"Adek itu penerang hidup kami semua. Mas janji, Mas akan melakukan cara apapun agar Adek bisa sembuh dari kanker. Mas janji, Sayang."
Apalah daya jika janji yang terucap, akan terkalahkan jua oleh takdir yang mutlak. Manusia memang punya rencana, tapi tetap Tuhan yang mengambil kendali dalam segalanya.
Berurai air mata, Ammar berusaha menenangkan sang adik tersayang. Ditemani Sadha dan Dhana yang tak kalah sedih melihat kesedihan sang adik. Dhina menatap ketiga masnya dengan mata yang sembab. Tak menyangka akan hal yang kini terjadi pada dirinya, membuatnya takut, suatu saat nanti penyakit mematikan itu akan merenggut nyawanya.
Ammar, Sadha dan Dhana pun tak kalah terpukul akan kabar buruk yang menimpa sang adik. Takut, khawatir, dan sedih semuanya bercampur aduk. Membuat ketiganya harus tetap kuat dan tegar menerima semua ini, demi sang adik dan kedua orang tua mereka yang tak kalah lebih terpukul.
Akankah Dhina bisa sembuh dari sakitnya?
Apakah Dhina sanggup melewati semua ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DN YM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30 ~ Ikatan Bathin Dhana dan Dhina
...🍁🍁🍁...
Ammar, Sadha, Dhana dan Dokter Ronald masih mencari Dhina di setiap sudut rumah sakit. Ammar dan Dokter Ronald menyusuri setiap lantai rumah sakit, dari lantai satu sampai lantai empat. Tapi tetap saja mereka berdua tidak menemukan Dhina.
Ammar sudah mulai cemas dengan keadaan ini. Apalagi mengingat kondisi Dhina yang belum stabil. Dokter Ronald yang melihat Ammar seperti itu pun berusaha untuk menenangkan sahabatnya.
"Bagaimana ini Dok? Adek tidak ada di mana pun. Semua sudut rumah sakit sudah kita telusuri tapi Adek tidak ketemu." ujar Ammar yang terduduk dan mengusap kepalanya.
"Kamu harus tenang, Am. InsyaAllah Dhina baik-baik saja. Dia wanita yang kuat. Mungkin di saat sadar, Dhina tidak menemukan siapa pun. Jadi dia pergi mencari kalian." jawab Dokter Ronald seraya memegang bahu Ammar.
"Saya khawatir, Dok. Kalau terjadi sesuatu padanya bagaimana? Apa yang harus saya jelaskan pada Ayah dan Ibu saya?" tanya Ammar yang menoleh ke arah Dokter Ronald.
"Saya tau kamu khawatir, Am. Tapi kita harus tetap tenang. Kita tidak akan menemukan jalan keluar dari sebuah masalah jika kita tidak tenang." ujar Dokter Ronald yang meyakinkan Ammar.
Ammar pun menghela nafas panjang, berusaha menenangkan diri dan mengumpulkan tenaga untuk kembali mencari keberadaan sang adik.
"Kita cari lagi Dok?" tanya Ammar yang menoleh ke Dokter Ronald.
"Ayo, bismillah." jawab Dokter Ronald seraya beranjak dari tempat duduknya dan disusul oleh Ammar.
Ammar dan Dokter Ronald pun melanjutkan pencarian Dhina setiap lantai rumah sakit.
***
Di luar rumah sakit, Sadha juga sedang berusaha mencari Dhina di depan hingga ke samping rumah sakit. Namun ia juga tidak menemukan keberadaan adik perempuannya itu. Sadha juga berusaha bertanya ke beberapa orang yang lewat di halaman rumah sakit.
"Adek di mana sih Dek? Mas khawatir sekali sama Adek, apalagi kondisi Adek belum stabil."
Sadha yang sedang berdiri di luar, seraya mengedar pandangannya mencari Dhina pun meracau. Pandangannya tidak lepas menyusuri setiap sudut rumah sakit di bagian luar.
Saat Sadha sedang melihat sekitar, tiba-tiba ada seorang pria paruh baya yang kebetulan lewat tepat di depan Sadha. Lalu dengan cepat, Sadha menghampiri pria itu dan bertanya.
