Dituduh menjual jasad anak kandungnya sendiri, Raznalira Utami (28 th) tidak hanya kehilangan buah hatinya tetapi juga rumah tangganya. Suaminya menceraikannya tanpa memberi kesempatan untuk menjelaskan.
Dalam keterpurukan hidupnya, Razna menerima tawaran menjadi ibu susu bagi bayi laki-laki milik seorang duda muda konglomerat, Rendra Mahardika (35th). Demi bertahan hidup, ia menekan masa lalunya dan masuk ke dunia baru yang terasa asing, dingin, dan penuh rahasia.
Namun takdir seolah belum selesai mempermainkannya.
Di rumah megah itu, Razna bertemu dengan seorang wanita misterius yang membuat darahnya seketika membeku. Wanita tua yang dulu membeli jasad anaknya.
Apa tujuan sebenarnya wanita itu membeli jasad bayi Razna?
Apa hubungan wanita tua itu dengan Rendra?
Kecurigaan Razna berubah menjadi ketakutan saat perlahan ia menyadari sesuatu yang mustahil, apakah itu?
Happy reading 💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FR Nursy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31 Pertengkaran
Ucapan itu menghantam Danara tanpa kompromi. Wanita cantik itu menatap Rendra dengan mata membesar, seolah tidak percaya lelaki yang selama ini selalu menjaga perasaannya kini mengatakan sesuatu yang menusuk hatinya. Untuk pertama kalinya, Rendra memuji Razna secara terang-terangan tanpa memedulikan perasaannya sedikit pun.
"Kak..." suara Danara bergetar. "Kakak sadar engga sih yang barusan kakak ucapkan?"
"Tentu saja aku sadar," jawab Rendra dingin. "Aku bisa membedakan mana ketulusan yang nyata dan mana yang hanya dibuat-buat. Ketulusan itu bisa dirasakan, bukan direkayasa. Aku tahu siapa yang benar-benar tulus menyayangi anak-anakku. Yang harus kamu ingat, jadikan kesalahanmu sebagai pelajaran yang berharga agar hidupmu menjadi lebih baik,"
Rendra menatap Danara lurus tanpa ada keraguan sedikit pun.
"Aku tidak akan pernah menerima siapa pun yang memiliki hati busuk di rumah ini. Bukankah sesuatu yang busuk memang harus dibuang? Kalau dibiarkan, kebusukan itu akan menjadi penyakit yang perlahan menjalar ke dalam hati orang lain," lanjut Rendra, ucapannya sangat menusuk jiwa Danara yang semakin terasa nyeri.
"Silakan kamu berkemas jika sikapmu tidak berubah. Aku tidak akan segan-segan membuang siapa pun yang tidak mau menuruti perintahku di rumah ini!" ucapnya tegas.
Danara menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Dadanya terasa sesak mendengar nada tegas Rendra. Lelaki itu tampak sekali tidak main-main dengan setiap keputusan yang diambilnya.
Suasana mendadak sunyi. Hanya suara detakan jam dinding yang terdengar samar, mengisi ruang yang dipenuhi ketegangan.
Mata Danara mulai memanas. Namun, alih-alih menangis, wanita itu justru tertawa pelan dengan tatapan penuh luka.
"Jadi sekarang aku yang dianggap busuk?" tanyanya lirih, " Dan kakak mau membuangku begitu saja setelah semua yang aku lakukan untuk kakak dan anak-anak kakak?"
Rendra tidak langsung menjawab. Sikap diamnya justru terasa lebih menyakitkan dari pada bentakan.
Danara menggeleng pelan, menatap Razna dengan sorot mata yang tajam penuh dengan kebencian.
"Hebat ya kamu!" ucapnya sinis."Baru bekerja beberapa bulan saja sudah berhasil mengambil hati Kak Rendra" sindir Danara dengan sinis.
Razna mengepalkan jemarinya dengan gugup. Dia ingin membela diri, tetapi tatapan dingin Rendra membuatnya memilih diam.
"Jangan salahkan orang lain atas sikapmu sendiri, Danara," ujar Rendra akhirnya. "Semua ini terjadi karena pilihanmu sendiri, kau lebih memilih jalan yang salah demi mencapai ambisimu,"
Kalimat itu menjadi pukulan terakhir yang menghancurkan pertahanan Danara.
Danara menarik napas panjang dengan dada naik turun tak beraturan. Matanya memerah, bukan hanya karena amarah tetapi juga karena rasa kecewa yang perlahan berubah menjadi luka tak berdarah.
