Naja Belial muncul saat keadilan gagal. Dia tidak datang untuk menyelamatkan, tapi untuk memastikan dosamu dibayar lunas.
Saat hukum bisa dibeli.
Saat kebenaran dimanipulasi.
Saat manusia saling menghancurkan demi kepentingan sendiri…
Entitas urban legend itu akan datang.
Ada yang menganggapnya penyelamat.
Ada pula yang menyebutnya kutukan.
Lalu, apakah keadilan yang dipaksakan benar-benar lebih baik daripada kehancuran yang dibiarkan?
Story by Instagram & Tiktok @penulis_rain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8 : Aliansi Satria dan Naja
Setelah apa yang terjadi padanya, Nando menjadi tidak lagi berani bermain dengan sistem verdict. Dia kapok karena sistem itu tidak mudah dihancurkan malah membuatnya jatuh. Saat ini, Nando tidak bisa berjalan tegak sehingga membutuhkan tongkat untuk berjalan. Saat berjalan melewati kelas, dia bertemu dengan beberapa siswa yang diam-diam menertawakannya.
"Kau tidak apa-apa, Nando?" tanya Satria yang tau-tau sudah ada di depan Nando. Dia meraih tangan Nando yang memegang takut.
Suara lembut Satria membuat hati Nando merasa tidak enak. Dia mengerutkan kening. Tatapan mata lelaki itu tajam dan rahangnya sedikit mengeras.
"Tidak apa bagaimana? Kakiku cacat. Kamu kan yang sudah laporin aku ke guru sampai aku disiksa kaya gini," tuduh Nando sambil menunjukkan kakinya yang berdarah dibalik perban di lututnya.
Satria menggeleng polos. "Tidak, aku tidak melaporkan siapapun. Bahkan guru saja juga tidak ada yang tahu. Kami menemukan kamu pingsan sendirian," jelasnya.
Mendengar itu, Nando tertawa kecil terdengar tajam dan nyelekit. Dia menyipitkan mata, mengerutkan kening, tak percaya dengan Satria. Dengan langkah sedikit pincang, dia berjalan menghampiri Satria sambil mengangkat tangan, hendak memukul.
Saat itu juga tiba-tiba saja Nando terjatuh ke lantai. Kali ini, dia tidak berdarah tapi tulangnya seperti remuk. Dia memukul lantai dengan keras tak peduli jika tangannya memar. Tatapannya tajam melihat Satria yang masih berdiri polos.
"Awas kamu ya! Aku tidak akan pernah buat kamu tenang!" ancam Nando dengan tatapan sengit.
Satria menggelengkan kepalanya. Dia tersenyum sambil menghela napas.
"Ternyata setelah apa yang terjadi kemarin, tidak membuat kamu bertobat," ucap Satria pelan, seolah tahu apa yang dialami lelaki itu padahal dia sama sekali tidak ada di ruangan.
"Bagaimana kamu bisa tahu?"
“Yang menghukum kamu itu, bukan manusia Nando.”
Nando kelu, keringat dingin membanjiri wajahnya. “Ka-kamu! Santet aku kan? Ngaku!”
Satria mengangkat bahu tak acuh. Dia memilih diam dan berlalu meninggalkan Nando yang jatuh. Lelaki itu bahkan tidak lagi peduli seperti tadi. Mungkin, dia sudah muak dengan sikap Nando yang egois dan sok jago.
Saat memasuki kelas, Satria teringat akan kejadian sewaktu Naja berhasil membuat Nando lumpuh tak berdaya di dalam ruang kontrol verdict. Saat itu, Satria tidak sengaja mengintip di balik jendela.
Naja Belial, seperti biasa hadir dalam wujud siswi berparas cantik di depan Satria.
Satria tengah berdiri sendiri sambil menatap kosong dari teras gedung tinggi. Pandangannya terus tertuju ke bawah dengan rasa ingin terbang. Jantungnya seperti tidak bisa berdetak dengan baik.
"Lain kali kamu harus jadi lebih berani. Jangan biarkan orang jahat menindas mu. Hidupmu hanya berhak diatur oleh kamu sendiri..," ucap Naja memberi nasehat pada Satria dengan suara tegas.
Satria tersenyum mengangguk. Dia hendak bersuara tapi Naja segera menepuk bahunya dan mendekatkan wajah ke telinganya. Sosok itu diam-diam membisiki dia.
"Kamu itu laki-laki, Sat. Laki-laki itu sudah kodratnya jadi kuat dan berani. Tidak ada laki-laki pengecut kecuali kalau dia punya kelainan," tegur Naja dengan ekspresi jijik.
Mendengar itu, Satria merasa tersinggung. Tanpa sadar tangan lelaki itu mengepal. Tatapan matanya berubah tajam padahal tadi begitu lembut. Tidak ada senyuman di wajahnya.
"Jangan bilang gitu, aku laki-laki normal!" tegas Satria membuat Naja tertawa.
"Lawan kalau mereka menidasmu. Oya, aku punya sesuatu untuk kamu.." ucap Naja.
Satria mengerutkan kening. "Apa?"
Naja hanya diam dan tersenyum sambil meniupkan sesuatu ke arahnya. Perlahan kepulan asap muncul sementara dan menghilang. Sosok itu juga ikut pergi.
"Sebenarnya apa yang Naja berikan padaku?"
Dan tiba-tiba saja sejak saat itu, Satria menjadi memiliki kekuatan aneh. Seperti saat ini, lelaki itu tidak sadar bisa melihat kejadian dua hari lalu saat Nando diam-diam menyelinap ke ruang kontrol verdict sampai kejadian lelaki itu disiksa oleh Naja karena buat ulah.
