Ren Abraham, seorang anak laki-laki yatim piatu bertekad untuk menjadi kuat setelah desanya di hancurkan oleh para penyembah iblis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pendeta Merah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Evan dan Terina
Sore hari, kota Lonor.
Setibanya di guild petualang, Ren langsung menemui Neil untuk mengkonfirmasi penyelesaian misi.
Ren berusaha untuk tidak memperlihatkan kekhawatirannya sekarang, dia berusaha untuk tidak terlihat senormal mungkin agar penyembah iblis yang aktif membuat misi di guild tidak menyadarinya.
" Ren, kau kembali sangat cepat, apa misinya gagal? "
Tanya Neil, sebagai resepsionis guild yang melayani banyak petualang selama ini, dia menduga jika pemula seperti Ren akan membutuhkan waktu beberapa hari untuk menyelesaikan misi.
Ren menggelengkan kepalanya" Itu berhasil, aku sudah menyelidiki para bandit itu "
" Itu cepat "
" Ini hanya misi penyelidikan, terlebih lagi aku memiliki barang sihir yang bagus untuk bersembunyi "
" Aku mengerti, pantas saja "
Neil mengeluarkan beberapa kertas dan pena dari laci, bersiap untuk menulis apa yang Ren temukan.
" Bisakah kau jelaskan apa yang kau temukan disana "
" Jumlah bandit yang tinggal di desa Lestor adalah 14 orang, pemimpin mereka adalah Mage, aku tidak tahu apa levelnya "
" Untuk senjata, mereka memiliki sebuah meriam tangan, aku berpikir jika itu adalah barang selundupan dari negara tetangga, tapi setelah aku interogasi salah satu dari mereka, rupanya meriam tangan itu mereka dapatkan dari seorang bangsawan tak dikenal "
" Setelah itu aku membunuh bandit tersebut dan pergi "
Ren menjelaskan semua yang dia pikir boleh untuk di jelaskan, dia khawatir penyembah iblis yang bersembunyi akan datang mengetuk pintu kamarnya saat dia menjelaskan semua yang dia temukan.
Neil akhirnya selesai menulis apa yang Ren temukan dalam bentuk laporan" Baiklah, ini akan aku serahkan kepada orang yang membuat misi ini "
Setelah itu Neil menyimpan laporan tersebut di dalam laci lalu mengambil dua lembar Fond senilai 5 Fond.
" Ini hadiah mu "
Ren menerima 10 Fond tersebut dan menyimpannya di dalam sakunya.
" Jika boleh tahu, siapa orang yang membuat misi penyelidikan ini? "
" Apa kau ingat misi menyingkirkan pohon hidup terakhir kali? "
" Ya " Perasaan Ren menjadi tidak nyaman.
" kedua misi ini di buat oleh orang yang sama yaitu Erin "
' Erin... bisakah orang ini adalah Erin von Trysa, sial, aku menjadi muak mendengar nama wanita ini! '
' Setiap kali nama ini muncul, kepalaku menjadi sangat pusing! '
' Tidak, bukan itu yang penting sekarang, tidak peduli apakah mereka orang yang sama, wanita bernama Erin ini sudah jelas merupakan penyembah iblis yang aktif membuat misi di guild '
' Tapi karena Neil tidak begitu ingat dengannya sebelumnya, pasti ada orang lain yang bertugas membuat misi di guild '
Ren mengingat kembali pohon hidup yang dapat mempengaruhi pikiran dan desa goblin, jika keduanya di gabung, itu sudah cukup untuk menghancurkan desa Welos.
Tiba-tiba muncul pohon hidup dewasa saja sudah aneh, setelah mengetahui jika campur tangan seseorang, kemunculan pohon hidup menjadi wajar menurut Ren.
' Jika saja aku gagal mengalahkan pohon hidup...tidak, jika saja orang asing yang membantuku itu tidak datang, tengkorak ku dan tengkorak warga desa Welos mungkin sudah menjadi koleksi para penyembah iblis sekarang '
" Kau kenapa? "
Ren tersentak dan kembali ke kenyataan.
