Siang hari, dia Ekantika, CEO berhati dingin yang ditakuti semua orang. Malam hari, dia Nana, gadis 26 tahun yang ceria di aplikasi kencan.
Setelah diceraikan dan dicap 'barang bekas' oleh mantan suaminya, Ekantika membalas dendam dengan cara yang gila: meretas algoritma aplikasi kencan untuk menciptakan identitas palsu. Tak disangka, ia malah match dengan Riton, mantan karyawannya yang kini jadi CEO saingan!
Riton benci wanita manipulatif, tapi dirinya jatuh cinta setengah mati pada 'Nana'. Apa yang terjadi jika Riton tahu bahwa gadis impiannya itu mantan bosnya, kini berusia 35 tahun yang menyandang status janda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 Cinta itu Buta, Tapi Riton Pakai Kacamata Kuda
Beberapa jam kemudian, ponsel Riton bergetar. Sebuah notifikasi DM Instagram muncul dari akun anonim yang tidak ia kenal. Nama akunnya acak, serangkaian huruf dan angka. Ini lagi? pikir Riton, keningnya berkerut. Semenjak skandal Toni, ia jadi lebih peka terhadap akun-akun anonim.
Ia membuka DM itu. Tidak ada pesan teks, hanya sebuah gambar.
Foto itu adalah Ekantika Asna, tanpa riasan tebal, rambut tergerai, mengenakan pakaian santai yang familiar. Ada senyum lebar di wajahnya, tawa yang lepas dan alami. Riton mengenali pakaian itu. Itu adalah pakaian yang Nana kenakan saat kencan pertama mereka. Anting mutiara mungil di telinganya juga sama. Foto itu diambil dari sudut yang sangat dekat, seolah-olah oleh seseorang yang duduk di meja yang sama.
Jantung Riton berdebar kencang, kali ini dengan irama yang berbeda, irama ketakutan yang dingin. Wajah Ekantika Asna. Pakaian Nana. Tawa Nana. Ini dia. Semua potongan puzzle yang selama ini ia kumpulkan, kini menyatu menjadi gambaran yang jelas. Mobil dinas CEO Garuda di gang kos-kosan Nana, kartu akses Ekantika di tas Nana, parfum yang sama. Dan sekarang, foto ini.
Nana adalah Ekantika Asna.
Kata-kata itu bergaung di kepalanya, menamparnya berulang kali. Rasa dikhianati yang sangat dalam, yang pernah ia rasakan di masa lalu, kini kembali menggerogoti. Lebih parah, lebih menusuk. Aku dibohongi lagi. Oleh orang yang aku percaya. Oleh orang yang aku kira 'nyata'.
Ia membaca caption di bawah foto itu: "Kenali kekasihmu yang sebenarnya."
Tangan Riton gemetar. Ia mengepalkan ponselnya. Kemarahan mulai membakar, mengalahkan rasa sakit. Kenapa? Kenapa kamu membohongiku, Nana? Atau Ekantika? Siapa sebenarnya kamu?
Ia berdiri, berjalan mondar-mandir di kantornya yang sepi. Tim Aksara Digital sudah pulang. Hanya ada ia sendirian, dikelilingi oleh kehancuran. Ia menatap ke luar jendela, lampu-lampu kota yang berkelap-kelip terasa buram di matanya yang berkaca-kaca. Kamu persis seperti dia. Wanita manipulatif.
Rasa sakit itu terlalu kuat. Ia merasa seperti pecundang, orang bodoh yang jatuh ke lubang yang sama dua kali. Ia ingin berteriak, ingin menghancurkan segala sesuatu di sekitarnya. Tapi ia hanya bisa mengepalkan tangan, mencoba mengendalikan emosi yang bergejolak.
Tidak. Tidak. Ini tidak benar.Sebuah suara lain di kepalanya berbisik. Nana tidak seperti itu. Ada sesuatu di balik semua ini. Dia tidak mungkin sengaja menyakitiku.
Ia mengingat setiap momen bersama Nana. Tawa lepasnya di kafe, mata yang berbinar saat berbicara tentang musik pop-punk, kerentanan yang ia tunjukkan di kos-kosan fiktif, cerita tentang kesendiriannya. Itu tidak mungkin palsu sepenuhnya.
Riton memejamkan mata, mencoba menenangkan diri. Ia telah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak lagi terperangkap oleh manipulasi. Tapi janji itu, untuk tidak mudah percaya, juga berarti ia harus mencari kebenaran, bukan hanya menelan mentah-mentah tuduhan. Siapa yang ingin menjatuhkan Nana? Atau Ekantika?
Ia membuka kembali DM itu, menatap foto tersebut dengan lebih saksama. Kualitas gambarnya tidak terlalu bagus, tapi cukup jelas. Dan caption-nya... "Kenali kekasihmu yang sebenarnya." Terkesan provokatif, seperti upaya menjatuhkan.
Seseorang ingin membuatku membenci Nana.
Riton menghela napas. Dia sudah melihat playbook ini sebelumnya. Mantan pacarnya, di masa lalu, juga menggunakan taktik kotor untuk menjatuhkan saingannya. Ini adalah pola yang sama. Apa ini ulah kompetitor? Atau... Toni?