"Permisi, Pak. Saya mau numpang tanya. Apa Bapak melihat adik saya? Orangnya seperti ini." tanya Sadha seraya memperlihatkan foto adik perempuannya itu.
"Maaf, Nak. Bapak tidak lihat." jawab pria paruh baya itu.
"Oh, begitu ya Pak. Kalau begitu terima kasih ya Pak." ujar Sadha pada pria itu.
"Sama-sama, Nak." balas pria paruh baya itu lalu beranjak dan pergi.
Setelah pria itu pergi, Sadha yang mulai putus asa pun mengusap kasar kepala dan wajahnya.
"Ya Allah... adikku di mana? Adek tolong kasih petunjuk biar Mas bisa menemukan Adek."
Sadha pun mulai putus asa untuk mencari Dhina karena sampai saat ini ia belum bisa menemukan adik perempuannya itu. Namun karena mengingat kondisi sang adik yang belum stabil, membuat Sadha harus mencari Dhina sampai ketemu. Lalu Sadha pun melanjutkan pencarian adik perempuannya ke samping rumah sakit.
***
Sama yang di lakukan oleh kedua masnya, Dhana pun juga ikut mencari adik kembarnya itu. Dhana mencari Dhina di halaman belakang rumah sakit. Setiap sudut ruangan yang ada di belakang rumah sakit juga sudah di telusuri oleh Dhana, namun ia tidak melihat ada adik kembarnya disana.
"Adek kembar tolong jangan buat Mas panik seperti ini. Ayo tunjukan diri Adek di mana."
Seraya melihat dan melihat setiap ruangan yang ada, Dhana terus meracau dan berdo'a agar menemukan sang adik di salah satu ruangan itu. Namun sampai ujung pun usaha Dhana nihil dan ia tidak menemukan Dhina di sana.
Tidak menemukan adik kembarnya di sana. Dhana pun memilih pergi ke halaman belakang karena ia sempat mendengar dari beberapa suster kalau di belakang rumah sakit ada sebuah taman.
"Apa aku cari Adek di halaman belakang? Kalau tidak salah di belakang rumah sakit ini ada taman. Siapa tau Adek ada di sana."
Dhana pun berlari menuju halaman belakang dan benar saja kalau di halaman belakang ada taman kecil. Dengan semangat Dhana menyusuri taman itu titik demi titik untuk mencari Dhina.
Setelah sekian lama Dhana menelusuri taman, namun hasilnya tetap sama. Ia tidak menemukan Dhina disana.
"Adek juga tidak ada di sini. Ke mana lagi aku harus mencarinya? Tolong tunjukan padaku di mana adik kembarku."
Dhana pun mulai putus asa dan berniat ingin kembali menemui kedua masnya yang juga sedang mencari Dhina. Tapi ketika Dhana ingin beranjak, tiba-tiba Dhana mendengar suara orang yang sedang menangis.
"Suara tangis siapa itu? Ini belum tengah malam mana mungkin sudah ada hantu."
Rasa takut pun menyelimuti Dhana. Tapi entah kenapa ia tidak langsung lari, melainkan tetap berada di posisinya.
"Suaranya seperti suara wanita. Ayolah, Dhana. Itu bukan hantu. Kamu jangan takut. Berani, Dhana. Berani!!!"
Dhana pun semakin merasa takut saat mendengar suara itu, tapi ia juga harus memeriksa suara itu untuk memastikan kalau suara itu memang bukan suara hantu.
Dhana menghela nafas panjang lalu berjalan perlahan menuju sumber suara itu. Setelah cukup dekat dengan sumber suara, Dhana melihat ada seorang wanita yang sedang duduk di kursi taman dan menangis. Dhana tidak bisa melihat jelas wajah wanita itu karena kepalanya yang tertunduk. Lalu Dhana pun berusaha melihatnya dari sisi lain dan Dhana melihat sebuah pohon besar di dekat kursi itu.
Dhana pun berjalan perlahan ke belakang pohon. Setelah sampai di belakang pohon besar, Dhana melihat ke arah wanita yang sedang duduk di kursi taman itu.
