Riana terpaksa menjadi Sekertaris Zayn Abimanyu yang gila kerja dan sangat ketat karena Sekertaris sebelumnya memilih Resign karena tak kuat menanggung beban kerjanya. Namun bukan hanya itu masalahnya, Riana menemukan sesuatu yang lebih gila dari Bosnya itu.
Lima kepribadian dalam satu tubuh. Zayn, Ares, Dewa, Rayan dan Bram, setiap nama punya karakter masing-masing.
Dewa si penggoda ulung - Miss I Love You.
Ares - Kakak cantik, tubuh Kakak wangi sekali.
Rayan - si culun yang pemalu.
Bram - Ketua Geng motor rahasia.
Sedang Zayn, si bos dingin yang entah sejak kapan mulai tertarik dengan Riana, wanita yang menjadi pelindungnya, pemegang rahasianya yang seluruh dunia tidak boleh tahu, termasuk keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Whidie Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 - Bos yang baik
Zayn mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, dia melirik kearah samping ternyata Riana tertidur pulas kepalanya miring ke samping namun tubuhnya masih tertahan seat belt dari kursi penumpang.
‘Kelelahan juga ternyata dia, tadi siapa yang sombong banget bisa kuat nyetir lama,’ Zayn tersenyum samar, senyum yang hampir tak terlihat.
Mobil sudah memasuki area perumahan, hanya tinggal melewati satu blok lagi hingga sampai di rumah. Zayn mengurangi kecepatannya, dia melirik kembali kearah Riana yang masih saja tertidur dengan pulasnya, seolah dia berada di kasurnya sendiri, meski suara bising jalanan dan mobil berguncang sekalipun saking lelahnya dia tak terbangun sama sekali.
Zayn menepikan mobilnya di tepi jalan, membiarkan Riana tetap terlelap meski jarak menuju rumahnya hanya tinggal beberapa meter lagi.
‘Aku akan biarkan kamu istirahat sebentar lagi,’ batinnya bergumam, dia tak berani menatap langsung wajah Riana, hanya melirik tipis-tipis lewat ujung matanya, entahlah jika dia melihat wajah Riana secara langsung hatinya selalu merasa aneh, otaknya bilang ada yang salah. Jadi lebih baik jangan di lihat.
Dia merogoh ponselnya dari dalam saku jasnya, namun ponselnya sengaja di mati kan sejak siang tadi, dari pada menyalakannya sekarang dan tiba-tiba ada yang mengganggunya malam-malam begini, lebih baik biarkan tetap mati saja, pikirnya. Zayn kembali menyimpan ponselnya kedalam saku Jasnya.
Lama dia membiarkan Riana terlelap, dia tak berani membangunkan sang sekertaris dari lelapnya, namun perlahan kantuk pun mulai menyerang matanya sendiri. Dia menggelengkan kepalanya berusaha menyadarkan diri kembali.
‘Tidak, kau tidak boleh tertidur Zayn, setidaknya tunggu sampai ke rumah dulu,’ dia mengingatkan dirinya. Dia memilih menyalakan mobil kembali dan melajukannya perlahan, hanya berputar-putar di area blok tempat tinggalnya, hingga akhirnya tidur Riana terusik karena guncangan pelan yang di rasakannya saat mobil melewati polisi tidur.
“Kita belum sampai Pak?” hoam, tanya Riana dengan mata menyipit melihat sekeliling.
“Ehem sudah mau sampai ko,” dustanya. Faktanya sudah hampir satu jam lebih Zayn berada di tempat ini, menunggu Riana terbangun dengan sendirinya, karena tak berani membangunkannya.
“Maaf Pak saya ketiduran. Jadi Bapak harus nyetir sendiri,” ujarnya.
“Iya, kamu malah enak-enakkan tidur, sementara Bos disuruh nyetir. Kalau saya Bos yang jahat sudah saya pecat kamu dan potong gaji dua bulan,” balasnya, dengan wajah masam.
