Kata orang, cinta itu buta. Buat Kara Anindita, cinta itu bukan cuma buta, tapi juga bikin miskin mendadak.
Demi menikah dengan Rio Pratama—cowok biasa yang dia pikir tulus mencintainya apa adanya—Kara rela melakukan "prank" terbesar dalam hidupnya. Dia menyembunyikan identitasnya sebagai pewaris tunggal Anindita Group, raksasa properti nomor satu di negeri ini. Kara menukar kartu kredit unlimited-nya dengan uang belanja recehan, menukar penthouse mewahnya dengan kontrakan petak yang atapnya bocor, dan menukar gaun desainernya dengan daster diskonan di pasar kaget.
Kara pikir, hidup sederhana asal penuh cinta itu indah.
Tapi ternyata, "tulus" itu ada masa kedaluwarsanya.
Tiga tahun menikah, setelah karier Rio menanjak (yang Rio nggak tahu, itu berkat koneksi "orang dalam" Kara), sikap suaminya berubah 180 derajat. Rio mulai sombong, gila hormat, dan menganggap pengorbanan Kara sebagai kewajiban istri yang tidak berpenghasilan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31: Teh Pahit di Istana Cakra
Pagi itu, sinar matahari terasa hangat menembus kaca mobil Damian, tapi tangan Kara terasa dingin.
"Hei," Damian menggenggam tangan Kara yang meremas clutch tasnya erat-erat. "Santai aja. Mamaku emang agak... unik. Tapi dia nggak gigit kok."
Kara tersenyum kecut. "Aku punya trauma sama spesies bernama 'Ibu Mertua', Dam. Yang terakhir kali aku temui, dia nyuruh aku nyuci kancut anaknya yang bolong."
Damian tertawa kecil. "Tenang. Mama Sofia nggak bakal nyuruh kamu nyuci. Paling dia nyuruh kamu... merenungi asal-usulmu. Dia tipe Old Money yang kolot. Anggap aja lagi ngadepin museum hidup."
Mobil mereka memasuki gerbang tinggi berwarna hitam pekat. Berbeda dengan rumah Kara yang bergaya Modern Tropical dengan kaca-kaca besar, kediaman keluarga Cakra di kawasan elite Menteng ini bergaya Dutch Colonial.
Pilar-pilar raksasa, dinding putih tebal, jendela-jendela tinggi dengan teralis besi ukir, dan pohon beringin tua di halaman depan membuat suasana terasa agung sekaligus... mencekam.
Begitu turun dari mobil, seorang kepala pelayan tua berseragam jas buntut menyambut mereka.
"Selamat datang, Tuan Muda. Nyonya Besar sudah menunggu di Tea Room."
Kara melangkah masuk ke dalam rumah itu. Lantai marmernya dingin. Di dinding tergantung lukisan-lukisan leluhur keluarga Cakra yang menatap dengan mata melotot. Aroma rumah ini wangi bunga sedap malam dan lilin aromaterapi mahal, tapi terasa sunyi.
Di sebuah ruangan yang menghadap ke taman belakang, duduklah seorang wanita paruh baya.
Bu Sofia Cakra.
Rambutnya disanggul modern tanpa satu helai pun yang keluar dari tempatnya. Dia mengenakan kebaya encim putih sutra dan kain batik tulis yang harganya mungkin bisa buat beli mobil LCGC. Lehernya dihiasi untaian mutiara laut selatan.
Dia sedang menuangkan teh dari teko perak ke cangkir porselen Royal Albert. Gerakannya anggun, pelan, dan penuh perhitungan.
"Ma," sapa Damian.
Bu Sofia tidak menoleh. Dia meletakkan teko itu perlahan. Ting.
"Duduk," perintahnya singkat. Suaranya lembut, tapi otoritasnya mutlak.
Damian dan Kara duduk di sofa berhadapan dengan Bu Sofia.
Barulah wanita itu mengangkat wajahnya. Tatapan matanya setajam mata Damian, tapi jauh lebih dingin. Dia menatap Kara bukan dengan kebencian, tapi dengan tatapan seorang kurator seni yang sedang melihat barang palsu.
"Jadi ini," ucap Bu Sofia pelan. "Janda viral yang bikin anak saya jadi bucin di media nasional?"
Kara menegakkan punggungnya. Dia sudah melatih ini.
"Selamat pagi, Bu Sofia. Saya Kara Anindita. Senang bertemu Ibu."
Bu Sofia tidak menyambut salam itu. Dia malah menyesap tehnya.