***
Saat Satria tengah berjalan menuju kantin, dia tidak sengaja mendengar keributan dari balik ruangan BK. Sebisa mungkin lelaki itu tidak menghiraukan percakapan mereka. Namun, saat dia hendak melanjutkan langkah, pintu tiba-tiba saja terbuka. Satria terdiam sejenak, memandang salah satu murid itu.
"Apa yang terjadi?" tanya Satria penasaran karena wajah murid itu memar.
Murid itu menahan tangis dan menggelengkan kepala ketakutan.
"Aku dihukum sama guru, mereka menuduhku mencontek padahal aku sama sekali tidak melakukan itu! Aku juga dari dulu rajin belajar sehingga pintar. Aku tidak pernah mencontek agar nilaiku tinggi," jelas murid itu dengan suara gugup dan serak. Air matanya perlahan keluar. Salah satu tangan murid itu terangkat, berusaha menutupi luka memar akibat tamparan dari guru BK.
Satria tidak percaya begitu saja. Dia memandang dalam-dalam murid itu. Ketika ia hendak menepuk pundaknya untuk menenangkan, tiba-tiba Satria mendapat pengelihatan aneh, seperti kilas balik ingatan yang entah datang darimana.
”Ini apa? Aku? Sejak kapan aku bisa masuk ke masalalu orang lain?” Inner Satria terheran.
Ternyata, di dalam pengelihatannya memang murid itu sama sekali tidak mencontek. Namun, dia dipaksa oleh beberapa anak nakal di kelasnya untuk mengerjakan tugas mereka. Saat ketahuan guru, mereka menuduh murid itu yang mencontek.
"Kurang ajar mereka! Kamu tidak bela diri kalau kamu tidak salah?" tegur Satria sambil meraih pundak murid itu, suaranya lembut tapi tegas berusaha menenangkan.
Murid itu masih enggan menatap Satria. Dia menarik napas dalam-dalam dan mengusap air mata. "Engga, aku udah berusaha jujur tapi Pak Ehsan tidak percaya. Beliau malah memukul aku," jawabnya kembali menangis.
Satria menenangkan murid itu sejenak. Dia menengok sekilas ruang BK yang saat ini tidak ada orang selain Pak Ehsan yang sedang . Lelaki itu tersenyum menatap murid itu.
"Kamu tenang aja, aku akan memberi kesadaran untuk guru itu!" tegas Satria begitu saja lalu masuk ke ruang BK.
Murid itu mengerutkan kening menatap kepergian Satria. "Tunggu, dia kan juga keliatan polos, bagaimana dia akan menang melawan guru?" gumamnya khawatir penuh tanda tanya.
Sementara itu, Satria dengan emosi menghampiri Pak Ehsan. Wajahnya sedikit memerah dan matanya tajam. Dia tanpa permisi menggebrak meja guru itu, membuat Pak Ehsan yang tadi sedang santai terlonjak kaget.
"Satria! Kamu tidak punya etika ya? Kalau mau masuk ketuk pintu dulu!" tegur Pak Ehsan sambil menatap tajam Satria.
Tidak seperti biasanya jika mendengar suara tinggi akan ketakutan, Satria justru tersenyum meremehkan. Dia menatap acuh tak acuh guru itu. Sambil melipat kedua tangan di depan dada, lelaki itu berjalan mendekat.
"Saya yang tidak punya etika, atau bapak yang tidak bisa bijaksana? Bapak menghukum murid yang tidak bersalah hanya karena tuduhan yang tidak bisa dibuktikan kebenarannya!" tegas Satria, suaranya lebih tinggi daripada Pak Ehsan.
"Maksudmu apa? Rani itu memang pantas dihukum, dia habis mencontek..," jawab Pak Ehsan.
"Hanya karena orang-orang bilang dia mencontek? Apa bapak tidak coba cek CCTV atau mengadakan tes ulang?"
Pak Ehsan menggelengkan kepala. "Tidak perlu, saya sudah dengar banyak saksi. Lagipula, skor kenakalan Rani itu 55% sudah pasti dia pelakunya. Di kelas tidak ada skor kenakalan setinggi Rani," jelasnya.
Satria mengangguk tak acuh. Dia tersenyum sinis kembali menatap Pak Ehsan.
"Pak, skor verdict itu sekarang bisa dimanipulasi. Saat ini kita tidak bisa percaya penuh pada sistem itu setelah dirusak oleh oknum.." ujar Satria menasehati, mengisyaratkan masalah beberapa hari lalu saat Nando dan ayahnya berusaha menyabotase sistem verdict.
Masih berdebat, Satria akhirnya meminta izin kepada staf untuk menunjukkan bukti rekaman CCTV bahwa Rani tidak bersalah. Di situ, jantung Pak Ehsan terasa berdesir.
"Saran saya, jika bapak ingin menghukum kumpulkan bukti valid. Saya tidak terima teman saya dipukul karena tuduhan. Saya ingin dia dapat keadilan juga!"
Pak Ehsan mendengar itu hanya diam dan merasa tidak nyaman. Dia sedikit bersalah dengan apa yang dilakukan. Beberapa sistem verdict di sekolah memang sudah normal tapi ada beberapa juga yang masih eror. Pak Ehsan hanya bisa diam dan menyesali tindakannya barusan.
"Baru pertama kali ada murid yang berani memarahi aku, selama lima belas tahun aku mengajar di sekolah ini," gumam Pak Ehsan sambil menatap Satria dengan rasa takjub secara diam-diam.