Betapa terkejutnya Dhana saat melihat wajah wanita yang sangat ia kenali itu. Wanita itu adalah adik kembarnya sendiri yaitu Dhina yang sejak tadi sedang ia cari.
Dhana melihat Dhina yang masih lemas dan sedang menangis. Melihat itu Dhana ingin sekali menghampiri adik kembarnya itu. Namun ia harus memberitahu kedua masnya terlebih dahulu kalau dirinya sudah menemukan Dhina. Lalu Dhana beranjak dari pohon besar itu agar bisa menghubungi kedua masnya dan tidak terdengar oleh Dhina.
Tut... Tut... Tut...
"Hallo Mas. Dhana sudah menemukan Adek, Mas. Dia sedang di taman belakang rumah sakit." ujar Dhana dengan lambat pada Ammar.
"Alhamdulillah, kamu tunggu di sana ya. Biar Mas dan Dokter Ronald ke sana sekarang." jawab Ammar yang ingin menyusul Dhana.
Tapi saat Ammar ingin menutup telephone dan pergi menyusul Dhana ke taman belakang rumah sakit, Dhana pun mencegah Ammar.
"Tunggu, Mas. Lebih baik Mas dan Dokter Ronald tidak usah menyusul ke sini." ucap Dhana dan membuat Ammar merasa heran.
"Kenapa Dhana? Apa ada masalah?" tanya Ammar yang kembali merasa cemas pada Dhina.
"Tidak, Mas. Tidak ada masalah. Adek baik-baik saja. Tapi saat ini dia sedang menangis. Dhana juga tidak tau apa penyebabnya. Begini saja, lebih baik Mas beritahu Mas Sadha dan kalian tunggu saja di dalam. Biarkan Dhana berusaha menenangkan dan membujuk Adek." ujar Dhana panjang lebar pada Ammar.
"Kamu yakin?" tanya Ammar yang tidak yakin pada Dhana.
"Dhana yakin, Mas. Percayakan semua sama Dhana. Paling tidak Dhana bisa mengerti apa yang saat ini sedang Adek rasakan. Dhana akan menggunakan feeling sebagai saudara kembar yang kami miliki, Mas." ujar Dhana yang merasa yakin dengan kemampuannya.
"Oke, Mas tunggu kamu di kamar rawat Adek. Nanti kalau kamu berhasil menenangkan Adek, kamu langsung bawa dia ke kamar rawatnya di lantai tiga, kamar mawar putih." ujar Ammar pada Dhana.
"Siap, Mas." ucap Dhana yang hormat lalu menutup telponnya.
Setelah memberitahu Ammar bahwa Dhina berhasil ditemukan. Dhana pun berjalan perlahan menuju kursi taman dan di sana masih ada Dhina.
Tanpa Dhina sadari, kini Dhana sudah duduk di sebelahnya. Dhana menghela nafas panjang karena merasa lega telah menemukan adik kembarnya. Lalu...
"Langit malam ini cerah sekali ya, Dek."
Dhina pun terperanjat dari lamunannya saat mendengar suara yang sangat ia kenali. Lalu Dhina menoleh ke arah orang yang ada di sebelahnya. Dhina terkejut saat melihat orang yang sedang duduk di sebelahnya itu adalah mas kembarnya sendiri.
"Mas Dhana..." ujar Dhina yang memalingkan wajahnya ke arah Dhana dengan mata yang sembap.
"Iya, ini Mas. Mas bisa menemukan Adek bukan? Semua sudut rumah sakit sudah Mas telusuri untuk mencari Adek, tapi ternyata Adek ada di sini." ujar Dhana yang memutar tubuhnya ke arah Dhina.
"Mas sedang apa di sini?" tanya Dhina seraya mengusap air mata yang ada di pipinya tanpa melihat ke Dhana.
"Mas mencari Adek karena Mas kangen sama Adek. Sekarang Mas ingin bertanya pada Adek. Adek sedang apa di sini sendirian?" ujar Dhana dan bertanya balik pada Dhina.
"Tidak sedang apa-apa." jawab Dhina ketus pada Dhana dan membuat Dhana tertawa melihatnya.
