NovelToon NovelToon
JANDA 35 RASA 26: NANA ENGGAN MENUA

JANDA 35 RASA 26: NANA ENGGAN MENUA

Status: tamat
Genre:Janda / Beda Usia / Identitas Tersembunyi / Wanita Karir / Tamat
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Towang Risawang

Siang hari, dia Ekantika, CEO berhati dingin yang ditakuti semua orang. Malam hari, dia Nana, gadis 26 tahun yang ceria di aplikasi kencan.

Setelah diceraikan dan dicap 'barang bekas' oleh mantan suaminya, Ekantika membalas dendam dengan cara yang gila: meretas algoritma aplikasi kencan untuk menciptakan identitas palsu. Tak disangka, ia malah match dengan Riton, mantan karyawannya yang kini jadi CEO saingan!

Riton benci wanita manipulatif, tapi dirinya jatuh cinta setengah mati pada 'Nana'. Apa yang terjadi jika Riton tahu bahwa gadis impiannya itu mantan bosnya, kini berusia 35 tahun yang menyandang status janda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35 Retakan di Topeng

Riton akhirnya menoleh, matanya menatap Ekantika. Ada empati di sana, namun juga kesedihan yang mendalam. Ia mengulurkan tangannya, menyentuh pipi Ekantika yang basah oleh air mata.

"Na," Riton berbisik, suaranya dipenuhi kehangatan yang menusuk hati Ekantika. "Aku mengerti. Aku bisa merasakan penderitaan wanita itu. Tidak ada yang salah dengan ingin dicintai apa adanya. Tidak ada yang salah dengan takut menjadi tua. Tapi... dia menyakitimu, Na. Wanita itu menyakitimu dengan kebohongannya."

Ekantika merasakan jantungnya berdenyut. Dia mengerti. Dia peduli. Perasaan lega yang luar biasa membanjiri dirinya, disusul oleh rasa bersalah yang semakin dalam. Ia telah berhasil memanipulasi emosi Riton lagi.

"Wanita itu... dia tidak bermaksud begitu, Ton," Ekantika membela diri, suaranya parau. "Dia hanya... dia terlalu takut."

"Ketakutan itu tidak bisa membenarkan kebohongan, Na," Riton berkata lembut, namun tegas. Ia mengusap air mata Ekantika dengan ibu jarinya. "Dan apa pun yang wanita itu lakukan... dia harus berani menghadapi konsekuensinya. Jujur. Dengan semua kelemahannya."

Ekantika menatap Riton, matanya dipenuhi kerinduan. Aku ingin jujur padamu. Aku ingin berani. Tapi ketakutan akan penolakan masih mencengkeramnya begitu kuat.

Mereka berdiri di sana, di bawah langit malam Jakarta yang luas, berpelukan dalam keheningan yang penuh makna. Ekantika merasakan detak jantung Riton, kehangatan tubuhnya, aroma tubuhnya yang menenangkan. Rasanya benar. Rasanya nyata. Tapi semua itu dibangun di atas kebohongan.

Riton melepaskan pelukan itu, menatap Ekantika. "Na, kamu tahu? Cara kamu bercerita tadi... gaya bicaramu... itu sangat familiar."

Ekantika menahan napas. Dia menyadarinya.

"Beberapa waktu lalu, aku membaca sebuah artikel di majalah bisnis," Riton melanjutkan, menyipitkan mata. "Tentang stigma wanita karir yang sudah menikah, tentang ekspektasi masyarakat terhadap 'janda CEO'. Penulisnya sangat cerdas, dan aku ingat betul beberapa frasa yang dia gunakan. Frasa yang mirip sekali dengan caramu bicara barusan. Artikel itu... ditulis oleh Ekantika Asna."

Jantung Ekantika mencelos. Sial. Dia memang menghubungkan semuanya.

"Aku tahu 'Tante'mu sedang dalam masalah," Riton berkata, matanya kini menatap Ekantika dengan intensitas yang berbeda, bukan lagi empati, melainkan penyelidikan. "Dan aku tahu dia sedang berbohong tentang banyak hal. Dan sekarang, setelah mendengar ceritamu tentang 'wanita itu', aku jadi semakin bingung."

