Maharani, gadis manis tapi pemalu yang menyukai seorang laki-laki anak kepala desa yang tampan bernama Andrean.
cinta yang tulus tapi dibalas oleh sebuah kejahatan.
maharani hanya menuntut tanggung jawab, tapi dia dijebak, lalu di rud*p*ksa oleh Andrean bersama dua rekannya.
maharani di tolong oleh seroang nenek yang kemudian memberinya ilmu kanuragan untuk balas dendam pada orang-orang yang menyakitinya.
akankah para pelaku ditangkap atau berakhir tragis, yuk simak kisahnya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
akhirnya bertemu
Kabar Tejo yang luka parah berhembus lebih cepat daripada angin yang menyejukkan.
Suasana pagi di desa Lestari terasa mencekam.
Pintu-pintu rumah yang selalu terbuka mendadak kini ditutup rapat.
Aktivitas penduduk tak lagi ramai seperti biasanya.
Sawah dan ladang tak lagi ramai dengan para pekerjanya.
Jalanan desa begitu lengang.
Mereka lebih memilih berdiam diri dirumah dan memastikan anggota keluarga tidak kemana-mana.
Pak Herman selaku kepala desa kini sedang dilanda kepanikan.
Pasalnya dia mendapat laporan dari polisi jika mobil Andre ditemukan di jalan sekitaran hutan pinus namun tak ada siapa-siapa disana.
Hanya noda dar*h yang ditemukan.
"Pak... bagaimana kalau Andre dibawa penghuni hutan pinus? Ibu takut dia kenapa-kenapa..." isak Ratih istrinya.
"Tidak mungkin buk... Putra kita bukan laki-laki penggoda apalagi suka bermain perempuan..." sanggah pak Herman cepat.
"Lalu dia dimana? Atau jangan-jangan mbah Djani menculiknya...? Bagaimana ini pak? Putra kita bisa jadi korban ritualnya...." tangis Ratih makin kencang.
"Selamat pagi pak Herman" sapa Tio yang baru saja tiba di kediaman pak Herman.
"Pagi... bagaimana, kalian sudah dapat petunjuk?" cecar pak Herman tal sabar.
"Saya tidak yakin apakah ini petunjuk atau semacamnya.. Tapi saya kemari hanya ingin memastikan sesuatu..." tukas Tio tegas.
Pak Herman dan istri saling pandang.
"Maksudnya?" tanya pasangan itu heran.
Tio terlihat mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya.
"Apa anda kenal dengan jam tangan ini?"
"Ini jam tangan Andre, kenapa ada pada anda?" ujar Ratih merebut jam tangan yang dibungkus plastik bening.
Alis Tio terangkat sebelah.
Matanya begitu dingin.
"Tunggu...! Bisa jelaskan ada apa sebenarnya?" sela pak Herman.
Tio menarik nafas pendek.
"Kami sedang menyelidiki kasus hilangnya nona Lira"
"Lalu apa hubungannya dengan Andre?* potong Ratih cepat.
" Diduga, laki-laki teman kencan nona Lira adalah putra anda, Andrean" tegas Tio.
"Jangan bercanda kalian! Putraku bukan pembun*h! Dia itu sarjana. Laki-laki terhormat, berpendidikan, mana mungkin melakukan hal rendah apalagi berkencan dengan sembarang perempuan. Mereka saja yang merayu putra ku karena dia tampan dan kaya. Aku bisa tuntut kalian karena fitnah ini!" emosi bu Ratih.
"Apa kalian sudah memastikannya? Bisa saja itu bukan Andre... Kan yang pakai jam itu banyak karena bukan barang limited edition..." ujar pak Herman.
Wajah lelah pria tua itu begitu terlihat. Keriput di keningnya sudah semakin banyak saja dari yang terakhir Tio ingat.
Tio mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan rekaman video saat laki-laki yang diduga Andre masuk kedalam kamar hotel.
"Ini... ini bisa saja orang lain... Banyak yang menyerupai... Lagipula kalian tidak bisa lihat wajahnya dengan jelas!" lagi, bu Ratih membantah rekaman itu.
"Bu Ratih berhak membantahnya tapi kami selaku penyidik akan tetap menyelidikinya" tegas Tio.
"Jangan salah duga pak Tio... Istri ku benar. Andre putra kami anak baik-baik yang tidak mungkin bisa berbuat demikian... Jika ini tidak terbukti, kalian akan saya tuntut atas tuduhan palsu" ujar pak Herman.
"Kami tidak akan gegabah pak Herman... Kami memang sedang menyelidikinya... Tapi saat ini semua bukti tetap mengarah pada putra anda. Postur badan dan gaya berjalannya juga sama persis dengan Andrean" ujar Tio.
"Dan satu lagi,.."
"Apa lagi? Kalian mau tuduh putraku apalagi? Apa kalian mau tuduh jika Andre juga terlibat atas hilangnya Maharani, iya??" sembur bu Ratih.
Tio menggaruk pelipisnya yang tidak gatal "Bisa jadi" ujarnya yang membuat bola mata bu Ratih melotot.
"Kami juga menemukan satu kerangka tak jauh dari temuan jasad nona Lira... Dan itu adalah kerangka berjenis kelamin laki-laki seusia Andrean.." ujar Tio.
Pak Herman mengernyitkan kening.
Dadanya berdetak jauh lebih cepat dari sebelumnya.
"Itu adalah kerangka Bimo, sahabat karib Andrean yang dilaporkan hilang beberapa waktu lalu oleh kekasihnya" papar Tio.