“Dih, jangan atuh Pak, Bapak kan Bos yang baik,” bujuk Riana sambil memasang senyum sejuta wat, senyum andalan untuk meluluhkan hati Bosnya.
Zayn melempar tatapan malas sambil menarik tuas mobilnya yang telah memasuki carport rumahnya.
“Karena kamu selalu menolong saya saat saya jadi orang lain, kali ini saya akan maafkan kamu,” Ujarnya sambil berlalu masuk lebih dulu.
“Hehe makasih Pak Bos yang baik.” Zayn berlalu mengabaikannya.
Setelah membersihkan diri, Riana menyalakan kembali ponselnya yang ia matikan sejak siang hari, beberapa pesan dan panggilan tak terjawab masuk hampir bersamaan, namun bukan panggilan penting jadi bodo amat lah, namun ada satu nama yang mengusiknya, Tuan Adam. Nama itu sedikit mengusiknya tapi semuanya sudah terlanjur terjadi, jadi biarkan saja.
Ponselnya berdering kembali, kali ini dari orang tuanya sendiri, “halo Mah,” ucap Riana.
“Halo sayang, kamu ada dimana? Mamah datang ke apartemen kamu ko gak ada, Mamah telpon hp kamu juga gak aktif?” keluhan dari sebrang telpon langsung terdengar.
“Hah, emangnya Mamah lagi di Jakarta?”
“Iya, Papah lagi ada urusan bisnis jadi Mamah ngikut, sekalian pengen ketemu kamu sama Abang,” Jelasnya dari sebrang sana.
‘Aduh, mampus gue kenapa nyokap gak bilang dulu mau dateng kesini,’ Riana menepuk jidatnya sendiri.
“Err, tapi sekarang aku lagi diluar kota Mah, lagi ada kerjaan, lusa baru pulang,” dusta Riana.
“Yah, sayang banget. Padahal Mamah tuh kangen banget pengen ketemu kamu, nanti Mamah coba diskusi sama Papah siapa tahu dia bisa menunda kepulangannya.”
“Hah, i-iya Mah,” haha Riana tertawa garing.
“Ya udah. Mamah tutup dulu telponnya ya, baye sayang.” Panggilan pun berakhir.
“Haish, gimana nih kalau nyokap beneran nunda kepulangannya cuma karena pengen ketemu gue? Ck.” Riana menggigiti kuku jarinya pelan, otaknya berputar mencari solusi.
Riana punya seorang Kakak laki-laki yang entah tinggal dimana, mereka jarang bertemu semenjak Ibunya menikah lagi dan pindah ke luar negeri, Kakaknya juga tidak pernah menghubunginya sejak saat itu, mereka hidup masing-masing karena memang sama sekali tak ingin ikut campur dan memilih jalan sendiri-sendiri.
riana kan pawang zayn..
🤣🤣😄😄💪💪❤😍😍
❤❤❤😍😍😍
itu bukan ketergantungan..
tapi ..
cemburu berat...
🤣😄😄😍😍❤💪💪💪❤❤
😍😍❤❤💪💪💪
zayn cemburuuuu..
😄😄😍❤💪💪
akankah Riana ninggkain zayn saqt ada mamanya..
😍😍❤❤💪💪💪
jadi senyum2 bacanya..
😄😄😄😄😄😍😍❤💪💪💪
zayn mulai ada rasa..
mereka berdua deh..
😄😄😍😍❤💪💪💪
😍😍❤💪💪
bener2..
kasihan zayn..
dirawat tapi diundat2...
😍😍😍❤❤💪💪
klai gk takut..
minggat aj azayn..
😄😄❤❤💪💪
❤😍😍💪💪💪
❤❤😍💪💪💪
spesies baru lagi ini..
😄😄😄😄❤❤😍💪1
❤❤❤❤❤❤😍😍😍😍😍💪💪💪
🤣🤣😄😄❤❤😍💪💪
❤❤😍😍💪
🤣🤣😄❤❤😍💪
bukan aruna ya kak..
😄❤😍💪
😄😄😄