" Tidak ada, aku baik-baik saja, terimakasih karena sudah memberi tahuku tentangnya, aku pergi dulu "
" Ya "
Dengan itu, Ren keluar dari guild, pergi menuju penginapan nyonya Smir, lalu mengatur rencana untuk mengirimkan surat-surat yang dia dapatkan di kamar.
Di luar, di samping pintu, Ren melihat Evan sedang berdiri dengan tangan terlipat dan punggung menempel di dinding.
" Ren..."
Sambil menatap serius Ren, Evan mengeluarkan amplop surat milik Lottie.
" Surat ini bukan kau kan yang menulisnya? "
" Mau ku tebas? "
" Hahaha... bercanda "
Evan mulai tertawa terbahak-bahak, Ren bingung bagian mana yang lucu dari perkataannya tadi.
" Hahh... terimakasih karena sudah mengantarkannya, katakan pada gadis itu jika aku ada waktu aku akan datang menemuinya "
Katanya sambil menyimpan kembali amplop surat di dalam sakunya, Ren penasaran kapan Evan akan memiliki waktu untuk menemui Lottie, sepuluh tahun lagi, lima puluh tahun lagi, atau seratus tahun.
" Daripada itu, aku ingin membicarakan sesuatu denganmu "
" Apa itu? "
" Aku mengambil misi untuk mencari orang yang hilang di Dungeon Elzo, dan karena kau ingin mencari bahan untuk membuat pedang, bagaimana jika kau ikut denganku? "
Ren tidak langsung menjawab, niatnya mengajakku pergi ke Dungeon hanya cahaya mempermudah pencarian, tidak ada yang lain.
" Baiklah, kapan kita akan pergi? "
" Aku inginnya besok tapi aku masih ingin mencari dua anggota lagi, karena tidak tahu apa aku akan mendapatkannya atau tidak jadi aku memutuskan untuk pergi lusa "
Dungeon adalah tempat yang berbahaya, meskipun Ren dan Evan mendapatkan warisan Kaisar Pedang, mereka tidak memiliki kepercayaan diri untuk menjelajahi Dungeon dengan bebas.
" Baiklah, apa kita akan bertemu di guild? "
" Ya "
Setelah itu, Ren berpamitan pada Evan dan melanjutkan kembali perjalanannya menuju penginapan.
••• ••• ••• •••
Malam hari, di dekat markas kesatria sihir.
Markas kesatria sihir di kelilingi oleh tembok besar berwarna cokelat, di dalamnya terdapat beberapa struktur yang di bangun khusus untuk para kesatria, ada asrama, gudang senjata, arena latihan, kantor, dan yang lain-lain.
Berdiri di salah satu atap rumah warga, Ren menatap pintu gerbang ganda yang di jaga oleh dua orang, tugas mereka ada dua, mempermudah seseorang yang datang untuk meminta bantuan atau melapor, dan menjaga markas, meskipun sedikit aneh karena harus menjaga seorang penjaga.
Karena khawatir dia akan masuk kedalam area Magic Sense seseorang, selain menekan kehadirannya Ren juga memakai jubah yang memiliki tudung dan topeng untuk menutupi wajahnya.
' Baiklah, ayo mulai '
Ren membuat belasan pedang Aura lalu mengeluarkan semua surat yang dia simpan di saku baju dan celananya, setelah itu dia mengikatkan semuanya di gagang masing-masing pedang.
Setelah semuanya surat terikat pada gagang pedang, Ren menerbangkan semua pedang ke langit lalu kearah kantor kesatria sihir.
DUAR!!
Semua pedang itu menabrak pintu masuk kantor, menghancurkannya dan membuat semua orang yang ada di sekitar menjadi panik.
Agar surat yang di kirim tidak di temukan oleh rekan-rekan penyembah iblis lalu di sembunyikan, Ren sengaja mengirimnya dengan cara yang mencolok agar semua orang berkumpul, dengan hal itu rekan para penyembah iblis tidak memiliki kesempatan untuk melakukan sabotase.
