannya,” puji Winda tulus.

Shafiya tersenyum kecil. “Mereka pasti suka warna yang lembut.”

Agam memperhatikan lagi troli yang mulai penuh. Mukena. Sajadah. Jilbab. Tidak ada barang mewah. Semuanya sederhana. Tapi dipilih dengan perhatian.

Sementara di lantai berbeda pusat perbelanjaan itu, seseorang tanpa sengaja menangkap keberadaan mereka.

Awalnya hanya karena mengenali Agam.

Namun beberapa menit kemudian, perhatian itu bergeser pada perempuan di sampingnya.

Dan laporan kecil tentang kebersamaan mereka itu… akhirnya bergerak ke arah yang lebih jauh.

"Mas Agam, ini sudah dibayar semua?" Shafiya menunjuk troli belanjaannya yang sudah penuh.

Baru saja ia mengantri di depan kasir untuk membayar. Ternyata semua itu sudah dibayar lebih dulu oleh Agam. Hanya dengan sekali gesek kartu kredit. Sedangkan Shafiya masih sibuk menghitung uang dalam tas.

"Iya, biar cepat."

"Berapa nomor rekeningnya, Mas Agam. Saya tf ya." Shafiya mengambil ponsel.

Agam menggeleng. "Tidak perlu."

"Yang niat memberi itu saya. Kalau pakai uangnya Mas Agam, nanti pahalanya bukan ke saya." Wajah itu menampakkan senyum lembut.

"Saya minta ganti ke Sagara nanti uangnya," kata Agam asal.

Shafiya menggeleng. "Tidak. Saya akan pakai uang saya pribadi. Mas Sagara belum ada kewajiban menafkahi saya."

"Kenapa?"

"Karena saya tidak berperan sepenuhnya sebagai istri."

Agam diam. Untuk pemahaman seperti ini ia memang tak cukup punya pengetahuan.

Sebenarnya, sejak akad itu sah, kewajiban nafkah memang sudah berada di tangan suami. Tidak bergantung pada seberapa dekat hubungan mereka. Juga tidak menunggu sampai seorang istri “berperan sempurna” lebih dulu.

Dalam syariat, nafkah adalah tanggung jawab yang lahir bersama akad itu sendiri.

Namun apa yang dipahami Shafiya tidak sepenuhnya lahir dari pemahaman secara hukum. Tapi dari cara ia menempatkan dirinya sendiri.

Sejak awal, pernikahan itu terjadi di luar rencana. Ia hadir di hidup Sagara dengan keadaan yang bahkan sampai hari ini masih sulit ia pahami sepenuhnya. Dan di dalam posisi seperti itu, Shafiya selalu merasa dirinya belum benar-benar menjalankan peran sebagai istri sebagaimana mestinya.

Bukan karena menolak. Tapi karena menjaga batas yang ia yakini.

Ia tidak ingin mengambil lebih banyak hak… di saat ia sendiri merasa belum mampu memberi banyak hal sebagai pasangan.

Dan cara berpikir seperti itu, sering kali lahir bukan dari kurangnya ilmu. Tapi dari terlalu besarnya rasa sungkan dan kehati-hatian hati seseorang.

-

Sepuluh hampers itu sudah memenuhi bagasi mobil. Mereka mengerjakannya bersama-sama. Agam dan Shafiya juga ikut membawa barang belanjaan tersebut dari dept store.

Kompak. Terlihat dekat. Sesekali diselingi canda tawa hangat. Dan itu menjadi bidikan empuk lensa kamera yang kemudian diteruskan ke pusat.

"Ini kita langsung ke pondok?"

tanya Agam begitu mobil mulai melaju dari area parkir tempat perbelanjaan.

"Iya, Mas."

...

...

Di Adinata Holding.