"Jadi aku yang salah?" ulangnya lirih sambil tertawa hambar. "Jadi sekarang kakak menuduhku atas semua kejadian yang terjadi di rumah ini?"
Rendra tetap berdiri tegak. Wajahnya dingin, nyaris tanpa ekspresi.
"Aku tidak pernah bilang itu semua salahmu," ucapnya dengan suara rendah. "Tapi kamu juga harus berhenti merasa paling benar dan paling berkuasa di rumah ini. Ingat satu hal, setiap kejadian di rumah ini pasti ada rekamannya. Termasuk saat kamu melakukan kejahatan terhadap Finza. Jadi kamu jangan macam-macam lagi!"
Kalimat itu membuat Danara terhenyak. Dia mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Kukunya hampir menancap ke telapak kulitnya sendiri. Dia baru menyadari ucapan Rendra yang membuatnya tidak bisa berkutik lagi. Namun dia masih berusaha untuk menyangkal.
"Aku sudah sering mengatakan kalau itu suatu kebetulan saja. Bukan aku pelakunya..."
"Cukup, Danara! Kamu selalu mengelak. Padahal sudah jelas-jelas kamu lah pelakunya. Apa aku harus menunjukkan rekaman CCTV padamu, agar kamu tidak perlu menyangkal lagi?"
Danara terdiam, dia kalah telak. Semua ucapan Rendra benar adanya. Dia sudah tidak bisa berkutik lagi.
Dia melangkah mundur perlahan. Tatapannya kembali jatuh pada Razna yang sejak tadi hanya diam.
"Puas kamu!" ujar Danara pelan namun tajam sambil menunjuk wajah Razna yang mulai mengangkat wajahnya.
"Jangan terlalu cepat merasa menang," lanjutnya Danara dengan bibir bergetar.
Razna tersentak kecil. Wanita itu membuka mulutnya, tetapi tidak satu kata pun yang keluar.
Danara tersenyum tipis, senyum yang justru terlihat lebih menyakitkan hatinya.
"Suatu hari nanti, Kak Rendra juga akan sadar kalau tidak semua yang terlihat baik itu benar-benar tulus. Rekaman CCTV yang Kakak lihat itu belum tentu benar, pasti sudah ada yang edit. Itu pasti ada kesalahan,"
"Cukup, Danara!" suara Rendra meninggi.
Suasana kembali membeku.
"Aku harap Kakak tidak akan menyesal atas keputusan Kakak yang salah," bisiknya lirih.
Tanpa menunggu jawaban, Danara berbalik dan melangkah cepat menuju kamarnya yang dekat dengan ruang keluarga. Tak lama kemudian, suara pintu kamar dibanting keras menggema ke seluruh ruangan.
Brak!
Razna terkejut, begitu pula dengan Finza. Bayi mungil itu merengek sebentar lalu tidur lagi.
Sementara Rendra hanya diam menatap ke arah pintu kamar Danara. Untuk pertama kalinya setelah pertengkaran itu, lelaki tersebut menghembuskan napas berat dan memejamkan matanya sejenak.
"Tuan..."Panggil Razna hati-hati.
Rendra membuka mata secara perlahan. Seraya melirik sekilas.
"Aku minta maaf jika ternyata kehadiranku di rumah ini selalu membawa masalah."
Rendra terdiam untuk beberapa saat sebelum akhirnya menggeleng pelan.
"Bukan kamu penyebabnya. Kamu tidak salah," ucapnya lirih. "Cepat atau lambat, semua ini memang harus terjadi. Danara memang memiliki rasa terhadapku, tapi aku tidak pernah meresponsnya."
Rendra menatap Razna dengan lembut.
"Kembalilah ke kamar dan tidurkan Finza!" titah Rendra pelan.
"Baik Tuan," jawab Razna patuh.
Rendra menatap punggung Razna dengan nanar. Tidak ada yang salah pada wanita itu. Justru kehadirannya lebih banyak membantu dirinya.
Rendra mengambil ponselnya dari saku bajunya, lalu menghubungi ibu mertuanya.
"Hallo Mah!" sapanya sopan.
"Mah, tolong jemput Danara besok." ujar Rendra tanpa basa-basi.
"Lho memangnya kenapa harus dijemput segala?" tanya mama mertua di seberang sana.
"Nanti mama juga akan tahu. Rendra tunggu ya, Mah!
Klik.
Panggilan itu terputus.
jadi kalian berderama dengan memanfaatkan razna 🤔
Duhh siapa pula yg mergokin raz nihh🤔
bukanya razna🤣
patutt dia langsung knl ibu nyaa
Wahh siapa yg mendengar percakapan mereka🤔