Setelah surat terkirim, Ren bersiap untuk pergi, itulah yang dia pikirkan sebelum seorang wanita berambut putih muncul di belakangnya, mata kuningnya menatap tajam Ren, wanita tersebut tak lain adalah kapten kesatria sihir yang baru, Terina von Holav.
Terina membuat lingkaran sihir di dalam kepalanya dengan kecepatan yang lebih tinggi daripada Gram, angin tiba-tiba muncul di belakang Ren dan menghempaskannya, membuat Ren menabrak tembok salah satu rumah warga.
" Menyerang markas kesatria adalah kejahatan serius, bersiaplah untuk menerima hukumanmu "
Ren menggeram, jika bukan karena Armor Aura yang melindungi tubuhnya, dia sangat yakin salah satu tulangnya akan patah.
Saat Ren mendarat di tanah, dia menatap Terina yang melayang di tepi atap rumah lalu mendecakkan lidahnya, situasi yang paling merepotkan dan tidak di inginkan oleh Ren baru saja terjadi.
Tubuh Ren menjadi sangat berat, dia yakin Terina menggunakan kemampuan manipulasi gravitasi untuk menekan Ren.
Ren membuat pedang Aura lalu dengan cepat menembakkannya kearah Terina, namun sayangnya, arah pedang berubah di tengah perjalanan, Terina menggunakan angin untuk mengubah arah pedang.
Di saat Terina ingin menggunakan teknik sihir lainnya, Ren menggunakan Flash Steps untuk keluar dari pandangan Terina, dan benar saja, dia berhasil lepas dari tekanan gravitasi.
Setelah itu Ren menaiki pedang terbang dan menjauh dari Terina dengan cepat, melawan Mage bintang 3 adalah sesuatu yang mustahil untuk dilakukan di levelnya sekarang.
Terina membuat bilah angin yang tak terhitung jumlahnya, menembakkan semuanya kearah Ren yang sedang melarikan diri.
Ren menggunakan tangannya untuk membuat Bilah Aura dalam upaya menahan semua bilah angin milik Terina, hasil dari tabrakan keduanya adalah ledakan yang membangunkan semua orang di sekitar.
Asap yang dihasilkan membantu Ren untuk keluar dari pandangan Terina, dia dengan cepat terbang menjauh, Terina yang melihat hal itu melalui Magic Sense nya mencoba mengejar tapi berhenti karena mendengar suara bawahannya.
" Kapten, ada sebuah surat yang terikat di pedang orang itu? "
"...."
Surat...Terina akhirnya memahami tujuan Ren, dia dengan cepat turun ke bawah untuk membaca surat-surat yang ada.
Setelah membacanya, ekspresi wajah Terina berubah gelap, dia tahu apa alasan penyerang tadi menyerang kantor kesatria dengan wajah di tutupi topeng.
" Bentuk kelompok, kita akan pergi ke guild petualang sekarang "
" Uh... kapten, kupikir kita harus memeriksa keasliannya..."
Sebelum orang tersebut menyelesaikan kata-katanya, Terina menatapnya tajam dan membuatnya berhenti bicara.
Sama seperti Ren, Terina juga mencurigai adanya kaki tangan para penyembah iblis di kelompok kesatria sihir, para serangga ini sudah menyebar ke berbagai tempat!
" Baik kapten "
Saat semua orang bersiap, Terina melihat kearah Ren pergi.
' Sepertinya dia adalah petualang yang secara tidak sengaja menemukan surat-surat ini, jika semuanya benar, dia harus mendapatkan apresiasi atas perbuatannya ini '
••• •••
Guild petualang.
Evan duduk sambil menatap seorang wanita berambut panjang berwarna cokelat, mata biru, dan wajah halus dan mempesona.
Wanita tersebut memakai kemeja berenda berwarna putih, rok panjang yang memiliki warna serasi dengan rambutnya, korset, dan sepatu kulit berwarna cokelat.