Pak Herman menekan dadanya setelah mendengar kabar tersebut.
Jantungnya memompa cepat.
Nafasnya tercekat.
"Pak...."
"Pak Herman...."
Teriak Tio dan bu Ratih bersamaan karena pak Herman jatuh tersungkur.
"Pak... jangan tinggalin ibu... Ibu mohon...." tangis bu Ratih pecah.
Tak lama, pak Herman telah dibawa dengan ambulance.
Dia terkena serangan jantung.
Tio menghembus nafas kasar.
Selesai dari hutan pinus tadi malam, dia mendapat kabar dari tim forensik jika kerangka yang ditemukan di sekitaran danau adalah Bimo.
Menurut pengakuan kekasih Bimo, jika Andrelah yang kemungkinan yang telah menghabisinya karena Bimo menyimpan rahasia Andre.
Tio dan tim masih menyelidik pengakuan kekasih dari Bimo tersebut.
Jika itu benar, maka bisa jadi Andre akan di jerat pasal berlapis dengan maksimal hukuman m*ti atau minimal penjara seumur hidup.
Dan satu-satunya orang yang bisa memberikan keterangan adalah Andrean namun laki-laki itu hilang bak ditelan bumi.
Tak ada jejak atau apapun hanya jam tangan yang Tio dapatkan di bawah jok mobilnya yang terparkir asal di jalanan hutan pinus.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ditempat lain...
Andre meringis.
Matanya terbuka perlahan.
Hidungnya mencium aroma busuk yang membuat perut mual.
"Kamu sudah bangun mas...?" suara merdu perempuan mampu membuka mata Andre lebar-lebar.
Nafasnya tercekat.
Bibirnya kelu.
Andre mengenali suara lembut itu.
Dia mencoba bangkit guna memastikannya namun tubuhnya kaku seperti dihimpit benda berat.
Bola matanya hampir saja lompat saat perempuan cantik itu mendekat padanya.
"Maharani"
Nama itu hanya bisa dilafazkan oleh Andre dalam hati saja.
Senyum yang ditampilkan oleh perempuan cantik didepan Andre tak mampu membuat ketegangan diwajahnya mengendur.
"Kenapa? Kaget ya aku masih hidup?" kekeh perempuan yang tak lain adalah Maharani.
Maharani meletakkan bakul yang semula ia pegang.
Sedikit membungkuk tepat disisi telinga Andre.
"Lukanya udah mulai sembuh... Nggak pa-pa..." ujarnya dengan suara rendah nan lembut tapi bagi Andre ini bagaikan pisau yang menghunus jantungnya.
Jemari Rani menelusuri pipi Andre yang dipenuhi keringat.
"Kamu masih tampan seperti biasanya...." kelakar Rani diiringi kekehan.
Rani kembali menegakkan punggung kembali.
Maharani bersenandung merdu sembari mengerjakan sesuatu.
Dia bagaikan perempuan yang sedang jatuh cinta.
Tapi bagi Andre, ini petaka.
Dia yakin, jika setelah ini dia tidak akan bisa keliar hidup-hidup dari tempat itu.
"Kenapa wajahmu tegang begitu mas...? Kamu kayak lagi lihat hantu saja..." ujar Rani santai yang masih memunggungi Andre sementara yang diajak bicara wajahnya seperti sudah tidak dialiri d*rah alias pucat pasi.
"Cah ayu... Ini pesananmu..." Mbah Djani masuk ke gubuk dengan menenteng benda yang membuat darah Andre makin turun ke perut.
Dia mual seketika.
"Ueekk...."
Rani melirik dengan ujung mata dan tersenyum kecil.
"Mbah... mbah bikin takut tamu kita..." kelakarnya.
Tapi yang diajak bercanda diam saja.
"Taruh saja di panci mbah... Nanti aku yang rebus..." ujarnya santai.
B*lu roman Andre berdiri tegak.
Dia ngeri.
Dia ingin cepat bisa pergi dari sana tapi tak tahu caranya.
Badannya saja kaku dan tak bisa digerakkan.
"Itu jantung dan hati laki-laki tua yang tadi malam... Memamgnya mau kau apakan Rani?"
"Mau untuk aku beri makan anak-anak ku... Kasihan mereka kelaparan...." ujar Rani santai.
Demi Tuhan, Andre sudah tak tahan.
"Jangan-jangan, itu hati juragan Kardi... Jika benar, berarti korban selanjutnya adalah aku..." batin Andre.
"Kamu benar mas... Ini hati dan jantung juragan Kardi... Laki-laki tua yang sombong dan jahat itu sudah m*ti dan darahnya sudah aku persembahkan pada tuanku... " suara Rani mengejutkan Andre karena berada tepat disisi kepalanya.
Dia seperti sedang membaca isi pikiran Andre.
Entah sejak kapan Rani berada disisinya.
Rani melipat kedua tangannya didada.
Menatap dingin Andrean.
"Giliran kamu nanti mas... Kamu nggak akan segampang itu buat pergi... Ya, setidaknya kamu harua ngerasain sakit dulu lah... Baru setelahnya aku jadikan kamu tumbal untuk tuanku..." ujar Rani santai sambil berlalu kembali pada pekerjaannya.
Santainya Rani berbanding terbalik dengan Andre.
Laki-laki itu pias.
Senyum tipis terbit di bibir Rani.
Tipis namun dingin.
Bersambung....
Dilarang baca sambil makan ya...
Kalau mual, author nggak nanggung lo....
Ssssttttt.... 🤫 Dilarang baca pas lagi sendirian...
hiiii....