NovelToon NovelToon
Diantara Ketulusan Dan Kekuasaan.

Diantara Ketulusan Dan Kekuasaan.

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Office Romance / Komedi
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Sheila Maharani hanya ingin hidup tenang sebagai karyawan baru yang kalem dan setia pada kekasihnya, Malik. Namun, impian itu hancur saat ia membuka pintu ruang CEO dan menemukan Jeremy Nasution—kakak tingkat masa kuliah yang dulu mengejarnya secara ugal-ugalan—kini menjadi bosnya.
Jeremy yang percaya diri maksimal (PD mampus) tidak membiarkan Sheila lari untuk kedua kalinya. Di antara tumpukan berkas properti dan aroma siomay kantin, Jeremy mulai menyusun strategi untuk merebut hati Sheila kembali.
Bisakah Sheila tetap profesional dan setia pada Malik, atau ia akan menyerah pada "perintah atasan" yang semakin hari semakin tidak masuk akal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35

Sheila melepaskan diri dari pelukan Jeremy dengan paksa, meski wajahnya masih memerah akibat konfrontasi panas di depan kubikel tadi. Ia merapikan blusnya yang sedikit kusut dan menyugar rambutnya, mencoba mengembalikan sisa-sisa martabat asisten profesional yang baru saja dihancurkan oleh bosnya sendiri.

"Duh, ini aku harus ngomong apa sama Nilam?!" semprot Sheila, suaranya naik satu oktav karena panik. "Dia itu titisan agen intelijen, Jer! Dia pasti bakal nanya-nanya, interogasi aku habis-habisan, dan dalam hitungan jam, berita ini bakal menyebar ke grup WhatsApp geng aku. Alena, Bila, Sari... mereka semua bakal tahu kalau 'Jaemin' gadungan itu ternyata bos aku sendiri! Ini semua gara-gara kamu, tahu nggak!"

Jeremy hanya berdiri di sana dengan tangan masuk ke saku celana, sama sekali tidak terlihat menyesal. Malah, ada senyum tipis—hampir seperti seringai kemenangan—yang menghiasi bibirnya. "Ya bagus, dong. Biar mereka tahu saingan mereka berat. Bukan cuma idol Korea, tapi CEO real life," sahut Jeremy enteng.

"Jeremy!" Sheila memukul lengan Jeremy dengan map dokumen yang ia bawa. "Kamu itu nggak mikir ya? Papa kamu itu Komisaris! Kalau beliau dengar gossip ini makin liar, bukan cuma aku yang didepak, tapi kamu juga bisa dikirim ke cabang di pelosok!"

Sheila menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan jantungnya yang masih berdegup kencang. Ia menunjuk ke arah pintu ruangan CEO dengan tegas.

"Udah. Nggak usah nyamperin aku lagi ke meja. Jangan kirim pesan aneh-aneh, jangan lewat depan kubikel aku kalau nggak ada urusan mendesak. Kerja yang bener! Kamu itu CEO, Jeremy Nasution! Bukan bocil yang baru jatuh cinta pertama kali terus mau pamer ke satu sekolah! Paham?"

Jeremy terdiam sejenak, menatap Sheila dengan intensitas yang membuat lutut Sheila sedikit lemas. Namun, bukannya mundur, Jeremy justru melangkah maju satu langkah, membuat Sheila terdesak ke arah pintu yang terkunci.

"Bocil?" Jeremy mengulangi kata itu dengan suara baritonnya yang rendah dan berbahaya. ia menumpukan tangannya di pintu, tepat di samping kepala Sheila. "Kamu pikir bocil bisa nahan diri buat nggak nyium kamu di depan Nilam tadi? Kamu pikir bocil bisa pasang badan di depan Tuan Nasution semalam?"

"Jer, aku serius..." bisik Sheila, keberaniannya mulai menciut melihat tatapan Jeremy yang mendalam.

"Aku juga serius, Sheila. Aku memang CEO, tapi aku juga pria yang punya batas kesabaran. Dan batas itu sudah habis waktu kamu mulai menghindar," Jeremy menunduk, mencium kening Sheila dengan sangat lembut, sebuah kontras dari emosinya yang meledak tadi. "Oke. Aku bakal 'kerja yang bener' hari ini. Tapi ada syaratnya."

"Syarat apa lagi?"

