NovelToon NovelToon
Cinta Terlarang

Cinta Terlarang

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Teen / Single Mom
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: zhafira nabhan

Naura hanya seorang gadis yang jatuh cinta terlalu dalam… dan harus membayar semuanya dengan kehilangan.

Ditinggalkan oleh lelaki yang ia cintai 'tanpa pernah tahu bahwa itu semua hanyalah kebohongan kejam'. Naura memilih pergi, membawa luka dan kehidupan baru yang tumbuh dalam rahimnya sendirian.

Selama delapan belas tahun, ia bertahan di tengah kemiskinan, mengorbankan segalanya demi satu alasan: anaknya, Genesis.

Namun saat dunia Genesis hanya tersisa ibunya… takdir kembali merenggut satu-satunya alasan ia bertahan hidup.

Kini, di antara sepi, kehilangan, dan batas tipis antara kewarasan dan kegilaan…

Satu minggu kemudian, Alexa datang menyelamatkan Genesis yang sedang terpuruk setelah Naura meninggal.

Namun ternyata, Alexa adalah Naura...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31

“Lo beneran mau masuk lagi ke sana?”

Suara Raka terdengar ragu, tangannya berhenti mengaduk kopi sachet di gelas plastik. Mereka duduk di warung kecil pinggir jalan, lampu kuning redup menggantung di atas kepala, dan suara motor lalu lalang jadi latar yang nggak pernah benar-benar sepi.

Genesis tidak langsung menjawab. Matanya lurus ke depan, tapi pikirannya jelas bukan di tempat itu.

“Gen… gue nanya serius,” lanjut Raka, kali ini lebih pelan. “Lo udah lihat sendiri kan itu tempat kayak apa? Itu bukan sekadar rumah orang kaya. Itu benteng.”

Genesis menarik napas panjang, lalu menghembuskannya pelan. “Gue tahu.”

“Terus?”

“Gue juga tahu kalau gue nggak bakal bisa masuk lagi pakai cara yang sama.”

Raka mengerutkan kening. “Maksud lo?”

Genesis akhirnya menoleh. Tatapannya beda. Nggak lagi sekadar emosi atau nekat. Ada sesuatu yang lebih dingin. Lebih terarah.

“Gue nggak bisa jadi orang luar terus,” katanya pelan. “Kalau gue mau deket sama dia… gue harus ada di dalam sistem mereka.”

Raka langsung ketawa pendek. “Lo mau jadi orang kaya tiba-tiba gitu? Atau nyamar jadi apa? Satpam? Tukang kebun lagi?”

Genesis menggeleng. “Bukan itu.”

Ia mengambil gelas kopi di depannya, meneguk sedikit, lalu meletakkannya lagi dengan pelan.

“Gue mau masuk dari jalur yang mereka butuhin.”

Raka diam sebentar, mencoba mencerna. “Mereka butuhin apa?”

Genesis menatapnya lurus. “Orang yang bisa kerja. Orang yang bisa dipercaya. Orang yang nggak banyak tanya.”

Raka menyipitkan mata. “Lo lagi ngomong soal… jadi bagian dari perusahaan mereka?”

“Bukan langsung,” jawab Genesis cepat. “Tapi itu arahnya.”

Sunyi sejenak.

“Lo gila,” gumam Raka akhirnya, tapi nada suaranya nggak sepenuhnya menolak. Lebih ke… nggak percaya.

Genesis tersenyum tipis. “Gue udah gila dari kemarin.”

Ia menyandarkan tubuh ke kursi plastik, menatap langit malam yang kelihatan samar di antara kabel-kabel listrik.

“Lo tahu yang paling bikin gue kepikiran?” lanjutnya pelan.

“Apa?”

“Cara dia ngomong.”

“Siapa? Alexa?”

Genesis menggeleng. “Bukan. Genta.”

Nama itu keluar dengan nada yang lebih berat.

“Dia nggak marah. Nggak bentak. Nggak maksa,” lanjut Genesis. “Tapi semua orang di situ… dengerin dia. Bahkan tanpa dia harus ninggiin suara.”

Raka mengangguk pelan. “Ya… itu namanya kuasa, Gen.”

Genesis tersenyum miring. “Iya. Dan gue nggak punya itu.”

“Terus lo mau bikin?”

Genesis menoleh lagi, kali ini tatapannya lebih tajam.

“Gue nggak harus punya semuanya. Gue cuma perlu cukup… buat nggak dianggap remeh.”

Raka terdiam. Untuk pertama kalinya, dia nggak langsung ngeledek atau nyela.

“Lo serius ya,” gumamnya.

Genesis mengangguk. “Serius.”

Ia merogoh saku jaketnya, mengeluarkan KTP yang sedikit kusut, lalu meletakkannya di atas meja.

“Gue mulai dari sini.”

Raka melihat benda itu, lalu kembali ke wajah Genesis. “Lo mau ngelamar kerja?”

“Lebih dari itu.”

“Jelasin.”

Genesis menarik napas sebentar, lalu mulai bicara lebih pelan, seolah memastikan tidak ada orang lain yang mendengar.

