"Suuut" lelaki itu membekap Garima dengan telapak tangan besarnya, mereka saat ini tengah berada gang kecil penuh dengan kupu - kupu malam yang dengan gamblang menjajahkan tubuhnya.
Tubuh Garima bergetar karena ketakutan, matanya menatap lelaki misterius didepannya itu dengan melotot "siapa dia ?, apa dia seorang penjahat ?" gumam Garima dalam hati.
"Tuhan tolong aku" jerit batin Garima kembali, tidak berapa lama terdengar suara langkah kaki yang banyak membuat seluruh gang sempit dan kumuh itu menjadi ramai.
Para wanita yang sedang menjalankan pekerjaannya lari terbirit - birit karena kehadiran beberapa orang yang sedang mencari seseorang.
Lelaki itu mendorong tubuh Garima membuat rumah kecil milik Garima terbuka dan dia dengan sengaja mencium bibir Garima saat salah satu lelaki berambut gondrong memperhatikan mereka.
Garima terkejut dengan aksi lelaki didepanya itu hingga dia tidak bisa berkata apa - apa dan bingung akan melakukan apa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sukapena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Praduga Bima
"Aku penasaran siapa wanita yang bisa menembus dinding tinggi seorang Asmaraloka" Loka menatap Bima dengan tajam kemudian menghela nafasnya.
"Aku akan mengatakannya pada tante Samsi jika kau sudah memiliki seorang kekasih" Loka melototkan matanya dan berkacak pinggang "Bim jangan lakukan itu" Bima menghentikan aksinya yang saat ini tengah memegang ponsel.
"Aku akan menceritakannya semua padamu tapi lebih baik kita sarapan terlebih dahulu" Bima mengangguk dan berjalan memasuki apartement Loka menuju dapur.
Loka menyiapkan nasi goreng sapi untuk dirinya dan Rima tidak lupa untuk Bima juga, Bima duduk dimeja makan menikmati nasi goreng yang lezat itu dengan tersenyum sambil mengunyah.
Sementara Rima yag menyadari bahwa ranjang disampingnya te gah kosong membuat kedua matanya mengerjab untuk melihat, dan benar saja Loka sudah tidak ada disana.
Rima bangun kemudian duduk hingga tidak sadar bahwa selimut yang dia kenakan melorot begitu aja sehingga memperlihatkan kedua payudara kenyal miliknya.
Fikiran Rima kembali pada kejadian tadi malam yang membuat Rima menyunggingkan senyum dan dikedua pipi Rima saat ini sudah tersapu merah.
Rima segera bangkit dari tempat tidur berlari pelan ke arah kamar mandi untuk bersikap gigi, diambilnya kaos oblong milik Loka yang masih tergeletak begitu saja dilantai kamarnya.
Baju kaos Loka terlihat sangat besar jika dibandingkan dengan tubuh Rima yang kecil, hingga baju Loka yang bear dapat menutupi paha Rima yang mulus itu.
Rima membuka pintu kamar dan mengeryitkan dahi mendengar suara tawa yang bukan berasal dari Loka "siapa yang bertamu ?" Rima bertanya didalam hati dengan diri sendiri.
Rima berjalan pelan menuju dapur apartement dan betapa terkejutnya dia saat Bima tengah melihatnya yang masih berdiri ditempat.
Loka menyadari pandangan Bima seketika membalikkan badan melihat belakang tubuhnya, Loka segera bangkit dari duduk kemudian menghampiri Rima yang masih terdiam karena terkejut.
"Halo, kita bertemu lagi" Loka merangkul pinggang Rima dengan posesif kemudian Rima melihat Loka sebentar dan tersenyum kikuk pada Bima.
"Ayo sini sarapan bersama" Ruma melihat Loka seakan meminta ijin kemudian Loka mengangguk dan tersenyum, Rima berjalan perlahan ke arah meja makan tetapi saat hidung Rima mencium bau nasi goreng sapi seketika perut Rima merasa mual.
"Huek..huek" semua mata tertuju pada Rima "huek" Rima berlari menuju wastafel didekat dapur diikuti oleh Loka dibelakangnya, Loka memijat tengkuk Rima dan mengelus pelan punggung Rima.
Bima menaikkan satu alis melihat adegan tersebut sedetik kemudian senyum jahat menghiasi wajah tampannya "maafkan aku, kalian pasti sudah tidak bernafsu untuk sarapan ya karena melihatku mual dan muntah tadi" Loka mengelus pipi Rima kemudian menggelengkan kepala.
"Tidak papa, apa kau ingin kubuatkan sesuatu yang hangat ?" Rima menggelengkan kepala lemah kemudian bersender pada wastafel dapur "apa kau hamil ?" Rima terkejut mendengar pertanyaan dari Bima.
Sementara Loka menggaruk tengkuknya yang tiba - tiba saja menjadi gatal "As apa kau yakin itu anakmu ?" mata loka menatap Bima sambil mengangkat satu alisnya seakan meminta penjelasan tentang pertanyaan yang Bima lontarkan untuknya.
Rima diam melihat Loka dan juga Bima secara bergantian "ya, dia hamil" Bima mendengus tidak percaya "kau bilang padaku bertemu dengan wanita ini digang sempit penuh dosa itu, jadi apa kau yakin anak yang ada dalam perutnya itu anakmu ?" hati Rima terasa sangat sakit mendengar mendengar Bima berbicara.
Rima tahu bahwa dirinya berasal dari gang laknat itu tetapi dia menjamin seratus persen bahwa anak yang ada dalam perutnya adalah anak Loka "lebih baik lakukan tes DNA saja setelah anak itu lahir, aku tidak mau sahabatku terjebak begitu saja dengan wanita seperti kau" Rima melihat Bima dengan mata yang sendu seakan ingin menangis.