Ia menghela napas. "Na, kenapa kamu nggak pernah mau video call kalau malam?" Riton bertanya, suaranya tenang, namun ada nada yang tidak bisa Ekantika bantah: sebuah tuntutan akan kebenaran. "Wajahmu selalu terlihat gelap, atau kamu selalu bilang sinyal jelek. Padahal, aku tahu sinyal di Tebet itu bagus."

Ekantika membeku. Rasa dingin menjalari seluruh tubuhnya. Itu adalah pertanyaan terakhir yang bisa membongkar segalanya. Filter. Pencahayaan. Riasan. Semua topeng itu akan rontok.

Tanpa menunggu jawaban, Riton mengangkat ponselnya. Layar menyala terang, memancarkan cahaya senter yang kuat. Dengan gerakan tiba-tiba, Riton menyalakan senter itu, mengarahkannya tepat ke wajah Ekantika, menembus kegelapan malam.

"Boleh aku lihat matamu lebih dekat tanpa filter?" Riton bertanya, tatapannya menusuk ke dalam jiwanya, mencari kebenaran yang selama ini tersembunyi di balik kegelapan.

Suara Riton pelan, namun menembus relung jiwa Ekantika. Cahaya senter ponselnya menerpa wajahnya, brutal, tanpa ampun, menelanjangi setiap pori dan kerutan halus yang ia sembunyikan di balik aplikasi filter dan pencahayaan remang. Sial! Ekantika merasakan jantungnya berdebar kencang, memukuli tulang rusuknya seolah ingin melompat keluar. Ini adalah akhir. Topeng itu akan runtuh.

Dengan refleks secepat kilat, ia berpura-pura kelilipan. "Aduh! Aduh, Ton, sakit! Cahayanya terang banget!" Ia mengibaskan tangannya, menghalangi cahaya ponsel Riton dengan telapak tangannya, menundukkan wajahnya, dan berpaling. Air mata yang sudah menggenang dari cerita metaforanya tadi, kini ia gunakan sebagai tameng. Ia mengusap matanya, berusaha terlihat sungguh-sungguh kesakitan, meskipun yang ia rasakan adalah kepanikan murni.

Riton segera mematikan senter ponselnya. "Astaga, Na, maaf! Aku nggak bermaksud! Kamu baik-baik saja?" Suaranya terdengar panik, rasa bersalah terpancar jelas.

Ekantika mendongak, matanya masih sedikit berair—sebagian karena akting, sebagian karena ketakutan yang mendalam. "Nggak apa-apa, Ton. Cuma kaget aja. Kamu ini, iseng banget!" Ia memaksakan sebuah senyum, senyum yang terasa kaku di bibirnya. Aku hampir mati konyol gara-gara senter ponsel.

Riton menghela napas lega, namun sorot matanya masih penuh selidik. "Maaf ya. Aku cuma... penasaran. Soalnya kamu suka nggak mau kalau di-video call pas gelap. Jadi aku pikir ada apa-apa."

Ekantika merasakan hawa dingin menjalari punggungnya. Dia tidak bodoh. Dia melihat pola. "Aku cuma... nggak suka gelap, Ton. Kan udah kubilang, aku suka pencahayaan yang hangat. Bikin aku lebih rileks waktu ngobrol." Alibinya terdengar lemah, bahkan di telinganya sendiri.

Keheningan kembali menyelimuti mereka. Riton tidak lagi menyorotkan senter, tetapi tatapannya terasa lebih menembus daripada cahaya paling terang sekalipun. Ia masih mencari. Mencari kebenaran yang Ekantika sembunyikan.

"Na, apa kamu beneran nggak ada yang mau kamu ceritakan?" Riton bertanya lagi, suaranya kini lebih lembut, lebih mendalam. "Aku merasa ada banyak hal yang kamu sembunyikan dari aku. Dan aku... aku nggak suka perasaan itu. Aku sudah pernah ngalamin dibohongin, Na."