" Jadi, apa yang ingin kau bicarakan denganku Evan? "
Namanya adalah Erica Novan, sama seperti Evan, dia adalah petualang Rank Silver yang sebentar lagi akan naik ke Rank Gold.
" Aku ingin mengajakmu untuk masuk ke dalam Dungeon, aku memiliki misi untuk mencari orang hilang disana dan aku butuh bantuanmu "
" Aku mengerti, tapi tidak, malas "
Kata Erica dengan ekspresi wajah lesu.
" Kau tahu Evan, Dungeon itu gelap, dingin, dan berbahaya, selain monster, ada juga petualang lainnya yang perlu di khawatirkan, itu bukanlah tempat yang harus di kunjungi oleh wanita lemah sepertiku, hahh, jika bukan karena aku butuh uang untuk biaya penelitian dan membeli rokok, aku tidak akan mendekati pekerjaan seperti petualang ini "
" Sialan pekerjaan ini, setiap kali aku selesai mengerjakan misi, kakiku bergetar seolah akan patah, kenapa dunia ini ada yang miskin dan kaya, kenapa tidak kaya semuanya saja, meskipun berubah menjadi monyet, itu tidak masalah selama hidup tenang tanpa beban "
Erica menempelkan wajahnya di meja setelah mengatakan itu, Evan yang melihatnya tidak bisa berkata apa-apa.
" Evan, aku punya saran! "
" Apa itu? "
" Aku akan ikut membantumu dalam menghabiskan hasil dari menjelajah Dungeon, bagaimana dengan itu, kau tidak perlu pusing lagi mencari ide untuk menghabiskan semua uangmu, berikan saja semuanya padaku, aku jamin semua uangmu akan di gunakan untuk sesuatu yang sangat sangat sangat sangat sangat sangat sangat sangat sangat sangat sangat sangat sangat sangat sangat sangat sangat sangat sangat sangat sangat sangat sangat bermanfaat "
"..."
Melihat wajah bersemangat Erica, Evan menghela nafas.
" Erica, kau pikir aku ini anak kecil? "
" Salah?...kau itu lebih muda dariku "
Meskipun tingkah laku Erica sangat unik, dia sebenarnya adalah Mage yang jenius, dia baru menjadi Mage tahun lalu dan sekarang sudah berada di level bintang 2.
Saat Evan ingin mengatakan sesuatu, sekelompok kesatria masuk ke guild dan menarik perhatian semua orang, dan yang paling menarik perhatian adalah wanita berambut putih, Terina.
Mata Terina dan mata Evan bertemu, sementara wajah Terina di penuhi keterkejutan, Evan mengalihkan wajahnya.
" Evan..."
"..."
Erica melihat kearah Evan lalu kearah Terina dan kembali melihat kearah Evan, melihat keduanya, dia yakin ada hubungan yang rumit di antara keduanya.
Evan memejamkan matanya sebentar lalu melihat kearah Terina kembali dengan senyuman di wajahnya.
" Sudah lama Terina, apa kau baik-baik saja selama ini? "
"...Maaf karena mengganggu, dan jangan panggil aku Terina, tapi nyonya Terina "
"...."
Terina pergi menuju meja resepsionis, meninggalkan Evan yang kembali duduk di mejanya dengan senyuman pasrah.
Karena pergantian pekerja, orang yang menjadi resepsionis saat ini bukan Neil, tapi orang lain.
" Ada yang bisa saya bantu? "
" Aku ingin memeriksa semua misi yang sudah selesai mulai dari tahun lalu sampai sekarang "
Evan dan para petualang lainnya yang mendengar hal itu menjadi penasaran.
" Jika saya boleh tahu apa yang akan anda lakukan? "
" Ini rahasia "
" Baiklah, karena mengumpulkannya akan membutuhkan waktu jadi anda harus sedikit bersabar "
" Tidak masalah "
Terina duduk di kursi terdekat, menunggu resepsionis selesai dengan wajah tanpa ekspresi.