"Anindita..." gumam Bu Sofia. "Keluarga pedagang properti baru. OKB (Orang Kaya Baru). Papamu itu dulunya cuma kontraktor jalanan kan sebelum hoki dapet tanah?"
Kara tersenyum tipis. "Papaku pekerja keras, Bu. Dan kerja kerasnya menghidupi ribuan karyawan sekarang."
"Kerja keras..." Bu Sofia meletakkan cangkirnya. "Keluarga Cakra tidak butuh kerja keras. Kita butuh Legacy (Warisan). Kita butuh kemurnian."
Bu Sofia menatap Damian. "Damian, Mama sudah siapkan daftar gadis-gadis dari keluarga ningrat Solo dan putri diplomat. Kenapa kamu malah bawa dia?"
"Karena aku cintanya sama dia, Ma," potong Damian tegas.
"Cinta?" Bu Sofia tertawa halus, sangat sopan tapi meremehkan. "Cinta itu buat orang miskin, Damian. Orang seperti kita menikah untuk aliansi. Untuk bibit, bebet, bobot."
Bu Sofia kembali menatap Kara.
"Kara, dengar ya. Saya tidak meragukan kemampuanmu cari uang. Kamu wanita karier yang hebat. Tapi untuk menjadi Nyonya Cakra? Menjadi ibu dari pewaris Cakra?"
Bu Sofia menggeleng pelan, wajahnya tampak jijik.
"Rahimmu itu sudah pernah diisi benih laki-laki lain. Laki-laki kampungan pula. Bagi keluarga Cakra, kamu itu... barang second. Cacat. Tidak layak masuk etalase kami."
Hinaan itu halus, tidak ada kata kasar, tapi rasanya seperti disayat silet di ulu hati.
Dulu Bu Ratna menghinanya miskin. Sekarang Bu Sofia menghinanya "barang bekas".
Tangan Damian terkepal di lutut. Dia hendak berdiri dan membentak ibunya, tapi Kara menahannya. Kara meletakkan tangannya di atas tangan Damian.
Kara menatap lurus ke mata Bu Sofia. Tidak ada rasa takut. Yang ada hanya rasa kasihan pada pola pikir purba itu.
"Maaf, Bu Sofia," suara Kara tenang dan berwibawa.
"Ibu menyebut saya barang second? Ibu salah."
Kara berdiri perlahan, merapikan gaunnya.
"Saya bukan barang. Saya manusia. Saya wanita yang pernah salah memilih, lalu bangkit, dan sekarang berdiri setara dengan anak Ibu. Bahkan mungkin... perusahaan saya tumbuh lebih cepat daripada Cakra Corp tahun ini."
"Dan soal rahim..." Kara tersenyum manis. "Saya belum pernah hamil. Dan kalaupun saya pernah menikah, itu adalah masa lalu yang membentuk saya jadi sekuat ini. Kalau Ibu mencari menantu yang suci, polos, dan bisa disetir seperti boneka, Ibu salah orang."
"Saya Ratu di kerajaan saya sendiri. Saya tidak butuh gelar Nyonya Cakra untuk merasa berharga. Anak Ibu yang datang ke saya, bukan saya yang mengemis masuk ke sini."
Wajah Bu Sofia sedikit menegang. Dia tidak menyangka akan dilawan dengan argumen secerdas itu. Biasanya wanita-wanita yang dia intimidasi akan menangis atau menunduk malu.
Kara menoleh ke Damian. "Dam, ayo pulang. Teh di sini terlalu pahit. Aku lebih suka kopi."
Damian berdiri, menatap ibunya dengan kecewa.
"Mama denger sendiri kan? Dia bukan wanita sembarangan. Mama bisa terima dia, atau Mama kehilangan aku. Pilihan di tangan Mama."
Damian menggandeng tangan Kara dan membawanya keluar dari ruangan menyesakkan itu tanpa menoleh lagi.
Bu Sofia tinggal sendirian di ruangan besar itu.
Tangannya yang memegang cangkir gemetar karena marah.
"Kurang ajar..." desisnya. "Liat saja. Tidak akan semudah itu kamu masuk ke keluarga ini."
Bu Sofia mengambil HP-nya, menekan sebuah nomor.
"Halo? Clarissa? Kamu masih di London? ... Pulang. Tante punya tugas buat kamu. Kita bersihkan hama ini sama-sama."
...****************...
...Bersambung......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share ❣️...
...****************...
kanjooot..
terus kemaren2 sblm kara pergi, ibunya tinggal dimana?
nanya lho thor, bkn menghujad.. 🤭🙏