Ruang kerja Sagara dipenuhi suasana formal yang terlalu tenang untuk disebut nyaman. Berkas proyek Research Development International Hub terbuka di atas meja. Beberapa halaman sudah diberi tanda. Diagram kerja sama internasional. Skema investasi. Jalur pengembangan kampus dan rumah sakit pendidikan yang nantinya akan saling terhubung di bawah Adinata International University.

*tentang proyek Research Development International Hub, Dan Ravendra Adinata, telah dijelaskan dalam buku: Cinta Di Balik Kontrak Dosa Dan Pahala. Bab 20. Boleh di lihat kesana, jika ingin dapat pemahaman yang lebih utuh tentang part ini.*

Ravendra Adinata duduk bersandar. Chairman of the Board of Trustees Universitas Adinata International itu menatap sekilas pada berkas di depannya sebelum kembali pada Sagara.

“Jadi akhirnya dicairkan juga.”

Senyumnya mengembang samar. Tapi jelas bukan hanya senyum biasa.

Sagara pernah membekukan dana proyek besutan Ravendra itu karena beberapa alasan. Termasuk di antaranya faktor personal. Dimana Ravendra mengusik proyek inseminasi Ariana--perempuan yang dipilih untuk mengandung anaknya.

Peringatan halus diberikan Sagara untuk Ravendra atas aksinya itu. Dan sekarang ia memilih membuka proyek itu lagi, juga atas dasar beberapa alasan.

Sagara menjawab tenang. “Evaluasi internal selesai.”

“Cepat.” Ravendra kembali tersenyum samar. “Kupikir kamu akan membekukannya lebih lama.”

“Menahan proyek sebesar ini terlalu lama bukan keputusan cerdas.”

Ravendra mengangguk kecil. Ia tahu jawaban seperti itu memang akan keluar dari Sagara. Dingin. Terukur. Sulit dibaca mana yang benar-benar bisnis dan mana yang urusan personal.

"Tidak serta merta?" tebak Ravendra.

"Pasti." Sagara tak berkilah.

“Lalu, apa syaratnya?” tanya Ravendra.

“Kendali tetap di pusat.” Sagara menjawab tanpa jeda. “Semua alur dana, kerja sama luar negeri, dan pengambilan keputusan strategis langsung lewat central board.”

Sudut bibir Ravendra bergerak tipis. “Artinya, semua tetap di tanganmu.”

“Artinya semua lebih terkontrol.” Sagara mengoreksi ucapan itu.

Sunyi sebentar jatuh di antara mereka.

Ravendra membuka halaman lain. “Beberapa partner lama mungkin tidak suka.”

“Kalau keberatan, keluar saja.”

Jawaban itu terlalu tenang untuk ukuran ancaman. Namun justru itu yang membuatnya terasa nyata.

Ravendra tertawa pendek. “Kamu memang tidak berubah.”

Tatapan Sagara tetap lurus. “Dan itu alasan perusahaan ini masih berdiri sejauh ini.”

Kalimat itu membuat Ravendra diam beberapa detik lebih lama.

Namun tak lama kemudian ponsel di tangan Ravendra menyala. Satu pesan masuk.

Ravendra membacanya cepat. Pesan yang disertai beberapa foto. Dan itu sangat menarik perhatiannya.

Ia memperbesar foto itu sebentar.

Kini terlihat jelas, itu Agam.

Dan Shafiya.

Di department store.

Troli penuh hampers di antara mereka.

Ravendra mengangkat alis tipis sebelum mengarahkan layar itu pelan ke meja.

“Sementara kamu sibuk mengurus proyek miliaran…” nada suaranya santai. “Orang kepercayaanmu justru terlihat cukup sibuk menemani istrimu belanja.”

Sagara tidak langsung bergerak.

Tatapannya turun pada layar itu.

Diam.

Ravendra memperhatikan perubahan kecil di wajah lawan bicaranya. Sangat kecil. Hampir tak terlihat. Tapi cukup untuk ditangkap seseorang yang mampu melihat celah yang sangat samar sekalipun seperti dirinya.