"Kenapa adik kembarnya Mas jadi jutek seperti ini sih? Ayolah cerita sama Mas. Adek kenapa menangis? Tidak hanya mata Adek tuh yang sembap, tapi pipi Adek juga bertambah besar karena menangis terus." ujar Dhana yang bercanda seraya mencubit pipi cubby adik kembarnya itu.
"Lebih baik Mas masuk saja. Adek lagi pengen sendiri di sini." jawab Dhina tanpa melihat ke arah Dhana sedikit pun.
"Adikku sayang, jangan seperti ini dong. Mas jadi tidak bisa berbuat sesuatu, kalau Adek tidak cerita. Mas bukan mesin pembaca pikiran orang. Kalau Adek cerita, Mas pasti akan bantu. Mas janji!!!" ujar Dhana seraya meraih tangan Dhina.
"Mas pasti akan bantu Adek?" tanya Dhina pada Dhana dengan ekspresinya yang membuat Dhana heran.
"Pasti!!! Untuk adik kembar Mas yang cantik ini, apa sih yang tidak Mas lakukan." jawab Dhana seraya mencubit kedua pipi adik kembarnya itu.
"Apa Mas bisa menyembuhkan penyakit Adek?" tanya Dhina yang memutar tubuhnya dan menatap Dhana.
Dhana terdiam sekaligus terkejut saat mendengar pertanyaan adik kembarnya itu.
Apa yang dia katakan? Apa Adek sudah tau tentang penyakitnya? Kapan? Siapa yang memberitahunya? Gumam Dhana dalam hatinya.
"Kenapa Mas Dhana diam? Katanya Mas ingin membantu Adek." ujar Dhina yang menatap Dhana dengan tajam.
"Apa yang sedang Adek bicarakan? Mas tidak mengerti." tanya Dhana sambil menggenggam kedua tangan adik perempuannya itu.
"Mas tidak usah menutupi semuanya dari Adek. Adek sudah tau dan sudah mendengar semuanya. Saat kalian semua ada di ruangan dokter itu, Adek melihatnya Mas. Tidak hanya melihat, Adek juga mendengar semuanya. Adek sakit kanker darah stadium dua. Iya 'kan Mas?" tutur Dhina yang beranjak dari duduknya.
Degh!
Dhana benar-benar terkejut saat mendengar perkataan Dhina. Ia tidak menyangka kalau sang adik akan tau lebih dulu sebelum mereka memberitahunya.
"Adek... Adek tenang dulu. Mas dan semuanya tidak bermaksud ingin menutupi masalah ini dari Adek. Justru kami semua sedang mencari waktu yang tepat untuk memberitahu semuanya pada Adek." jelas Dhana yang ikut beranjak dari duduknya lalu meraih bahu Dhina.
Rasa sedih di hati Dhina terbuka lagi saat mendengar perkataan mas kembarnya itu. Dhina pun memutar tubuhnya dan menatap sendu wajah Dhana. Lalu Dhina menghambur ke dalam pelukan Dhana dan menangis lagi.
"Adek sakit kanker, Mas. Adek sekarang penyakitan. Adek hanya bisa menyusahkan kalian semua. Adek tidak ingin itu. Adek tidak ingin menyusahkan kalian semua, Mas." ujar Dhina disela-sela isak tangisnya.
Tangis Dhina pecah dalam pelukan Dhana. Ia tidak bisa menahan kesedihannya sendiri di depan mas kembarnya itu. Sementara Dhana pun juga ikut menangis saat melihat adik kembarnya menangis di pelukannya.
"Adek tidak boleh bicara seperti itu, Sayang. Mas dan semuanya sayang sekali sama Adek. Kita tidak pernah merasa susah karena Adek. Mas pernah bilang bukan, kalau Adek itu penerang di keluarga kita. Penerang bagi Mas, Mas Ammar, Mas Sadha, Ayah dan juga Ibu. Jadi Adek tidak boleh bicara seperti itu lagi." tutur Dhana yang membalas pelukan sang adik dengan penuh kasih sayang.
"Adek takut, Mas. Orang yang sakit kanker biasanya tidak ada yang sembuh. Apa umur Adek juga tidak akan lama lagi Mas?" ucap Dhina yang semakin membenamkan kepalanya dalam pelukan Dhana.