“Tempat itu nggak cuma rumah. Itu bagian dari jaringan mereka. Ada supplier, ada logistik, ada dapur besar, ada orang keluar masuk tiap hari.”

Raka mulai condong ke depan, tertarik.

“Dan semua itu… butuh orang,” lanjut Genesis. “Bukan cuma orang kaya. Tapi orang lapangan.”

“Maksud lo… lo mau masuk lewat bawah?”

Genesis mengangguk. “Dari yang paling nggak kelihatan.”

Raka menyeringai kecil. “Licik juga lo.”

“Bukan licik,” balas Genesis tenang. “Realistis.”

Ia mengetuk meja pelan dengan jarinya.

“Selama ini gue cuma datang sebagai orang luar. Makanya gampang diusir,” katanya. “Kalau gue jadi bagian dari dalam… beda cerita.”

“Dan lo yakin bisa deket lagi sama dia?”

Genesis diam sejenak. Wajah Alexa terlintas jelas di kepalanya—mata basah, suara gemetar, tapi tetap berdiri di antara dua orang yang sama-sama menariknya ke arah berbeda.

“Gue nggak tahu,” jawabnya jujur. “Tapi gue tahu satu hal.”

“Apa?”

“Gue nggak akan berhenti di sini.”

Nada suaranya rendah, tapi penuh keyakinan.

Raka menghela napas panjang, lalu menghabiskan kopinya sekali teguk.

“Yaudah,” katanya akhirnya. “Kalau lo udah segila ini, gue bantu.”

Genesis sedikit mengangkat alis. “Bantu apa?”

“Gue punya kenalan di bagian distribusi bahan makanan. Dia sering kirim ke villa-villa daerah atas sana,” jelas Raka. “Nggak langsung ke keluarga Wijaya mungkin, tapi satu jalur.”

Genesis langsung fokus. “Serius?”

“Serius. Tapi kerjaannya berat. Angkut barang, kirim pagi-pagi buta, kadang lembur.”

Genesis hampir tanpa jeda menjawab, “Gue ambil.”

Raka menatapnya sebentar, lalu tersenyum kecil. “Gue tahu lo bakal bilang gitu.”

“Gue butuh itu,” lanjut Genesis. “Semakin sering gue masuk area sana… semakin besar peluang gue ketemu dia.”

Raka mengangguk. “Oke. Besok gue hubungin orangnya.”

“Jangan besok,” potong Genesis cepat. “Sekarang.”

Raka tertawa pelan. “Ambisius banget lo.”

“Waktu gue nggak banyak.”

Kalimat itu keluar tanpa ragu.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, Raka benar-benar melihat—Genesis yang sekarang bukan lagi orang yang cuma bertahan hidup.

Dia lagi bergerak, berusaha naik. Walau pelan, tapi pasti. Entah semua usahanya itu akan berhasil atau tidak. Setidaknya saat ini ia sedang berusaha.

---

Di tempat lain, jauh dari warung kecil itu, di dalam kamar luas yang dingin, Alexa berdiri di depan jendela, menatap gelapnya malam.

Tangannya masih terasa gemetar. Percakapan saat itu terus berputar di kepalanya.

“Gue bakal nunggu.”

Dan…

“Waktu tidak akan selalu menunggu kamu.”

Ia menutup mata sejenak, napasnya tertahan.

“Aku harus gimana…” bisiknya pelan.

Di balik pintu, langkah kaki terdengar. Tenang dan teratur bagai selembar bulu tertiup angin.

Langkah itu berhenti tepat di depan kamarnya.

Tok.

Satu ketukan.

Alexa langsung menoleh.

“Masuk.”

Pintu terbuka perlahan.

Genta berdiri di sana. Seperti biasa—rapi, tenang, dan sulit ditebak.

“Maaf mengganggu,” katanya sopan. “Saya hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja.”

Alexa menatapnya. Lama.

“Aku… masih di sini,” jawabnya pelan.

Genta mengangguk kecil, lalu masuk beberapa langkah tanpa terburu-buru.

“Pertanyaan saya sederhana,” lanjutnya. “Kamu memang seperti ini… atau kamu sedang berusaha menjadi seseorang yang berbeda?”

Jantung Alexa berdegup lebih kencang. Tatapan pria itu terlalu tajam. Seolah melihat sesuatu yang selama ini ia sembunyikan.

“Aku juga nggak tahu,” jawab Alexa jujur, suaranya hampir berbisik.

Genta terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis.

“Kalau begitu… saya akan mencari tahu sendiri.” Kalimat itu tidak terdengar mengancam.

Tapi cukup untuk membuat udara di ruangan itu berubah. Dan tanpa mereka sadari— Satu mulai menyusun langkah dari bawah. Satu lagi mulai mengamati dari atas.

Dan di tengahnya… Alexa perlahan menjadi pusat dari sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar cinta.

--

1
Mak e Tongblung
insting gen hebat👍
Mak e Tongblung
kukira genesis itu perempuan 😄
zhafira: laki kak.. 😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!