"Pulang kantor, kamu nggak boleh kabur. Aku jemput di parkiran bawah, di tempat biasa. Kita makan malam, dan kamu harus jelasin kenapa kamu sesak napas cuma gara-gara Papa masuk kamar aku. Setuju?"

Sheila menghela napas, menyerah pada keras kepalanya Jeremy. "Iya, setuju. Sekarang buka kuncinya, aku mau balik kerja lagi. Kerjaan aku numpuk gara-gara bosnya hobi bikin drama."

Jeremy tersenyum puas. Ia menekan tombol buka kunci di dinding. Begitu pintu berdenting pelan, Sheila langsung melesat keluar tanpa menoleh lagi, seolah-olah ruangan itu sedang terbakar.

Di Area Kubikel

Begitu Sheila sampai di mejanya, suasana mendadak hening. Nilam, yang tadinya pura-pura sibuk menelpon, langsung menutup teleponnya (yang ternyata bahkan tidak tersambung ke mana-mana) dan memutar kursinya 180 derajat menghadap Sheila.

"Shei..." Nilam memulai dengan nada bicara pelan yang sangat mencurigakan. "Tadi itu... Pak Jeremy beneran 'nyerang' meja lo? Gue nggak salah lihat kan? Mukanya tadi kayak mau nelan orang hidup-hidup."

Sheila pura-pura sibuk menyalakan komputernya. "Ah, itu... Pak Jeremy cuma lagi marah soal laporan tender yang belum selesai, Lam. Biasalah, dia kan perfeksionis."

"Laporan tender?" Nilam memicingkan mata, mencondongkan tubuhnya ke arah Sheila. "Shei, gue emang jomblo, tapi gue nggak buta. Masa marah soal laporan tender tapi jarak mukanya cuma lima senti? Terus lo melototnya bukan takut, tapi kayak orang lagi berantem sama pacar."

"Nilam, fokus kerja deh. Tadi Pak Jeremy bilang dia bakal cek semua laporan admin hari ini," ancam Sheila, mencoba menggunakan nama Jeremy sebagai tameng.

"Halah! Palingan dia cuma mau cari alasan buat deketin lo lagi," goda Nilam sambil tertawa kecil. "Ngaku deh, J di gelang lo itu beneran 'Jaemin' atau 'Jeremy'? Sumpah ya, kalau lo beneran jadian sama bos besar, gue adalah orang pertama yang bakal minta traktiran seumur hidup!"

Sheila hanya bisa menyembunyikan wajahnya di balik layar monitor yang besar, pura-pura tidak dengar. Tangannya gemetar saat mulai mengetik, namun di dalam hati, ia merasakan kehangatan yang aneh. Meski Jeremy sangat "sengklek" dan impulsif, pembelaan Jeremy di depan semua orang tadi memberikan rasa aman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Namun, ketenangan itu hanya bertahan sebentar. Baru lima menit bekerja, sebuah pesan masuk di grup WhatsApp geng mereka.

Nilam: "GUYS!! BREAKING NEWS! SIAP-SIAP JANTUNGAN! GUE PUNYA INFO VALID SOAL SIAPA 'JAEMIN'-NYA SHEILA! 😱🔥"

Sheila memejamkan mata, menepuk jidatnya sendiri. "Tamat sudah riwayatku," gumamnya pasrah.

***

Sore itu, pencahayaan di dalam supermarket besar di kawasan Jakarta Pusat terasa sangat terang, kontras dengan suasana hati Sheila yang sedang berbunga-bunga. Setelah ketegangan di kantor yang nyaris menguras habis kewarasannya, berjalan santai di antara rak-rak makanan ringan adalah sebuah kemewahan.

Sheila berjalan dengan langkah ringan, jemarinya menggandeng erat lengan Jeremy. Pria itu sudah menanggalkan jas formalnya, menyisakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku, membuatnya terlihat jauh lebih santai namun tetap memancarkan aura mahal.

"Je, yang ini enak nggak ya? Atau yang bungkus hijau saja?" tanya Sheila sambil meraih sebungkus keripik kentang impor.

Jeremy menunduk, menatap asisten—sekaligus kekasihnya—dengan tatapan yang begitu lembut, jenis tatapan yang tidak pernah ia perlihatkan di depan karyawan lain. "Ambil dua-duanya saja, Sayang. Kalau nggak habis, biar aku yang selesaikan sambil nonton nanti malam," jawab Jeremy sambil mengacak rambut Sheila gemas.