Mendengar trauma Riton kembali terucap, hati Ekantika mencelos. Aku akan menyakitinya lagi. Lebih parah dari sebelumnya. Ia ingin sekali mengakui semuanya, menumpahkan beban di pundaknya. Tapi bayangan Arsa, ancaman Vina, risiko kehancuran karier dan reputasi, masih terlalu kuat untuk ia hadapi. Ia tidak bisa membawa Riton ke dalam kekacauan ini.

"Nggak ada, Ton," Ekantika berbisik, memalingkan wajah. "Aku... aku nggak ada yang sembunyikan." Pembohong. Kau pembohong ulung, Ekantika.

Riton menghela napas, kekecewaan tergambar jelas di wajahnya. "Baiklah, kalau kamu nggak mau cerita." Ia menunduk, menatap ujung sepatunya. "Mungkin aku yang terlalu banyak bertanya."

Suasana menjadi canggung. Berat. Angin malam berdesir, seolah ikut mengembuskan napas kekecewaan.

"Ton," Ekantika memecah keheningan, berusaha mengubah topik. "Aku... aku mau ke toilet sebentar. Kamu tunggu di sini ya?" Ini adalah kesempatan untuk menenangkan diri, menyusun strategi baru.

Riton mengangguk lesu. "Oke, Na. Jangan lama-lama ya."

Ekantika bergegas menuju sebuah bilik toilet di sudut atap, yang biasanya digunakan oleh petugas kebersihan gedung. Ia menutup pintu, lalu menyandarkan punggungnya ke dinding yang dingin. Ia memejamkan mata, berusaha mengatur napasnya yang tercekat. Aku hampir saja. Hampir. Jantungnya masih berdebar kencang. Kebohongan ini semakin berat, semakin menyesakkan. Ia tahu ia tidak bisa terus-menerus mengelak. Riton sudah terlalu dekat dengan kebenaran.

Di luar, Riton duduk di sebuah bangku tua, menatap lampu-lampu kota. Pikirannya kalut. Setiap "kebetulan" yang Nana sebutkan, setiap kejanggalan yang ia rasakan, kini berkumpul menjadi sebuah narasi yang tak menyenangkan. Ada yang salah dengan Nana. Sangat salah.

Ia meraih tas selempang kecil Nana yang tergeletak di sampingnya, hendak mengambil ponselnya yang tadi ia masukkan ke dalam. Jemarinya menyentuh sesuatu yang keras di dalam tas itu. Apa ini?

Riton mengeluarkan sebuah dompet kulit berwarna cokelat muda, dompet kecil yang tampak biasa saja. Ia membuka dompet itu, mencari-cari ponselnya. Ponselnya tidak ada di sana. Tapi, di salah satu kantong dompet, terselip selembar struk. Sebuah struk pembayaran.

Riton menarik struk itu keluar. Matanya menyipit, membaca detail di sana.

KLINIK KECANTIKAN DERMA GLOW

TANGGAL: 15/03/20xx

LAYANAN: Laser Rejuvenation (Wajah) - Paket Platinum

HARGA: Rp 20.000.000,-

Dua puluh juta rupiah.

Sebuah angka yang menghantam Riton seperti sambaran petir. Dua puluh juta rupiah untuk perawatan wajah laser? Jantungnya berdebar kencang, namun kali ini bukan karena amarah, melainkan karena kebingungan yang mendalam, bercampur dengan rasa sakit.

1
Towang Risawang
Mohon masukannya, Kak.
Sebagai penulis baru yang sedang berlajar menulis, tolong dikasih masukan, novel genre apa yang kakak inginkan untuk saya tulis pada karya berikutnya di Noveltoon/Mangatoon.
Towang Risawang
Selamat datang kakak-kakak penggemar novel komedi romantis.
Karya saya kedua ini telah tamat, lho. Jadi kalau membaca bisa langsung sampai tamat, tidak perlu menunggu-nunggu lagi bab-bab selanjutnya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!