“Agam cukup berani sekarang.” Ravendra kembali berucap.

Sagara mengangkat pandangan.

“Kalau ada yang perlu disampaikan, sampaikan langsung.”

Nada suaranya tetap datar.

Namun Ravendra justru tersenyum lebih samar.

“Aku hanya heran.” Jemarinya mengetuk pelan permukaan meja. “Istrimu terlihat lebih nyaman pergi dengan orang lain dibanding suaminya sendiri.”

Sagara hanya merubah posisi tangannya sedikit sebelum menjawab.

"Agam tahu batasnya. Istri saya juga."

Kalimat itu seperti penegasan untuk Ravendra. Padahal yang sebenarnya Sagara justru tengah menenangkan dirinya sendiri.

Dan Ravendra hanya tersenyum tipis mendengarnya.

1
i_r cute
kyknya mulai ada cemburu tipis2 nih Sagara....
iqha_24
ayo dong sagara lebih peka dan lebih perhatian lagi ke shafiya
iqha_24
makin seru nii 👍
iqha_24
up lagi kak
Afsa
Komporin saja Pak Raven..aq seneng Kalo Saga cemburu😄
徐梦
🤣🤣🤣🤭
Eeeeee Panassss sagara awas lo cemburu 🤣
iqha_24
naah kan .. Sagara ga tenang
i_r cute
nunggu part shafiya cuekin Sagara, lama banget thor.....
iqha_24
nii sagara kapan peka nya yaa
Amalia Siswati
ya syafia bersikaplah seperti cermin,memantulkan.
Amalia Siswati
plot2 seperti ini nya mohon di kurangi dech thor,1 bab kebanyakan klimaknya bukan alur cerita intinya
Najwa Aini: Dan masukan dari kakak ini akan jadi bagian pertimbanganku..🌹🌹
total 2 replies
iqha_24
ayo Gam, panas2in aja si Sagara
iqha_24
lanjut
徐梦
Weeeeh agaknya ada yg cembukur ni ciee cieeee
Ayok mas Agam pelet trus ning cantik
Masih bnyak yg nunggu jandanya😍
Najwa Aini: Agam said: Siapppp
total 1 replies
徐梦
Semoga aja ada laki2 lain yg menunggu jandamu syifa thor buat sagara uring2n dong 🤭🤭🤭🤣
Najwa Aini: uring²an yang tetap elegan ya kak..
total 1 replies
Ayuwidia
Kisahnya sukses bikin baper. Bahasanya berbobot, nggak bertele-tele. Mencerminkan kecerdasan authornya. Karakter tokoh prianya bikin para pembaca gemes-gemes tapi cinta.

Semoga Sagara & Ning Shafiya sukses menaklukan retensi dari 20 bab sampai 100 bab, aamiin.

Semangat & semoga sukses, Ning Najwa ♥️
Ayuwidia: uhuk, nggak cocok Ning disematkan untukku yang minim ilmu agama, Kak.
total 2 replies
be83
Ceritanya sangat menarik
Semoga update nya lebih sering
Najwa Aini: Terima kasih Kak..
semoga updatenya konsisten ya
total 1 replies
Amalia Siswati
buat syafia yang dingin sekarang,biar dia mikir jika kehamilannya butuh perjuangan bersama..
Najwa Aini: Trims sarannya ya Kak..
aku tampung deh. nanti ku diskusikan dgn Shafiya
total 1 replies
Yus Marni
aku dukung syafiya kabur, gak akan berubah tu si saga kalau gak dikasih pelajaran🫢🫢
Najwa Aini: Kabur kemana kak??
total 1 replies
Afsa
Kalau aq yg JD Syafa aq kabur deh biar Saga tau Rasa.Kaku banget jadi cowok,mau anak doang..pdhal waktu hami istri itu ingin di peehaitiin dan manja tau...
Najwa Aini: Nah gitu kak..dikasih paham tuh Sagara
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!