Namun, di sudut lain supermarket, tepat di dekat pintu masuk otomatis yang berdenting, dua sosok yang sangat Sheila kenali baru saja melangkah masuk. Alena dan Bila sedang asyik berbincang seru soal drama di kantor mereka masing-masing—karena memang keduanya bekerja di perusahaan yang berbeda dengan Sheila dan Jeremy.

"Sumpah ya, Bil, bos gue tuh lebih parah dari Pak Jeremy-nya Sheila. Masa gue disuruh—" Ucapan Alena terhenti seketika. Matanya menyipit, menangkap siluet dua orang yang sangat tidak asing di lorong camilan.

"Eh, Bil... itu bukannya Sheila ya?" bisik Alena sambil menyenggol lengan Bila keras-keras. "Kok dia sama Pak Jeremy mesra banget gitu? Itu tangannya gandengan, kan?"

Bila yang sedang asyik membetulkan letak kuncir rambutnya langsung mendongak. "Hah? Mana sih? Jangan ngaco lo, palingan cuma mirip. Sheila kan bilang si 'J' itu Jaemin."

"Itu, bego! Lihat deh, masa Jaemin pake kemeja kerja kantor Nasution?!" Alena menunjuk dengan dagunya ke arah rak keripik. "Lihat cara Pak Jeremy nunduk ke Sheila. Itu bukan muka bos lagi ngomongin laporan, itu muka orang lagi kasmaran tingkat dewa!"

Bila melotot sempurna. "Lah... iya! Itu beneran mereka! Wah, gila... jadi selama ini 'J' itu Jeremy Nasution?! Pantesan Sheila tertutup banget soal pacarnya!"

Tanpa pikir panjang, jiwa detektif dan rasa penasaran kedua sahabat itu memuncak. "Samperin aja gimana? Kita gerebek sekarang!" ajak Alena dengan senyum nakal.

"Ayo!"

Sheila baru saja ingin memasukkan cokelat ke dalam keranjang belanjaan yang dibawa Jeremy, ketika sebuah suara melengking memecah ketenangan mereka.

"SHEILA!!"

Sheila tersentak hebat, hampir saja menjatuhkan cokelatnya. Ia menoleh ke arah sumber suara dan jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat Alena dan Bila sudah berdiri hanya beberapa meter dari mereka dengan tangan bersedekap dan wajah penuh selidik.

Refleks, Sheila langsung melepaskan gandengan tangannya dari lengan Jeremy dan melangkah mundur satu langkah, menciptakan jarak formal yang sangat canggung.

"Ka-kalian... ngapain di sini?" tanya Sheila dengan suara yang bergetar. Wajahnya seketika berubah pucat, lalu sedetik kemudian menjadi merah padam sampai ke leher.

"Ya belanja lah, Shei. Masa mau main futsal di sini," sahut Bila sambil berjalan mendekat, matanya bergantian menatap Sheila dan Jeremy yang kini kembali ke mode 'CEO Kaku'. "Tapi kayaknya kita baru aja liat pemandangan yang lebih menarik daripada diskon deterjen ya, Len?"

Alena mengangguk mantap. "Iya nih. Jadi... Pak Jeremy, selamat sore ya, Pak. Maaf mengganggu waktu 'belanja dinas'-nya sama asisten Bapak."

Jeremy berdeham, mencoba menetralkan suasana. Meski ia adalah pria yang sangat percaya diri, tertangkap basah oleh sahabat-sahabat Sheila di tempat umum seperti ini membuatnya sedikit salah tingkah. Namun, dasar Jeremy, ia tetap berusaha terlihat berwibawa.

"Sore, Alena. Sore, Bila," sapa Jeremy dengan suara baritonnya yang tenang, meskipun ia tahu rahasianya sudah terbongkar total.

"Dinas apaan, Al! Tadi gue liat mereka gandengan mesra banget, terus Pak Jeremy nyubit pipi Sheila!" celetuk Bila tanpa rem. "Shei, jujur ya! Jadi 'Jaemin' yang lo maksud itu ternyata Jeremy Nasution?! Gila ya lo, bohongin kita berbulan-bulan!"

"Duh, mampus gue," gumam Sheila lirih, ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan.

"Ayo, Pak CEO... jelasin dong. Ini asistennya beneran merangkap jadi calon istri atau gimana?" desak Alena sambil tertawa puas melihat kegugupan sahabatnya.