Pertanyaan Dhina membuat Dhana kesal dan melepaskan pelukannya dari adik kembarnya itu. Lalu...
"Adek bicara apa sih? Jangan pernah bicara seperti itu lagi. Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin, Dek. Asalkan kita berusaha dan berdo'a Mas yakin Adek bisa sembuh seperti semula. Mas Ammar juga akan berusaha untuk menyembuhkan Adek. Jadi Adek harus percaya pada Mas Ammar." serkas Dhana seraya mengusap air mata di pipi adik kembarnya itu.
"Tapi Adek takut, Mas." ucap Dhina yang memeluk Dhana lagi dengan erat.
"Adek tidak usah takut ya. Ada Mas, Ayah, Ibu, Mas Ammar, Mas Sadha, Kak Ibel dan Dokter Ronald yang akan menemani Adek untuk melewati semua ini. Jadi Adek harus semangat. Adek jangan mau kalah melawan kanker itu." ujar Dhana yang berusaha menenangkan dan menyemangati adik kembarnya itu.
Dhina pun hanya menganggukan kepalanya lalu melerai pelukannya dan menatap manik Dhana yang juga mengeluarkan air mata.
"Dokter Ronald? Siapa dia Mas?" tanya Dhina yang menatap lekat manik Dhana.
"Dokter Ronald itu dokter yang akan menangani penyakit Adek. Dia juga sahabat Mas Ammar yang pernah Mas Ammar ceritakan sama kita. Itu loh Dek, yang pernah Mas Ammar bilang kalau dia dokter tampan dan senior Mas Ammar waktu di kampus." jelas Dhana yang memegang kedua pipi adik kembarnya itu.
"Oh, iya Adek ingat. Jadi itu Dokter Ronald. Dia memang tampan sih Mas. Adek saja melihatnya sampai tersepona." ujar Dhina yang sudah mulai tersenyum.
"Terpesona adikku sayang, bukan tersepona. Ya ampun, Mas kira saat sakit seperti ini otak Adek bisa lurus ternyata sama saja ya." ucap Dhana yang tertawa mendengar perkataan Dhina yang salah.
"Mas Dhana pintar sekali sih membuat Adek tertawa. Mas memang selalu mengerti Adek. Adek sayang sekali sama Mas Dhana." ujar Dhina yang tertawa sambil mencubit pinggang lalu memeluk Dhana.
"Ini baru adik kembarnya Mas. Yang bisa tertawa lepas. Jangan sedih lagi ya, Sayang. Mas akan selalu ada di samping Adek apa pun yang terjadi. Jangan putus asa dan jangan menutupi apa pun lagi dari Mas dan yang lainnya. Mas juga sayang sekali sama Adek." ujar Dhana yang membalas pelukan sang adik lalu mencium kening adik kembarnya itu.
"Iya, Mas. Mulai sekarang Adek akan bersikap lebih terbuka pada Mas, Mas Ammar dan juga Mas Sadha." jawab Dhina yang masih berada di dalam pelukan Dhana.
Dhana berhasil menenangkan dan membujuk adik kembarnya. Walaupun memang sempat hampir gagal. Namun karena Dhana yang memang sangat dekat dengan Dhina, membuat Dhina merasa lebih nyaman jika harus bercerita pada Dhana. Mungkin semua itu karena efek ikatan bathin yang mereka miliki sebagai anak kembar.
Dhana lebih memahami apa yang dirasakan oleh adik kembarnya dibandingkan dengan Ammar dan Sadha. Saat ini Dhina sudah lebih tenang karena sudah membagi sedikit bebannya kepada Dhana. Karena itu Dhina kini bisa tertawa dan bercanda lagi dengan Dhana.
.
.
.
.
.
Happy Reading All❤️❤️❤️
biasanya klau tokoh utamanya sakit, ya udah pasti bakal kesana mikirnya
tapi ngeliat kebahagiaan, canda tawa, rasanya gak rela bgt kalau dhina dah gak ada
thanks buat author yang membuat cerita keren dan membuat banjir air mata
ttp aja nangis...
tingglkn jejak dulu ya