Kyranza wanita yang baru saja di terima di sebuah perusahaan ternama membuat kehidupannya lebih baik dari sebelumnya. Bagaimana tidak sebelumnya dia harus melakukan tiga pekerjaan sekaligus dalam sehari untuk bisa menafkahi putra semata wayangnya itu.
Kejadian lima tahun yang lalu setelah bercerai dengan suaminya membuat kyra menjadi wanita yang tangguh.
Tapi semuanya hanya hanya sekejap mantan suaminya itu kembali muncul dan terus mengganggu kehidupannya.
" Menikah kembali denganku, maka hidupmu akan baik-baik saja"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22
Pukul enam lewat empat puluh lima menit malam.
Bagas tiba di depan kontrakan Kyra, tepat waktu sesuai yang ia janjikan. Ia sudah mengirimkan pesan singkat beberapa jam sebelumnya agar Kyra bersiap. Dalam benaknya, Kyra pasti sudah memakai gaun biru gelap itu dan merias diri sedikit, menunggu di balik pintu.
Ia memarkir mobilnya dan berjalan menuju pintu. Ia mengetuk, tidak sabar.
Pintu terbuka, dan Kyra berdiri di ambang pintu. Ia sudah mandi, rambutnya diikat longgar, tetapi ia masih mengenakan pakaian rumahan yang santai: celana training usang dan kaus oblong. Aldian sedang asyik menonton kartun di televisi kecil di pojok ruangan, masih dengan piyama.
Bagas terpaku sejenak… lalu menatap Kyra.
“Kau belum siap.”
Kyra menyilangkan tangan di dada. “Aku sudah bilang aku tidak mau ikut. Aku capek—”
“Aku sudah kirim pesan sejak siang,” potong Bagas. “Kita harus berangkat sekarang.”
Kyra memutar mata. “Aku tidak peduli. Aku bilang tidak—”
"Kyra, ini pukul tujuh malam. Kita harus pergi sekarang. Kenapa kau belum siap?" tuntut Bagas,
Kyra bersedekap. "Aku sudah bilang aku tidak mau ikut acaramu, Bagas. Aku tidak tertarik dengan urusan orang kaya."
Bagas melangkah masuk ke kontrakan, tatapannya menyapu ruangan. Aldian menoleh sekilas, menyapa "Om Bagas!" dengan riang, lalu kembali fokus ke kartun.
"Aku sudah memberimu pakaian. Aku sudah memberimu waktu. Kenapa kau menolak, Kyra?"
"Karena aku tidak punya urusan denganmu! Aku sudah keluar dari hidupmu! Aku tidak mau kau mengaturnya lagi!" balas Kyra, suaranya meninggi, meskipun ia berusaha menahannya agar Aldian tidak terganggu.
Bagas mencondongkan tubuhnya ke depan, mendekatkan wajahnya ke wajah Kyra.
"Kau bilang kau sudah keluar dari hidupku?" tanya Bagas dingin. "Kau pergi. Kau menghilang. Kau kabur. Tapi sampai sekarang, kita belum bercerai, Kyra. Secara hukum, kau masih istriku.”"
Kyra terdiam. Itu adalah fakta yang keras. Dalam kekacauan saat mereka berpisah lima tahun lalu, tidak ada proses hukum yang pernah diajukan. Mereka secara teknis masih terikat.
"Surat pernikahan kita masih sah di mata hukum. Kau masih istriku, Kyra," lanjut Bagas, suaranya menusuk. "Dan malam ini, aku butuh istriku dan putraku untuk menemaniku di acara penting."
Bagas menghela napas, menyadari ia harus menggunakan taktik yang berbeda. Ia berjalan ke arah Aldian.
"Aldian, Jagoan," panggil Bagas lembut. " Baju yang Aldian coba di mal tempo hari. Ayo kita pakai baju keren ini, lalu kita pergi lihat tempat yang sangat indah malam ini."
"Asyik!" seru Aldian, segera mematikan TV. "Mau pakai baju keren, Om!"
Aldian lari ke arah kantung pakaiannya, dan Bagas dengan cepat membantu Aldian mengganti piyama dengan kemeja dan celana yang baru. Hanya butuh waktu beberapa menit bagi Aldian untuk siap.