Jeremy melirik Sheila yang tampak ingin menghilang dari muka bumi, lalu ia tersenyum tipis. Alih-alih menghindar, Jeremy justru kembali melangkah mendekat ke arah Sheila dan secara terang-terangan melingkarkan lengannya di pinggang gadis itu, menariknya kembali ke sisinya.

"Oke, oke. Kalian menang," ucap Jeremy sambil menatap Alena dan Bila secara bergantian. "Ya, 'J' itu memang saya. Dan tolong, jangan kasih tahu siapa-siapa dulu, terutama orang kantor. Saya nggak mau Sheila makin pusing karena gosip."

"Tuh kan! Gue bilang juga apa!" seru Bila heboh, mengabaikan tatapan beberapa pengunjung supermarket lain yang mulai menoleh. "Gila, Shei! Lo beneran pacaran sama singa kantor ini? Hebat lo, pawangnya ternyata lo!"

Sheila mencubit pinggang Jeremy karena kesal pria itu justru makin terang-terangan. "Jer, ih! Malu tahu!"

"Ngapain malu? Mereka sahabat kamu kan? Lebih baik mereka tahu sekarang daripada nanti kaget pas dapet undangan," bisik Jeremy di telinga Sheila, cukup keras untuk didengar Alena dan Bila.

Alena langsung menjerit pelan saking gemasnya. "Aaaa! Sumpah ya, Pak Jeremy kalau lagi bucin gini nggak ada wibawa-wibawanya sama sekali! Beda banget sama di foto profil LinkedIn!"

"Pokoknya kita minta pajak jadian ya, Shei! Nggak mau tahu, malam ini Pak Jeremy harus traktir kita makan malam yang mahal!" tagih Bila dengan semangat.

Sheila hanya bisa pasrah, ia tahu riwayatnya sudah tamat. Grup WhatsApp mereka dipastikan akan meledak malam ini dengan ribuan pesan. "Iya, iya... nanti kita makan malam. Tapi janji ya, tutup mulut! Kalau sampai Nilam tahu, habis gue!"

Jeremy tertawa lepas, ia merasa lega karena akhirnya tidak perlu lagi menyembunyikan hubungannya di depan orang-orang terdekat Sheila. "Tenang saja, malam ini saya traktir apa pun yang kalian mau. Asal kalian janji jagain rahasia 'Jaemin' gadungan ini baik-baik."

Mereka berempat akhirnya melanjutkan perjalanan menyusuri rak supermarket, dengan Alena dan Bila yang terus-terusan menggoda Sheila hingga gadis itu tidak berhenti merona. Sore itu, supermarket bukan lagi tempat belanja yang membosankan, melainkan awal dari babak baru yang lebih terbuka bagi hubungan "ilegal" sang CEO dan asistennya.

1
apiii
masih ga percaya sih🥲
apiii
serius sakit bngt🥲
apiii
lucu bngt mereka berdua🤣
apiii
sweet bngt sih mas jere ke istrinya🥰
apiii
dimna sih cari suami kaya pak ceo ini🥲
apiii
sweet bngt si bapak ceo🤭
apiii
jangan sad ending ya thor soalnya cuma novel" author yg bikin saya semangat ngerjain skripsi klo abis baca ceritanya🥲
Istrinya _byeonwooseok💃: aduh aku jadi terharu 🥹
total 1 replies
apiii
lucu bngt dua Nasution ini🤣
apiii
astaga pak jer segitunya🤣
Netiihsan
bingung sn penasaran🤭
apiii
bapak sama anak udh kaya Tom and jerry🤭
apiii
wah bisa di pakai buat alasan nih wkwk
Netiihsan
dua pilihan yg mnyulit kn
English Lesson
Kak, novel TO the bone Mas Ajudan, kok dihapus? padahal bagus lho 😔
English Lesson
👍🏻 Bagus
apiii
cari dimna suami kaya mas jere🥲
apiii
si jeremi akhirnya bisa nikah tampa halangan singa wkwk
falea sezi
uda end kah thor
Istrinya _byeonwooseok💃: belum kak masih panjang tenang aja😍
total 1 replies
apiii
akhirnya misi menaklukkan singa nasution berhasil yaa🤭
falea sezi
seyla kok murahan belom di nikah woy aduh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!