Tapi Toni sudah terbukti tidak nyata. Dan kembaran sepupunya itu jelas tidak tahu menahu. Ini pasti pekerjaan yang lebih profesional. Lebih terorganisir.
Ia berpikir keras. Foto ini terlihat seperti upaya sabotase reputasi. Terutama jika dikaitkan dengan rumor yang Pak Doni sebarkan di dewan direksi Garuda tentang "wanita manipulatif." Jangan-jangan ini ulah Pak Doni, atau kompetitor lain yang ingin menjatuhkan Ekantika, lalu menyeret Nana ke dalamnya? Logika bisnisnya mulai bekerja, menyingkirkan emosi sesaat.
Jika Nana adalah Ekantika, maka ada alasan di balik semua kebohongan itu. Alasan yang mungkin tidak sesederhana manipulasi, melainkan sesuatu yang lebih kompleks, lebih pribadi. Kupikir dia terjebak dengan pria tua demi uang. Sekarang... ini lebih rumit.
Riton mengeluarkan ponselnya, mencari kontak Nana. Jemarinya ragu sejenak. Haruskah aku langsung bertanya tentang ini? Atau memberinya kesempatan untuk menjelaskan?
Ia mengingat kembali janjinya pada Nana. "Kamu bisa percaya sama aku." Dan janji Nana padanya: "Aku di sini buat kamu. Kamu bisa percaya sama aku."
Riton menarik napas dalam-dalam. Aku akan percaya padanya. Setidaknya, untuk saat ini. Ia menekan tombol panggil.
*
Di kantornya, Ekantika baru saja selesai rapat virtual yang menguras energi. Ia memijat pelipisnya. Tekanan dari Pak Doni semakin terasa. Pria tua itu tidak henti-hentinya mencari celah untuk menjatuhkannya, terutama setelah ia menolak menggunakan flashdisk Riton.
Vina masuk dengan wajah masam, meletakkan beberapa laporan di mejanya. "Bu, Pak Doni baru saja menanyakan apakah Ibu punya hubungan personal yang 'terlalu dekat' dengan CEO Aksara Digital. Dia bilang ada rumor yang beredar di kalangan dewan direksi."
Jantung Ekantika berdesir. Rumor? Itu pasti ulah Arsa. Atau Vina sendiri. Tangannya mengepal di bawah meja. "Rumor apa, Vina? Saya rasa Pak Doni hanya mencari-cari kesalahan."
"Tidak tahu pasti, Bu. Tapi dia menyebut-nyebut soal pertemuan di kafe dan... identitas ganda," Vina berkata, matanya menatap Ekantika dengan tatapan penuh selidik yang tidak bisa ia sembunyikan. Ada jejak kemenangan di sana, sekilas.
Ekantika menatap Vina tajam, berusaha membaca apa yang ada di balik tatapan itu. Apa kau pelakunya, Vina? Kau dan Arsa?
Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Nama Riton muncul di layar. Ekantika merasakan perpaduan antara lega dan ketakutan. Lega dia meneleponku, takut dia akan menghardikku.
Ia menghela napas, mengabaikan Vina yang masih berdiri di sana, dan mengangkat telepon. "Halo, Ton?" Ia berusaha menjaga suaranya tetap tenang, seperti Nana.
"Na," suara Riton terdengar dari seberang, ada nada serius yang membuat Ekantika menahan napas. "Ada orang jahat yang mencoba memfitnahmu menggunakan wajah bosku."
Ekantika membeku. Wajah bosku? Jadi dia sudah melihat fotonya? Keringat dingin membasahi punggungnya. Ini dia. Akhirnya.
Riton melanjutkan, suaranya dipenuhi keteguhan yang mengejutkan. "Dia mencoba menjelek-jelekkan kamu, Na. Bilang kamu manipulatif atau semacamnya, pakai foto yang diedit. Tapi aku nggak percaya."
Mata Ekantika membelalak. Tidak percaya? Dia mengira itu editan? Sebuah gelombang kelegaan membanjiri dirinya, begitu besar hingga ia nyaris terjatuh dari kursi. Riton masih percaya padanya. Bahkan setelah melihat bukti yang hampir tak terbantahkan.
"Aku... aku nggak ngerti, Ton," Ekantika berakting bingung, suaranya sedikit bergetar. Rasa bersalahnya semakin menggunung. Dia terlalu baik. Aku tidak pantas.
"Pokoknya kamu aman sama aku, Na," Riton berkata, suaranya menghangatkan hati Ekantika. "Ada orang jahat yang mencoba menjatuhkan Ekantika Asna, dan dia menyeret nama kamu. Tapi aku tahu kamu tidak seperti itu. Aku tahu kamu orang yang baik."
Ekantika menelan ludah, hatinya mencelos. Riton masih percaya padanya, melindungi Nana. Tapi kebohongan ini... kebohongan ini semakin dalam, semakin mematikan.
Ia mendongak, matanya bertemu dengan tatapan Pak Doni yang baru saja lewat di depan ruangannya, menatapnya dengan penuh kecurigaan. Lalu, tatapannya beralih ke Vina, yang kini menyeringai tipis, seolah tahu sesuatu yang tidak Ekantika ketahui. Perang ini belum berakhir. Justru baru dimulai.