Bagas dengan cepat membantu Aldian mengganti piyama dengan kemeja dan celana yang baru. Hanya butuh waktu beberapa menit bagi Aldian untuk siap.
Sambil membenarkan kerah Aldian, Bagas menoleh ke Kyra, yang masih berdiri mematung di dekat pintu.
"Aldian sudah siap. Sekarang giliranmu," ujar Bagas.
Kyra menggeleng tegas. "Aku tidak mau memakai gaun itu, Bagas. Aku akan pakai bajuku sendiri."
"Baiklah, Kyra," katanya, pasrah. "Pakai saja yang kau mau. Tapi cepat. Lima menit. Aku tidak mau terlambat."
Bagas mendekat lebih dekat, cukup dekat hingga Kyra bisa merasakan napasnya mengenai pipinya.
“Sebenarnya aku lebih suka kau pakai gaun itu,” ucap Bagas pelan, “tapi jika kau memilih pakaianmu sendiri… aku tidak akan memaksa. Asal kau ikut.”
Kyra menelan ludah.
“Bagas… apa sebenarnya rencanamu?”
Bagas tersenyum, senyum kecil yang berbahaya.
“Kau akan tahu nanti.”
Kyra memelototkan mata. “Aku tidak suka rahasia.”
“Aku juga tidak suka kau menghilang lima tahun,” balas Bagas tenang.
Kyra terdiam. Bagas menoleh ke Aldian. “Ayo tunggu di mobil, Jagoan. Bunda mau siap-siap dulu.”
Aldian langsung mengangguk dan berlari riang keluar dengannya.
kyra meninggalkan kontrakan sederhana itu menuju mobil mewah yang terparkir di ujung gang. Kyra membawa serta tas selempangnya, wajahnya menunjukkan kombinasi cemas, kesal, dan sedikit rasa ingin tahu yang tidak bisa ia sembunyikan.
Begitu mereka duduk di dalam mobil, Kyra tidak bisa menahan rasa penasarannya lagi. Ia menoleh ke Bagas yang duduk di kursi penumpang depan, wajahnya tegang dan tampak sangat fokus.
“Bagas, kita mau ke mana?” tanya Kyra, suaranya pelan tapi mendesak.
Bagas tidak langsung menjawab. Ia menunggu hingga mobil melaju meninggalkan gang sempit itu, memasuki jalanan kota yang lebih ramai.
“Kita akan ke suatu tempat. Tempat di mana kita seharusnya berada sejak dulu,” jawab Bagas,
“Bagas… kemana kau membawa kami?”
“Lihat saja nanti.”
“Bagas!” suara Kyra meninggi.
Ia menoleh sebentar, tatapannya teduh namun teguh. “Tenang. Tidak ada bahaya.”
“Jawab, Bagas.”
Senyum miring Bagas muncul, senyum yang selalu membuat Kyra gelisah. “Kau pasti tahu tempatnya.”
Mobil terus melaju, meninggalkan pusat kota menuju kawasan elit yang dipenuhi rumah-rumah mewah dan gerbang-gerbang tinggi. Kyra mulai merasakan kegelisahan yang memuncak. Kawasan ini terasa familier.
Aldian, di sisi lain, sangat menikmati perjalanan itu. “Om Bagas, kita mau lihat istana, ya?” tanyanya riang, menunjuk ke luar jendela.
“Om Bagas! Itu rumah besar banget!” seru Aldian tiba-tiba, menempelkan wajah ke kaca mobil.
Bagas membelok perlahan ke jalan masuk sebuah rumah megah dengan gerbang hitam tinggi dan halaman luas. Lampu-lampu taman menyala lembut, menyoroti fasad rumah bergaya Eropa yang tampak sangat mewah.
Rumah itu…
Rumah yang masih ia ingat.
Rumah keluarga Bagas.
Aldian berseru takjub. “Waaah! Om, ini rumah siapa? Besar banget!”
Bagas mematikan mesin mobil, lalu menoleh ke belakang dan tersenyum kecil. “Ini rumah… Om"